
Lorong menuju kamar mandi itu berkisar dua setengah meter dari pintu masuk sampai pada persimpangan, dimana jika ke arah kanan di peruntukkan toilet perempuan, dan toilek untuk pria di bagian kiri. Karpet merah darah membentang sepanjang jalan lorong sampai batas pintu kamar mandi. Bersih dan wangi. Sangat terawat, memungkinkan untuk tempat mengobrol seseorang jika mau.
Tapi tempat itu berubah angker bagi Tiara. Apa yang baru saja di saksikannya membuat lorong itu seperti himpitan dinding menyesakkan. Langkah yang awalnya pelan, segera ia percepat begitu keluar dari pintu pertama yang menghubungkan tempat acara dan lorong menuju kamar mandi.
Riuhnya acara mendadak menjadi kesunyian. Sejenak dunia Tiara terasa sepi. Adegan itu kembali berputar di kepalanya. Ketika tiba-tiba tubuhnya di tabrak sosok kecil, barulahTiara kembali sadar.. Air matanya luruh, setetes. Dia bertahan agar tidak ada lagi tetesan berikutnya.
Denyut sakit hati yang datang tidak di hiraukan dalam hingar bingar pesta ulang tahun Vozia. Mata merahnya meliar, mencari Edward yang mungkin di ajak bermain oleh Ralin.
Ketemu. Gopoh, tangannya menyambar Edward yang turun dari perosotan mini.
"Mba, kayaknya aku duluan, maaf ya."
"Lho kok, kenapa Ra?"
Tiara meninggalkan Ralin begitu saja. Ia bingung melihat mata merah dan wajah pucat istri sahabat suaminya. Perasaan tak enak Ralin memberi alarm, ada yang tidak beres.
"Mas, kok Tiara tiba-tiba pergi?" adu Ralin pada Yaris yang masih duduk dengan ponsel di tangan.
"Pergi gimana? Yundhi kayaknya masih di toilet, tuh, tasnya Tiara masih di sana." menunjuk dagu pada tas Tiara yang bertengger di sandaran kursi.
"Tadi matanya merah, mukanya pucat, langsung gendong Ed terus pergi, apa ga aneh namanya?"
Tangan Yaris langsung berhenti mengetik.
"Mana sekarang Tiaranya?"
"Udah pergi."
"Perginya kemana?"
"Ya ga tahu, pulang kali, dia cuma nilang duluan, udah itu doang, aku kok khawatir."
Yaris mengumpat, "ada yang ga beres, kenapa lagi tu anak?"
"Kamu tunggu di sini, kalau bisa cari Yundhi, aku kejar Tiara."
Yaris bergegas, kekhawatiran sang istri menular padanya. Belum dingin masalah selebgram kemarin, Yaris harus menyaksikan lagi masalah menimpa keluarga Yundhi. Semoga kali ini bukan tentang wanita, harapnya.
"Yundhi, ikut gue!" Ralin menarik paksa lengan baju Yundhi yang saat itu sepertinya sedang duduk dengan seorang teman di meja lain.
"Kenapa Lin?"
"Lo apain Tiara?"
"Maksudnya?"
"Tiara pulang, matanya merah, mukanya pucat, anehnya dia ga nunggu kamu."
"Jangan becanda!"
"Lo pikir gue mau nyariin lo cuma mau buat becandain lo doang?"
Mereka kemudian duduk di meja semula.
"Gimana ceritanya, dia sakit?" tangan Yundhi meraih tas Tiara yang menggantung di sana, memeriksa bagian dalam tas istrinya. Ponsel Tiara masih ada di dalam.
"Dia tadinya pamit ke toilet," Ralin tiba-tiba mendapat tatapan tajam Yundhi.
"Ke toilet?"
"Iya, dia kebelet, nitip Ed sama gue, pas balik tiba-tiba bilang duluan, terus pergi, dia kenapa ya?"
Kali ini wajah Yundhi yang di lihat Ralin berubah pias, dan lagi dia mendengar umpatan di waktu yang berdekatan, sekarang dari Yundhi.
"Lo tahu kira-kira kemana?" Mata Yundhi berubah liar melihat ke sekeliling.
"Yaris udah ngejar, mungkin udah di bawah."
Tanpa banyak kata Yundhi beranjak pergi dari tempat itu. Berlari secepat mungkin, mengabaikan panggilan Reyhan, dengan tas Tiara di tangannya.
Pikirannya semrawut, tapi mengerucut ke satu kejadian yang mungkin Tiara lihat. Tiara melihatnya bersama Nana.
Kesal dengan pintu lift yang lama terbuka, Yundhi memilih tangga darurat. Langkahnya lebar menuruni dua anak tangga sekaligus dalan satu gerakan. Tiba di lantai dasar Yundhi bergegas lari menuju lobi, Yaris di sana.
"Mana?" napas sengal Yundhi hanya mampu mengucap satu kata.
"Sudah pergi naik taksi, gue gagal nyegat, sebenarnya kalian kenapa sih? Ribut?"
"Mati gue."
Tak menjawat pertanyaan Yaris, Yundhi berlari lagi menuju parkiran, kepalanya berdenyut hebat. Dia lebih dari sekedar dalam bahaya. Tepatya dia sekarat. Keluarganya. Semoga kali ini tidak parah.
Melaju dengan kecepatan penuh, lantas tak membuat Yundhi bisa begitu saja melewati padatnya lalu lintas. Dia harus sabar berbagi lahan dengan pengendara yang lain. Kali ini Yundhi mengutuk siapapun penemu lampu lalu lintas yang membuat nyala merah sebagai tanda untuk berhenti. Umpatan demi umpatan mengalir deras, menggema di dalam mobil mewahnya.
Tiba dalam waktu satu jam di rumah, sudah cukup bagus melihat kemacetan yang baru dia lewati. Ia segera turun. Ada Bik Jo di teras, mengelap kursi kayu yang biasa dia pakai.
"Non Tiara sudah pulang?" tanyanya pada Bik Jo.
"Walah, ya belum toh, kan perginya sama Den Yundhi tadi," semrawut di kepala Yundhi makin membahana begitu mendengar kata belum terlontar bebas dari Bik Jo.
Otaknya harus berpikir keras kemana Tiara kira-kira. Ia kembali ke dalam mobil. Membuat Bik Jo bertanya pada angin, kemana lagi tuannya?
Yundhi kembali memecah raya. Helma tujuan berikutnya. Semoga Tiara ada di sana.
***
"Dia nggak ke sini, sebenarnya mama juga kangen pengen nyamperin ke rumah, cuman kemarin banyak orderan, memangnya Tiara kenapa?" Helma datang dengan dua cangkir minuman dan setoples kue kering.
Yundhi menyambutnya dengan desahan napas putus asa dan wajah frustasi yang di tutupi dua telapak tangan.
"Cuma salah paham sih ma, tapi Tiara belum dengar penjelasan saya."
"Minum dulu, siapa tahu bisa lebih tenang!" Yundhi hanya menurut. Menyeruput sedikit mimuman hangat yang sebenarnya enak itu, tapi sekarang terasa seperti rebusan kulit buah manggis di lidah Yundhi. Pahit.
"Kalau cuma salah paham, pasti bisa di selesaikan baik-baik. Tiara itu gampang marah tapi gambang baik juga kata bapaknya."
Yundhi sepakat dengan Helma. Tiara memang gampang marah jika ada yang tidak sesuai aturannya. Tapi cepat hilang saja jika Yundhi memberi penjelasan meski ada debat kecil yang harus di lewati.
Tapi apa mungkin sekarang hal itu berlaku kalau Tiara melihatnya di peluk wanita lain? Tidak lagi hanya sekedar gambar seperti sebelumnya, siaran live malah.
Malu kalau hanya wajah sedih yang harus ia tampakkan pada mertuanya. Yundhi berdiri pamit.
"Ga mau makan dulu, Mama udah masak."
"Enggak deh ma, Yundhi mau cari Tiara dulu."
"Mau di cari kemana?"
"Ga tahu, kalau perlu ngobrak abrik kota ini, saya bisa lakukan itu."
Yundhi sudah ada di ambang pintu.
"Coba cari ke rumah Kasvian!" celetuk Helma tiba-tiba dan berhasil menghentikan Yundhi.
"Bang Kas?"
"Iya, Kasvian udah seperti kakak buat Tiara, coba kamu ke sana?"
Ada sedikit lega di dada Yundhi, tapi tak luput dari rasa ngeri. Jika sekarang harus berhadapan dengan Kasvian lagi dengan masalah yang mereka alami, dia harus siap babak belur.
"Saya coba ke sana sekarang."
"Hati-hati!"
Yundhi bergegas menuju kendaraannya. Mau dia babak belur atau di sengat listrik nanti oleh Kasvian, dia akan terima, asal Tiara ada di sana.
***
Ford 2000X milik Yundhi terparkir mulus di depan kediaman Kasvian saat hari menjelang petang. Pintu gerbang yang tertutup rapat tak bisa di akses Yundhi untuk memarkirkan kendaraannya di dalam halaman rumah Kasvian. Ia masih ragu untuk keluar, tapi tempat itu yang paling masuk akal sebagai tempat Tiara bersembunyi.
Dengan langkah berat Yundhi berjalan ke arah interkom yang menpel di satu sisi tembok gerbang. Butuh tiga kali pencetan tombol sampai panggilan Yundhi di respon pemilik rumah.
"Siapa?" suara berat Kasvian menggema menyambut Yundhi, ingin sekali ia membalas tapi gumpalan saliva kental terasa seperti bongkahan batu di tenggorokannya.
"Siapa? Kalau lo Yundhi mending pulang!" sambungan terputus, sakilas Yundhi bisa mendengar suara Ed tersambar sambungan interkom, dan penolakan Kasvian cukup memberi isyarat Tiara ada di sana.
Berbagai emosi berseliweran menghampiri Yundhi. Ada lega, bercampur takut, khawatir, sedih, dan marah. Marah yang di tujukan untuk dirinya yang mendadak menjadi bodoh menciptakan apa yang terjadi sekarang.
Keningnya membentur pelan interkom di depannya. Perasaan rindu mendadak datang tapi dengan rasa sakit karena tak bisa tersalurkan. Sakit yang berlipat karena dua orang yang di cintainya menjauh dari jangkauan. Dadanya mulai nyeri, nyeri itu menjalar ke seluruh tubuh.
Yundhi berbalik menyandarkan punggung. Kakinya mulai lemas. Kepalanya tenggelam dalam himpitan lutut. Dia menangis tanpa air mata. Nyeri karena rindu itu efeknya sangat hebat. Yundhi yang terbiasa dengan suara Tiara dan Ed di sekelilingnya mendadak seperti ponsel yang kehilangan daya, mati. Dia melihat pada arloji yang melingkar di pergelangan, baru tiga jam setelah Tiara pergi dari jangkauannya, terasa berhari-hari mereka tidak bertemu.
***
Tidak seincipun kendaraan Yundhi berpindah dari tempat awal ia memarkir. Dia bertahan di sana hingga hari sudah gelap. Lampu rumah Kasvian sudah hampir padam seluruhnya, kecuali satu ruangan di lantai atas. Lampunya masih menyala. Imajinasinya membayangkan Tiara di sana. Sedang apa dia sekarang? Mungkin menidurkan Ed sambil menyusuinya, Yundhi rindu pemandangan itu. Erat-erat di rengkuhnya tas selempang kecil milik sang istri. Di ciumnya berkali-kali, sesuatu yang tidak akan di lakukan Yundhi dalam kondisi normal.
Konyol. Yundhi mengingatkan diri untuk membelikan Tiara tas yang lebih besar, agar lebih mudah ia peluk jika Tiara tak bisa ia jangkau seperti sekarang. Dia juga memutuskan akan membawa satu barang milik Tiara jika nanti akan bertugas. Memeluk tas sekecil itu ternyata susah.
Dering ponsel memecah kesunyian. Kontak Citra muncul di sana. Orang rumah pasti khawatir mereka belum pulang.
"Kalian tidur di mana? Tadi paket punya Tiara datang, katanya dari Malaysia, kata kurir mungkin minuman, jamu modern. Nama jamunya mirip istrimu jamu Mutiyara nih. Mana Tiara? Mama mau ijin nyobain." Citra bicara seperti tidak tahu apa-apa. Bagus. Bik Jo tidak lapor tadi dia sempat pulang sendiri.
"Mama taruh di kamar aja, kita nginap di hotel, bareng Yaris sama Rey, sekalian ajak Ed liburan. Tiara lagi di kamar mandi, nanti Yundhi kasih tahu, Mama ambil deh satu kalau jumlahnya banyak." Yundhi terpaksa berbohong, kalau mamanya tahu mungkin Citra akan langsung murka.
Setelahnya Yundhi menutup sambungan, takut suaranya yang akan bergetar di dengar Citra di seberang.
Tiara masih melakukan misi perawatan. Perawatan untuk dirinya agar terlihat lebih cantik katanya. Perawatan yang dia lakukan gara-gara fotonya bersama si selebgram kurang ajar. Perawatan yang sebenarnya tidak perlu, karena di mata Yundhi Tiara wanita paling cantik dan sempurna. Tapi wanitanya itu bersikeras.
Yundhi ingat Tiara pernah mengatakan ingin memesan jamu produk Malaysia, tapi milik artis Indonesia yang tinggal di sana. Jamu itu katanya bisa menghaluskan kulit dan menjaga kesehatan organ intim. Tiara ternyata lebih sungguh-sungguh dari yang Yundhi kira. Tamparan masalah kemarin kenapa begitu membekas di wanitanya itu. Padahal hanya masalah kecil.
Lantas bagaimana dengan efek masalah yang sekarang?
Bagaimana kalau Kasvian membantu Tiara kabur lagi seperti ke Loca dulu.
Memikirkannya membuat kepala Yundhi makin berdenyut.
Sunyi kembali datang. Kali ini makin menyesakkan. Hari hampir menjelang pagi, Yundhi bahkan tak bisa terpejam. Bukan tidak bisa, tapi takut, takut kalau Kasvian bergerak membantu Tiara kabur saat dia tertidur. Pikiran yang konyol memang. Matanya terus saja menyorot pada rumah Kasvian.
***
Ketukan keras kaca mobil membangunkan Yundhi dari tidur ayamnya. Yundhi segera mengusap wajah, mengumpulkan kesadaran. Bisa-bisanya ia tidur padahal sudah berjanji akan melek dua puluh empat jam.
Kasvian berdiri di samping pintu. Tampak sudah rapi dengan pakaian kerja. Dengan gerakan gesit Yundhi membuka pintu mobil. Dia sudah siap di hajar Abang angkat istrinya.
Benar saja, Vian langsung mendorong tubuh Yundhi hingga membentur badan mobil. Tinjunya menggantung setelah mata bertemu mata. Ada magnet yang menarik bogen Vian batal mendarat di wajah Yundhi.
"Mas, jangan gila!" Suara Asti menyela aksi tatap mereka.
Vian menurunkan tangan dan melepas cengkramannya dari leher baju Yundhi.
"Kalau gue ga lihat mataEd di mata lo, lo udah gue hajar."
"Mas, ih malu tahu," Asti menepuk keras bahu suaminya, pandangan wanita itu berpindah pada Yundhi, "Tiara ada di dalam, dia lagi masak buat Ed. Tiara ga cerita apa-apa, kami ngerti, kalian bisa ngobrol di dalam, selesaikan baik-baik kalau ada masalah."
Vian senyum meremehkan, Asti menarik lengan Vian agar mengikutinya.
"Jangan jadi brengsek lo!"
"Mas, diem ga! Yundhi masuk aja, gerbang dan pintu ga di kunci, kami ke kantor dulu."
Wanita itu berkata halus, berbanding terbalik dengan Vian. Vian sebenarnya orang yang ramah juga, hanya saja dia sangat sensitif menyangkut Tiara.
Kendaraan Vian menghilang di persimpangan, Yundhi kembali menatap gerbang, pelan-pelan ia masuk ke halaman rumah. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya berhenti di depan pintu utama. Celotehan Ed terdengar, membuatnya damai sejenak.
Dengan gerakan halus, tangannya membuka pintu, Ed yang pertama menyambutnya. Anaknya sedang bermain dengan asisten rumah tangga Vian. Anak itu selalu ramah dan cepat akrab dengan wajah asing.
"Papa." Langkah kecil Ed bergerak menuju Yundhi, sangat cepat Yundhi meraih anaknya, mancium berkali-kali wajah mungil itu.
"Papa juga kangen, Mama mana?"
"Mba Ara di dapur, di belakang, lagi masak." terang asisten Vian.
"Bisa minta tolong ajak Ed main di luar, Bik?
"Oh ya bisa, Tuan."
Yundhi menyerahkan Ed pada asisten itu, Ed menurut. Anak itu bisa di ajak kerja sama.
Yundhi menyususri ruangan. Mengarah ke dapur tempat Tiara saat ini. Dapur itu tidak di pisahkan sekat, menyambung dengan ruang keluarga di bagian tengah. Dari jarak tiga meter, Yundhi bisa melihat Tiara sedang mengaduk di depan kompor, membelakanginya. Tangan istrinya melepas spatula, kini gelisah mencari sesuatu di kabinet dapur yang cukup tinggi.
Tiara berusaha keras, berjinjit meraih wadah yang tersimpan di kabinet itu. Sepertinya dia ingin memindahkan masakan untuk Ed yang sudah matang.
"Susah," ucapnya pelan, "Bik, ada piring kecil ga?" tanya Tiara dengan suara yang sedikit keras.
Di rumah yang tidak ada anak kecil sebagai penghuninya itu, sepertinya sulit menemukan alat makan yang ukurannya juga kecil.
Yundhi melangkah pelan dan pasti tanpa suara.
Melihat Tiara yang kesusahan dia tidak tahan.
Tiara yang masih membelakanginya tidak menyadari Yundhi sudah mendekat.
"Aku bantu."
Satu tangan Yundhi mengambil wadah di dalam kabinet, dan memeluk tubuh istrinya dengan tangannya yang bebas.
Tiara shock.