When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
94



"Benar nih aku ga bisa lahiran normal?"


Yundhi dan Tiara yang saat itu menunggu datangnya waktu persalinan karena dokter anestesi sedang dalam perjalanan, membuat Tiara ingin merundingkan lagi keputusan suaminya yang gegabah mengambil opsi secar.


"Sayang," tampaknya Yundhi harus memberi pengertian lagi oada istrinya, "kamu itu poros hidupku, aku ga mau ambil resiko kehilangan yang lebih besar. Normal atau secar sama-sama punya resiko, dan sama-sama memiliki inti tujuan membuat kita menjadi orang tua, jadi stop mikirin yang enggak-enggak, aku pastiin kamu baik-baik aja."


"Sayang, menantu Mama," Tiara menelan kembali kata-katanya begitu sosok Citra datang, "ini gimana ceritanya kamu harus melahirkan sekarang, bukannya dua minggu lagi?" Dengan wajah panik yang kentara Citra datang dengan segala amunisinya untuk mendapat penjelasan. Dia selalu mengikuti perkembangan kehamklan Tiara, dan kejadian seperti ini tidak pernah terlintas dalam benaknya.


"Nanti Yundhi yang jelasin deh Ma, sekarang Yundhi minta dukungan Mama buat Tiara, ga usah nanya macem-macem dulu, Tiara ga boleh setres, ini juga di suruh puasa dua jam aja karena tindakan yang mendadak," jelas Yundhi dan Citra paham dengan maksud anaknya.


"Ya sudah, kamu yang sabar, yang kuat, ya! Ini Mama sudah bawa yang kalian minta."


Citra kemudian meletakkan dua tas jinjing berukuran sedang berisi perlengkapan ibu dan anak ke tempat yang sudah di sediakan. Dengan telaten, Citra menyiapkan keperluan awal untuk bayi yang baru lahir, begitupun untuk keperluan si ibu.


Yundhi yang tangannya masih di genggam Tiara, tidak bisa bergeser ke tempat lain. Tangan dingin Tiara cukup mengisyaratkannya bagaimana rasa takut yang di rasakan istrinya sekarang. Yundhi membiarkan Tiara meremas tangannya dan dia dengan lembut menggerakkan ibu jarinya yang bebas mengelus punggung tangan Tiara.


Satu jam berlalu


Suara pintu yang di buka membuat orang-orang yang ada di ruangan itu menoleh. Dua orang petugas masuk ke ruangan diikuti seorangnlagi di belakang. Mengenakan pakaian khusus mereka tersenyum ramah pada anghotankeluarga yang menunggui pasien.


"Hallo, Bu Tiara, gimana perasaannya?" tanya salah seorang dari mereka yang Tiara kenali sebagai dokter kandungannya.


"Takut, Dok, bisa di cancel lebih lama ga?"


Kontan semua yang hadir di sana menguar tawa kalem.


"Wah sayang lho, dokter anestesinya udah dateng, saya kasih bocoran, dokternya masih muda plus tampan, humoris lagi, Bu Tiara akan senang nanti."


Yundhi yang mendengar celotehan dokter itu menajamkan mata seketika, seakan menusuk sang dokter.


"Pak Yundhi ngeliatnya jangan gitu, tenang saja, dokternya suami saya sendiri," seloroh dokter itu lagi.


Tentu saja tawa yang menguar kali ini lebih heboh. Begitu cara sang dokter mengikis rasa takut pasiennya, membuat canda tawa adalah salah satu obat terbaik buatan manusia.


"Yuk kita ke ruang operasi."


Mendengar kata operasi Tiara kembali cemas. Dia memang tidak punya pengalaman di ruangan itu dalam kehidupan nyata, tapi mendengar sebutannya saja, dia bisa membayangkan visual ruangan itu dari film yang pernah ia tonton.


Mendadak suasana kembali tegang di mana penyebabnya adalah Tiara sendiri. Wajahnya berubah melankolis dan drastis.


Sebuah brangkar dengan ukuran yang lebih kecil dari tempat tidur Tiara saat ini di masukkan ke ruangan. Yundhi membantu Tiara turun dari tempat tidur untuk pindah ke brangkar itu.


"Yang benar Yundhi bantunya, Tiara ga boleh banyak gerak katamu tadi." Celetuk Citra heboh, diikuti wajah cemas Helma.


Yundhi memutar malas bola matanya. Orang ke dua terheboh setelah dirinya dalam hidup Tiara adalah Citra.


"Sebentar Sus," pinta Tiara begitu Tiara berhasil di pindahkan, tangan petugas yang siap mendorong itu pun berhenti.


"Ma," Tiara yang masih dalam posisi duduk merentangkan tangannya ke arah Citra meminta kesediaan mertuanya itu menerima pelukannya, air mata Tiara yang sudah menggenang luruh seketika.


"Maafin Tiara kalau sering nyusahin, bikin Mama repot."


Pelukan itu makin erat di akhir kalimat Tiara.


"Ga ada istilah nyusahin sayang, Mama udah pernah bilang, fokus sama kelahiran bayi kamu ya, do'a Mama ga pernah putus buat kamu, semoga semuanya berjalan lancar." Citra mengecup puncak kepala dan pipi Tiara sebagai bentuk dukungannya.


Suasana yang tadinya sempat ceria kini mulai sendu.


Setelah meminta maaf dan restu pada Citra, Tiara melanjutkan keinginannya untuk di peluk Helma dan Ranti yang juga ada di ruangan itu.


Tiga wanita itu sangat berarti dalam hidup Tiara. Tiga wanita yang mencurahkan kasih sayang untuknya hingga ia bisa merasakan kembali hangatnya pelukan seorang ibu.


Brangkar mulai bergerak melewati pintu, hingga Tiara bisa melihat suasana di luar ruangannya yang membuatnya menganga.


Bagaimana dirinya tidak terkejut, hampir semua trah Prasetya hadir di sana. Elok, Bella, Frans dan pasangan mereka masing-masing. Bella bahkan sempat-sempatnya membawa kamera merekam setiap momen di luar ruangan itu.


"Semangat Miss Ara, cewek, cewek, cewek!" Teriak Bella heboh. Yah, mengingat dirinya satu-satunya gen cucu wanita dalam keluarga besar Prasetya, sepertinya Bella ingin memiliki teman. Dan Tiara adalah harapannya.


"Kamu yang panggil mereka?"


"Enggak, aku cuma kasih tahu kalau kamu mau melahirkan sekarang di grup whatsapp keluarga. Aku kira mereka akan datang setelah bayi kita keluar, taunya..."


Tiara tidak menyangka, proses melahirkannya yang ke dua akan lebih heboh dari yang pertama. Mungkin dulu memang Tiara melahirkan mendadak dan langsung pembukaan ketika tiba di rumah sakit, hanya ditemani Elok dan Yundhi, tak berapa lama Ed lahir. Dan para anggota Prasetya itu tidak sempat datang di saat yang sama karena terikat pekerjaan. Mereka datang berkunjung keesokan harinya.


Namun kali ini berbeda. Mereka seperti ingin ikut menyambut kedatangan anggota baru dan Tiara merasa istimewa atas perlakuan ini. Iring-iringan anggota Prasetya ikut mengantarnya hingga ke depan pintu ruang operasi. Ah, Prasetya selalu bisa mengambil hatinya.


Saat itu tiba.


Wajah Tiara kembali tegang dan di sertai tangis. Yundhi masih setia menggenggam tangannya, menyalurkan gelenyar ketenangan yang sedikit tidak membantu Tiara untuk lebih tenang.


Tiara yang di dampingi Yundhi masuk ke ruangan itu. Hawa dingin dan beberapa petugas berpakaian hijau menyambut mereka. Yundhi yang memutuskan ikut menyaksikan semua proses yang akan berjalan kini dipakaikan baju berwarna hijau dan penutup kepala.


Tiba di bagian tengah, Tiara kembali dipindahkan ke ranjang datar khusus yang juga di kelilingi peralatan khusus ruang operasi. Demi Tuhan, Tiara tidak menyangka akan berada di ruangan itu dalam jangka waktu yang sangat cepat dan sangat tidak ia duga. Ruangan itu sangat berbeda dengan ruang bersalin normal yang ia tempati saat melahirkan Ed.


Satu dokter menyambut Tiara dan meminta Tiara untuk duduk. Tiara hampir gagal paham, kenapa ia malah di suruh duduk sekarang? Namun, Yundhi dengan sigap menuntunnya bangun. Tiara menurut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Bu Tiara, kita mau bius dulu ya, ibu peluk bantalnya, badannya bisa di bungkukkan sedikit, senyaman mungkin, oke." Jelas dokter itu.


Tiara membungkuk, memeluk bantal di pangkuannya dan meremas benda itu saat benda dingin terasa menusuk tulang punggungnya.


Yundhi yang menyaksikan secara live setiap langkah proses itu terjadi, menggingit bibirnya ngilu, melihat besarnya jarum suntik yang menancap di tulang punggung Tiara.


Beberapa janji ia ikrarkan dalam hati. Intinya dia akan membahagiakan Tiara hingga akhir hidup mereka.


Tiara kini di baringkan, dan Yundhi tepat berada di atas kepalanya. Mereka bertukar senyum. Di mata Yundhi meski Tiara berpenampilan agak berantakan, matanya tetap saja menangkap kecantikan sang istri.


"Bu Tiara punya lagu favorit?" tanya sang Dokter.


"Jangan Adele sayang, plis!" Interupsi Yundhi.


"Richard Mark, I will Be Right Here Waiting." Jawab Tiara.


Yundhi menghembus napas lega.


"Suami saya pilot, terbang ke segala penjuru dunia. Jadi tugas saya menunggu dia di rumah, setelah menjalankan tugas." Tiara menyambung jawabannya dengan mata yang menatap mata Yundhi.


Yundhi tersentuh.


Boleh cium bibir ga ya? batin Yundhi.


Setelahnya, tirai pembatas di bentangkan di depan wajah Tiara. Sedikit tidak Tiara shock dengan tindakan itu. Ternyata dia tidak akan melihat langsung perutnya yang akan di sayat.


"Mainkan DJ, Richard Mark," seloroh sang Dokter.


"Siap Dok."


Tiara bisa merasakan bius yang tadi disuntikkan mulai bekerja, menyebar ke bagian bawah tubuhnya. Hingga bagian perut ke bawah tubuhnya mati rasa.


Tangan Tiara di rentangkan. Ia melihat satu tangannya yang telah di pasangi infus, dan kemudian tangan yang lain di pasangi alat deteksi jantung. Lubang hidung Tiara pun di pasangi selang bantu pernapasan. Adegan seperti di percepat.


Tiara memilih memejamkan mata, merasa bibir dan tenggorokannya kering, beberapa bagian tubuh yang mulai tak nyaman.


Lagu yang mengalun sedikit menenangkan Tiara selama proses berlangsung.


Yundhi yang sedari tadi kehabisan kata-kata, terdorong untuk menciumi kening Tiara, dalam. Ke dua telapak tangannya membingkai sisi wajah Tiara. Mungkin hanya perasaannya, ia merasakan ikatan yang sangat kuat menjalin dirinya dan Tiara saat itu.


Saat tubuhnya di tegakkan sesaat, Yundhi mendadak ngeri menyaksikan hal gila yang akan terjadi beberapa menit lagi. Perut buncit istrinya akan di sayat. Sungguh, ini akan menjadi adegan tidak terlupakan dalam hidup Yundhi.


"Berasa ga kakinya saya pukul?"


"Enggak Dok."


"Baik, kita mulai Bundanya Edward."


Di tengah lagu dan kesibukan rekannya, dokter itu kembali berucap, "do'a guys....okay, let's do it."


Sesekali Tiara mendengar salah seorang petugas turut bersenandung mengikuti Richard Marks.


"Itu lagu aku buat kamu," oceh Tiara saat Yundhi menciumi pipinya.


"I love you, Tiara. Aku mencintaimu lebih dari apapun yang aku punya."


Tiara menangis. Entah kenapa bisikan cinta Yundhi kala itu terasa berbeda meski Yundhi sering mengatakannya. Sensasi berbeda begitu terasa kali ini. Terdengar indah untuk Tiara.


"Love you, too."


Tiara merasakan sesuatu yang di tarik dari perutnya.


Yundhi menatap depan, mulutnya menganga dengan tangis bahagia.


Suara tangis bayi menggema ke seluruh penjuru ruangan. Di sambut suka cita seluruh orang yang ada di ruangan itu. Terutama Tiara yang kini menangis deras.


"It's a girl, kuat, sehat, nangisnya kencang, good girl, selamat Bundanya Edward."


Saat itu juga Yundhi menghujani Tiara dengan ciuman. Tak peduli semua mata petugas di ruangan itu melihat mereka.


"Terima kasih sayang, I love you," ucap Yundhi berkali-kali.


"Bisa bawa ke sini Sus."


Entah Tiara bicara pada siapa, yang jelas dia ingin melihat wajah anaknya.


Yundhi mencari sumber tangis yang masih terdengar.


Tak lama seorang petugas wanita membawa bayi mungil dengan pipi merah ke hadapan Yundhi dan Tiara. Wajah Tiara dan bayinya disatukan. Ciuman ringan ibunya terpatri di wajah mungil itu. Hanya sekejap, suster itu kemudian menunjukkannya pada Yundhi dan sang ayah menghadiahinya dengan kecupan ringan di kening.


"Daddy's girl," celetuk Yundhi.


"Bayinya kita bersihkan dulu, Bun."


Vote kuy


Yang mau sumbang nama monggo.