
Pagi buta, ketika matahari masih di peraduan, membuat semesta di selimuti kelam, Tiara nekat berangkat dengan taksi menuju rumah Yundhi. Dia sudah memutuskan, setelah perdebatan panjang dengan pikirannya sendiri sepanjang malam, hari ini juga dia akan mengambil motornya. Tiara sengaja berangkat pagi-pagi ketika hari masih gelap, yang kemungkinan Yundhi dan keluarganya masih tidur saat ia sampai di sana, Tiara akan meminta mang Jay membebaskan motornya apapun yang terjadi. Beberapa rencana sudah ia siapkan untuk berjaga-jaga andaikata mang Jay menolak, dan pilihan terburuknya dia akan mengancam mang Jay dengan melaporkannya pada Yundhi dengan laporan palsu, entah apa, yang penting laporan palsu aja.
Sesuai perhitungannya, Tiara sampai di depan gerbang rumah Yundhi. Sekitarnya masih remang dan hening. Setelah taksi yang ia tumpangi berlalu, Tiara menekan bel yang menempel di tembok sisi kanan gerbang. Tak lama bik Johar, istri mang Jay, membuka gerbang dengan wajah sedikit kaget melihat Tiara berdiri di depannya.
"Non, nyariin aden ya? orang rumah masih tidur." terangnya.
"Bagus deh." Tiara menyusup ke dalam diikuti bik Jo di belakangnya, "Mamang mana?" ujanya sambil terus berjalan.
"Di garasi utara, manasin motornya non." jawab bik Jo dengan langkah berburu mengimbangi Tiara.
"Perfect."
"Opo to non, pefek, maksudnya peyek, mau bibik buatin? sarapan peyek mana kenyang non." bik Jo terus mengoceh tapi tak di pedulikan Tiara.
Dari kejauhan Tiara bisa melihat mang Jay memutar gas motornya hingga menimbulkan suara bising, tapi tak sampai mengusik ketenangan orang tidur sekalipun. Ia tahu selama motornya terawat dengan baik selama di sita Yundhi setelah di perbaiki karena kecelakaan waktu itu. Tiara bisa saja membiarkan motornya tetap di rumah Yundhi tanoa khawatir apapun, tapi saat ini ia harus melakukan sesuatu pada dirinya yang bermasalah.
"Mang, minta motor ya, bilang aja ke Yundhi, saya yang bawa, kalau dia marah bilang saya yang keras, oke." tanpa menunggu jawaban mang Jay Tiara naik ke atas motornya yang sedang di panaskan dengan leluasa, tak ada drama rebutan kunci seperti bayangannya semalam karena kunci kontak motornya terpasang manis di tempatnya. Tiara berlalu begitu saja. Meninggalkan bik Jo dan mang Jay yang masih melongo mencerna apa yang terjadi.
"Pak kenapa di kasih to? Nanti mau bilang apa sama tuan muda?"
"Aku enggak ngasih bu, aduh gimana iki, dia ngambil punyanya tapi..."
"Pokoknya nanti bapak yang ngomong sama tuan muda, aku enggak ikutan."
"Walah bu, sini to bantuin mikir!"
"Emmoh, aku mau maasak." ujar bik Jo berlalu meninggalkan suaminya.
***
Tiara melaju dengan kecepatan hampir mencapai batas maksimal. Motornya kini mengarah ke luar kota. Tiara tidak berencana ke sekolah dulu meski dirinya saat ini memakai seragam mengajar. Pikiran kusut tentang hubungannya dengan Yundhi harus ia uraikan, jika tidak otaknya akan dalam bahaya. Pantai, menjadi tujuan Tiara kali ini. Mungkin dengan berteriak, bebannya akan berkurang.
Hampir satu jam di atas motor dengan penampilan mendekati acak-acakan karena tidak memakai helm, Tiara memarkirkan motornya di depan gubug kecil pinggir pantai. Sejak dulu, dia sudah mengenal pemilik gubug itu dan mereka juga sudah hafal, jika motor Tiara terparkir di sana artinya ada sesuatu yang harus di lampiaskan.
Tiara melangkah dengan pandangan yang tak lepas dari laut lepas, menyerap ketenangan yang alam tawarkan. Ia pernah dengar berendam di air laut salah satu cara ampuh mengobati penyakit tertentu. Tapi dia tidak berencana berendam saat ini, dia hanya ingin membagi kegundahannya dengan semesta.
Tiba di bibir pantai, Tiara kembali termenung. Apa yang akan di lakukannya nanti, bagaimana dia akan menghadapi Yundhi, bisakah dia menerima kenyataan dan mengalah, bagaimana kalau Yundhi tak seoerti dulu seperti yang ia suka. Meski Yundhi belum mengatakannya secara gamblang, kemungkinan yang ia ciptakan bisa saja terjadi.
Dengan kekuatan penuh Tiara mengeluarkan kegundahannya, membiarkan alam menelan perasaannya yang berkecamuk. Suaranya tertelan ombak kecil yang bersahutan.
Ini yang pertama, baru kali ini aku menyerahkan segenap hati, berani bersandar di bahu yang ia tawarkan, bahkan masih hitungan hari, apa aku seburuk itu tidak bisa memilikinya sepenuhnya.
Lagi dan lagi Tiara berteriak hingga suaranya hampir habis dan setelah itu kelegaan membanjirinya. Dengan posisi membungkuk bertumpu pada lututnya, Tiara menguatkan diri. Ia akan menghadapi apapun yang terjadi dan tidak akan lari seperti dulu, lari dari Ivan.
Tiara berbalik berjalan menuju motornya. Di sana sudah ada seorang wanita paruh baya dengan tampilan khasnya mengenakan sarung sebagsi bawahan tersenyum hangay ke arah Tiara.
"Tiara berisik ya Mak?"
Si wanita menggelengkan kepalanya.
"Masalah apalagi,?" tanyanya lembut.
"Biasalah mak, masalah kehidupan, ada ikat rambut ga mak?"
Si wanita itu masuk ke dalam mencari apa yang Tiara minta. "Sudah mau balik?"
Tiara memanggutkan kepala sambil menyisir rambutnya yang kusut tak beraturan. "Kapan-kapan Tiara datang, tapi khusus buat Emak, ga pake buang masalah."
***
Yundhi baru keluar dari kamar setelah bersiap beberapa menit sejak ia bangun. Langkahnya tergesa menuruni anak tangga. Mang Jo yangbdatang dari arah dapur segera berbalik begitu melihat Yundhi turun. Bersembunyi di balik pintu, mang Jo berkali-kali mengusap dadanya agar mendapat rasa tenang.
Dengan cepat Yundhi mengambil selembar roti, mengolesinya dengan selai dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Bik, minta susu dong!"
"Siap den." sahut bik Jo dari arah dapur.
Mendengar suara Yundhi, mang Jay makin di landa gugup. Dengan tabah ia melangkahkan kaki hendak menghadap tuannya. Tapi tiga langkah sebelum mencapai posis pasnya, mang Jay kembali surut.
"Mang, kenapa? ada yang mau di sampein?" tanya Yundhi yang kebetulan berbalik dan memergoki mang Jay.
"Eh , anu tuan, den, gini," ucapnya terbata terpotong.
"Kenapa sih? Kalau masalah Tiara hari ini biar saya yang jemput."
"Itu dia den," mang Jay memilin ujung baju mengurangi gugupnya, "non Tiara tadi subuh ke sini." Yundhi mengedarkan pandangannya.
"Mana dia sekarang? Sama mama?"
"Non Tiara udah pergi, bawa motornya, mamang khawatir den, tadi non Tiara ga pake helm, buru-buru, di halaman depan aja ngebut, bisa telponin ga den non Tiaranya, mamang takut dia kenapa napa."
"Astaga mang Jay, kenapa motornya di kasih sih." suara Yundhi menggelegar, sambil mengusap wajahnya yang frustrasi Yundhi mengambil ponsel yang terselip di saku dan segera menghubungi Tiara dan sayangnya ia hanya di sambut suara operator wanita.
"Jam berapa dia ke sini?" tanya Yundhi gusar.
"Subuh den, saya lagi panasin mobil, masih gelap tadi." jawab mang Jay tak beraturan.
"Panasin mobil kenapa bisa motornya di ambil?"
"Eh maksudnya saya panasin motornya non Tiara, tiba-tiba dia dateng, langsung naik terus jalan, katanya kalau den Yundhi marah bilangin saya yang keras, gitu den."
Yundhi semakin dongkol karena telponnya tak diangkat Tiara. Satu notifikasi dari sosial medianya berbunyi. Seseorang mentag namanya sengaja agar melihat postingan itu.
"Sial."
Dengan cepat Yundhi mengambil kunci mobil dan meminta gerbang di buka. Tujuannya kali ini ke sekolah, berharap Tiara sudah sampai di sana.
***
Butuh waktu satu setengah jam Yundhi bisa sampai di tempat Tiara mengajar. Langkahnya bergegas pasti. Satpam sekolah yang biasa melihatnya tidak perlu lagi menanyai Yundhi siapa yang akan di cari.
"Tiara mana?" tanyanya pada Jenny begitu ia tiba di ruang guru. Yundhi mengedarkan pandangannya pada sekeliling ruangan, tak mendapati guru lain selain Jenny.
"Eh, elo. Belum dateng dia. Jadwalnya nanti jam terakhir." jawab Jenny sambil melanjutkan aktivitasnya.
Yundhi melirik pada meja Tiara yang kosong tapi terdapat kue dan karangan bunga mawar merah di sana.
"Lo ngetag gue biar lihat ini, kenapa?" tanya Yundhi lagi.
Jennypun menanggapi, tersenyum licik pancingannya berhasil, Jenny tidak sepolos Mimi yang percaya pengakuan Tiara semalam, sekecil apapun dia menaruh curiga pada Yundhi. Jenny mengangkat kepala hendak menjawab Yundhi.
"Gue cuma mau ngingetin lo nyia-nyiain cewek yang salah. Di sekeliling Tiara ada banyak cowok yang siap nangkap dia, apalagi sekarang mereka tahu Tiara sudah selesai pendidikan. Kue sama bunga itu dari anak kepala dinas pendidikan, ada satu kue sama bunga lagi dari Ivan, lo tahu Ivan kan, pemberian dia gue udah bagiin ke temen-temen guru. Tiara ga secantik mantan lo, tapi mereka tahu isi otaknya Tiara yang brilian. Karena lo masih awam, gue maafin lo sekarang." terang Jenny panjang lebar. Tapi beberapa hal dari ucapannya tak di mengerti Yundhi.
"Maksud lo otak Tiara?"
"Dia salah satu cewek jenius, aset kementrian, kelihatan sepele dia milih program bahasa asing, tapi kalau dia mau belajar ilmu eksak, angka, hitung-hitungan dan sebagainya cuma sekali lihat buku dia pasti langsung bisa, ga tahu kenapa dia lebih milih ilmu bahasa. Dia tes TOEFL, TOEIC aja sambil ngantuk, asal lo tahu, dia sengaja minum obat, kalau dia tes sambil melek bakal bikin orang lain repot karena skor maksimal bakal naik."
Yundhi sedikit tersentak, baru mengetahui sisi lain dari Tiara. Ia tahu Tiara pintar, tapi tidak pernah menduga kepintaran gadis itu di atas rata-rata.
"Tadi lo bilang Ivan, dia tahu dari mana Tiara ngajar di sini?" tanya Yundhi dengan raut wajah kesal, mengingat perkelahiannya dengan laki-laki itu.
Jenny mengangkat bahu, "Gue juga ga tau, dari kartunya jelas nama Ivan, cuman gue udah buang. Tiara punya rencana mau lurusin masalahnya sama Ivan, tapi dia pengen denger pendapat lo. Sebegitu ngaruhnya lo buat dia. Gue harap lo sadar posisi lo." Jenny berkata sambil terus mengerkjakan pekerjaannya. Mulutnya gatal ingin mengeluarkan nama Emmy, tapi ia sadar itu bukan wilayahnya.
"Tadi pagi dia sudah ambil motornya di rumah gue, harusnya dia udah di sini." ungkap Yundhi dengan nada khawatir.
"Bukannya harusnya lo yang lebih tahu keberadaan dia?" balas Jenny sarkas sambil kembali ke kegiatannya.
Yundhi terpaku, mencari arti kata-kata Jenny, kenapa wanita itu menuduhnya menyia-nyiakan Tiara. Apa karena...oh, baiklah dia mengerti. Segera di raihnya kue dan bunga itu bermaksud agar Tiara tidak mencicipinya barang segigit.
"Woy mau lo bawa kemana tu?"
"Kasih satpam." jawab Yundhi sambil lalu. Membuat Jenny yang kini gantian cengo.
***
Yundhi memilih menunggu di dalam mobil. Puluhan panggilannya belum di jawab Tiara. Perasaannya gelisah tak karuan. Beberapa kali dia mengerang menahan rasa geram. Giginya juga sesekali bergeretak. Hingga matanya menangkap penampakan motor Tiara yang memasuki halaman sekolah dengan kecepatan tinggi. Saat itu Yundhi harus menahan nafas melihat tingkah Tiara.
Berhasil memarkirkan motor dengan posisi tepat, di tengah himpitan motor lain, Tiara tersenyum puas. Perasaannya lega setelah ia luapkan dengan berteriak di tepi pantai tadi. Dispensasinya untuk datang mengajar hanya sesuai jadwal telah berlaku, artinya dia bisa mengajar di tempat lain yang ia mau. Dan tanpa ia sadari sepasang mata mengawasinya tajam.
"Seneng banget ya kayaknya."
Tiara terlonjak kaget, mendengar suara Yundhi yang tiba-tiba dari arah belakangnya.
"Kamu..." Yundhi memasang wajah murka denga telunjuk naik turun di depan wajah Tiara.
"Kapan datang?" tanya Tiara dengan wajah berbinar. Dalam hati dia bersorak gembira Yundhinya kembali normal? Normal?
"Ketawa lagi. Bawa sini kuncinya!" Yundhi meraih kunci dari tangan Tiara dan Tiara tak sempat mengelak karena tangn Yundhi yang bergerak cepat.
Melihat tingkah Yundhi entah kenapa membuat Tiara mengulam senyum. Ia seperti melihat Yundhinya kembali, tegas, possessif, pemaksa. Tiara geli sendiri melihat wajah kemarahan Yundhi.
"Jangan senyum, ga ada yang lucu!" Tiara terkekeh pelan.
"Kamu tu, jangan marah, cepet tua tau." balas Tiara.
"Kamu ya bener-bener, aku tunggu di mobil, selesein kerjaan kamu, 45 menit kan untuk satu jam pelajaran, masuk sana!" perintah Yundhi pada Tiara, "Setelah ini kamu jelasin kejadian tadi pagi!" awasnya sambil berlalu meninggalkan Tiara yang masih saja senyam-senyum.