
Setelah nafasnya mulai normal dan sesenggukannya hilang, Tiara memutuskan keluar dari persembunyian. Ia kembali membasuh wajah untuk yang kedua kalinya agar merasa lebih segar.
Kenyataan bahwa Tiara adalah gadis periang, ceria dan cerdas akan hilang jika ada sesuatu yang melukai perasaannya. Air matanya sangat mudah keluar tapi akan cepat kering juga dan hanya meninggalkan suara sesenggukan. Katakanlah dia gadis melankolis. Setelah sepeninggal ibunya, Tiara akan mudah menangis jika terluka, tapi akan cepat juga merasa baikan. Kesedihannya tidak akan sampai sehari.
"Kalau gini mungkin dia ga akan nyadari," gumamnya sambil mengukir senyum lirih menghapus jejak-jejak kesedihannya.
Tiara berkali-kali menarik dan membuang nafasnya agar bisa bertahan menghadapi pandangan-pandangan negatif yang mungkin akan ia terima nanti dari pengunjung yang ada di sana.
"Anggap saja orang-orang itu teman kerja kamu di sekolah, Ra. Ayo keluar!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Tiara mantap melangkahkan kakinya ke arah pintu dan ia terkejut dengan sosok Yundhi yang bersandar di samping pintu toilet wanita tersebut.
"Kamu, kenapa? Ngapain di sini?"
"Nungguin kamu. Yuk!"
Yundhi meraih tangan Tiara dengan tangan kirinya sambil membuat kepalan dengan tangan kanannya menahan marah melihat mata wanita yang datang bersamanya itu sembab karena menangis satu jam di toilet.
Seandainya ia lebih peka dan mengetahui kejadian itu lebih awal, Tiara mungkin tidak akan menangis selama itu, yang dia herankan kenapa Tiara tidak segera mencarinya, paling tidak mencari perlindungan darinya saat peristiwa itu terjadi.
***
Yundhi keluar dari restoran dan bergegas menuju kamar pria mabuk yang menghina Tiara saat itu di temani manager restoran dan manajer hotel bintang lima tersebut. Setelah perundingan alot dan Yundhi mengancam akan menuntut akan melanjutkan kasus itu ke meja hijau, akhirnya mereka menyetujui cara Yundhi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Mereka mengawal Yundhi ke kamar pria itu untuk membuat perhitungan. Sesampainya di kamar pria mabuk itu Yundhi secara membabi buta menghajarnya tanpa ampun hingga tangannya kebas dan berdarah. Tak puas hanya menghajarnya, Yundhi menyeret laki-laki itu dan menyuruhnya menarik ucapannya atas Tiara di depan para pengunjung restoran dan meminta maaf. Dia juga menjelaskan bahwa Tiara adalan calon istrinya dan meminta orang yang merekam dan menyebarkan video itu untuk segera menghapusnya.
Tidak hanya itu, Yundhi juga meminta manajer restauran tersebut mengusir para tamu yang masih tersisa agar dia dan Tiara biasa makan dengan tenang dan mengganti makanannya yang sudah dingin dengan yang baru dan hangat. Semua itu ia lakukan ketika Tiara masih mengurung diri di kamar mandi.
Secuek apapun Yundhi ia bisa memahami bagaimana sakitnya perasaan Tiara yang mendapat tuduhan wanita tidak benar.
Bagaimana ia nantinya harus mempertanggung jawabkan keadaan Tiara pada orang tua gadis itu. Apa orang tua Tiara akan mentolerir kelalaiannya dalam menjaga putri mereka. Yundhi sudah membulatkan tekadnya, jika nanti orang tua Tiara memintanya bertanggung jawab, ia tidak akan berpikir dua kali untuk menikahi Tiara meski Yundhi belum tahu bagaimana perasaannya sendiri terhadap Tiara.
***
Sepi, itu kesan pertama yang di tangkap mata Tiara ketika ia mengangkat kepala berjalan mengimbangi langkah panjang Yundhi. Hanya ada mereka berdua dan lagi Tiara mengedarkan pandangangannya ke sekeliling tempat itu. Ekspektasi Tiara keliru jika ia harus menahan tatapan aneh pengunjung sekeluarnya ia dari kamar mandi. Di ruangan yang sangat besar itu, hanya ada dia dan Yundhi membuatnya merasa lebih aneh lagi.
'Masa sih pengunjung sudah meninggalkan tempat ini selama aku di toilet.'
Dengan tangan yang masih di genggam Yundhi, Tiara berjalan menuju meja yang sudah di pesan pria itu sejak awal.
Yundhi menarik kursi yang akan di tempati Tiara dan mensilakannya duduk. Perlakuan manis Yundhi membuat Tiara semakin yakin telah terjadi sesuatu selama ia mengurung diri tadi.
"Kamu kenapa lama sekali sih tadi di toiletnya?"
"Ah, itu..."
"Makanannya keburu dingin. Kita ngobrol sambil makan ya!"
Kenapa tiba-tiba Yundhi bersikap manis?
Tiara hanya menurut saja karena saat ini perasaanya tidak menentu dan mode jinak menurutnya adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Yundhi menanyainya berbagai hal. Obrolan mereka mengalir begitu saja. Sejenak Tiara lupa akan kejadian yang baru menimpanya. Tak sedikitpun Yundhi menyinggung alasan kenapa matanya sembab. Sesekali ia tertawa kecil mendengar cerita Yundhi ketika masih di sekolah penerbangan.
Sampai mata Tiara tertuju pada tangan Yundhi yang memar. Perasaan ketika menyetir tadi tangan itu baik-baik saja. Ingin sekali Tiara menanyakan penyebabnya, merasa khawatir karena tangan adalah aset paling berharga bagi seorang pilot, tapi ia juga takut dan malu menceritakan kejadian tadi menimpanya.
Meski kenyataannya Yundhi sudah mengetahui apa yang terjadi, Tiara bertahan dengan pandangan Yundhi tidak tahu menahu apa yang ia alami. Jika nanti tiba saatnya, mungkin mereka akan saling mengungkap cerita. Itupun kalau hubungan ini akan berlanjut karena Tiara masih ragu.
***
Kencan pertama mereka itu ternyata berakhir lebih lama dari perkiraan Yundhi. Ia tiba di depan rumah Tiara ketika waktu menunjukkan pukul 10.30 di jam tangannya.
Yundhi bisa melihat sosok ayah Tiara menunggu kepulangan anaknya di depan teras rumah.
"Aku antar masuk?"
"Enggak usah, ga apa-apa, terima kasih untuk hari ini," jawabnya dengan nada datar.
Tiara membuka pintu mobil dan segera keluar meninggalkan Yundhi.
"Ayah kenapa masih di luar?" tanya Tiara menyapa ayahnya yang segera melipat koran yang sedang ia baca.
"Lagi nunggu bintang jatuh, baru ketemu nih, bawa gandengan lagi," jawab pak Adib yang terkesan becanda tapi terdengar horor di telinga Yundhi.
Tiarapun menoleh ke belakang dan melihat Yundhi sudah berdiri mengekorinya. Entah apa yang ia pikirkan setelah turun dari mobil sehingga tidak menyadari Yundhi mengikutinya. Gagal fokus.
"Jenny bilang kamu keluar sepulang ngajar, sama yang ini?" Adib menunjuk ke arah Yundhi dengan tatapan yang tidak di pahami Tiara.
Tiara sedikit kebingungan mau mengenalkan Yundhi sebagai siapanya kepada sang ayah.
"Kenapa ikut?" tanya Tiara tanpa suara pada Yundhi.
Yundhi hanya tersenyum dan mengangkat bahu.
"Iya ayah, ini Yundhi," hanya mengenalkan nama karena memang hubungan mereka belum jelas bagi Tiara.
Adib menatap Tiara dan Yundhi bergantian. Ia sedikit asing dengan penampilan anaknya yang memakai jaket laki-laki, dan tentu lebih asing lagi dengan Yundhi, laki-laki pertama yang di ajak anaknya ke rumah. Apapun yang terjadi, sebagai orang tua ia ingin mendapat penjelasan dari laki-laki asing yang mengantar anak kesayangannya.
"Duduk!" ujar Adib sambil menengok ke arah kursi teras yang hanya sepasang.
Aura mistis mulai terasa di teras rumah tipe 45 itu khususnya untuk Yundhi. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Sebagai laki-laki, Yundhi siap mempertanggung jawabkan perbuatannya membawa anak gadis orang keluar hingga malam.
Tiarapun melenggang pergi meninggalkan Yundhi dengan ayahnya. Ia percaya ayahnya tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh pada Yundhi, paling hanya meminta penjelasan, karena itu ia merasa tenang meninggalkan mereka berdua. Biarlah Yundhi menyelesaikan hal ini sendiri, toh ia sudah dewasa. Lagipula Tiara sudah tidak sabar merebahkan badannya yang terasa berat. Hari ini cukup mencekam dan melelahkan baginya.
***
Tiara memarkir motornya di sebelah motor matic milik Mimi. Diantara mereka bertiga hanya Jenny yang belum punya motor tapi hebatnya dia punya helm. Alasannya karena dua jok belakang kosong, jok motor Tiara dan motor Mimi, akan sangat berfaedah jika ia berperan sebagai penumpang bagi dua sahabatnya itu. Lagipula rumah mereka searah.
Tanpa berkicau seperti biasanya, Tiara langsung menuju meja kerja dan memulai aktivitas. Kejadian tadi malam masih berputar di kepalanya. Tentu semua guru dan karyawan merasa ada hal aneh yang terjadi pada guru yang menganggap dirinya matahari di sekolah itu.
"Ada guru baru nih," sahut Mimi dengan nada menggoda.
"Bukan guru baru, ada yang udah ketemu sandaran hati, Mi," sindir Jenny.
Tiara pura-pura tuli tidak menanggapi ocehan dua makhluk yang katanya sahabatnya itu.
Jenny dan Mimi saling memberi kode untuk mendekati meja kerja Tiara.
"Gimana bu kemarin malam?" Jenny bertanya antusias tapi dengan suara berbisik.
"Kayaknya udah resmi nih, terbukti udah jinak ," timpal Mimi.
Tiara mengambil napas dan menatap dua sahabatnya itu bergiliran.
"Dasar otak lambe anda berdua. Turunkan level jiwa kepo dong!"
"Jangan main backstreet-lah, Ra. Berbagilah pada kami jomblower syantik." tukas Jenny.
"Backstreet apaan, daku penganut frontstreet say. Kalau sudah jelas nanti juga cerita." terang Tiara.
Tiara bergeming dan kembali menekuni pekerjaannya. Apa yang menimpanya tadi malam tentu tidak akan ia ceritakan pada dua sahabatnya itu, karena itu dia memilih menghindar.
"Makanya cerita dong, Ra! Masa seneng ga di bagi-bagi, daku kan udah bantu dirimu sukses keluar kemarin," desak Jenny tidak sabaran.
"Bantu apaan, yang ada itu anda menjerumuskan, Jenot." Tiara mengaba-aba menjitak kepala Jenny, tapi urung jua karena bagaimanapun Jenny lebih tua darinya.
"Kok bagian itu aku ga tahu Jen, bantuin apaan?" tanya Mimi penuh selidik.
"Izin dulu nih sama tokoh utamanya, baru daku cerita."
Tiara menggelengkan kepala dengan tingkah dua orang temannya itu. Sungguh mereka sangat ingin tahu karena selama ini belum ada yang pernah punya pacar antara mereka. Cerita Tiara tentu akan menjadi hal yang menarik untuk mereka dengar.
Bukannya tidak laku, mereka bertiga tergolong wanita mandiri, kuliah sambil kerja. Hari-hari mereka padat dengan aktivitas. Jadi tidak ada waktu untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
"Ra, cerita dong!"
"Aaaaaaaaakh Jennyyyyyyy."