When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Jeda



"Ake pengen warna pink pastel yang ini, aku suka yang ini pokoknya!" tegas Tiara pada Yudhi yang saat itu sedang mencari bahan untuk baju pengantin. Kali ini pilihan warna menjadi bahan keributan mereka.


"Ini bukan aku banget Ra, ga manly, ga maskulin, yang ini deh, ada girlynya ada manlynya juga." Yundhi sambil menunjukkan warna lain yang tidak diketahui namanya oleh pilot itu.


"Kamu tahu ga sih itu warna apa?"


"Enggak."


"Tuh kan, nama warnanya aja kamu ga tahu."


Designer yang menemani mereka mencari bahan itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan tiada ujung selama hampir dua jam pasangan itu. Ia sudah mencoba menengahi pada keduanya untuk memilih warna umum yang biasa di pakai pengantin lainnya. Tapi Tiara ingin memilih warna kesukaannya, berunjung Yundhi yang ga mau kalah.


"Mba cantik, mas ganteng, kita pilih yang ini aja, nanti baju pengantin wanitanya saya modifikasikan dengan tambahan payet dan ___"


"Enggak." putus Tiara masih keras kepala. "Untuk urusan baju pengantin ga ada dong istilah manly-girly, warna apa aja pasti sah-sah aja." sambungnya lagi.


***


Yundhi mengingat masa-masa itu, dimana dia dan Tiara selalu terjadi perdebatan jika sedang mengurusi rencana pernikahannya. Bahkan hal-hal kecil harus menjadi perdebatan alot yang sulit di hentikan. Tapi ujung-ujungnya Yundhilah yang lebih banyak mengalah, daripada harus mendengar Tiara menunda rencana mereka lagi.


"Den, ini udah bener ga alamatnya, kalau ga salah rumahnya yang itu, kan?"


Yundhi kembali tersadar mendengar suara mang Jay yang kini mengantarnya ke rumah Sahrul. Pandangannya terarah pada rumah gaya minimalis modern yang ada di sebrangnya. Terakhir ia ke sana ketika berumur 15 tahunan, sekarang bentuk rumah itu sudah berubah.


"Bener Mang." Yundhi segera turun dari mobil memasuki halaman rumah Sahrul.


Cukup dua kali menekan bel, pemilik rumah sudah bergerak membukakannya pintu.


"Cari siapa?" tanya seseorang yang Yundhi perkirakan adalah asisten rumah tangga Sahrul.


"Om Sahrul ada ga?"


"Oh ada, mari silahkan masuk!"


Yundhi segera duduk di sofa ruang tamu tanpa tertarik melihat suasana rumah itu, karena memang tujuannya ke sana menanyakan perihal Tiara, bukan kepoin rumah orang.


"Kamu baru datang?" suara Sahrul tiba-tiba muncul dari balik pembatas yang terbuat dari bambu. Dia tidak akan kaget karena sudah tahu cepat atau lambat Yundhi pasti akan menemuinya.


"Kayaknya tanpa perlu saya jelasin, Om udah tahu tujuan saya ke sini."


"Pencarian kamu sudah sampai mana?"


"Apa perlu saya cerita segala usaha saya nyari Tiara?"


"Ga perlu juga sih, kelihatan kamu buntunya dari penampilan kamu sekarang."


"So, bisa kasih tahu saya di mana Tiara sekarang?" ujar Yundhi penuh harap Sahrul memecah kebuntuannya.


Laki-laki paruh baya itu mengambil nafas dalam.


"Om juga kaget Tiara sekarang menjadi penting untuk beberapa orang."


"Maksudnya?"


"Tiara memutuskan resign lewat telpon, padahal sebelumnya dia sudah memastikan tidak akan berhenti dari sekolah setelah penelitiannya selesai."


Wajah Yundhi masih dipenuhi tanda tanya selama Sahrul bercerita.


Apalagi ini, penelitian? Penelitian apa?


"Awalnya malah dia sempat ragu mau ikut misi itu atau tidak karena sedang dalam persiapan pernikahan, katanya. Tapi dua hari setelah ayahnya meninggal, dia nelpon om katanya sudah ada di lokasi, lebih cepat dari waktu yang sudah di tentukan. Dia bilang belum bisa memastikan berapa lama penelitian itu akan selesai, dan meminta resign saat itu juga."


"Penelitian apa? Tiara di mana sekarang?"


"Lho, Tiara belum cerita ke kamu?"


Yundhi tak menjawab.


"Dia pernah bilang mau cari waktu yang tepat sih buat ngomong ke kamu sama ayahnya, tapi sepertinya Tiara belum sempat cerita juga sama almarhum ayahnya. Om juga ga terlalu jelas tentang penelitiannya, yang jelas itu diprakarsai pemerintah."


"Kami belum ketemu semenjak om Adib meninggal," ujarnya lemah.


"Hm, pantas isi pesannya gitu, kalian sedang bermasalah jadinya."


"Pesan?"


Sahrul meraba saku celananya, dan mengambil sebuah benda kecil yang terselip di sana.


"Ini sudah om buatkan dalam bentuk mp3, kamu dengerin sendiri."


"Ini?" Yundhi menerima sebuah flashdisk dari Sahlrul.


"Itu pesan Tiara buat kamu, terakhir dia telpon om, dia minta om rekam suaranya. Tapi setelah om telpon ke nomor itu lagi ternyata itu nomor orang lain."


Tangan Yundhi terasa lemas memegang benda yang ada dalam genggamannya. Seketika muncul ketakutan jika isi pesan itu sesuatu yang tidak ingin dia dengar.


"Please, om kasih tahu saya di mana Tiara sekarang!"


"Maaf, om ga bisa."


"Kalau gitu saya bakal diam di sini, kalau perlu nginap sampai om ngasih tahu saya."


"Ga mungkin om pasti tahu."


"Silahkan kalau mau menginap, nanti om siapkan kamar." Sahrul memberi jeda, sebelum melanjutkan, "Mending sekarang kamu dengarkan rekaman itu dulu, om yakin kamu bisa menentukan langkah setelah itu."


Yundhi beranjak berdiri, sebelum sampai pintu ia berhenti dan berbalik.


"Saya akan kembali dan maksa om bicara, saya yakin om tahu di mana Tiara, dia pasti minta sama om untuk ga ngasih tahu saya. Permisi."


***


"Mba Rara, nih laporan hasil penelitian hari ini."


"Hm, tarus aja di situ Ajeng!" Tiara menunjuk tempat tidur dengan dagunya.


"Haduuuuh gitu lagi gitu lagi. Ga bosen apa melototin foto itu mulu."


"Saya lagi kangen Jeng, udah deh jangan ganggu!"


"Iya kalau kangen telpon kek kirim pesan kek, video call, selain lihatin fotonya apa ga ada cara lain gitu. Ini udah jaman apa kali mba, masih lihat-lihat foto doang, tiap hari pula, mba parah."


"Terserah, mba ngomong juga kamu ga bakal ngerti. Sudah sana kerjain yang lain!"


"Di tempat sekecil ini kita juga udah bisa wifi-an kali mba, masih kuat mantangin foto itu?"


"Cari mati ya kamu ngomelin orang tua, sini kepalamu biar sadar." Tiara mengambil kertas laporan yang tadi di bawa Ajeng dan menggelungnya.


"Uwaaaaaaa, macan betina ngamuk, kabooooooor!" Ajeng berlari kecil ke arah pintu.


Sebelum meninggalkan kamar, Ajeng kembali pada Tiara yang masih sibuk menatap foto Yundhi di layar laptopnya. Selama di Loca, Ajeng menjadi teman sekamar Tiara. Meski beda lingkup penelitian, Ajeng wajib menyerahkan hasil yang ia dapat karena Tiara bertindak sebagai ketua.


"Mba udah minum obat kan?"


"Hm, udah Jeng."


"Nanti malam ada acara syukuran warga yang nikah kemarin, kita semua di undang."


Tiara diam sejenak, pernikahan, "Oke, nanti kita datang," jawabnya dengan nada senormal mungkin. Setitik hatinya tersentil mendengar kata itu.


***


Yundhi tiba di rumah ketika hari menjelang malam. Ia berjalan tergesa-gesa setelah turun dari mobil. Membuka pintu rumah dengan satu hentakan, membuat penghuni yang lain menoleh padanya.


Citra yang sedang duduk di ruang keluarga segera berdiri menyambut Yundhi. Melihat Yundhi terburu-buru iapun segera bersuara.


"Yundhi makan du___"


"Yundhi lagi sibuk ma, ga ada yang boleh ganggu, ga ada ketukan pintu, ga ada yang boleh masuk kamar Yundhi, jangan manggil, nanti Yundhi turun sendiri," titahnya dengan satu tarikan napas, di tengah-tengah anak tangga menuju kamar.


Seketika Citra bungkam.


Hans tak acuh dan setia membaca koran.


Ranti juga tak berkomentar dan tetap menghadap layar tv.


Mereka mulai terbiasa dengan sikap introvert Yundhi setelah di tinggal Tiara. Citra yang awalnya sempat marah, mulai melunak setelah Yundhi mendapat surat peringatan dari maskapai tempatnya bekerja. Mereka sudah mengingatkan agar Yundhi berhenti sejenak mencari Tiara dan kembali bertugas. Tapi begitulah Yundhi, rasa bersalahnya menyingkirkan logika berpikirnya dan tetap bersikeras mencari Tiara dan melalaikan tugas. Sekarang sudah hampir tiga minggu sejak Tiara pergi, dan mereka sudah terbiasa dengan perubahan sikap Yundhi.


"Kenapa lagi anak itu?"


***


Hai, maaf tidak mengabarimu. Kalau kamu sudah dengar tentang ayah, aku minta maaf atas nama dia, kalau pernah bikin kamu marah dan tersinggung." Yundhi menahan napas saat suara Tiara terdengar jelas.


"Aku tidak sakit, hanya saja aku tidak tahu perasaannku, dan, dan perasaanmu sekarang. Kamu dan masa lalumu. Aku melihat kalian, dia sangat pantas, kamu dan dia terlihat serasi. Dia cantik, aku yang perempuan saja iri dengan kecantikannya." sambil memeluk erat bantal tidurnya, "Kamu yang paling cantik Ra, ga ada yang lebih dari kamu."


" Tadinya aku mau lepasin kamu, bebaskan kamu dari janji-janjimu, dari janjimu dengan ayah, tapi ada sesuatu dalam hatiku yang ga rela dan terus membisikkan kamu milikku. Hanya milikku. Aku ga mau lepasin apa yang jadi milikku gitu aja. Aku anak tunggal, ga pernah berbagi dengan siapapun, apa yang ada di tanganku adalah milikku seutuhnya, mutlak. Aku egois ya?"


"Enggak, memang harus begitu, aku milik kamu, dan kamu punyaku, ga akan ada yang akan saling melepas, janjiku tetap berlaku," ujar Yundhi, berharap Tiara juga mendengarnya.


Aku tidak ingin begini, menjadi pengecut, lari dari kamu. Childish memang. Tapi foto itu datang lagi, ah foto kalian. Aku sudah berusaha tidak marah, kita belum terikat, dan kamu masih bisa menentukan pilihan. Aku benar kan? Dan kepergian ayah disaat yang sama, juga kejutan yang dia berikan, membuatku sedikit kacau. Aku pikir ini yang terbaik. Aku ingin menenangkan diri, karena melihatmu akan membuat hubungan kita tidak baik.


"Terus aku gimana? Gimana aku menenangkan diri sementara ketenanganku adalah kamu disisiku."


Aku ingin kita jeda sebentar. Berapa lama? entahlah. Aku ingin menyembuhkan luka kecil ini.Yundhi.


"Jangan Ra, aku juga sakit, jangan ada jeda, ini sudah cukup, jangan lebih lama lagi!" rengeknya dengan air mata yang mulai luruh. Yundhi meringkuk di atas tempat tidurnya.


Aku punya beberapa pertanyaan, kamu boleh pikirkan jawabannya dari sekarang.


Apa aku berarti buatmu? Apa aku masih di posisiku sebagai masa depanmu? Apa selama kita jeda aku boleh merasa bahwa kamu masih milikku?


Yundhi, aku mencintaimu, sangat. Kalau kamu mencintaiku juga, selama aku ga ada, hiduplah dengan baik. Jangan membebani diri, jangan mencariku, bukan berarti aku minta kamu lupain aku. Aku hanya ingin berdamai, menerima apa yang terjadi.


Ketika bertemu nanti, aku ingin mendengar cerita yang baik tentang kamu, itupun kalau, kalau kamu masih mau menunggu. Saat kita bertemu lagi nanti, kalau kamu berubah pikiran kembali pada masa lalumu, tolong abaikan aku, tapi kalau kamu memilihku dan bertahan, kamu boleh menghampiriku.


Yundhi menggenggam erat fd yang ia cabut dari macbook yang berisi rekaman suara Tiara. Air matanya masih luruh. Ia merindukan Tiara. Suara Tiara saja tidak cukup memenuhi hasrat tubuhnya yang ingin menyentuh Tiara.


"Ayo lakukan, berapapun lama waktu yang kamu mau, aku pastikan akan bertahan dan kita akan kembali sama-sama," gumamnya disela tangis.