When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
74



Dengan setengah berlari Tiara melewati lobi rumah sakit tempat Reyhan bekerja. Dari pesan ke dua yang ia terima, petugas itu mengatakan kalau suaminya di rawat di ruangan dokter Reyhan. Tentu saja itu sangat memudahkan Tiara karena sangat tahu persis ruang kerja Reyhan hingga tak perlu mampir untuk sekedar bertanya pada petugas yang berjaga.


Kedatangan Tiara di pagi buta itu cukup menarik perhatian. Tapi beberapa petugas yang mengenalnya enggan bertanya melihat Tiara dengan raut wajah khawatir dan berjalan buru-buru. Mungkin mereka mengira Tiara ingin bertemu keluarganya yang di rawat di sana.


Begitu denting lift berbunyi dan pintu terbuka, Tiara segera melangkah menuju ruangan Reyhan. Di lorong itu, keadaan tampak sepi dan lengang. Tidak ada petugas yang hilir mudik karena memang waktu yang masih dini hari. Biasanya para petugas sedang mengistirahatkan diri di jam-jam itu.


Tiara tidak sabar, bergerak cepat, lima langkah lagi dirinya akan bertemu belahan jiwa. Tiara memutar knop pintu merangsek masuk.


"Yund...mph...mph...mmmmph.............."


***


"TERUS KALIAN NGAPAIN SEKARANG, NGOPI, TIDUR, MAIN CATUR? CARI ISTRI SAYA SAMPAI KETEMU SEKARANG, *******!"


Satu tendangan keras menjungkir balikkan kursi dari bahan plastik yang ada di ruangan pemeriksaan itu yang biasanya di gunakan untuk kursi cadangan. Yundhi bahkan siap melayangkan pukulan pada dinding kaca yang memisahkan ruangan itu dengan ruang lain jika Yaris tidak menarik tangannya.


Seisi ruangan itu spontan terkejut. Seorang petugas yang masih bersama mereka bahkan hampir mengeluarkan senjatanya melihat Yundhi yang tiba-tiba berteriak di penuhi amarah.


"Bro, tenang dulu, ada apa?"


"Dia... " Yundhi mencoba bicara dengan napas memburu, "... Tiara, dia nyulik Tiara."


Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Yundhi, wajah Rey dan Yaris yang mengelilingi Yundhi berubah pias. Meski sangat terdengar mustahil mereka bahkan yakin musuh mereka ini mampu melakukan hal gila yang tak terpikirkan oleh mereka sendiri.


"Tiara di pancing ke rumah sakit, gue yakin dia pakai nama gue sebagai umpan."


"Kita duduk dul... "


"Istri gu di culik dan lo minta gue duduk?" Yundhi menatao nyalang Yaris, "Gila lo."


Tanpa bicara lagi Yundhi keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Dia memutuskan bergerak sendiri tanpa mau repot-repot membuat laporan lagi. Ia lebih dari yakin polisi tidak akan menerima laporannya karena Tiara belum dinyatakan hilang lebih dari dua puluh empat jam. Rey dan Yaris mengikutinya dari belakang.


Dalam hitungan detik Yundhi sudah berada di dalam mobil. Setelah menstater, Yundhi menginjak pedal gas sampai benda itu mentok dengan batasannya, menimbulkan bunyi melengking antara mesin mobil, gesekan roda dan aspal. Suasana jalanan yang sepi memudahkan Yundhi melaju dengan kecepatan maksimal. Kalau ada kecepatan cadangan yang melengkapi mobil itu mungkin saat itu akan di pakai juga. Kendaraannya dengan kendaraan Yaris dan Rey berkejar-kejaran seperti di sirkuit balap. Sesuai arahan pengawal yang mengikuti Tiara, Yundhi melaju ke arah rumah sakit.


Reyhan yang tak semahir Yundhi dan Yaris dalam hal kebut-kebutan nyatanya harus menyeimbangkan diri dengan laju yang sama cepat, karena Tiara menghilang di gedung rumah sakit tempatnya bekerja.


Dalam hitungan menit, tiga kendaraan itu terparkir rapi di halaman rumah sakit. Yundhi yang paling dulu turun dan berlari ke dalam gedung, gerakannya melambat saat Yaris memanggilnya dengan suara menggelegar.


Begitu posisi mereka sejajar Yaris menunjukkan ponselnya dan memberitahu letak titik terakhir Tiara berada di rumah sakit itu. Yundhi mulai surut, kemudian berhenti, kepalanya menoleh ke belakang dan mencari keberadaan Reyhan.


Reyhan berlari berjarak tiga meter dari posisi Yundhi dan Yaris terkejut melihat temannya yang mematung.


Di tengah perjalanan tadi, Yaris meminta orang kepercayaannya melacak posisi Tiara melalui nomor seluler dan mengirimkan hasilnya pada Yaris.


"Gimana?" tanya Rey, "kenapa pada bengong?"


"Ruangan lo..." Yundhi menajamkan mata, "Tiara di ruangan lo."


Satu detik.


Dua detik


"Oh shit."


Kini Reyhan memimpin mereka. Berlari membabi buta menuju ruangannya di lantai tiga. Mereka tidak punya kesabaran besar demi menunggu pintu lift terbuka. Tak peduli tatapan heran beberapa petugas jaga di sana. Langkah kaki mereka memilih tangga yang di rasa lebih cepat.


Saat pintu ruangan Reyhan sudah terlihat, tiga sekawan itu mengurangi kecepatan. Alarm kewaspadaan menyala otomatis. Kecuali Yundhi, dua orang temannya diliputi perasaan was-was karena mereka tidak dilengkapi senjata untuk menghadapi musuh mereka sekarang.


Yundhi mengambil alih dengan langkah lebar. Ia seakan merasakan kekhawatiran Rey dan Yaris yang bergerak tanpa senjata.


Tangannya meraih handle pintu, memutarnya dengan gerakan pelan.


Suasana tegang tak terelakkan. Yundhi yang merasakan kengerian bercampur kemarahan yang paling besar saat ini. Bagaimana keadaan belahan jiwanya? Berani-beraninya orang itu menyeret sang istri ke dalam masalah mereka. Yundhi bergerak masuk lebih dulu, sedikit ragu melangkah ke dalam.


Tidak mendapati orang asing di ruangan Rey, Yundhi membuka pintu lebih lebar. Membiarkan Yaris dan Rey mengikutinya masuk.


Pandangan mereka mengelilingi ruangan itu. Memindai setiap sudut mencari jejak Tiara yang tertinggal.


***


Tubuh Tiara di dudukkan di sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang di ikat, lengkap dengan mulut tertutup lakban. Tiara masih tak sadarkan diri. Setelah di bekap dengan obat tidut oleh orang yang tak ia kenal, Tiara belum membuka mata sejak satu jam lalu.


Sepasang mata pria mengamati Tiara dengan intens. Senyum licik penuh kepuasan tak pernah berhenti terukir di wajahnya.


Dering ponsel milik pria itu berbunyi, membuatnya menguarkan seringai tawa kesenangan.


"Gue ga nyangka reaksi lo secepat ini Tuan Prasetya." Pria itu berucap pada ponsel yang belum ia terima sambungan dari penelponnya.


Membiarkan ponsel itu terus bebrbunyi beberapa kali lagi, bermaksud menorehkan rasa takut, marah dan benci bagi si penelpon.


Hingga ponsel itu berhenti bersuara. Seringai tawa jahatnya kembali terdengar. Merasa senang bisa mengerjai lawannya.


***


Reyhan menelpon asistennya untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini. Dia juga meliburkan asistennya itu dan menyuruhnya mengerjakan tugas yang ia beri dari rumah.


Pasca mengetahui bahwa Tiara di culik benar-benar di culik, mendadak ruangan Reyhan menjadi markas untuk mereka bertiga.


Reyhan menyiapkan segala sesuatu yang ia bisa. Menyediakan baju ganti untuk dirinya dan ke dua sahabatnya, mengeluarkan senjata api yang ia simpan di salah satu sudut ruagannya yang ia samarkan dengan pajangan dan tindakan terakhir yang bisa ia lakukan adalah mengakses cctv yang ada di setiap udut gedung rumah sakit itu melalui laptop di ruangannya.


Yundhi masih mencoba menghubungi nomor ponsel yang di tinggalkan lawannya di atas meja kerja Reyhan.


"Tujuh tahun, dan kita kecolongan seperti ini, keparat itu pasti merasa menang sekarang." Ungkap Yaris penuh kekesalan.


"Yah, setelah tujuh tahun dia nyapa kita hanya dengan dua kata "call me"," sambut Reyhan dengan jari yang masih sibuk di atas keyboard.


"Kayaknya dia ngerjain kita, telpon Yundhi ga di angkat-angkat."


Setiap kali sambungan terhenti, Yundhi harus mengumpat beberapa kali untuk menyalurkan kemarahamnya. Yaris tidak bisa berbuat banyak, tapi di luar sana dia sudah mengerahkan kekuatannya melalui beberapa orang yang ia percaya bisa melacak keberadaan Tiara.


"Bersih, dia mematikan semua cctv waktu menjalankan aksinya. Satupun ga ada rekaman mereka yang terekam... Kecuali." Rey menggantung kalimatnya.


"Kecuali apa?" Yaris yang lebih tertarik.


"Gue coba akses cctv gedung sebelah."


***


Ketidaksadaran Tiara perlahan mulai menghilang. Matanya mengerjap, mencerna apa yang terjadi dengan badannya hingga tak bisa ia gerakkan. Perlahan mata Tiara terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya tempatnya berada.


Apa yang terjadi?


Di mana ini?


Kenapa aku di sini?


Mana Yundhi?


Semua pertanyaan itu silih berganti terucap dalam benak Tiara. Ia tidak mengerti kenapa mulutnya di bungkam dan tangan kaki terikat.


"Sudah sadar Nyonya Prasetya?"