When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Wanita Toilet



Hingga malam hari, sejak aksi pelit bicara, Yundhi belum juga mengabari Tiara. Entah telpon, sms, line, wa, vc sama sekali tidak terdapat notifikasi dari Yundhi. Tiara sudah uring-uringan menunggu di rumah, yang tadinya ia besar kepala Yundhi mungkin akan memberi kejutan lain dengan mengajaknya makan malam di luar, sekarang ia meringkuk sendiri di kamar. Bosan.


Baru jam delapan malam pertama, dan masih pagi menurut kehidupan warga ibu kota. Tiara menaikkan ke dua kaki ke atas dinding dengan kepala di bawah sambil mencari kontak dua betina sahabatnya. Entah itu posisi ke berapa yang ia lakukan sedari tadi meniru gerakan pilates dari video di ponselnya.


Menunggu ajakan Yundhi tentu saja akan sia-sia. Masih berpikir positif mungkin Yundhi perlu istirahat. Yundhi mungkin, mungkin merasa peraihan Tiara adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu perayaan. Itu pikiran terburuk yang terbersit di otaknya. Tapi dia tidak masalah jika itu benar. Toh masih mungkin, hanya dugaannya, tidak pasti dan belum tentu dan aaaaargh sudahlah.


"Genk keluar yuk, bosen sahaya di rumah doang." ujar Tiara begitu sambungan telponnya di terima Jenny.


"WHAT? SERIUS LO DI RUMAH? GUE MALAH DARI TADI GA BERANI HUBUNGIN LO TAKUT GANGGU KIRAIN SAMA YUNDHI, CELEBRATION, GILA, HAYUUUUK!!" balas Jenny heboh sembari berteriak, membuat Tiara harus menjauhkan ponselnya beberepa senti dari telinga dan menurunkan kakinya mendadak yang menimbulkan rasa ngilu di pinggang dan tengkuk lehernya.


"Sialan lo, gue ga budeg kali. Jemput Mimi gih!"


"Beres."


Satu jam kemudian, Tiara cs. sudah berada di sebuah mall besar yang terletak di pusat kota. Mereka memutuskan untuk menonton film yang tayang premier malam itu. Seperti biasa, yang mendapat tugas mengantri tiket adalah Mimi, Jenny membeli popcorn dan Tiara mencari tempat duduk yang pas sembari menunggu pintu theathre di buka.


***


Yundhi masih merenungi kata-kata Emma tadi siang. Kepalanya terasa berdenyut mengingat kembali percakapannya dengan adik mantan pacarnya itu. Selang beberapa menit kepalanya mengeleng-geleng seperti menyangkal sesuatu. Sebagai salah satu orang terdekat Emmy, dia merasa sangat bodoh karena baru mengetahui kalau Emmy menderita leukemia. Sesekali ia meremas rambutnya, memejamkan mata, membuka lagi, bahkan mengumpat entah pada siapa. Tembok mungkin.


Di rundung rasa bersalah dan penasaran, Yundhi meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya dan menghubungi seseorang. Tekadnya kuat, harus mengetahui secara pasti kondisi Emmy sebenarnya.


"Emma plis jangan di tutup dulu! Aku harus tahu keadaan Emmy, sejak kapan dia sakit, dia kemana tadi pagi, aku ketemu dia di bandara." cecar Yundhi.


"...."


"Ga bisa, aku akan merasa bersalah kalau sampai ga tahu kondisi Emmy, kamu bilang udah stadium akhir, kamu ngerti kan maksudnya."


"..."


"Fine, asal kamu janji kabari aku kalau Emmy balik."


"..."


Yundhi merasa frustasi begitu menutup sambungan dengan Emma, batinnya bergejolak hebat, dugaannya benar kalau Emmy sudah sakit ketika dia membahas pernikahan dulu. Wanita itu berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa melibatkan Yundhi karena saat itu Yundhi baru menyelesaikan pendidikan pilotnya dan berhasil lulus di sebuah perusahaan maskapai tempatnya bekerja sekarang.


Yundhi merasa menjadi orang yang tidak berguna karena Emmy berani melepasnya agar Yundhi bisa menjadi seorang pilot yang merupakaan impian terbesarnya. Setidaknya dia ingin memperbaiki hubungannya dengan wanita itu, wanita yang pernah mengisi hari-harinya dengan senyum dan bahagia. Sungguh, ia juga menyesal berkata tidak sopan pada Emmy di bandara kala itu.


Sedikit rasa tenang merayapinya begitu tahu saat ini Emmy menjalani pengobatan rutin di Jepang, dan seminggu lagi akan kembali. Yundhi sudah memiliki rencana akan menemui Emmy begitu ia kembali. Emma sudah berjanji akan menghubunginya dan Yundhi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Dan Tiara, Yundhi hampir lupa, Tiara, sedang apa dia sekarang?


Tanpa sadar Yundhi telah mengabaikan Tiara setengah hari ini.


***


"Filmnya lumayan, ga buruk-buruk amat, ga keluar dari tema, komedi tapi apik, gue suka." komentar Tiara begitu mereka keluar dari gedung bioskop.


"Setuju, pemainnya juga total banget, akting, karakter, mereka all out." imbuh Jenny.


Mimi yang menyimak hanya manggut-manggut sambil mengunyah sisa popcorn yang ada di tangannya. Memang di antara mereka Mimi yang paling cuek cenderung lemot, tapi urusan materi ajar dia jagonya. Jenny lebih agresif dan peka. Bahkan terbilang tomboy, dia kerap menjadi tempat curhat Tiara.


"Gue mau ke toilet, lo ikut?"___Tiara.


"Ikut lah, gue udah nahan pip dari tadi."___Jenny.


"Gue juga."___Mimi.


Mereka akhirnya melangkah menuju toilet wanita bersamaan.


Beruntung, toilet itu kosong hingga mereka tak perlu mengantri dan mendapat ruang masing-masing.


"Kak Yundhi ngapain telpon Emma, kalau ga penting mending di tutup."


"..."


"..."


"Oke, asal jangan menjanjikan apapun. Just friend, ga lebih, inget kakak udah punya pacar, jagain hatinya!


"..."


"Iya, nanti Emma kabari."


"Ada-ada aja deh, kak Yundhi. Nyesel gue cerita." ujar Emma begitu panggilan Yundhi terputus.


Toiletpun kembali hening setelah Emma keluar. Tiara, Jenny dan Mimi masih berada di dalam ruang bersekat itu. Tidak ada yang berani keluar lebih dulu setelah mendengar pembicaraan wanita tadi. Banyak dugaan bermunculan dalam benak mereka, terlebih Tiara, dialah sosok yang paling berkaitan dengan nama laki-laki yang di sebut wanita misterius itu.


Jantung Tiara terasa di remas dan berdegup lebih cepat dari degupan normal. Benarkah Yundhinya yang di maksud wanita itu. Resah tentu saja. Tiara sampai harus menyumpal mulutnya selama wanita tadi bicara. Perubahan sikap tadi siang Yundhi terjawab dengan sendirinya. Lelaki itu kini tengah galau, dan penyebabnya adalah wanita bernama Emmy. Dia mungkin tengah terjebak di antara Emmy dan Yundhi.


Tiara harus menarik nafas berkali-kali untuk menormalkan kondisinya. Keadaan ini di luar dugaannya.


Pada akhirnya, Jenny lah yang keluar pertama kali dan menggedor pintu ruang Tiara.


"Ra, lo masih di dalam kan? Lo ga apa-apa kan? Lo bisa keluar kita udah selesai." ujar Jenny dengan nada khawatir. Mimi kemudian keluar mendamping di belakangnya.


"Apaan sih Jen, gue lagi khusyuk, lo ganggu." jawab Tiara menyamarkan kegelisahannya.


"Oke, kita tungguin nih." sementara itu Jenny dan Mimi saling melempar kode tanpa suara, bibir mereka komat kamit tak karuan, bahasa mata mereka tak saling memahami satu sama lain, kadang bahasa tangan ikut terlibat, bagaimanapun Tiara pasti mendengar dan terpengaruh percakapan wanita itu dan mereka di landa khawatir yang dahsyat. Yundhi, pendidikan, Emmy, semua seperti terkait dan mengerucut pada Tiara.


Suara siraman air berkali-kali mengurai kepanikan dua wanita yang masih setia berdiri di depan pintu toilet yang masih tertutup satu-satunya.


Tiara sengaja melakukannya padahal ia sedang tidak melakukan hajat apapun. Ia tahu sahabatnya mengkhawatirkannya dan sekarang ia sedang berusaha menormalkan diri.


Begitu Tiara keluar dari balik pintu, Jenny dan Mimi di banjiri rasa lega.


Seakan paham apa yang ada di pikiran sahabatnya, Tiara memasang wajah sebiasa mungkin.


"Kenapa? Gue ga apa-apa, Yundhi bukan nama pacar gue doang, banyak kali cowok yang namanya gitu. Gue yakin tu cewek maksudnya bukan Yundhi gue." ungkap Tiara menenangkan, padahal hatinya jelas-jelas nelangsa.


Tak lama notifikasi berbunyi dari ponsel Tiara.


Yundhi:


Lagi di mana?


"See, nih dia nanyain gue, seperti biasa, possesifnya kumat." ujar Tiara dengan ekspresi meyakinkan.


Jennypun merasa percaya dengan apa yang di ucapkan Tiara. Banyak laki-laki di luar sana memiliki nama Yundhi. Hanya saja Yundhi Edward Prasetya, satu-satunya pilot dengan nama itu. Kekhawatiran mereka terpatahkan. Fix, Tiara baik-baik saja.


***


"Ga usah, kamu istirahat aja. Aku bisa pulang naik taksi. Oke, bye."


Tiara menutup sambungan. Ada rasa kecewa mendengar nada bicara Yundhi yang tak lagi ekspresif, tegas dan mendominasi. Ia menangkap nada bicara Yundhi datar dan tidak bersemangat dan msih pelit seperti tadi siang. Tiara bahkan berharap Yundhi akan kekeuh datang menjemputnya meski Tiara menolak. Tiara suka jika Yundhi memaksa kehendaknya. Ada rasa di cintai jika Yundhi melakukan itu. Tapi yang terjadi kini sedikit mengecewakan Tiara.


Dalam perjalanan pulang, kepala Tiara terus memutar isi pembicaraan si wanita toilet. Entah bisikan dari mana, Tiara meyakini bahwa Yundhinya-lah yang di maksud wanita itu. Meski hatinya menyangkal, kenyataan tetap berkata lain. Apalagi Tiara memang bertemu mata dengan Emmy. Kenyataan lain yang harus di cerna kepalanya, saat ini Emmy sedang sakit. Entah sakit apa Tiara tidak tahu, karena Tiara hanya mendengar wanita itu tengah menjalani pengobatan di Jepang. Jika saat ini Emmy berada di Jepang, artinya tadi pagi dia menuju bandara ketika mereka bertemu di lampu merah. Artinya lagi, Emmy kemungkinan besar bertemu Yundhi, karena Yundhi datang ke acara wisudanya begitu selesai bertugas.


Kesimpulan-kesimpulan yang muncul membuat kepala Tiara terasa berdenyut hebat. Dia merogoh tas, dan sialnya dia tidak membawa obat yang biasa ia minum jika kepalanya sakit.


Dalam hati ia terus berdo'a jika kesimpulannya salah. Yundhi mencintainya dan pasti memilihnya meski wanita masa lalunya itu kembali. Ia pernah menanyakan itu pada Yundhi, dan Yundhi telah menjawab tegas bahwa Tiara adalah pilihannya. Meski hatinya menguatkan, air mata Tiara tak bisa di tahan untuk tidak keluar. Ia menangis, tanpa suara, tanpa isakan. Ada rasa khawatir yang timbul. Rasa takut ikut muncul. Hatinya telah ia berikan pada Yundhi. Tiara takut kecewa dan terluka.


Mengimbangi kegundahannya, Tiara memutar kenangam-kenangan manisnya dengan Yundhi. Awal pertemuan mereka, momen ciuman pertama mereka, kencan pertama, kejadian di toko buku akh, mengingat itu Tiara kembali tersenyum Senyum yang entah akan bertahan berapa lama. Demi Tuhan, Tiara telah menyeragkan seluruh hatinya pada lelaki flamboyan itu.


Aku mohon jangan berpaling.


**Hai, readers, maaf kali ini up date sedikit. Draft kasar udah banyak, tapi waktu buat nulis agak susah. Boleh deh komentar yang banyak, like, atau share. Kalau mau bukti draftnya nanti aku share di instagram and boleh follow @amin.lia, yuk temenan.


Ivan, Razkan masih bakal muncul lho. Ikutin terus ya.Love u all**.