
"Ayo kita bikin tiga adik buat Ed, aku ga akan protes lagi kamu mau beli apa, aku ga marah lagi kamu beli rumah buat kita, aku bakal patuh, ga childish lagi, ga debat kamu, apapun, yang penting jangan pergi, jangan ikut sama mereka, ini ga bener, kamu ga mungkin buat hal yang gitu-gitu, mereka salah orang... Please... Jangan pergi!" Kata-kata Tiara keluar begitu saja dalam dekapannya pada Yundhi. Pelukannya sangat erat, tidak akan ia lepas sampai Yundhi mengabulkan kemauannya.
Yundhi tak bisa menahan kekehannya, di sela tangis sang istri ia bahkan mampu tertawa saat polisi akan membawanya pergi.
"Kalau tahu kamu bakal patuh begini kenapa ga dari kemarin-kemarin aja ya tu polisi datang."
Tiara melepaskan pelukannya dan menatap nyalang Yundhi.
"Kamu mau di bawa ke kantor polisi masih bisa ketawa kayak gitu," tangannya mulai liar memukul dada suaminya, "masih bisa ngomong gitu, ga tau gimana takutnya aku sekarang, kamu bisa ketawa hah." Suara Tiara naik satu oktaf, tapi dia kembali memeluk suaminya tak rela Yundhi di bawa dua petugas kepolisisan yang datang.
"Ini ga akan lama,, aku yakin juga ada kesalahan kayak yang kamu bilang, makanya sekarang aku mau buktikan sama mereka kalau mereka salah orang. Kalau aku ga ikut gimana aku mau buktikan sayang?"
"Apa ga bisa kita selesaikan di sini, tanpa harus bawa kamu ke kantor mereka, suruh aja petugas labnya periksa kamu di sini."
"Tu kan mulai ngawur. Seperti kamu dan aku, mereka menjalankan tugas secara profesional, bekerja di bawah pimpinan instansi mereka, bakal repot juga kan kalau bawa alat-alat labolatorium ke rumah kita."
"Tapi ini ga bener, ga bener Yundhi. Mereka yang ngaelwur. Mana mungkin kamu simpan barang kayak gitu di meja kerja kamu yang cuma kamu tempati sebulan sekali, itupun kalau kamu perlu ke kantor, ga, pokoknya enggak, mereka salah."
Tiara mulai sesenggukan tanpa melonggarkan pelukannya. Sungguh dia tidak rela Yundhi di beri tuduhan menyimpan obat terlarang di meja kerja yang hanya menjadi singgahan beberapa jam dalam tiga puluh hari.
"Pak Rudy udah siap dampingi, aku janji ini ga bakal lama, kita bakal buktikan di kantor polisi nanti, tapi kalau kamu terus kayak gini urusannya ga kelar cepat sayang."
Beberapa saat yang lalu Tiara harus di kejutkan dengan kedatangan dua orang petugas kepolisian dan seorang petugas BNN yang datang membawa surat penangkapan untuk sang suami. Para petugas itu datang sejak Tiara dan Yundhi masih berada di rumah Ralin. Mereka meminta nomor ponsel Yundhi untuk memintanya agar segera pulang, tapi Citra bersikeras melarang dan meminta agar mereka menunggu saja sampai Yundhi dan Tiara pulang dengan sendirinya karena Citra mengkhawatirkan kondisi Tiara mengingat menatunya tengah hamil muda. Dia takut Tiara kan kaget mendengar berita itu di tengah perjalanan sebelum tiba di rumah.
Hans segera menghubungi Rudy agar datang ke rumahnya lebih dulu dan bisa segera membuat langkah pembelaan terhadap Yundhi. Pengacara itu juga diharuskan agar dapat membuktikan bahwa Yundhi tidak bersalah dan mengusahakan Yundhi tidak di tahan. Mereka yakin ada orang yang berniat menjebak Yundhi dengan menaruh obat terlarang di meja kerja Yundhi di kantor maskapai.
Hans tidak akan main-main menangani kasus ini. Jika dulu ia masih bisa tenang menangani kasus selebgram nyeleneh itu, kali ini tidak. Ada orang yang berani lagi mengusik ketenangan keluarganya, maka dia akan menuntaskan orang itu hingga ke akar terkecil. Tidak ada yang tahu kekejaman Hans dalam dunia bisnis. Di balik wajah teduh, berkarisma dan bijaksana, Hans adalah seekor harimau dalam kerajaan bisnisnya. Jika dia memiliki lebih banyak rasa belas kasihan, maka bisnisnya tidak akan berkembang seperti sekarang. Dia tahu, ada banyak musuh, saingan bisnis, yang tidak senang akan pencapaian yang diraih keluarganya. Dan dia yakin salah satu musuhnya lah yang melakukan jebakan keji ini terhadap sang anak.
Bisa di bayangkan bagaimana keluarga Prasetya di timpa kegemparan dengan berita buruk ini. Tiara adalah orang yang paling terpukul dengan kejadian itu dan semua orang mengkhawatirkannya.
"Jangan stres, ingat kan kalau ada calon bayi kita sekarang, di sini?" kata Yundhi menenangkan lagi Tiara yang masih erat memeluknya.
Tiara tersentak dengan ucapan Yundhi dan hampir lupa kalau Yundhi tidak mengingatkan. Dengan cepat ia menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan napasnya teratur.
"Janji ini bakal selesai kurang dari dua belas jam!" Tiara akhirnya menunjukkan tanda ketegaran, membuat Yundhi sedikit lega.
"Janji."
***
Di ruang tamu Hans memberi beberapa perintah lain pada Rudy. Meminta pengacara itu menambah anggota untuk mengawal sang anak, memastikan bahwa berita ini tidak sampai ke ranah publik, mendampingi Yundhi kemanapun petugas berwajib membawanya, melakukan berbagai antisipasi jika terjadi kesalahan dalam proses introgasi, pengecekan lab dan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah itu.
Tidak lupa Hans meminta detektif yang ia percaya mengumpulkan bukti lain dengan mengambil rekaman cctv, laporan siapa saja yang keluar masuk ke ruangan Yundhi selama beberapa hari ini, memeriksa daftar tamu yang datang ke kantor maskapai mereka, dan berbagai bukti lain yang mumpuni yang dapat menjadi pembelaan bagi Yundhi. Meski Hans tahu bahwa cek lab akan membuktikan segalanya, bahwa Yundhi tidak memakai barang haram tersebut, tapi ada untungnya nanti dia bisa menemukan pelaku sebenarnya bukan?
Semua langkah akan di tempuh demi menguak kebenaran.
***
"Kita keluar sekarang ya, kasihan petugasnya nunggu lama. Kayaknya Mama ga mau repot-repot bikinin minum buat mereka."
Astaga, dirinya mau di tangkap oleh polisi itu dan Yundhi masih memikirkan kenyamanan orang yang mau menangkapnya. Tiara hampir kelepasan dengan mendaratkan cubitan tokeknya namu segera di urung.
"Bodo amat, biarin aja mereka kelaparan kehausan." Sisi kejam Tiara terusik, jika dia tidak sedang mengandung mungkin dia juga akan mengumpati petugas itu.
"Ayo, biar cepat kelar."
Yundhi melepaskan pelukan mereka, menggenggam tangan Tiara keluar dari kamar sang Mama yang ia pinjam untuk melakukan perpisaha dengan sang istri. Di kamar mereka, ia takut akan mempengaruhi Ed yang masih dalam pengawasan Ana.
"Kamu yang tenang aja di rumah sama Ed, ga usah mikir yang aneh-aneh, ngerti!"
Yundhi bisa merasakan tangan Tiara yang dingin. Dia bisa mengerti kecemasan hebat yang di rasakan istrinya.
Pikirannya terbagi untuk menjaga emosi sang istri, dan dia harus pintar menguasai situasi. Jika dirinya mengatakan bahwa mereka sedang menghadapi serangan musuh yang berbahaya, tidak ayal Tiara akan lebih cemas dari ini dan memengaruhi kehamilannya.
Di ruang tamu pembicaraan terhenti saat Tiara dan Yundhi menampakkan diri. Citra berdiri paling awal, mendekati Tiara yang terlihat lemas dan pias.
Kalau bisa ia bicara, Yundhi ingin segera menuju kantor polisi dan menyelesikan segalanya. Membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan melaporkan kembali orang bodoh yang berani menanatangnya. Tapi lagi-lagi, Tiara menjadi prioritas. Bersikap gegabah sama dengan membahayakan istri dan calon anaknya.
Mengikuti sikap Citra, ke tiga petugas itu berdiri menyambut Yundhi. Suasana kembali tegang. Tiara mengeratkan genggaman jemarinya. Perpisahan itu akan tiba. Dan dia benci situasi ini. Tanpa bisa ia cegah Tiara kembali menangis tanpa suara.
"Kita bisa berangkat sekarang!"
Tiara menatap pada Yundhi, bagaimana sikap tenang yang di lakukan suaminya itu tidak berpengaruh pada dirinya. Yundhi melihatnya. Tiara menggeleng pelan, mengisyaratkan dirinya tidak ingin ini terjadi. Yundhi masih menorehkan senyum, menganggukkan kepala menyakinkan Tiara semuanya baik-baik saja.
"Mari Bapak Yundhi... Sila..."
"Tidak, ...." serobot Tiara cepat, "suami saya... akan memakai mobil pribadi, dia bukan tahanan," ucap Tiara dengan sisa-sisa ketegarannya.
Ke tiga perugas itu memaklumi situasi seperti ini, anggota keluarga mereka yang tidak rela kerabatnya di giring untuk di amankan.
"Tentu saja." Jawab salah satu petugas.
Mereka melangkah ke luar, diikuti Tiara dan anggota Prasetya yang lain. Pemandangan paling menyakitkan dalam hidupnya kini terjadi, kali ini lebih sakit dari melihat suaminya di peluk wanita lain.
Air mata itu terus mengalir. Yundhi hampir tidak berani menatap sang istri, karena melihat Tiara menangis sama dengan membuat pukulan rasa bersalah menghantam dirinya. Amarahnya sudah di puncak tapi Yundhi tidak menunjukkannya, siapapun yang melakukan ini pada keluarganya akan segera dia habisi.
"Percaya ga besok aku sudah di sini, main sama Ed, peluk kamu," bisik Yundhi sebelum dirinya memasuki kendaraan yang siap membawanya, Tiara memberikan anggukan, "tunggu aku!"
Yundhi melepasnya, pertahanan Tiara runtuh detik itu juga. Citra menguasainya, meraih bahu Tiara yang baru di lepaskan sang anak.
"Sudah sayang, Yundhi akan pulang secepatnya, ingat kan kamu lagi hamil? Percaya sama Mama, kita akan kumpul lagi besok pagi."
***
Di dalam mobil, wajah tenang Yundhi sudah berubah sangar. Matanya menyalang menguarkan amarah. Dalam kendaraan terpisah dari petugas yang membawanya, Yundhi mengambil ponselnya yang terselip di saku jaket.
Pada deringan ke tiga, panggilannya di terima.
"Lo udah tahu berapa hari si brengsek itu balik ke sini, tapi ga ngasih tahu gue, sialan."
Yaris yang di seberang sedikit tersentak mendengar sang sahabat yang terdengar tidak bersahabat.
"Wait wait wait, tenang dulu bos! Gue juga baru tahu dari majalah bisnis kemarin. Gue belum sempat ngasih tahu, kenapa?"
"Dan gue baca majalah itu di rumah lo tadi. Dengar! Gue belum punya bukti, tapi dia kayaknya ngejebak gue sekarang dengan naroh barang haram di laci meja kerja gue di maskapai."
"What?! How could... Dia bisa gerak secepat itu? ****."
Pembicaraan di saluran itu penuh umpatan dengan mengikutkan seseorang yang haram di sebut namanya.
"Dan lo, gimana sekarang?"
"Polisi tadi datang ke rumah nyari gue, sekarang on the way."
"Wow, berani juga tu orang."
"Kayak lo ga tau si brengsek itu aja."
"Then what?"
"Lo bisa lacak keberadannya sekarang, cari sampai ke lubang semut, pakai semua kekuatan yang lo punya, gue harus bikin perhitungan sebanyak air mata Tiara yang keluar gara-gara masalah yang dia bikin. Hubungi Rey, dia masih simpan dokumen palsu yang di buat ******** itu buat ngelabuin polisi tentang catatan kesehatannya sampai dia bisa lolos dari penjara. Sisanya, lo tahu apa yang harus lo lakuin kan Ris?"