When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Farewell Party



"Apa tidak bisa di pikirkan lagi bu Tiara, sekolah masih membutuhkan bu Tiara, anak-anak juga sudah banyak yang protes ke saya."


Sementara di luar para murid sedang meributkannya, di ruang kepala sekolah mereka terlibat pembicaraan serius. Sahrul masih berat melepaskan Tiara, dan Tiara merasa bersalah meninggalkan tanggung jawabnya, tidak enak dengan rekan kerjanya yang lain, jika dia bisa keluar masuk sekolah begitu saja.


"Saya juga berat pak. Tapi saya juga tidak mau ada yang merasa kalau ada perlakuan berbeda pada saya dan yang lain merasa di diskriminasi nantinya. Saya sangat menghormati institusi ini dan tidak ingin membuatnya seperti saya hanya bermain-main di sini. Saya harap bapak mengerti," tutup Tiara.


Yundhi hanya mengamati dari tempat duduk samping Tiara. Sungguh dia menjadi penyimak yang baik dan tidak mengintervensi sedikitpun.


"Yundhi, bisa bantu om?" sangat mengerti dengan maksud pertanyaan Sahrul, Yundhi mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Sorry om, kalau yang ini di luar kendali saya."


Sahrul berdecak sebal.


Tiara tertawa melihat tingkah kedua laki-laki beda generasi itu. "Saya ga akan hilang dari peredaran sama sekali pak, jika sewaktu-waktu di butuhkan untuk mengisi kelas umum atau acara bertema pendidikan di sini saya bersedia di undang." Tiara mencoba menghibur.


Sahrul menghembuskan napas kasar.


"Usul yang bagus juga sih, baiklah kalau begitu." Sahrul mengetukkan jarinya di atas meja, "karena bu Tiara mengatakan akhir-akhir ini akan sibuk juga, saya langsung saja adakan perpisahan. Tapi karena mendadak tidak apa-apa kan dengan perpisahan seadanya?"


"Jangan repot-repot pak, tidak di adakan juga saya oke, pamitan dengan yang lain seperti biasa juga ga apa-apa."


"Wah, tidak bisa begitu, harus ada acara meski sedikit, saya akan gunakan sisa waktu belajar hari untuk acara perpisahan bu Tiara."


Tiara tersenyum pasrah.


"Terserah bapak Kepala saja."


Sahrul segera meraih mikrofon yang ada di samping kanannya, menekan tombol 'on' dan segera membuat pengumuman. Entah bagaimana reaksi warga sekolah yang lain di luar, terheboh tentu para siswa yang bebas dari jadwal belajar hari itu. Kemerdekaan yang hakiki bagi seorang murid yaitu mendapati jam kosong mendadak.


Yundhi menatap wajah Tiara yang sedikit menunduk, "Are you okay?" bisiknya. Ia tahu Tiara sedang melawan kesedihannya, akan meninggalkan dunia mengajar yang menjadi kesenangannya selama ini, pastinya Tiara akan mengalami perasaan melow juga.


"Ga apa-apa." Yundhi menganggukan kepala, percaya sepenuhnya kalau Tiara bisa mengatasi perasaannya.


Di akhir pengumumannya Tiara bisa mendengar Sahrul memanggil Jenny dan Mimi untuk ke ruangannya. Tiara takjub, kepala sekolahnya itu bisa membaca pikirannya.


Tak berapa lama suara pintu di ketuk. Tiara berdiri sudah tahu siapa yang akan datang. Benar saja, begitu pintu di buka Jenny dan Mimi muncul bersamaan.


Mimi dan Jenny berpandangan, Tiara memandang mereka sepersekian detik, kemudian....


Sahrul dan Yundhi menyaksikan adegan Teletubies. Pelukan, lompatan, teriakan kegirangan bersahutan di ruangan itu. Mereka bertiga sama hebohnya, intonasi suara juga sama tingginya.


"Kita nonton mereka kayak orang ****' ya om."


"Hm. Saya baru lihat, bu Jenny dan Mimi semangat lagi, selama Tiara pergi mereka mengajar seperti biasa, tapi rasa kehilangan juga sangat kentara dirasakan mereka."


Kehebohan berlanjut di sofa yang ada di ruangan itu. Cerita mengalir dari tiga pihak, melebar ke sana kemari.


Yundhi menekuni ponselnya, Sahrul memeriksa beberapa berkas. Di anggap tidak ada di ruangan itu ternyata menyebalkan juga.


***


Kecuali para guru, siswa dan siswi sekolah itu telah berkumpul di aula. Suasana masih gaduh karena acara belum di mulai. Yundhi dan Tiara baru akan keluar dari ruang kepala sekolah menuju aula, Sahrul, Jenny dan Mimi telah keluar lebih dulu menyiapkan beberapa hal.


Yundhi kembali menutup pintu begitu mereka sudah di luar ruangan. Baru beberapa langkah Yundhi dan Tiara harus berhenti mendengar teriakan seseorang.


"Tiara!"


Tiara dan Yundhi menoleh ke sumber suara dan suara itu berasal dari salah satu guru tampan di sekolah. Deki.


Yundhi bisa melihat binar wajah bahagia Deki menuju Tiara. Setengah berlari, Yundhi bisa menebak apa yang ingin guru itu perbuat. Dengan satu tangan Yundhi menahan dada Deki yang ingin memeluk Tiara. Tangan kekar Yundhi mendorong pelan tubuh tegap Deki. Suasana tiba-tiba panas.


"Sorry bro, toleransi gue cuma sampai jabat tangan, ga lebih!"


"Apa kabar pak Deki?" Tiara mengulurkan tangannya. Tanpa di balas Deki, Tiara menarik lagi tangannya.


Deki berdecih.


Tiara menggenggam lengan Yundhi agar tidak emosi. Suasana terasa tidak nyaman bagi Tiara. Baik Yundhi atau Deki sama-sama tidak mau menghentikan adegan saling tatap nan menantang itu.


"Memang kamu siapanya Tiara?"


Mendengar pertanyaan Deki, Yundhi memalingkan wajah agar tidak semakin kesal.


"Ga ada Ra, dia ga ada perlu apa-apa," Yundhi menjawab lebih dulu.


Mata Tiara membulat melihat tingkah kekanakan Yundhi.


Seandainya Deki bersikap biasa saja mungkin Yundhi tidak akan terpancing. Tapi Deki juga tidak bisa menahan diri, dia merindukan teman yang pernah ia tolong itu. Pikiran jahil Deki mulai bekerja.


"Tiara berutang sesuatu sama saya."


Tatapan menusuk Yundhi seketika tertuju pada Deki. Tentu saja itu tidak mengganggu Deki sama sekali, mental begitu saja menguap berganti rasa percaya diri Deki menghadapi Yundhi. Guru tampan itu terlihat menikmati apa yang terjadi.


"Berapa? Sebutkan gue nominalnya?"


"'Sesuatu' itu bukan uang. Mungkin Tiara lupa, saya yang membantu dia ketika ayahnya meninggal."


Tiara sekarang mengerti arti kata "utang" yang di maksud Deki.


"Masalah itu akan saya selesaikan sama pak Deki, kalau anda mengalami kerugian saat menolong saya, akan saya ganti, dan terima kasih atas bantuannya. Jadi...."


"Private dinner, saya akan menganggap hutang kamu lunas kalau kamu bersedia makan malam dengan saya." ucap Deki dengan nada lantang tanpa ragu.


"What the ****, maksud lo apa?" Yundhi mulai mendidih, Deki sangat berhasil memancing emosinya kali ini dan Tiara tidak bisa meredamnya begitu saja. Kali ini Yundhi maju beberapa langkah sampai benar-benar berdapan dengan Deki dan jarak antara mereka tinggal beberapa senti.


"Gue harap lo masih punya rasa malu mau merebut calon istri orang," kata-kata Yundhi penuh penekanan dan tak jauh dari telinga Deki.


"Calon, masih calon, belum resmi," seketika Yundhi meraih kerah baju Deki, dan Deki sama sekali tidak gentar, sangat tenang dan bisa menguasai dirinya,


"Kamu tidak ada di samping Tiara saat dia membutuhkanmu waktu itu, aku tidak yakin hubungan kalian akan kuat, tapi kalau memang kamu percaya Tiara mencintaimu, dan kamu memiliki hatinya, harusnya kamu tidak perlu takut dengan hal semacam ini. Hanya sekedar makan malam, kamu takut Tiara akan berpaling?" tatapan Deki tak kalah tajam pada Yundhi.


"Yundhi, udah." Tiara menarik lengan Yundhi dan berhasil membuat pilot itu melepaskan kerah kemeja Deki.


"Emerald Hotel, besok malam, jam tujuh Miss Tiara, saya tunggu."


Yundhi mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih, andai mereka tidak berada di area sekolah dan hari itu acara perpisahan Tiara akan di gelar, mungkin sedari tadi Yundhi sudah melayangkan hantaman pada Deki.


"Tentu, saya akan datang," jawab Tiara tenang.


Tapi laki-laki yang di sampingnya yang sanat tidak tenang, Yundhi menatap Tiara tak percaya.


"Yuk, anak-anak udah nunggu!" Tiara menarik tangan Yundhi agar melangkah bersamanya, meninggalkan Deki yang tetap di tempat.


Setelah sosok Deki tidak terlihat dan keadaan sekitar mereka terlihat sepi, Yundhi menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


Tiara membalas tatapan Yundhi, mereka saling berhadapan.


"Kenapa terima ajakan pak Deki? Tentu saja karena aku ga mau berutang sama orang."


"Tapi Ra___"


"Kalau kamu yakin sama aku, kamu ga perlu khawatir. Anggap saja kita sedang bermain kepercayaan. Aku percaya sama kamu, tentang hubunganmu dan Emmy, dan sekarang kamu juga harus percaya sama aku, Deki juga hanya teman. Buktikan kamu bisa melewati ini!" Tiara mengerlingkan sebelah matanya dan kembali menarik Yundhi menuju aula.


***


Acara perpisahan Tiara telah di mulai setengah jam yang lalu. Saat ini telah berlangsung sambutan dari Kepala Sekolah mereka. Sahrul banyak menyampaikan kesan-kesannya tentang Tiara, mengungkapkan rasa tidak relanya jika Tiara berhenti mengajar dari sekolah yang ia pimpin itu dan di sambut teriakan setuju oleh hampir semua siswa. Ruangan menjadi riuh, dan Sahrul segera memberikan pendapat yang lain.


"Bagaimanapun ini sudah menjadi keputusan ibu Tiara. Beliau tentu ingin mengembangkan karirnya, melihat dunia lebih luas, bertemu dengan lebih banyak orang, dan mendapat pengalaman yang lebih banyak lagi entah dalam bidang pendidikan atau dalam bidang lainnya. Akhir kata, semoga ibu Tiara menjadi orang yang sukses di masa depan, bisa mencapai cita-cita yang diinginkan dan tolong jangan lupakan kami di sini. Terima kasih."


Sambutan sahrul mendapat tepuk tangan meriah dari para siswa dan guru yang hadir di sana.


Setelahnya, pembawa acara meminta sambutan dari Tiara dan Tiara segera naik ke podium yang telah di sediakan.


Banyak ucapan terima kasih yang ia tujukan untuk semua rekan guru, siswa, dan tentu saja sang kepala sekolah yang telah menerimanya dengan tangan terbuka dan menjadikannya bagian dari keluarga sekolah itu. Tak lupa ungkapan rasa sayangnya untuk semua anak didiknya dan berharap mereka bisa beradaptasi dengan guru mereka yang baru nantinya.


"Pesan saya untuk kalian, know yourself, control yourself and be yourself. Siapapun guru yang dengan ikhlas memberikan ilmunya pada kalian, harus kalian terima dan hargai. Terima kasih atas penghargaan kalian selama ini kepada saya, I'm not a perfect teacher, but I try to be a good one. Sekali lagi terima kasih, semoga kesuksesan selalu menyertai kita semua."


Tiara mengakhiri sambutannya, dan mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang ada di sana. Semua yang menghadiri acara itu berdiri ketika Tiara membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan terakhir. Ia pun segera turun dari atas podium. Yundhi menyambutnya dengan pelukan untuk menguatkan, ia bisa melihat jejak tipis air mata Tiara masih di sana.


Acara itu di akhiri dengan pertunjukkan yang di berikan oleh para siswa. Ada yang menyumbangkan suaranya dengan menampilkan puisi dan lagu, bermain drama, sampai tarian yang memang menjadi bagian dari pelajaran ekstrakulikuler sekolah. Meski di adakan secara mendadak, acara perpisahan iti berlangsung meriah.


Seperti baru kemarin Tiara mulai mengajar di tempat itu. Ia ingat di awal-awal pertemuan tatap muka, siswanya meremehkan kemampuannya. Tidak jarang dia menjadi bahan ejekan siswa nakal. Masa yang sulit, tapi Tiara membiktikan dirinya mampu menjadi seseorang yang patut di gugu dan di tiru para siswa.