
Mama: Sayang lagi apa?
Papa: Ngetik.
Mama: Pendek banget sih, ga tanya balik lagi.
Papa: Aku telpon ya?
Mama: Enggak.
Papa: Marah ni?
Mama: Iya.
Papa: Ya udah kalo gitu.
Mama: Kamu nyebelin.
Papa: Tapi kamu sayang kan?
Mama: Enggak.
Papa: Bener nih ga sayang aku?
Mama: Sejuta bener.
Papa: Kalau gitu boleh dong nih aku makan makanan yang di kasih sama bawahanku yang namanya Karenina itu?
Tiara mendidih, tidak menjawab pertanyaan Yundhi.
Lima belas menit berlalu, Yundhi telah kembali bergelut dengan pekerjaannya, tapi dirinya juga di buat penasaran kenapa Tiara tidak membalas pesannya.
Belasan menit kemudian
"Coba aku mau lihat mana makanan yang di kasih bawahan kamu, lebih enak ya dari masakan aku?"
Tiara muncul di ruangan Yundhi dengan poni yang masih di rol dan daster batik rumahan yang biasa ia pakai. Hebatnya, Tiara ingat sepatu flat dan tas mahal yang di belikan Yundhi tempo hari.
Tentu saja Yundhi kaget, melongo paripurna melihat wajah istrinya yang datang tiba-tiba di ruangan.
"Mama, bukannya tadi lagi di rumah?"
"Mana makanannya?"
"Makanan apa?"
"Makanan yang di kasih fans kamu itu, Karenina Karenina itu."
Kali ini Yundhi kelabakan, dia segera menghampiri Tiara di seberang mejanya.
"Astaga, sini deh duduk dulu!"
Mereka kemudian duduk di sofa yang tersedia di ruangan Yundhi. Untungnya Tiara nurut meski terlihat emosi. Panas.
"Kamu sama siapa ke sini?"
"Ga usah nanya yang lain, jawab aja dulu pertanyaan aku yang tadi."
"Ga ada."
"Apanya yang ga ada?" tanya Tiara bingung.
"Ya makanannya."
"Katanya tadi kamu di kasih makanan sama bawahan..."
"Ga ada, aku bohongin kamu, niatnya cuma godain."
"Bohong, pasti kamu sembunyiin, biar aku cari."
Tiara berdiri menuju meja kerja Yundhi, tubuhnya naik turun memeriksa setiap sudut yang ada dan Yundhi hanya membiarkannya.
"Ga bakal ketemu Ma, orang ga ada juga," ujar Yundhi santai dengan tubuh menyandari punggung sofa.
Tiara tidak menyerah, di terus mencari.
"Mending sini deh duduk sama aku, kamu nanti capek, lagi hamil lho."
Dan setelah Yundhi selesai dengan kalimatnya, dia mulai menyadari apa yang dia lakukan adalah sebuah ke sia-siaan.
"Jadi bener ga ada?"
"Iya, sini deh, duduk!" Yundhi sambil menepuk-nepuk sisi lain sofa yang kosong.
Tiara mendekat.
"Kamu nyebelin banget sih becandanya."
"Makanya, aku minta maaf."
"Aku udah lari-lari ke sini, dasteran, kena prank kamu, jahat."
Pengakuan Tiara membuat Yundhi terkekeh.
"Tapi aku seneng kamu langsung dateng."
"Jelaslah, kamu menang."
"Lebih dari itu."
"Lebih apanya?"
"Aku senang kamu bisa cemburu seberat ini."
"Ga berat ya, biasa aja."
"Huh, gengsi, kita udah mau punya anak tiga lho."
"Biarin." Tiara beranjak berdiri.
"Mau kemana?" Yundhi menahan tangan sang isti.
"Pulang."
"Ga bisa gitu dong, temein aku makan dulu."
Tiara baru melangkahkan kaki, tapi Yundhi bergerak lebih cepat menarik tangan Tiara dan membuat Tiara duduk di atas pangkuan Yundhi.
"Aku jatoh, nanti gimana?" protes Tiara.
"Ga bakal, buktinya? Gimana baby kita?" dengan sentuhan yang sangat lembut Yundhi meraba perut sang istri.
"Baik dong, dia anteng, Papa." Tiara ikut meletakkan tangannya di atas punggung tangan Yundhi dan mengikuti gerakan yang Yundhi lakukan.
"Kamu belum makan siang kan?"
"Belum lah, gimana mau makan, kamu ngerjain aku kayak gini."
"Makanya, makan di sini deh, aku udah delivery, bentar lagi juga dateng."
"Pesan apa?" tanya Tiara dengan gerakan manja mengalungkan tangannya ke leher Yundhi.
"Nasi lalapan, aku pengen bebek bakar, kayaknya aku yang ngidam hari ini."
Tiara mengangguk.
"Boleh minta makanan pembukanya?" tanya Yundhi modus.
"Jangan jahil kamu," Tiara tahu arti senyum yang di lempar Suaminya.
"Kamu kan ga bawa apa-apa ke sini, boleh dong aku minta bekal dalam bentuk lain."
"Ih, ngidam kamu tambah, hmp..."
Tanpa peringatan Yundhi menyambar bibir merah muda Tiara. Jujur saja, ia sudah tergoda sejak tadi, dan tidak sanggup bertahan lebih lama.
"Ini kantor lho," Tiara berusaha menyadarkan.
"It's okay baby, just kiss."
"Just kiss, deal."
Dan adegan itupun berlanjut. Lumatan mereka semakin dalam dan panas. Yundhi mengeratkan dekapannya di pinggang Tiara, dan Tiara menarik tengkuk Yundhi untuk memperdalam ciuman mereka.
"Thank God, kamu ingat pakai underwear," celetuk Yundhi, "boleh aku buk..."
"Berisik."
Kali ini Tiara menantang, memimpin, mengambil alih permainan, ******* Yundhi lebih dulu membuat mereka makin panas. Terus terang, dia terpancing. Salahkan hormon kehamilan yang membuatnya makin sensitif. Hormon kehamilan oh hormon kehamilan.
Menit-menit berlalu, mereka masih dengan kegiatan itu. Dan entah di menit ke berapa, Tiara menangkap bayangan wanita yang sangat ia kenal berdiri di depannya. Dirinya bersorak dalam hati.
Karenina
Kenapa wanita itu masuk ke ruangan suaminya? Tanpa ijin lagi.
Tiara makin provokatif, meremas bagian belakang kepala Yundhi, membuat adegan nakal dengan wajah seolah tidak menyadari keberadaan bawahan suaminya itu. Untungnya posisi Yundhi saat ini membelakangi Karenina.
"Ekhemmm." Karenina menginterupsi.
Tangan Tiara berpindah ke samping telinga Yundhi, membuat Yundhi seolah tak mendengar suara apapun
Dan, memang kenyataannya Yundhi tidak mendengar, terhanyut suasana yang Tiara ciptakan.
"Ekhem," Karenina bersuara lebih keras, "Pak maaf ini makanannya."
Yundhi menurunkan tempo, menyadari ada yang melihat mereka. Refleks Yundhi ingin menoleh saat ciuman mereka terlepas, tapi tangan Tiara menahannya.
"Oh, mba Karenina, ada apa?" Tanya Tiara pura-pura seolah baru menyadari keberadaan wanita itu.
Hanya menyaksikan Tiara yang mengambil alih,Yundhi membiarkan Tiara melakukan apa yang wanitanya itu ingin.
Sikat Ma!
"Makanannya, katanya Pak Yundhi yang punya pesanan, tadi saya ketemu kurirnya di bawah."
"Oh, iya. Mbanya lihat meja di sana kan? Nah, taruh di sana aja ya, kita mau lanjut lagi soalnya." Dengan nada penuh manja dan menggoda yang di buat-buat oleh Tiara. Tiara tertawa dalam hati melihat Karenina yang salah tingkah.
"Ah, iya Bu," Karenina meletakkan bungkusan makanan di meja Yundhi, "permisi, maaf saya mengganggu, tadi saya udah ketuk pintu kok," akunya.
Memang benar dia mengetuk pintu, tapi dasar Tiara dan Yundhi keasyikan. Lagi pula Karenina bisa saja menitipkannya pada sekretaris Yundhi di depan, kenapa dia yang antar ke dalam? Nah lho.
Karenina berlalu dengan wajah merah padam dan tubuh bergetar.
Yundhi dan Tiara saling berpandangan. Sekilas, Yundhi mengukir senyum kesenangan.
"Mau lanjut?"
"Kita ketahuan bawahan kamu."
"Kantor ini punya kita. Ga masalah."
"Apa kata bawahanmu nanti."
"Kamu memang sengaja kan biar dia lihat kita lebih lama?"
"Sapa suruh dia flirting sama kamu. Cewek kok gitu."
"Ya udah ga usah di pikirin."
"Sukurin deh."
"Kamu jago akting ya sekarang."
"Aku mau makan."
"Ga bisa gitu dong, tadi katanya kita lanjut, tanggung jawab."
"Cuma buat manasin bawahanmu. Biar dia tobat."
" Tapi bawahanku memang udah tegang, pokoknya tanggung jawab!"
"Yundhi, ini kantor, Baby."
"Oke, kita ke hotel."
"Deal."
Enakan di hotel kali ya.