
Yundhi cekikikan di sofa melihat hasil kejahilannya. Ternyata menggoda Tiara sangat membuatnya senang. Tawa Yundhi berhenti saat menyadari sesuatu. Memang kali ini dia lega, tapi setengah, hubungannya dengan Tiara mendapat kemajuan bahkan mulai normal. Tapi ia belum lega setengahnya lagi, mengingat perihal obat Tiara yang ia buang, Yundhi sedikit khawatir.
Matanya mengarah pada jam tangan yang ia pakai, hampir satu jam, Yundhi mulai resah.
"Ra, kok lama? Keluar dong, kita sarapan!"
Tidak ada jawaban.
"Ra!" Yundhi mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. "Tiara Pradita Putri! Kamu ga apa-apa, kan?"
Masih hening.
"Pintunya aku dobrak!"
"Jangan, sebentar aku keluar, sarapan aja duluan!" jawab Tiara cepat. Yundhi menarik napas lega.
"Kita sarapan sama-sama, aku tungguin."
Sementara Tiara di kamar mandi sudah rapi dengan pakaian yang sudah di ganti. Wajahnya juga sudah segar dan ia telah selesai mandi hampir empat puluh menit yang lalu. Yang membuatnya mengurung diri adalah kejadian tadi yang ia alami, Yundhi memeluknya saat ia tidak memakai bra. Entah pria itu menyadarinya atau tidak, bagi Tiara itu sangat memalukan. Di tambah Yundhi menjahilinya. Bagaimana nanti jika ia keluar dan Yundhi masih tegang dan menyerangnya. Bagaimanapun dia wanita, dan pasti kalah tenaga. Tiara menggigit bibir dan telunjuknya bergantian tanda gugup, menarik napas, oke jangan di ungkit, cuekin! Tiara membuka pintu kamar mandi.
Terlihat Yundhi yang asyik denga ponselnya duduk di sofa. Bermain game mungkin.
"Sini duduk, makanannya udah dingin ga apa-apa, atau kita pesan lagi atau kita makan di luar?"
"Aku tinggal enam bulan kenapa kamu berubah cerewet?" beo Tiara sambil mengambil posisi duduk di samping Yundhi.
"Kita makan yang ini aja, sayang lho."
"Hm, aku makannya sambil lihat kamu, kamu kan hangat." ujar Yundhi dengn kepala di tumpu dengan tangannya.
"Jangan mulai atau ..."
"Oke, kita makan." sambar Yundhi cepat.
"Kamu ga mau dengar kelanjutannya?"
Yundhi geleng-geleng. "Pasti kamu bilang mau kabur lagi."
"Siapa bilang?"
"Emang mau bilang apa?"
"Tadinya aku mau bilang "atau aku cium" tapi kamu udah nyangka yang lain, ya udah." Tiara tersenyun jahil. Gantian.
"Ra." Yundhi memajukan tubuhnya hendak meringsek tubuh Tiara.
"Ijab qobul dulu!" Tiara menahan kepala Yundhi dengan telunjuknya.
"Hufh, oke ijab qobul dulu, ga pake lari lagi kamu!"
Yundhi mundur teratur, mereka mulai menikmati makanan yang terhidang dengan hikmat.
***
Beberapa menit berlalu.
"Aku bisa pindah kesini gimana ceritanya?"
"Kamu tahu aku di sini dari mana?"
Tiara mencecar Yundhi dengan pertanyaannya.
"Kebo kamu memang." Tiara mengernyitkan pelipis.
"Kebo ya, mau tapi kamu nikah sama kebo." Tiara sarkas.
"Iya kebonya kamu aku mau lah. Aku taruh ponsel baru di tas kamu, ada apliksi GPSnya, pas aku mau istirahat, iseng-iseng aku buka, eh taunya titik penanda kamu gerak, ya aku kejar, lari-lari."
"Kamu kenapa ga jadi pulang?" tanya Yundhi kemudian.
Tiara menarik napas.
"Aku belum siap hadapi tante Helma." jawab Tiara jujur, "aku belum siap masuk rumah lagi," imbuhnya.
"Kenapa ga bilang dari awal, aku bisa nganter kamu ke sini."
"Tadinya mau nelpon minta kamu balik, aku mikirnya masih ga punya handphone, ya aku jalan nyari taksi. Kapan kamu taruh hape di tasku? tadi aku lempar-lempar ga dapat hape."
"Ada, di saku yang kecil, yang di resleting," terang Yundhi yang masih menikmati maknannya.
"Oh, jadi?"
"Apanya?"
"Aku pindah kamar jalan sendiri?"
"Panjang sih ceritanya, yang jelas aku gendong kamu kesini, saking pulesnya kamu ga keganggu sama sekali. Di kamar yang sebelumnya ga ada sofa, jadi aku pindahin kamu kesini biar aku tidur di sofa." berdusta lagi, padahal bukan itu alasannya, demi perdamaian dunia aja lah.
"Kuat juga kamu, tapi kenapa ga tidur di tempat tidur aja?"
Yundhi meletakkan sendok di tangannya secara tiba-tiba hingga menimbulkan bunyi berdenting, mulutnya yang tadi ingin di suapi makanan menutup otomatis. Matanya mengarah pada Tiara. Tiara bengong.
"Ra, kamu mancing aku ya?"
"Mancing?"
"Kamu nanya kenapa aku ga tidur di tempat tidur, ada kamu lho di tempat tidur itu."
"Trus kenapa?"
"Kamu ga takut aku khilaf?"
"Hah?"
"Kamu kira aku bisa nahan diri ga pegang-pegang kamu pas kamu tidur?"
"Ya tebelin iman dong."
"Ra!"
"Apa?"
"Latihan yuk!"
"Jangan mimpi!"
***
Tiara menutup pintu kamar setelah seorang pegawai hotel membawa peralatan makan yang sudah kosong. Yundhi kembali asyik dengan ponselnya. Tiara menuju kopernya yang terletak di depan lemari. Terlihat seperti merapikan pakaian, tapi ia sedang mencari sesuatu di sana.
Merasa tidak mendapatkan apa yang ia cari di kopernya, Tiara bergerak menuju tas tangan yang tadi ia lempar isinya pada Yundhi.
Mungkin terselip di bagian lain. Batinnya.
Lagi-lagi barang yang ia cari nihil. Yundhi menangkap dari ekor mata. Perasaannya mulai tidak enak. Tiara nyari obatnya.
"Kenapa Ra?"
"Ah, enggak, itu, aku." Tiara tampak ragu tapi Yundhi adalah orang yang memindahkannya ke kamar ini, "kamu lihat ga obat aku?"
Yundhi mematikan ponselnya. Menuju Tiara yang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Mamang itu obat apa?"
Yundhi ikut duduk di samping Tiara.
"Itu yang di maksud bang Vian waktu di dalam pesawat?" Tiara tampak syok Yundhi mengingat hal itu.
"Oh, a, iya." Tiara menjawab dengan suara terendah, tidak terdengar jika Yundhi duduk lebih jauh sedikit lagi mungkin.
Yundhi merapatkan bibir, berpikir untuk langkah berikutnya.
"Gimana kamu bisa dapat obat itu?" Yundhi memegang tangan Tiara, "aku pengen kita saling terbuka mulai saat ini, ga ada yang di tutup-tutupi, kamu bisa ngasih tahu semuanya sama aku."
Mereka saling menatap tanpa berkedip. Tiara masih ragu mmenjawab.
Yundhi duduk berlutut di hadapan Tiara tanpa nelepaskan tangan wanita itu, posisinya kini lebih rendah.
"Apapun itu Ra, jangan sembunyiin dari aku, kalau kamu ga ngasih tahu, aku bakal nyari tahu sendiri."
Tiara menunduk, matanya mulai berembun.
"Itu cuma obat sakit kepala, aku minta dari dokter yang periksa aku di Loca waktu itu," jawabnya sambil memijit pelipis, kepalanya merasakan denyutan kecil.
"Kenapa harus obat itu?" Tiara kembali memperlihatkan wajah kagetnya.
"Just answer honey, it's me Yundhi, trust me!" Yundhi menangkup wajah sebelah wajah Tiara.
Tiara mengangguk, memantapkan dirinya percaya pada laki-laki itu, kepada siapa lagi dia akan bersandar. Tapi rasa sakit perlahan juga mulai mengganggunya.
"Beberapa hari tiba di Loca, aku sakit kepala hebat, akh!" Tiara memegang kepala bagian belakangnya
"Bang Vian membawa dokter, mereka minta aku kembali ke pusat untuk perawatan tapi aku ga mau, aku minta mereka...akh...minta mereka kasih obat saja." sesuai dugaan Reyhan, Tiara tidak mau diberi perawatan di rumah sakit.
"Kalau kita lakukan perawatan sekarang gimana?"
Tiara menggelengkan kepala, "Kasih aja obatnya, kamu simpan di mana?"
"Aku pengen kamu sembuh."
"Aku akan sembuh kalau minum obat itu, ini mulai sakit Yundhi," jawab Tiara cepat.
"Aku punya teman dokter, aku akan bawa kamu ke rumah sakitnya, ya!"
Tiara merebahkan tubuhnya, menggeram, menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Yundhi merasakan suasana berubah mencekam, ia berusaha tidak panik.
"Aku ga mau ke rumah sakit, aku ga mau ke UGD," air mata Tiara menderas.
"Kenapa?"
"Aku ga mau lihat ayah di sana, ayah kesakitan." childish, tapi Tiara memang trauma dengan rumah sakit, ia terbayang membawa ayahnya yang sudah tak bernyawa ke sana waktu itu.
Tiara meremas satu tangan Yundhi menyalurkan rasa sakit yang teramat sangat, matanya tak bisa ia buka jika sakit itu menyerang. Yundhi terus menciumi tangan Tiara yang ia genggam.
"Kita ga akan ke UGD, kita langsung ke ruangan temanku itu, kamu ga bakal ngerasa kayak di rumah sakit, ya, please Ra."
Tanpa menunggu Tiara menjawabnya Yundhi segera menelpon Reyhan memintanya menunggu di depan pintu rumah sakit, setelahnya ia menelpon layanan hotel meminta mereka menyiapkan mobilnya dan seorang sopir. Tak lama suara ketukan pintu terdengar.
"Aku buka pintu sebentar." Yundhi melepaskan genggamannya.
Seorang pegawai hotel berdiri di depan pintu dan memberitahu bahwa permintaannya telah siap.
Tanpa mengulur waktu lagi Yundhi meraih tubuh Tiara, menggendongnya keluar dari kamar hotel.
Beberapa kali Yundhi bisa mendengar suara Tiara berucap kata 'sakit' dan mendengarnya membuat Yundhi merasa jantungnya di remas perlahan.
Maaf sudah biarin kamu melewati itu semua sendiri.
***
Sesuai perkataanya, Yundhi langsung membawa Tiara ke ruangan Reyhan, melewati prosedur UGD rumah sakit berkat koneksi Yundhi dengan Reyhan. Reyhan tampak terkejut karena Tiara tampak sangat kesakitan sampai harus di gendong oleh Yundhi. Wajahnya tampak pucat.
"Kita langsung CT-scan dan MRI (Magnetic resonace imaging) saja. Lo tunggu di luar, pasien harus ganti baju." ungkap Reyhan cepat setelah melihat Tiara mengerang di atas tempat tidur pasien.
"WHAT?!" balas Yundhi tak kalah cepat.
Reyhan sudah bisa menebak isi kepala temannya itu.
"Bukan gue, suster yang bantu ganti, najis lo."
Wajah Yundhi tampak lega. Ia kemudian mengikuti Reyhan ke meja kerja dokter itu, dan membiarkan Tiara dengan seorang suster di balik kain pembatas. Tiara harus berganti baju dengan piyama rumah sakit yang steril.
"Menurut lo gimana?"
"Gue belum bisa kasih diagnosa apapun sebelum kita melakukan tes MRI."
Yundhi mendekatkan wajahnya pada Reyhan, "Beri tahu gue kalau lo ga sanggup sembuhin dia, gue lebih dari sanggup bawa dia berobat keluar dan nyariin dia dokter terbaik." nada bicara Yundhi seperti mengancam.
"Lo ngancem gue."
"Enggak, gue cuma ngingetin."
"Ini rumah sakit gue."
"Gue beli rumah sakit lo."
"Sini lo, gue bedah."
"Dok, pasien sudah siap." suster yang membantu Tiara menyela perdebatan yang tidak berguna itu.
Tiara memilih di antar dengan kursi roda meski Yundhi ingin menggendongnya ke ruangan khusus untuk pemeriksaan MRI. Meski sedang menahan sakit, ia masih bisa merasa malu jika harus di gendong ke sana kemari oleh Yundhi. Yundhi setia di samping Tiara, menggenggam tangannya sampai Tiara harus masuk ke ruangan itu sendiri.
"Aku tunggu di sini, kamu jangan takut lagi!"
Yundhi menghapus jejak air mata wanitanya itu.
***
Jika saja waktu bisa di ulang, jika saja Yundhi memberi sedikit saja perhatiannya waktu itu pada Tiara, mungkin saat ini mereka tidak akan berada di rumah sakit.
Tidak ingin memberikan hal yang biasa untuk Tiara, Yundhi menyewa kamar VVIP meski Tiara hanya akan di rawat selama dua hari. Kamar rumah sakit itu lebih mirip kamar hotel, jika saja tempat tidurnya di ganti dengan tempat tidur biasa. Fasilitasnya tak perlu diragukan, bahkan untuk penunggu, telah di sediakan single bed yang sangat nyaman.
Yundhi memilih duduk di kursi yang tersedia di kamar itu, tepat di samping Tiara yang sedang terlelap. Beberapa menit yang lalu Tiara tertidur setelah Reyhan memberikan obat. Tangannya juga sudah di pasangi infus.
"Aku janji, kamu akan sembuh."
Reyhan masuk menemui Yundhi yang masih setia menggenggam tangan Tiara.
"Kayaknya dia spesial."
”Spesial aja ga cukup, lo bisa nyari kata lain buat ngartiin betapa istimewanya dia dia buat gue."
"Yang sebelumnya?"
"Jangan bahas Rey! Gimana hasil pemeriksaan dia?" Yundhi menatap Reyhan tajam, "Jangan pakai bahasa planet lo!"
"Tahu gue." Reyhan menjeda, "Lo harus bersyukur ini hanya penyempitan syaraf, masih bisa di atasi tanpa harus di bedah. Untuk sementara jangan kasih dia stres apalagi mikir yang berat-berat, jadinya kayak tadi, sakit kepalanya luar biasa. Setelah kita terapi nanti, sakitnya akan berkurang sedikit demi sedikit, kalaupun nanti kambuh, bisa di atasi dengan obat yang dosisnya rendah dan ga bikin ketergantungan. Pastiin dia tenang biar ga perlu minum obat penenang lagi."
"Lo yakin dia bisa sembuh kalau cuma di rawat di sini?"
"Lo ga percaya sama gue?"
Yundhi mendengkus, "Percaya gue, and makasih."
"Terapinya hanya pemberian obat berkala, tapi harus tepat waktu makanya gue anjurin opname, bisa saja lo bawa pul__"
"Ga, biar dia di sini, sampai benar-benar sembuh, lebih dari dua haripun gue ga keberatan asal dia baik-baik aja setelanya."
"Fine, gue tinggal dulu. Dua jam lagi gue balik nge-check kondisinya."