When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
73



Komen kalian itu kayak api tahu ga,bikin aku membara.


Boleh absen ga sih jam berapa kalian baca bab ini?


Tinggalkan jejak guys.


***


"Makan dulu ya Tiara, ada adiknya Ed lho sekarang, kamu ga lupa kan? Mama udah bikin semur daging sama sayur capcay kesukaan kamu. Sesuai pesan Papa Hans juga, kamu mesti banyakan sayur, kan mau anak perempuan, makan dulu ya."


Citra dengan penuh sabar merayu sang menantu agar mau menyentuh sepaket nasi yang ia bawa ke kamar Tiara. Sejak Yundhi di bawa petugas, Tiara belum menyentuh makanan di rumah itu. Kejadian mendadak dan mengejutkan setelah kepulangannya menjemput babysitter untuk Ed tidak pernah terlintas akan terjadi dalam hidupnya.


"Ini udah tiga jam Ma, Yundhi kenapa belum pulang?"


Air mata Tiara belum surut meski lelehan itu keluar tanpa suara tangis. Hati wanita itu terlalu pilu untuk menerima kenyataan lelakinya di beri tuduhan sehina itu. Sangat tidak masuk akal dan terkesan di buat-buat.


"Mau Mama beritahu rahasia?"


Tiara beranjak bangun, tertarik dengan ucapan Citra.


"Rahasia?" Pikiran Tiara tak kaaruan mendengar kata rahasia yang keluar dari ungkspan Citra, antara takut dan tidak ia beranikan diri menunggu apa yang akan di katakan Citra tentang rahasia.


"Papa mertua kamu yang kamu kenal kalem, berkarisma dan bijaksana di rumah ini, pastinya tidak akan tinggal diam melihat Yundhi dalam kesulitan seperti sekarang. Percaya sama Mama, Papa Hans akan melakukan segala cara agar masalah ini segera selesai dan Yundhi akan segera kembali sama kita. Tadi kamu lihat sendiri kan Papa sudah nyusul Yundhi, jadi kamu ga perlu khawatir, kalau Singa itu sudah turun tangan."


Tiara tidak tahu pasti ucapan mertuanya itu bisa ia percaya atau tidak. Tapi ia sedikit lega dengan kalimat hiburan dari Citra. Yundhi pernah mengatakan padanya, Hans di rumah adalah orang yang hangat dan penyayang keluarga, tapi jika berhadapan dengan musuh, Yundhi pastikan Tiara tidak akan mengenal mertuanya.


"Gimana kalau mereka gagal membuktikan kebenarannya Ma?"


"Kamu jangan pesimis dulu dong, kamu percaya sama suami kamu bukan? Ga mungkin dia melakukan hal bodoh seperti yang di tuduhkan. Mungkin ada orang yang tidak suka dan menjebak dia. Sekarang kamu bantu Yundhi dengan do'a dan jaga kesehatan. Kan ga lucu begitu nanti dia pulang kamunya sakit."


Sudut bibir Tiara berkedut mendengar kata-kata Citra. Ada sedikit kelegaan menyirami perasaannya seketika.


"Makasih Ma."


"Nah, gitu dong, sekarang makan dulu, kasihan anak kamu dalem perut belum makan dari tadi."


"O ya, Ed mana Ma?" Mulut Tiara menganga otomatis saat Citra menodongnya dengan sesendok nasi.


"Kamu keasikan sedih sampai lupa anak, Ed sama susternya, sama Oma juga main di bawah. Aduh, Mama lega lihat Ed nyaman sama susternya, ga pake nolak."


"Hm, rekomendasi Mba Ralin." Satu suapan besar masuk ke mulut Tiara lagi dari tangan Citra.


"Banyak banget ni Ma," dengan mulut penuh Tiara berusaha bicara.


Citra hampir terbahak melihat ke dua pipi Tiara yang mengembang, "Mamanya Ed harus kuat, masalah yang kayak gini ga boleh bikin kamu drop, sepiring ini harus habis!"


***


Di ruangannya Reyhan membongkar beberapa berkas lama yang jauh tersimpan rapi di lemari dokumen. Matanya jeli memindai satu per satu map dokumen yang tertulis di sana. Ia masih ingat menyimpan dokumen asli yang di buat seseorang untuk mengelabui polisi agar orang itu di bebaskan.


"Bingo, ini dia." Dengan gerakan cepat Reyhan merapikan dokumen lain yang tercecer dan mengamankan satu map dokumen yang ia cari.


Jas putih yang melapis badannya segera di buka. Ia meninggalkan ruangan secepat kilat hingga tak menyadari sepasang mata mengamatinya.


***


Tiga puluh lima pertanyaan dan satu kali tes urin baru saja Yundhi selesaikan. Mereka masih harus menunggu hasil tes yang akan keluar beberapa jam lagi.


Waktu sudah melewati tengah malam. Hans, Rudy dan dua tambahan pengacara yang mendampingi Yundhi ada dalam satu ruangan. Mereka tampak tenang karena sangat yakin telah mematahkan semua tuduhan yang di alamatkan pada Yundhi. Tinggal menunggu hasil lab dan semuanya akan selesai. Begitu Yundhi dibebaskan, Hans akan menuntut orang yang sudak menjebak sang anak. Mereka juga menunggu kedatangan detektif sewaan Hans yang sedang dalam perjalanan dan membawa beberapa bukti lain. Yundhi juga telah mencurigai seseorang dan sangat yakin dia pelakunya. Yaris dan Reyhan akan membantunya menguatkan laporannya nanti.


Entah pelakunya adalah oknum atau seseorang, Yundhi akan memastikan semua yang terlibat akan mendapat ganjarannya.


"Pa, Papa pulang aja, biar Yundhi sama Pak Rudy yang selesaikan. Sebentar lagi juga Rey sama Yaris datang."


"No way, Papa akan di sini sampai kasus ini selesai."


"Tapi Pa..."


Di saat yang sama Reyhan dan Yaris tiba di kantor polisi tempat Yundhi di periksa. Tanpa aba-aba mereka membuka pintu ruangan yang di tunjuk oleh petugas di luar yang mereka temui.


"Sori Bro, kita telat, Rey harus cari dokumennya dulu dan gue mesti pastiin Ralin dan Arya aman."


Yundhi berdecak sebal menyambut ke dua sahabatnya, tapi tak urung dia juga lega karena dua sahabatnya itu akan sangat membantu.


"Lo bawa kan apa yang gue minta?"


"Ada ruangan lain ga bro biar kita bisa ngomong?" Dengan kecanggungan yang menggumpal Yaris mengungkapkan pikirannya karena apa yang mereka omongkan adalah masalah sensitif dan belum di pastikan kebenarannya. Yaris merasa lebih tidak nyaman jika ada orang yang tidak bersangkutan mendengar percakapan mereka.


Yundhi melihat sekeliling dan memang hampir semua ruangan di kantor itu lengang. Hanya beberapa petugas yang berjaga mengingat saat itu hari hampir pagi.


Rey dan Yaris mengikuti langkah Yundhi yang menuntun mereka ke sebuah lorong sepi.


"Percaya ga percaya dia sudah enam bulan yang lalu ada di sini dan wow, dia kayak makhluk gaib sampai bikin kita ga tahu. Gue baru dua hari yang lalu baca beritanya di majalah, dan gue berani taruhan dia sengaja menampakkan diri dengan mem-publish dirinya lewat reporter bodoh."


"Lo ga ngomong asal kan?"


"Bro, lo yakin nanya gitu saat kita genting kayak gini? Ya enggaklah, lo ingat gue punya hacker? Segala sesuatu yang bisa ngelacak dia gue telusuri. Cctv, transaksi kartu, penyewaan apartemen mewah, perekrutan pengawal skala besar, pembelian senjata ilegal, anything. Gue pakai semua kungkinan itu buat nyari dimana si brengsek itu sekarang." Yaris terdengar berapi-api, mengingat ia sangat tahu siapa yang mereka hadapi sekarang. Mereka tidak boleh salah langkah dan harus selangkah lebih cepat dari musuh yang mereka hadapi.


"Tujuh tahun, tujuh tahun ternyata waktu ga bisa hilangin dendam dia ke gue," gumam Yundhi.


"Kalau ini jadi bahaya, mending kalian mundur, lindungi keluarga masing-masing!"


"What the ****, lo repot-repot nelpon kita cuma mau ngomong gitu? Minta di hajar lo." Yaris tampak emosi. Perkataan lembut Yundhi lebih terdengar seperti hinaan untuk mereka.


"Gue cuma realistis, tujuh tahun bisa jadi bikin dia tambah lihai dan licik, lo ga ingat dulu dia dengan mudah bisa sabotase pesawat yang gue bawa? Yang mengancam nyawa ratusan orang? Gimana dia sekarang setelah tujuh tahun memutuskan kembali dan ngajak gue perang terselubung? Sasarannya mungkin orang yang sangat dekat dengan kita."


"Jangan harap lo bakal hadapi dia sendiri! Meski ini masalah pribadi lo sama si brengsek itu, tapi adri awal kami juga udah terseret. Kalau lo sekarang minta kami mundur, pertemanan kita bubar."


"Thanks Man, tapi firasat gue sebenarnya buruk tentang masalah ini. This problem, fitnah cuma dengan obat terlarang kayaknya cara yang terlalu sepele buat ngejatuhin gue, gue yakin dia punya rencana yang lebih gila dari ini."


"Masuk akal, bisa jadi ini hanya permulaan." Reyhan ikut berkomentar.


"Lo masih simpan dokumennya?"


"Tentu, ini gue bawa."


"Udah amankan keluarga?" Sela Yundhi di tengah kesibukannya membolak-balik map yang diberikan Reyhan.


"Gue amankan Ralin ke Bandung." Jawab Yaris.


"Mega di rumah keluarga gue, yang pasti aman, lo sendiri?"


"Gue udah tambah penjagaan pengawal di luar rumah, yang pasti biar Tiara ga curiga kalau gue dalam masalah besar."


"Sekarang rencana lo apa?"


"Kita tunggu hasil lab, mungkin sebentar lagi keluar, setelah nama gue bersih, kita balik lapor, kalau bukti-bukti kita kuat, gue harap dia bisa di tangkap, meski gue ga terlalu yakin bukti-bukti ini akan bisa menjerat brengsek itu."


"Boleh gue ngumpat?" Sela Yaris.


"Sila..."


"Shit shit shit."Umpat Yaris dengan gigi bergemeretak dan tangan terkepal. Sadar harapan mereka terkabul sangat tipis.


Lawan mereka mungkin sudah merencanakan suatu hal yang berbahaya. Tidak ada yang bisa di lakukan selain meningkatkan kewaspadaan. Saat ini Yundhi, Yaris dan Reyhan hanya bisa menebak-nebak pergerakan musuh mereka selanjutnya. Satu umpan sudah di lepas. Entah apa umpan berikutnya.


"Oke, kita boleh khawatir sekarang, gue setuju ini bakal buruk, pastikan para istri ga tahu kita berubah jadi mafia sebentar lagi." Ungkap Reyhan.


***


Tepat pukul tiga dini hari Tiara tiba-tiba terjaga tanpa sebab. Tangannya menjulur ke samping tempat tidur dan masih menemukan tempat itu hampa tanpa penghuni.


Yundhinya belum kembali.


Entah karena lelah menangis atau memang calon bayinya yang ingin cepat tumbuh, Tiara merasa perutnya sedikit bergemuruh lapar.


Dia lebih dulu memeriksa ke kamar Ed, dan menemukan sang anak yang tertidur pulas di tempatnya. Suster Ana bekerja dengan baik di awal kedatangan. Tiara sangat bersyukur akan hal itu. Seolah kedatangan Ana telah di atur sedemikian rupa hingga bisa membantunya melewati drama penangkapan sang suami dengan mengambil alih Ed.


Langkahnya kembali memasuki kamar, Tiara mengambil jaket untuk menghalau hawa dingin pagi buta itu. Tiga langkah sebelum menuju pintu, ponselnya berbunyi menandakan satu notif yang masuk.


Sebuah pesan singkat.


Dari nomor yang tidak ia kenal.


Ny. Tiara maaf kami mengganggu, kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa Bpk. Yundhi tiba-tiba mengalami drop, dan sekaramg sedang berada di rumah sakit.


Tiara terhenyak dengan lutut yang melemas setelah membaca pesan di ponselnya. Matanya refkeks memanas dan menggenang.


*Apalagi ini? Apa yang terjadi dengan suaminya? Kenapa suaminya sampai drop dan di bawa ke rumah sakit? Apa karena pertengkaran kecil mereka tadi, atau karena Yundhi terlalu mengkhawatirkannya dan tidak makan dengan benar?


Tiara terus menebak-nebak, pikirannya mulai kalut. Banyak kemungkinan yang muncul. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Yundhi membutuhkannya*.


Matanya terarah pada jam digital yang tertera di ponsel. Terlalu pagi untuk membangunkan keluarganya yang lain, Mang Jay juga ikut dengan Papa Hans. Mereka pasti sekarang di rumah sakit dan tidak berani memberitahunya. Jika dia menelpon, Tiara yakin mereka tidak akan mau berkata yang sebenarnya seperti perkataan petugas polisi yang menghubunginya.


Tiara tidak sempat berpikir lagi, hanya taksi satu-satunya cara agar dia bisa tiba di rumah sakit. Mereka harus bertemu.


Tiara berjalan cepat meninggalkan rumah. Dia takut akan menyesal jika tidak menyusul Yundhi secepatnya.


Tanpa perlu menunggu lama, sebuah taksi online menepi di sisi Tiara berdiri. Ia segera mengarahkan sopir taksi itu agar membawanya ke rumah sakit tempat Yundi di rawat.


***


"Udah gue duga ini ga bakal berhasil." Reyhan meremas rambutnya putus asa. Mereka bertiga sudah memberikan keterangan secara bergantian dan menunjukkan bukti-bukti untuk menjerat pelaku yang belum pasti itu.


Tetap saja, bukti yang mereka berikan belum cukup untuk menjerat pelaku. Mau tidak mau mereka harus mencari bukti lain yang lebih konkret dan kuat. Tapi apa?


Buntu. Saat ini mereka benar-benar berada di jalan buntu.


Namun Yundhi bersikukuh agar pelaku yang sudah ia berikan identitasnya pada pihak berwajib untuk di awasi karena tidak menutup kemungkin pelaku itu akan melakukan tindakan yang mengancam keselamatan mereka. Polisi juga sudah menerima rekaman cctv dan menandai orang-orang yang keluar masuk ke ruangan Yundhi. Satu per satu orang- orang itu akan di panggil besok untuk dimintai keterangan, agar dapat menemuka titik terang pelaku asli fitnah terhadap Yundhi.


Sudah pukul empat pagi dan mereka masih terjebak di kantor polisi. Bisa saja Yundhi dan rekan-rekannya meninggalkan tempat itu sedari tadi karena Yundhi telah dibebaskan dari segala tuduhan. Tapi demi melakukan pergerakan selangkah lebih maju dari musuhnya, Yundhi, Yaris, dan Reyhan rela menahan lelah dan kantuk, diam di sana membuat laporan baru agar bisa menjebloskan musuh mereka itu ke penjara. Hans telah pulang lebih dulu untuk beristirahat, membiarkan Yundhi menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.


Saat mereka sudah di ambang keputus asaan, ponsel Yundhi memecah keheningan di ruangan. Reyhan hampir mengumpat karena kaget.


"Hm, cepat ada laporan apa?"


"Tuan kami mengikuti Nyonya ke rumah sakit setengah jam yang lalu, saat tiba di tempat kami menunggu di luar gedung, sudah lima belas menit tapi Nyonya belum juga keluar, kami menyusul tapi tidak menemukan Nyonya di dalam gedung rumah sakit."