When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Janji



"Ra, udah siap belom? Ayo sarapan!"


Yundhi hanya menatap pintu kamar yang Tiara tempati itu dari luar. Setelah perdebatan kecil antara dirinya dengan Tiara, sepulang kencan mendadak mereka, tentang di mana Yundhi harus tidur malam itu, akhirnya Yundhi memutuskan untuk menyewa satu kamar lagi di depan kamar yang Tiara tempati sekarang. Dia hanya di berikan dua opsi, tidur di rumahnya alias pulang, atau tetap di hotel tapi tidur di kamar lain.


Meski sudah mengumbar janji tidak akan melakukan apapun selama mereka tidur dan menjajikan tidur di sofa, Tiara bersikeras mereka harus benar-benar tidur terpisah, di ruang berbeda. Kejadian pelukan hangat kala itu sudah cukup membuat Tiara tidak ingin hal yang sama terulang. Lagi pula mereka bukan muhrim, tau kan kalau seruangan yang ketiganya siapa?


Dan Yundhi menjatuhkan pilihan pada opsi ke dua. Dia menyewa kamar berbeda tepat di depan kamar sang kekasih.


Tidak ada jawaban, Yundhi bersandar di dinding kamar. Dirinya mencoba menghubungi ponsel Tiara, dan tidak di angkat.Yundhi masih bersabar. Lima menit kemudian pintu kamar itu terbuka.


Tiara keluar dengan dress batik selutut bercorak bunga, sepatu flat, dan tas selempang. Wajahnya jangan di tanya. Meski tanpa make up tebal, Tiara selalu berhasil membuat Yindhi berdecak kagum dan kesal di waktu yang sama. Kagum dengan kecantikan alami kekasihnya, kesal karena orang lain juga akan ikut menikmatinya.


"Kamu udah siap? Sejak kapan?"


"Sejak lebaran tahun lalu," sambar Yundhi.


Tiara tertawa.


"Maaf, lama ya nunggunya?"


"Hm." Yundhi menjawab irit. Mereka mulai berjalan menyusuri lorong kamar hotel itu.


"Kamu ga dengar aku gedor-gedor pintu nelpon beberapa kali?"


"Enggak. Kayaknya aku di kamar mandi. Lagian belum terbiasa pakai ponsel lagi. Aku masih suka lupa." bela Tiara.


"Kebiasaan, ya sudah di maafkan." putus Yundhi.


Tanpa ragu Yundhi menggenggam tangan Tiara, menyalurkan perasaan hangat dan dilindungi, mereka melangkah bersama menuju lift.


"Hari ini kita ke mana?"


***


"Aku pengen ke sekolah, menyerahkan surat pengunduran diriku secara resmi ke pak Sahrul. Aku ga enak, datang dengan cara baik, malah main resign lewat telpon."


"Oke, setelah itu?" Yundhi bertanya saat suapan terakhir ia masukkan ke mulutnya.


"Belum tahu, nanti deh." Tiara melanjutkan acara makannya.


Yundhi mulai memikirkan rencana yang sudah ia siapkan untuk Tiara hari itu. Harapannya semoga Tiara bersedia, dan mau di ajak bekerja sama.


"Kamu udah selesai, kita jalan sekarang?"


Yundhi mengiyakan permintaan Tiara. Lagi pula Yundhi sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan lawan jenis mereka yang ada di sana. Entah karena mengagumi atau karena menginnginkan, yang jelas Yundhi tidak suka situasi itu saat ini. Saat rasa possessifnya masih membara pada Tiara.


Selama perjalanan Tiara tidak banyak bicara. Begitupun Yundhi. Pikirannya sibuk menebak reaksi Tiara jika mengetahui kemana ia akan membawa calon istrinya itu sebelum mereka pergi ke sekolah.


"Lho kok? Emang kita mau ke...?" kalimat Tiara terhenti saat melihat mata Yundhi, dan melihat laki-laki itu mengangguk.


"Aku mau meminta kamu secara langsung di depan ayah Adib."


Tiara menatap Yundhi tak percaya. Keheningan menyambar seketika pada dua insan itu. Sampai Yundhi memarkirkan mobilnya, Tiara masih membisu.


"Maaf, tapi aku ga mau buang-buang waktu, ga apa-apa kan?"


Tiara memandang Yundhi, banyak perasaan ia rasakan sekarang. Terharu, sakit, senang, Tiara saja bingung memilah mana perasaan yang harus ia dalami.


"Ga apa-apa, ayo!" Tiara tersenyum membuat Yundhi di banjiri perasaan lega. Mereka segera turun. Beberapa langkah sebelum memasuki gerbang makam, seorang pria paruh baya menghampiri mereka.


"Den Yundhi?" pria itu menyapa dengan suara ramah, "Wah ternyata benar, apa kabar den? Lumayan lama ya ndak datang nyekar, oya bunganya baru saya ganti, seperti biasa ya den."


Yundhi sedikit kelabakan, seperti seorang murid yang ketahuan menyontek. Ia terlihat gugup. "Eh, iya pak, saya sedikit sibuk."


Tatapan menuntut langsung dilayangkan Tiara. Yundhi merasa tenggorokannya tercekat.


"Kamu sering ke sini?" tembak Tiara.


"Dulu hampir tiap hari mbak. Sampai den Yundhi bilang dia bakal jarang datang karena mau aktif bekerja lagi, den Yundhi minta saya ganti bunga di makam pak Adib setiap dua hari sekali." jelas pria paruh baya itu.


Yundhi mengusap tengkuknya, merasa risih rahasianya terbongkar, di tambah tatapan Tiara yang kini tidak ia mengerti. Ada rasa tidak enak yang muncul di wajah Tiara. Jadi, selama dia pergi, Yundhi sering datang ke makam ayahnya, dan meminta seseorang merawatnya.


"Mmm, kalau gitu kami masuk dulu ya pak, terima kasih sudah menjalankan permintaan saya."


"Iya, silahkan."


Yundhi menarik tangan Tiara, menuntun mereka ke sebuah gundukan tanah yang di tumbuhi rumput hijau. Di atasnya, bertabur kelopak berbagai macam bunga yang terlihat masih segar.


Tiara menatap nanar makam ayahnya. Kenangan mereka berputar hebat di kepala, sampai di titik ingatan di mana dia menemukan ayahnya sudah tak sadarkan diri, bahu Tiara mulai berguncang, ia menangis. Yundhi meraih Tiara dalam pelukannya. Untuk beberapa saat ia membiarkan Tiara larut dengan perasaannya sendiri.


"Maafkan saya om, yang pernah gagal menjaga harta om yang paling berharga. Mulai saat Tiara kembali lagi ke sini, ijinkan saya menggantikan om Adib menjaga anak om yang nakal ini." Tiara memberi cubitan kecil di pinggang Yundhi, "Akh. Ampun! Cubitannya kecil Ra, tapi kok nyelekit."


"Makanya jangan iseng." Tiara menghapus jejak air matanya.


"Udah kan nangisnya?" Tiara ngangguk, "Sekarang aminkan ucapanku, oke?!"


Maafkan Tiara yang pernah melalaikan ayah. Terima kasih sudah membesarkan Tiara. Izinkan Tiara memulai hidup baru dengan Yundhi, laki-laki yang ayah amanatkan menjaga Tiara.


Setelah do'a berakhir, Yundhi menatap sudut lain tempat itu. Ada satu makam lagi yang ingin ia tunjukkan pada Tiara.


"Mau ikut aku ke makam Emmy?" kata Yundhi di sela genggamannya di jemari Tiara.


Tiara tersentak, beberapa pertanyaan muncul di pikirannya. "Ikut dulu, nanti aku ceritakan." ujar Yundhi seolah bisa membaca kegusaran Tiara.


Tiara patuh, membiarkan Yundhi menuntunnya menuju sisi lain dari tempat itu. Agak jauh dari lokasi makam ayahnya. Berbeda dengan makam sang ayah yang bertabur kelopak bunga, makam Emmy terlihat bersih.


"Assalamu'alaikum Emmy, sesuai permintaanmu aku membawanya setelah dia menerima lamaranku. Tetima kasih sudah melepaskan pilot tampan ini dan membuatnya menemukan wanita terpenting ini. Namanya Nyonya Tiara Prasetya." lagi-lagi Tiara mendaratkan cubitannya pada Yundhi. Sepertinya Yundhi tidak mengenal tempat untuk mengeluarkan candaan recehnya.


"Kita langsung do'a aja ya?!" Tiara mengiyakan. Mereka menengadahkan tangan tangan dan Yundhi memimpin do'a. Setelahnya mereka melangkah meninggalkan makam Emmy dan keluar dari kompleks pemakaman itu.


Yundhi setia menggenggam tangan Tiara. "Mau aku ceritain sekarang?" Tiara menatap pada Yundhi, dan mengartikan tatapan itu sebagai jawaban iya.


"Dia meninggal saat kamu masih di Loca, tapi aku juga berada di belahan dunia lain." Tiara bisa melihat tanggal meninggalnya Emmy tak lama berjarak dari hari kepergian ayahnya. "Aku ga bisa hadiri pemakaman Emmy. Sebelumnya dia mengirim pesan ingin bertemu untuk yang terakhir kali. Tapi aku terlalu sibuk nyariin kamu dan melewati pesannya, tapi kemudian dia mengirim pesan lagi dan memintaku mengenalkan kamu setelah kamu bersedia menjadi Nyonya Prasetya."


Yundhi membukakan pintu mobil untuk Tiara. "Tunggu sebentar!" Yundhi beranjak ke sebuh kios yang ada tak jauh dari pintu gerbang makam. Tiara bisa menebak itu adalah kios milik laki-laki paruh baya tadi. Sepertinya beliau juga merangkap sebagai penjaga makam. Yundhi terlihat menjulurkan tangannya pada laki-laki itu.


Setelahnya Yundhi kembali, memasuki kendaraannya duduk di belakng setir. Keheningan terjadi sejenak antara mereka.


"Aku ingin kita melangkah menuju masa depan tanpa ada sesuatu yang mengganjal. Kalau ada hal yang ingin kamu sampaikan, katakan saja, kalau masalah itu butuh penyelesaian kita, beri tahu aku, jangan simpan sendiri! Kemarin, sekarang dan seterusnya aku ga mau kamu punya alasan untuk pergi lagi."


Tiara menghamburkan diri memeluk Yundhi ketika melihat kilatan ketakutan muncul di mata prianya itu.


"Kamu juga harus begitu, jangan sembunyikan apapun. Beritahu aku apapun yang membuatmu gelisah dan tidak tenang dan jangan khawatir lagi! Aku pernah bilang ga akan pergi lagi dan pasti akan menepatinya." Tiara bisa merasakan Yundhi mengecup kepalanya lama.


"Jadi sekarang bisa kita ke sekolah?" Tiara melepaskan pelukannya. "Aku kangen Jenny dan Mimi." Yundhi tersenyum mengiyakan. Tangannya mulai menghidupkan mesin mobil. Mereka mulai meninggalkan kompleks pemakaman umum itu.


***


Tiara dan Yundhi berjalan berdampingan memasuki pintu gerbang besar berwarna coklat emas. Seorang satpam berdiri begitu melihat kedatangan Tiara.


"BU TIARA!!!" suara satpam itu menyambar, membuat Tiara dan Yundhi menghentikan langkah, "Alhamdulillah, bu Tiara sudah balik mau ngajar lagi, sepi lho sejak bu Tiara pergi. Anak-anak pasti senang."


Yundhi dan Tiara menyalami satpam itu bergantian.


"Bukan pak Sukri, saya ke sini malah mau pamitan, pak Sukri apa kabar?"


"Oalah kok pamit bu?"


"Dia udah bosan ngurus anak orang pak, sekarang mau ngurus saya dan calon anak-anak kami." sela Yundhi dan dia harus rela mendapat cubitan ketiga hari itu.


"Tapi benar kan Ra?" Yundhi meminta penguatan, "Khusus pak Sukri saya undang secara lisan ke acara pernikahan kami, oke!"


Tiara harus menarik Yundhi agar omongannya semakin ngalor ngidul.


Memasuki pintu utama sekolah itu Tiara merasa desiran aneh menghampirinya. Ia rindu suasana di kelas, berinteraksi dengan murid-muridnya, menjelaskan materi, melakukan tanya jawab, ia rindu semua hal yang terjadi di dalam kelas.


Petugas yang piket hari itu menghampiri Tiara.


"Bu Tiara, sudah balik?"


"Pak Sapar, apa kabar?" sapa Tiara ramah.


"Baik bu."


"Pak Kepala Sekolah ada?"


"Ada di ruangan bu, langsung saja!"


Tiara dan Yundhi melangkah lagi melewati beberapa ruang kelas sehingga kehadirannya di sadari beberapa murid yang sudah mengenalnya.


"Woy Miss Tiara woy."


"Miss!"


"Miss ajarin kita."


"Miss kangen."


"Miss kapan ngajar kita lagi?"


Selentingan kata sambutan para siswa menyambut kehadiran Tiara. Tiara harus menginstruksikan mereka agar tenang dengan meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Sampai mereka tiba di depan pintu kepala sekolah, mengetuknya dan di berikan ijin masuk.


Para siswa mulai gaduh, meski nyata-nyata ada guru lain di depan kelas. Mereka menebak-nebak apa guru kesayangan mereka akan kembali mengajar atau tidak.


"Bisa kacau nilai gue kalau miss Tiara ga balik, gue cuma ngeh bahasa bule itu kalau dia yang ngajarin." kata seorang siswa.


"Apa kita cariin ke bimbelnya aja, tanya yang lain, kita butuh lima orang buat jadi satu kelas di bimbelnya miss Tiara."


"Boleh tu. Woy gue butuh tiga orang lagi, cung yang mau ikut!"