
"Apa lo, masuk senyam senyum." Jenny menegur Tiara yang tampak bahagia, "Bau lo...asin. Muka kusam lagi." Jenny sekilas mengendus aroma yang keluar dari tubuh sahabatnya itu. Seketika wajah Tiara berubah dongkol.
"Kebiasaan anda, ngerusak mood sahaya."
"Lagian lo dateng-dateng, muka cengengesan, bau asin, abis jemur ikan?"
"Parah lo, gue tuntut kayak si artis baru tau, ngatain gue asin tapi masa sih, kentara banget ya Jen?" Tiara melunak di ujung kalimatnya.
Jenny manggut-manggut. "Lo abis ke pantai?"
Tiara mengangguk tanpa suara.
"Sendiri?"
"Hm."
"Ke emak Darsih?"
"He-eh."
Sekilas Jenny bisa menebak apa yang di lakukan Tiara.
"Gara-gara semalem?"
"Lo orang terpeka dalam hidup gue Jen, lo pantes jadi cenayang."
"Sialan, lo. Mandi sana, bau lo. *****."
Tiara beranjak meninggalkan Jenny menuju kamar mandi guru, menuruti nasehat Jenny untuk mandi. Menyegarkan wajah dan tubuh, jiwa dan raga, sebelum beraksi mengajar anak manusia yang haus akan ilmu.Wajahnya juga memang terasa tebal karena debu, memang harus mandi biar aura terpancar.
Untung saja di lokernya ia menyimpan seragam olah raga guru yang biasa mereka pakai jika ada kegiatan outdoor sekolah. Untuk sepatu, flat shoes, yang ia kenakan hari ini tentu di kondisikan. Jadi penamapilan hari ini cukup, aman.
***
Tiara keluar dari kelas diiringi sahutan kesal siswa. Jika sudah behini, Tiara akan menjadi pemeran antagonis dalam beberapa pertemuan ke depan.
"Bu, beneran deh ga lucu banget tugasnya bu, 1500 kata, karangan, kalau pakai bahasa kita saya oke bu, lah ini, selain yes, or, no saya cuma tahu kata of course bu, selebihnya ga ada." kata seorang murid laki-laki yang terus mengekori Tiara hingga mereka hampir tiba di ruang guru. Tiaara kemudian berhenti.
"Nah itu kamu tahu, of course, artinya pasti, tentu. Jadi tugas dari ibu itu PASTI. Understand?" tegas Tiara.
Si muridpun kehabisan kata, pasrah, mematung meski Tiara mulai beranjak.
"Bu, kalau gitu saya nanti jiplak beberapa lirik lagu aja sampai jumlahnya 1500 kata, jangan salahin ya bu." ucapnya lagi setelah Tiara berjarak lima langkah darinya. Membuat Tiara menunduk mengambil nafas dalam. Dasar bocah.
"Whatever, yang penting kalimatnya nyambung dan jenis karanganmya jelas, ini sudah mau kenaikan kelas, berusahalah sedikit!" Tiara melanjutkan langkahnya. Siswa itu kemudian mengepalkan tangan ke udara. Huft. Edan.
Tiara kemudian mengambil semua keperluannya di ruangan, hendak pulang seperti rekan-rekannya yang lain. Yundhi juga pasti menunggunya di luar. Apa kabar lelaki itu, kalau masih setia menunggunya, artinya Yundhi benar-benar mencintainya. Masa lalu biar, tinggal masa lalu. Dengan langkah tergesa Tiara menyusuri koridor sekolah berharap Yundhi tidak merutukinya nanti.
Benar saja, mobil Yundhi masih berada di tempatnya. Tiara....senang.
Tiara mendekati mobil Yundhi, memasang wajah curiga karena tidak ada pergerakan sama sekali. Bisa saja Yundhi collaps keracunan udara dalam mobil yang biasa ia tonton di acara berita, kabar bahwa pengendara mobil meninggal tanpa sebab di belakang setir. Sedikit panik dan takut Tiara membuka pintu mobil, duduk dengan perasaan tidak tenang, benar saja, mata Yundhi terpejam, membuat mata Tiara panas, kepanikkan mulai menjadi terlihat air matanya hendak melorot. Ia memandangi Yundhi lekat-lekat. Yundhi tidak bereaksi merasakan kehadirannya, artinya Yundhi, pingsan?
"Yundhi bangun, aku minta maaf tadi pagi udah bikin rusuh, jangan pergi dengan cara ini, janji aku bakal nurutin apapun kata kamu." Tiara merengkuh tubuh Yundhi dengan isak tangis menjadi-jadi. "Jangan tinggalin aku." sambungnya sesenggukan tanpa melepaskan pelukan.
Yundhi mulai sadar, merasakan beban di dadanya dan menyadari itu kepala Tiara. Satu tangan yang tadi menutup matanya saat tidur kini menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak.
"Jangan pergi, masa kita belum nikah aku udah jadi jendos," Tiara mulai ngawur. "Janji aku ga naik motor sampai kamu ngizinin, ga nyusahin mang Jay." ujarnya di tengah sesenggukan.
"Janji ya, kalo enggak aku pergi ni."
"Iya."
"Janji bakal nuruti apapun kata aku."
"Iya, eh." Tiara mendongak menyadari kebodohannya. "Iiiiiiiiih jahaaaaaaat." Tiara mulai brutal menghujani Yundhi dengan tinjuan. Tangisnya hilang berganti geram.
"Aaaargh, adoh iya iya."
"Ampun ga!"
"Iya, ampun ampun."
Yundhi meringis mengusap lengannya mengurangi sakit. "Kamu lama-lama kenapa tambah liar sih."
"Bodo. Mang minta dua!" ujar Tiara setengah berteriak pada penjual es tebu yang berada dua meter di depan mobil Yundhi. Penjual itu mengangguk mengerti. Tiara mengambil tissu di atas dashboard, mengambil alih kaca spion mengusap air mata merapikan penampilannya, tiba-tiba...
Bibir Yundhi menempel begitu saja di bibir Tiara, menyesapnya lembut di awal, merasakan manisnya, Yundhi memperdalam ciuman dan mulai menggila. Bibir yang sempat ia abaikan dan mencatat di kepalanya tidak akan ia ulangi. Bibir yang beberapa jam lalu tiba-tiba ia rindukan hingga menahan geram sampai harus memejamkan mata menahan geloranya. Dan sekarang terbayar. Lunas.
Tiara menjauhkan diri setelah nafasnya benar-benar habis, ia terengah-engah mengambil oksigen sebanyak mungkin.
"Kamu tu, gimana kalo ada yang li..."
"Kacanya ga tembus pandang dari luar. Aman." jawabnya santai, sambil mengusap bibir Tiara yang basah.
"Tapi yang ini kebuka." Tiara menunjuk jendela mobil di sebelahnya.
"Bodo." Yundhi cuek. Kembali.menghadap depan dengan senyum kemenangan.
Satu sama.
"Kamu ya, bener-bener, kita masih di lingkungan sekolah, jangan di ulang!"
"Ga janji."
"Yundhi!"
"Hadir bu!"
Tiara kembali brutal meninju lengan Yundhi sekuat tenaga. Aksinya terhenti ketika mamang penjul es tebu datang menghampiri mereka.
"Esnya non." Tiara mendadak kalem.
"Berapa mang?"
"Sepuluh ribu aja." Yundhi dan Tiara kompak mencari dompet masing-masing. Tapi Tiara kalah cepat karena Yundhi lebih dulu mengulurkan uangnya.
Penjual itu menerima uang Yundhi hendak mencari lembaran lain untuk kembalian.
"Ga usah mang, simpan aja!" ujar Yundhi.
Tiara tertegun, menatap Yundhi dan mamang penjual es bergantian.
"Eh kebanyakan den, mau tambah esnya?" untuk ukuran penjual es itu sisa uang yang tidak di ambil Yundhi mungkin terlalu banyak, bisa membeli 18 gelas esnya lagi.
"Ga usah, ini cukup kok!" tolak Yundhi halus.
"Terima kasih." si penjual es itu sumringah.
"Yo." Yundhi menyalakan mesin mobil.
Tiara tersenyum kikuk pada penjual es itu dan interaksi mereka di hentikan Yundhi karena menaikkan kaca jendela. "Makasi neng."
Ujar si penjual di saat terakhir menatap Tiara.
***
Setengah perjalanan mereka Yundhi baru menyadari kalau Tiara berganti kostum, Yundhi melempar tanya. "Baju kamu ganti?"
"Hm." Tiara terus menyedot minuman dinginnya sembari menghentak pelan kepalanya menikmati lagu yang mengalun dari radio.
"Bau asin kata Jenny, aku disuruh mandi terus ganti, ga enak di cium murid di kelas."
"Hah?" Yundhi belum mengerti. "Bau asin gimana?"
"Jadi tadi subuh aku ke pantai, ke gubug emak Darsih, lama ga ketemu kan, padahal bukan itu alasannya, rumahnya itu di pinggir pantai gitu. Pulang dari sana baru aku ke sekolah, tadi ketemu kamu duluan mungkin ga kecium kita di luar ruangan." tuturnya.
Yundhi gemas mendengar cerita Tiara, jadi dia mengambil motor dengan rusuh di rumahnya hanya untuk ke pantai. Tanpa pikir dua kali Yundhi mengapit hidung Tiara dengan jarinya.
"Aaaaah."
"Jangan di ulang, kamu bikin mang Jay sakit perut, ga pakai helm lagi."
"Oya motor aku?"
"Udah di bawa pulang mang Jay."
"Kemana?"
"Ke rumah."
"Iya rumah, rumah siapa?"
"Rumah papa."
"Aaaaah." Tiara menjambak rambut frustrasi. "Kenapa ga di bawa ke rumah aku aja, aku udah sehat ini, kaki juga udah normal." protesnya.
"Tadinya mau aku antar ke rumah kamu, tapi denger cerita mang Jay, terus lihat sendiri kamu bawa motor aku batalin, kamu lihat aku tidur bilang takut jadi janda sebelum nikah, gimana aku liat kamu ngebut, jadi duren sebelum nikah gitu?" pembicaraan mereka mulai absurd.
Tiara mendengus kesal, rencananya gagal. Padahal dia sudah membayangkan kebebasan.
Dalam hati ia tersenyum, Yundhi kembali seperti semula, tapi sekaligus kesal, lelaki itu selalu semaunya.
"Mau makan dimana?" tanya Yundhi mengingat mereka belum menyantap makan siang dan perut yang sudah mulai berontak.
"Di mekdi." jawan Tiara asal.
"Ga sehat."
"Bodo."
Dua satu.
***
Tiara belum mau turun dari mobil, terus memandangi tempat makan yang Yundhi inginkan. Hatinya masih kesal Yundhi tidak menurutinya makan di mekdi.
"Turun atau aku gendong."
"Aku pakai baju olahraga lho ini, pakai training, tapi bawahan flat shoes, lihat kamu, kita terlalu kontras."Tiara hampir menangis.
"Ga akan ada yang protes, kamu jangan pikirin kata orang, lagian belum tentu juga mereka ngomongin kita."
"Bukan kita, yang di cibir aku doang." kali ini air mata Tiara lolos. "Selalu kayak gini, tempo hari juga gitu."
"Kita nanti makannya di tempat privat deh."
"Tetep aja masuknya lewatin orang-orang itu, lagian kamu ngomongnya kayak ga ikhlas gitu." air mata Tiara menderas.
"Astaga, ikhlas lho aku tu, lagian udah laper banget lho ini, aku tadi ga sarapan ngejar kamu, kamu ga kasian?"
"Bodo, kita ke mekdi." Tiara kekeuh
Tiga - satu.
Tiara bukannya tidak lapar, dia juga lapar dan tadi pagi juga tidak sarapan. Tapi melihat restauran yang akan menjadi tempat makan mereka, orang-orang yang ada di sana dengan pakaian formal dan mewah yang terlihat dari kaca jendela besar, nyalinya menciut. Secuek-cueknya Tiara, dia masih punya malu. Setidaknya di mekdi, pengunjung yang lain pasti berpakaian santai dan dia tersamarkan.
"Ga ada pilihan lain." Yundhi keluar dari mobil, memutari bagian depan mobil dan membuka sisi pintu tempat duduk Tiara, dengan satu hentakan tangannya Yundhi menggendong paksa Tiara keluar dari mobilnya.
"Iya iya aku nyerah, kita makan di sini." seru Tiara panik. Membayangkan Yundhi menggendongnya masuk ke tempat mewah itu, ah mengerikan maalunya, lebih baik jalan sendiri.
"Aku ga percaya, nanti kamu lari."
"Enggak, turunin."
"Bodo."
Tiga-dua.
"Serius, aku ga lari."
"Janji?"
"Janji."
"Oke, jangan nangis lagi!"
***
Tiara berjalan di belakang Yundhi, sedikit tertunduk dengan Yundhi menggandeng tangannya. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, Tiara hanya melempar senyum malu-malu.
"Silahkan tuan, ruangan anda di lantai dua." kata seorang pelayan laki-laki restaurant.
Yundhi kembali menarik tangan Tiara menaiki tangga. Beberapa orang menganga heran melihatnya naik ke lantai dua tempat itu. Kenapa sih?
"Tuhan, jangan ada kejadian memalukan lagi.' Tiara berteriak dalam hati.
Pelayan yang membimbing mereka berhenti di depan sebuah pintu.
"Ini ruangannya, saya permisi!" Yundhi memberi anggukan.
Tiara memperhatikan sekeliling dan hanya menemukan beberapa pintu ruangan di sana, cukup lengang tidak seramai di bawah.
"Udah siap?"
Tiara refleks menutup dada, "Siap apa?"
"Dasar mesum, kamu tutup mata dulu!"
"Enggak. Kamu mau nge-prank aku?""
"Enggak. Bawel, sini!" Yundhi menutup mata Tiara dengan sebelah tangannya, dan membuka pintu dengan tangannya yang bebas.
"Yundhi, jangan aneh-aneh!" Yundhi tidak berkomentar. Menuntun Tiara melangkahkan kakinya penuh kehati-hatian.
Telinga Tiara menangkap suara pintu di tutup. Perasaannya tak karuan. Jantungnya seperti bermain trampolin di dalam sana.
Yundhi menghentikan langkah, begitupun Tiara, "Sekarang hitung sampai tiga!"
"Yundhi ga lucu..."
"Satu...dua...ti.."
Yundhi membebaskan mata Tiara terbuka. Pemandangan di depannya membuat ia membuka mulut sempurna. Tiba-tiba Yundhi melingkarkan tangan di atas dada, mesra.
"Happy graduation, gimana, suka?"