
Sebagai seorang laki-laki, Yundhi memang dulu pernah akrab dengan benda yang bernama motor, sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama Yundhi malah sudah bisa mengendarai motor. Bahkan ia pernah ikut bergabung dengan club motor gede dan melakukan touring ke berbagai tempat. Pengalamannya dengan motor pun sudah tidak di ragukan. Jatuh dari motor, nabrak pejalan kaki, nyerepet ibu-ibu, megang stang gas pas naik ketika akan di bonceng ayahnya sampai motor itu meloncat tak terkendali dan menabrak dinding juga pernah Yundhi alami. Dan Yundhi merasa pengalaman itu tidak terlalu membekas dalam dirinya.
Tapi saat ini, yang sedang ia lakukan, mengendarai motor sambil membonceng istrinya yang sedang hamil, sungguh membuat tangan Yundhi bergemetar kecil selama memegagang stang kemudi motornya. Pertama kali dalam seumur hidupnya, Yundhi merasa gugup bercampur cemas dan takut jika apa yang di lakukannya sekarang berakibat tidak baik pada kandungan Tiara nanti. Rasa gugupnya kali ini mengalahkan rasa gugupnya ketika pertama kali bertugas membawa pesawat yang diisi penumpang. Ya Allah, gemetar aku.
"Yundhi kita kapan nyampainya, kamu ga jalan-jalan ini namanya."
Tiara protes keras saat Yundhi berjalan sangat lambat untuk ukuran Tiara yang memang sering ngebut membawa motor.
"Ya Allah Ra, ini udah 40 km lho kecepatannya, kalau kamu ga hamil aku beneran bisa sampai 100 km, udah deh jangan protes!"
Kalau Yundhi memberi tahu Tiara bahwa tangannya sedang gemetar mungkin Tiara akan mengejeknya. Jadi lebih baik buat pengalihan saja.
"Ini perjalanan sejam bisa jadi dua jam kalau gini." Tiara mendumel, Yundhi diam saja, tetap fokus dengan jalan di depannya.
Tiara merengut kesal. Dulu, ketika dia bolak-balik mengendarai motor di jalanan, Tiara sering melihat ibu-ibu yang di bonceng suaminya menggunakan motor, jalannya lebih cepat di banding dengan kecepatan Yundhi sekarang. Mereka terlihat menikmati-menikmati saja, tidak ada rasa takut atau was-was, baik si suami atau si istri. Dia pengennya kayak gitu. Ralat, bukan dia yang pengen, tapi bayinya. Ingat ya bayinya, bukan Tiaranya. Kesel.
Beberapa kali Tiara mendengar bunyi klakson di belakangnya. Tiara bisa tahu kenapa bunyi itu harus ia dengar, yang pastinya pengendara motor lain merasa Yundhi menghalangi jalan mereka karena bergerak lambat. Tiara ragu dengan jawaban Yundhi yang mengatakan kecepatannya 40 km/jam. Karena alasan itu, Tiara melempar senyum kikuk pada pengendara motor lain yang membunyikannya klakson berkali-kali pada mereka.
Beberapa saat kemudian, Yundhi berhenti karena lampu merah menyala. Sedikit tidak Yundhi bernapas lega Tiara beristirahat dari getaran motor yang mereka kendarai.
"Ini yang terakhir ya Ra!"
"Hm."
"Aku ga mau lagi kita keluar pakai motor."
"Hm."
"Aku beneran gugup lho ini, dari tadi aku mau bilang kalau tangan aku geme__"
Yundhi berhenti bicara ketika menoleh ke belakang melihat wajah Tiara yang tampak pucat. Tampak jelas karena kaca helm yang Tiara kenakan terangkat ke atas.
"Kamu kenapa?" tanya Yundhi panik.
"Aku," Tiara meremas keras lengan Yundhi.
Yundhi merasa jantungnya hampir berhenti melihat kondisi sang istri.
"Ra!"
"Jangan-panik-aku-cuma-kram."
Jantung Yundhi terasa bena-benar berhenti. Tidak panik? Bagaimana caranya?
Mereka sedang berada di tengah kepadatan lalu lintas, lampu menyala merah, mereka memakai motor dan perut Tiara kram. Bagaimana Yundhi tidak panik?
Setelah itu Yundhi tidak bicara lagi, berpikir keras apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia membiarkan Tiara meremas lengannya kuat menyalurkan rasa sakit yang Tiara rasakan.
"Nanti kalau lampu hijau, ke pinggir aja," pinta Tiara dengan suara paling lemah.
Yundhi mengangguk mengiyakan. Andai ia sedang di tempat yang lebih kondusif, mungkin Yundhi akan berteriak, mencak-mencak, membentak, atau marah pada lampu merah yang tak kunjung menyala hijau.
Tarik-buang napas Yundhi lakukan agar mengurangi rasa gugup. Meski bau asap polusi berkeliaran di sekitanya, Yundhi tak peduli, paling penting sekarang ia harus menenangkan diri. Jika paniknya berlanjut, kemungkinan ia tidak akan bisa menjalankan motornya dengan aman dan stabil.
"Sabar ya, sebentar lagi kita jalan. Kamu kalau mau peluk aku ga apa-apa, kalau masih sakit__"
Jika laki-laki ditakdirkan cengeng, Yundhi benar-benar akan menangis saat itu mendengar suara Tiara menahan rintihan. Untungnya lampu menyala hijau. Kendaraan di depannya segera bergerak, begitupun Yundhi. Ada sedikit kelegaan di hatinya.
Sabar, dia bersyukur dalam hati Tiara melatihnya memupuk sifat sabar beberapa bulan terakhir. Dan latihan itu ia rasakan manfaatnya sekarang. Menghadapi situasi saat ini, ia benar-benar harus berpikir dengan kepala dingin.
Sabar
Tenang
Sabar Yundhi!
***
Yundhi meminggirkan motor di depan sebuah minimarket. Dengan sangat hati-hati, ia turun menyandarkan motor dan segera membuka helm kemudian menghadap Tiara dan membuka helm yang Tiara kenakan. Semakin jelas terlihat olehnya bulir keringat dingin yang mengaliri wajah pias Tiara.
"Masih sakit?"
Tiara mengangguk, "Sedikit."
"Tarik napas!" Yundhi mengarahkan Tiara agar mengikutinya, "Buang napas!" Yundhi melakukan sendiri apa yang ia ucapkan. Tiara yang masih terduduk kaku di atas motor pun dengan patuh mengikuti apa yang di instruksikan Yundhi.
Tiba-tiba saja Yundhi berjongkok di atas tanah agar posisinya lebih rendah dari Tiara membuat Tiara sedikit kaget. Yundhi kemudian mengelus pelan perut buncit Tiara, membuat gerakan-gerakan tak beraturan di sana sambil tersenyum.
"Hai Baby, ini Papa. Kamu jangan nakal dulu, kasihan Mama kamu bikin ga nyaman. Nakalnya nanti di rumah, biar papa bisa langsung jenguk, kita main sama-sama." Yundhi bicara absurd, membuat Tiara menahan senyum di sela rasa sakitnya yang mulai berkurang. Yundhi dengan sabar masih mengelusi perutnya yang mulai membaik.
"Udah ya nakalnya, jadi anak baik, nanti Papa kasih hadiah, Papa sama Opa Hans udah beliin kamu maskapai penerbangan tempat Papa kerja itu lho, nanti kalau udah besar kamu jadi pilot juga seperti Papa, ya?!"
Tiara mengernyit heran, bertanya-tanya sendiri benar tidaknya ucapan Yundhi.
"Udah baikan?" tanya Yundhi sembari mendongak.
Tiara mengangguk. Melupakan keinginannya untuk bertanya masalah maskapai.
Tangan Yundhi kemudian beralih pada kaki Tiara dan membuka flat shoes yang Tiara kenakan. Yundhi meletakkan kaki Tiara di atas pahanya. Dengan telaten ia memijit pelan pangkal kaki Tiara dari tumit hingga jari-jarinya.
"Kaki aku ga sakit lho," suara Tiara bergetar. Rasa haru menyerangnya melihat apa yang Yundhi lakukan. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya Yundhi akan rela berlelah ria mengurusinya seperti itu dimana apa yang mereka alami sekarang adalah berkat kekerasan kepalanya. Setidaknya dalam bayangan Tiara, Yundhi akan memarahinya, berteriak atau meninggalkannya saja di tengah jalan. Tapi semua itu tidak terjadi dan yang terjadi adalah sebaliknya. Yundhi memperlakukannya dengan sangat baik dan ia akui pijatan kecil Yundhi membuatnya merasa nyaman.
"Udah diem deh. Terima aja!"
Selesai dengan kaki satu, Yundhi berpindah pada kaki berikutnya. Air mata Tiara benar-benar mengalir melihat Yundhi yang merendah untuknya.
Yundhi sendiri merasa heran dengan apa yang ia lakukan.Mungkin instingnya sebagai suami dan calon ayah, membuat ia berpikir tentang kaki Tiara yang bergelantungan ketika di bonceng tadi pastinya membuat kaki istrinya itu terasa pegal.
"Aku udah baikan, ayo bangun!"
"Yakin?"
"Iya."
Yundhi memakaikan kembali sepatu Tiara dan segera bangkit. Tiara pun turun dari motor dengan bantuan tangan Yundhi.
"Kita istirahat di sana." Yundhi menggerakkan dagunya pada kursi yang tersedia di depan minimarket, "aku telpon mang Jay biar kita di bawakan mobil, baru kita lanjutkan perjalanan dan aku ga mau di bantah lagi."