When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Just Talk



Ivan mencegat Tiara yang baru keluar dari kelas. Tiara tidak kaget mengingat gedung fakultas tempat Ivan berkuliah saat ini berada di kawasan yang sama dengan pusat bahasa tempatnya mengajar. Para murid asal luar negri yang tadinya masih terlihat sudah membubarkan diri.


"Kebetulan lo nyegat gue, ada yang mau gue bahas!" Tiara memulai lebih dulu.


"Gue bakal sering-sering nyegat lo mengingat lokasi kita yang ga berjauhan. Demi lo gue rela pindah dan tertinggal dua semester. See!"


"Jangan norak Van, gue mau bicara baik-baik, gue harap lo bisa ngerti dan pakai akal sehat lo sebagai orang yang berpendidikan, jangan sampai rasa hormat gue lenyap karena tingkah childish lo."


"Lo tahu apa tentang kenorakan gue?"


"Oke, gue minta maaf,apapun yang pernah gue lakuin di masa lalu sama lo dan bikin lo sakit hati, gue minta maaf. Gue tahu gue salah, dan harusnya ga lari dari masalah kita dulu."


"Sekarang lo ngaku, jadi siapa sebenarnya yang childish."


"Ivan please, ini semua ga akan ngerubah perasaan gue ke elo, gue udah punys Yundhi dan gue berharap lo juga akan ketemu perempuan yang jauh lebih baik dari gue, gue mohon banget lo ngerti, I'll treat you like brother, don't mess me up!"


Ivan tertawa getir, pencanangan Tiara tentang pernikahan membuatnya menciut.


"Gue biarin lo tenang sampai lulus, ga ngusik lo selama tiga tahun dan cuma ngawasin lo dari jauh harusnya ga lo bayar dengan kabar pernikahan lo yang spekta ini."


Tiara tertegu, benarkah Ivan melakukan hal itu demi dirinya, atau hanya akal-akalannya untuk menarik simpati Tiara.


"Gu tanya sekali saja, lo bahagia sama pilihan lo sekarang?"


"Maksud lo?"


"Jangan balik nanya, jawab!" Ivan menaikkan nada.


"Gue bahagia, Yundhi cowok baik, sama kayak elo, gue yakin sama dia." jawab Tiara setenang mungkin, dalam hati sebenarnya ia takut jika Ivan nekat berbuat hal aneh padanya, tapi ia ingat ada cleaning service yang masih tertinggal di sana dan bisa mendengarnya berteriak jika terjadi sesuatu.


Ivan tertunduk lesu, memendam emosi yang sudah menjalar di sekujur tubuh. Kata-kata Tiara seolah-olah menjadi api yang sangat berpoyensi membakarnya, tapi anggapan Tiara bahwa ia laki-laki baik sedikit menghibur perasaan marahnya. Menurut dia, gue cowok baik, fine.


"Lo pastiin, cowok lo ga nyakitin lo sedikitpun, kalau gue denger sedikit saja hal aneh tentang hubungan lo, gue ga akn segan rebut lo lagi."


Tiara tersenyum lega, Ivan benar-benar memakai akal sehatnya.


"So we friend?" ujarnya sambil menjulurkan tangan. Ivan menyambutnya meski dengan perasaan dongkol luar biasa.


"Friend."


"Makasih, udah mau ngerti."


***


Sahrul mengernyitkan dahinya yang memang sudah bergaris halus. Kepala sekolah kawakan itu sedikit heran dengan surat yang terdapat di atas mejanya. Bukannya tidak biasa masalah surat menyurat, tapi kop pada amplop surat itu yang membuatnya bertanya-tanya. Pengirimnya adalah pimpinan tertinggi di instansi yang menaungi profesinya.


Demi menghilangkan rasa penasaran, ia pun segera membuka amplop itu dan memfokuskan diri. Setelah membaca dengan seksama ia pun menyandarkan badannya di sandaran kursi kebesaran. Entah harus berbangga atau sedih yang ia rasakan setelah membaca isi surat itu. Mungkin rasa sedihlah yang akan lebih mendominasi perasaannya.


Ketukan pintu membuatnya harus kembali menegakkan badan. Orang yang datang adalah staf kesanyangannya dan akan segera meninggalkan sekolah yang ia pimpin untuk waktu yang cukup lama.


"Duduk bu!"


"Bapak sudah terima surat pemberitahuannya?"


"Sudah, baru saja saya baca. Kita bicara santai aja ya nak Tiara! Masalah ini perlu kita bahas mungkin seperti hubungan ayah dan anak, nak Tiara ga keberatan?"


"Tentu tidak pak, saya malah senang." Tiara mengambil tempat, membuat dirinya senyaman mungkin.


"Kamu yakin tentang misi ini? Lokasinya ga main-main lho, salah satu pulau terluar. Maaf sebelumnya saya langsung saja, karena agak khawatir."


"Saya juga sebenarnya ga terlalu yakin pak, baru masuk ngajar di beberapa tempat dan saya juga di tengah waktu untuk persiapan pernikahan."


"O ya. Kalau begitu mundur saja, biar di isi yang lain."


"Nah itu dia, saya juga tertarik dengan misi ini, saya tahu sedikit tentang daerah dan suku itu, beberapa kosakatanya saya jadikan sample di pembahasan skripsi saya, kalu saya mundur tidak akan ada kesempatan lagi. Unsur yang lain saya masih blank tentang daerah dan kehidupan penduduknya, orang yang merekomendasikan saya juga sepertinya profesor saya sendiri, dosen pembimbing skripsi saya, beliau juga yang akan membimbing kami dalam misi ini."


"Lantas bagaimana tanggapan ayah kamu juga Yundhi?"


"Saya belum beri tahu mereka, saya terima telpon dari pusat juga baru tadi malam, jadi cari waktu yang tepat dulu, ayah juga baru selesai dinas luar kota lumayan lama."


Sahrul mengangguk paham. "Saya berharap kamu tidak benar-benar pergi dari sekolah ini setelah misi ini selesai, nantinya pasti mereka akan menawarkan posisi yang layak kalau mereka sudah tahu kinerja kamu."


"Enggak kok pak, saya pasti tetap ngajar kalau bapak ga pecat saya karena kelamaan pergi."


"Jadi kamu benar-benar akan ikut misi ini?" wajah Sahrul sedikit menegang, seperti seseorang yang akan kehilangan sesuatubyang berharga.


"Kemungkinan besar iya."


"Persiapan pernikahan kamu bagaimana?"


"Berhubung bapak yang tanya, sekalian saya mau minta dispen lagi, mungkin saya bakal jarang di sekolah. Minggu depan sudah mulai ujian semester juga kan pak, saya juga tidak ada jadwal mengawas, jadi kalau bapak izinkan..."


"Tentu, atur saja, saya selalu dukung keputusan kamu, saya bicara begini karena ada rasa khawatir, Tiara sudah seperti anak bapak, saya kenal ayah kamu juga kenal dengan keluarga Yundhi."


Sahrul menjwda, keheningan membentang antara mereka.


"Pertanyaan terakhir."


Tiara menajamkan telinga, seperti berhadapan dengan dosen penguji skripsinya saja.


"Kamu yakin akan bergabung dalam misi ini?"


Tiara mendengus lucu, astaga pak kirain pertanyaannya apa gitu, mau minta hadiah apa buat nikahan contohnya.


***


Setelah bicara dengan kepala sekolahnya, Tiara keluar senyuman lebar dari ruangan sang pimpinan. Tidak menyangka kepala sekolahnya akan dengan mudah memberinya izin mangkir dari kehadiran wajib di sekolah untuk mengurus hal lain di luar tanggung jawabnya sebagai guru.


Tiara menghentikan langkah, mengingat suara yang menyebut namanya dari arah belakang.


Astaga.


Tiara membalikkan badan dan ternyata benar si Jonathan Christie.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tiara bebicara ramah menyembunyikan rasa malasnya berhadapan dengan casanova baru sekolahnya.


"Bisa temani saya berkeliling sekolah, saya ngerasa aneh harus orientasi sendirian."


"Ga minta bantuan sama yang lain, saya sibuk, maaf ya."


Tiara hampir melangkah, tapi tertahan tangan tidak sopan itu lagi da segera menyentak keras.


"Maaf, saya kurang sopan, tapi yang lain sepertinya sibuk menyelesaikan soal untuk ujian minggu depan, tidak bisa di mintai bantuan."


Modus.


"Saya juga sibuk, jadi ga bisa bantu anda."


"Tapi bu Tiara sekarang sedang tidak melakukan apa-apa bukan?"


Deki menunjukkan tatapan tajamnya pada tubuh Tiara dari atas sampai bawah.


"Sekarang memang saya lagi jalan, baru dari ruang kepsek, balik ke ruangan saya mau ngurus kerjaan lagi." Tiara lebih dulu menerangkan jawaban dari raut wajah laki-laki itu. "Tanpa saya temani harusnya anda juga bisa orientasi sendiri, bukannya setiap ruangan punya papan keteranga, bisa baca kan, pak?" sarkas Tiara.


Skakmat.


Tiara melangkah lagi. Menggeleng kepala keheranan dengan tingkah carper laki-laki itu. Ivan baru beres lho, masa ada yang nongol lagi, Ivan jilid 2.


"Kalau begitu masukkan saya ke grup chat kamu..."


What? 'kamu' yang benar saja. Kita ga seakrab itu kali.


"Grupnya saya nonaktifkan, biar anak-anak ga nanya aneh-aneh karena ujian."


"Kalau begitu bisa saya minta nomor pon..."


Tiara kembali melangkah mendekati guru tampan nan modis itu, meski sekarang penampilannya agak berubah formal, kaos oblong di ganti kemeja, sepatu kets di ganti pantofel, tetap saja dia modis dan memang sedap di lihat. Tapi demi apapun Tiara tidak tertarik, di matanya Yundhi adalah laki-laki dengan penampilan terbaik.


"Pak Deki ya kalau ga salah, saya ga mau ke geeran, tapi saya ga akan tertarik sama bapak, teman saya bu Mimi, Arumi, dia naksir berat sama bapak, maaf banget saya orangnya ga bisa basa-basi, jadi pak Deki coba deh deketin bu Arumi, saya jamin beliau ga akan nolak bantuan bapak masalah orientasi atau lainnya, ya, mari."


"Kalau begitu saya akan minta bantuan dia deketin kamu, gimana? Saya tahu kamu sudah punya pacar, tapi peluang pasti masih ada meski sedikit selama belum diresmikan."


Wajah tampan Deki entah kenapa berubah menyebalkan level tujuh di mata Tiara saat itu. Orang ini niat sekali membuatnya kesal sepagi itu.


"Bapak ga ada kerjaan selain orientasi solo gini?"


"Saya sudah menyerahkan soal ujian ke bagian admin, pak Suhaili sudah memberikan kisi-kisi, oke saya skip, yang pasti masalah soal ujian saya sudah beres, dan bu Tiara pastinya juga begitu, karena soal ujian bahasa Inggris malah sudah di masukkan ke dalam amplop, bu Tiara pasti punya banyak waktu luang dan..."


"Stop di situ, dan maaf saya tidak bisa membantu, good luck, bye."


Tiara benar-benar berbalik dan melangkah pergi meninggalakan Deki yang masih diam di tempatnya menguapkan rasa kesal pada orang baru yang sok akrab itu dengan membuang nafas kasar. Ponsel di sakunya bergetar, sebuah nomor asing muncul, mungkin dari orang pusat pikirnya. Ia pun berdehem merapikan tenggorokannya lalu menggeser tanda hijau.


"Hallo!"


"Ini nomor hp saya, jangan lupa di simpan bu Tiara!"


Tiara membalik badan dan Deki dengan sejuta pesonanya melambaikan tangan menggoda padanya. Ternyata laki-laki itu belum menyerah juga. Tiara melempar senyum bercampur perasaan jengkel yang luar biasa.


"Tenang aja pak, saya ga akan lupa blokir nomor bapak, detik ini juga."


Benar-benar Ivan jilid 2.


***


Deki tersenyum lebar setelah berhasil menggoda Tiara yang tak sengaja ia lihat baru keluar dari ruang kepala sekolah. Ia tidak menyangka rasanya akan semenyenangkan itu. Tentu saja segala ucapannya tadi hanya untuk mengganggu Tiara. Dia tidak butuh bantuan siapapun untuk mengetahui seluk beluk kawasan tempatnya mengajar itu. Rumahnya mungkin dua kali lebih besar dari luas sekolah yang ia pijaki sekarang.


Entah bisikan setan apa penampakan Tiara selalu memunculkan pikiran isengnya. Sama halnya dengan keisengannya mendaftar sebagai guru yang pada kenyataannya dia malah punya perusahaan yang harusnya ia urusi. Apa iya karena Tiara satu-satunya wanita yang tidak menyadari, tidak tertarik sama sekali pada wujudnya. Sepertinya akan seru jika dia menjadi pengacau di tengah-tengan kehidupan Tiara, entah itu dengn sahabatnya, atau dia muncul saja di tengah hubungan Tiara dan Yundhi sebagai pebinor. Ide gilanya bermunculan di kepala. Sambil bersiul ia melewati arah yang tadinya di lewati Tiara. Kembali ke ruang guru, bertemu Tiara, lagi.


***


Yundhi kembali membaca pesan singkat yang baru saja ia terima. Sedikit terkejut karena kabar ini datang lebih cepat dari perkiraannya.


Emma: Kak Emmy udah balik, pengobatannya lebih cepat.


Yundhi menimbang-nimbang kembali, apa harus ia bertemu lagi dengan Emmy, apa yang akan ia katakan nanti. Dia melirik jam tangan di pergelangan, satu jam lagi waktu jemputan Tiara. Ia segera turun mencari mang Jay, orang yang paling tepat ia mintai tolong saat ini.


"Mang Jay, jemput Tiara di sekolah ya, kalau dia tanya bilang saya ada urusan mendadak!"


Tanpa berpikir lagi, Yundhi masuk ke dalam mobil. Masalah masa lalunya hari ini harus di selesaikan. Ia sudah memasang ancang-ancang, tidak ada emosi, tidak akan melibatkan perasaan, just talk. Kejelasan hubungan merekapun harus di canangkan karena Yundhi akan segera menikah, tapi ia belum mengucapkan kata putus pada Emmy.


Tentang Tiara, ia sudah mencatat akan bercerita pada kekasihnya itu setelah masalahnya selesai dengan Emmy. Ya, rasanya keputusannya sudah benar. Sama seperti yang Tiara lakukan dengan Ivan kemarin, mereka berteman, Yundhipun akan melakukan hal yang sama. Meski sempat marah saat Tiara memberitahu setelah urusannya dengan Ivan sudah selesai, ia benar-benar takut jika Ivan berbuat nekat ketika ia tak ada di samping Tiara.


"Bener ya kamu ga di apa-apain sama kompor itu."


Begitu kira-kira reaksi dongkolnya sehabis Tiara bercerita.


Kini ia juga akan mengahadapi Emmy, seseorang dari masa lalunya. Cinta pertamanya. Ia akan menyelesaikannya hari ini. Harus.


Mungkinkah Yundhi tidak akan goyah mengingat lama hubungannya dengan Emmy jauh berbeda dengan hubungan Tiara-Ivan. Ivan mungkin hanya cinta monyet bagi Tiara, tapi Emmy .... hm????


Jika Yundhi gegabah, bisa saja akan salah mengambil keputusan dan akan di sesalinya di hari kemudian. Paling tidak ia harus menguatkan perasaannya sekarang, kepada siapa sebenarnya hatinya akan ia labuhkan.