
Prasetya, tidak ada yang mengenal nama itu di dunia hiburan yang di huni Dara Mina. Tapi nama Prasetya berkaliber besar di dunia bisnis, terutama di bidang ekspedisi, kesehatan, pendidikan, dan baru-baru ini Hans memutuskan untuk membeli setengah dari saham maskapai tempat anaknya 'bermain-main' menjadi seorang pilot. Bagi orang yang awam dalam dunia itu, tentu saja trah Prasetya di kira orang yang biasa-biasa saja, tapi bagi mereka yang menjejali diri dengan dunia bisnis atau berbagai referensi tentang hal itu, baik dari majalah, koran, artikel online tentang bisnis, tentu saja akan sangat mengenal siapa saja bagian dari keluarga Prasetya dan pengaruh mereka.
Pantaslah Rudy memperingatkan Dara Mina agar tidak penasaran tentang "Prasetya".
Hampir dua tahun menjadi menantu di keluarga Prasetya, Tiara bahkan belum bisa menakar jumlah kekayaan keluarga itu. Dirinya yang datang dari keluarga biasa-biasa saja kadang tidak tertarik dengan berbagai kemewahan yang melekat dalam keluarganya. Dia pernah ke rumah Elok yang luasnya hampir sama dengan rumah mertuanya. Tentu saja setiap langkahnya di rumah itu Tiara harus sering-sering berzikir dengan kata wow, karena takjub dengan berbagai furnitur mewah dan fasilitas modern dan 'canggih' yang ada di sana. Canggih yang Tiara lihat di rumah Elok di tafsirkan dalam kata 'ribet', pintu kamarnya saja di buka dengan sistem angka dengan layar digital seperti brangkas. Apa ga ribet namanya. Jangam di tanya rumah Prasetya yang lain. Rasanya ia malas harus menginjakkan kaki di sana kalau tidak ada perlu.
Untungnya rumah Yundhi tidak seribet rumah Elok. Meskipun sangat megah, mewah dan luas, untuk pintu kamar dan pintu-pintu ruangan lain tidak memakai tombol digital seperti di rumah Elok. Tiara bersyukur dalam hal itu.
***
Satu minggu terlewati dari berita mendadak tentang foto Yundhi, ketenangan kembali menyelimuti rumah tangga Tiara. Setangkai pelajaran yang di petik Tiara dari masalah yang menimpa rumah tangganya bahwa dirinya sekarang harus lebih memperhatikan diri sendiri. Maka dari itu dia memutuskan untuk melakukan beberapa perawatan yang bisa ia lakukan di rumah.
Untuk perawatan wajah, Tiara memutuskan menggunakan brand lokal yang sudah cukup terkenal. Produk masker dari bahan spirulina brand itu bahkan sudah di jual hingga mancanegara. Tiara tidak berpikir dua kali untuk memesan berbagai paket perawatan yang di tawarkan, baik untuk wajah atau badan. Seperti saat ini dirinya sedang mengaplikasikan masker berwarna hijau berbau amis ke seluruh permukaan wajah. Setelah Ed tidur, Tiara rutin memakai masker setiap dua hari sekali.
"Pakai masker Hulk lagi?" Yundhi baru tiba di depan pintu dan di hadapkan pada Tiara dengan wajah hijaunya.
"Hm."
Yundhi berusaha menahan tawa, geli.
"Suka banget ya kamu, emang ga bau apa, aku aja yang jauh bisa cium baunya" Yundhi mengendus wajah Tiara sedikit dekat, "ih amis."
Tiara sekoyong-koyong mendorong Yundhi agar menjauh. Wajahnya yang kaku karena masker sudah mulai kering menghalanginya membalas ucapan Yundhi.
"Adddauh, iya iya ampun." Cubitan keras Tiara melekat di lengan Yundhi. "Kamu masih ya peranakan tokeknya, cubitannya sakit."
Setelahnya Tiara berlari ke kamar mandi, Yundhi tak peduli, ia merebahkan badannya karena gelombang kantuk yang sudah menyerang.
"Hah," Tiara menepuk-nepuk wajahnya yang masih lembab, "seger."
Yundhi menoleh, "udahan?"
"Iya, tadi sebenarnya udah kering, mau aku tunggu sebentar lagi, tapi kamu ganggu, nyebelin."
"Kenapa ga nunggu?"
"Ya kalau aku ketawa pas maskernya masih di wajah nanti hasilnya ga bagus lagi, makanya jangan usil."
"Masa mesti gitu."
"Ya emang gitu."
"Trus sekarang itu pakai apa lagi?"
"Ini argan oil, biar bekas jerawat sama fleknya hilang, mukanya ga kering, bagus deh pokoknya, mau coba?"
"Ogah, aku udah cukup pakai sabun muka."
Senyum licik terbit di wajah Tiara. Di teteskannya beberepa tetes argan oil di telapak tangan, lalu ia ratakan. Langkahnya menuju Yundhi yang berbaring menatap langit-langit.
"Sayang bangun deh!" ujarnya dengan nada penuh manja.
"Kenapa?"
"Aku lihatnya malam ini kamu ganteng banget tahu ga?"
Yundhi duduk bersandar, mencium bau mencurigakan dari gelagat Tiara.
Tiara duduk di sisi ranjang yang kosong, semakin mendekatkan diri dengan Yundhi.
"Efek Hulk ni, kamu kenapa mendadak ganjen, ada maunya atau apa?"
"Enggak, emang aku lihatnya kamu ganteng malam ini," telapak tangan Tiara meraih wajah Yundhi, "tuh kan bener, muka kamu itu bersih banget," rabaannya merayap ke bagian dahi, "ga ada jerawatnya, putih," berjalan ke dagu, hidung.
"Bau apa nih?"
"Argan oil."
Dengan gerakan cepat Yundhi menarik telapak tangan Tiara.
"Tadi kamu pegang muka aku masih ada minyak ini?" Tiara gangguk, "sengaja dong?"
"Iya, wangi kan?"
"Iiiiiiiiiih Tiara!"
"Ga boleh di cuci, pokoknya biarin sampai besok pagi!" Tiara menarik tubuh Yundhi yang sudah ingin turun dari ranjang.
"Ogah Ra, aku ga suka bau beginian."
"Ini khasiatnya bagus sayang, kamu tambah mulus lho mukanya," tarik menarik makin sengit.
"Aku cowok lho, bukan shemale."
"Cowok cewek boleh make."
"Ra, aku cowok, ga suka yang beginian, ih, sumpah ga suka baunya."
"Pokoknya ga boleh!"
Sekilas senyum tipis terbit di wajah Yundhi, ia tak melawan Tiara lagi, tapi mendorong balik tubuh sang istri, Tiara terperangkap kurungan lengannya.
"Oke, aku ga cuci muka, asal kita main tiga jam."
"Nggak ih, kemarin udah."
"Itu kan kemarin, beda."
Yundhi sudah mulai beraksi, leher sang istri incaran awalnya.
"Bentar bentar bentar, sayang, aku belum suntik bulan ini," kata Tiara cepat. Berharap Yundhi mengerti maksudnya dan membatalkan niat.
"Terus?"
"Kalau jadi gimana?"
"Aamiiin." Yundhi segera memulai kali ini bibir istrinya menjadi sasaran. Lumatan dalam sedikit liar dan rakus dilakukan pilot itu memancing gairah Tiara.
Mendengar jawaban enteng suaminya, Tiara melotot dengan mulut yang di bungkam mulut. Boro-boro bergairah.
"Yundhi," Tiara berusaha memisahkan diri, kali ini karena kehabisan napas, "Ed baru mau satu tahun lho," katanya sambil megap-megap, di jauhkan dari bibir Yundhi memprovokasi ceruk leher sang istri, berjalan ke bahu, dada dan sekitarnya. Rasanya tanggung kalau harus berhenti. Bisa migrain dia.
"So?" tanya Yundhi di sela kesibukannya membuka baju tidur sutra sang istri.
"Terlalu kecil kalau punya adik."
"Oh, ga pa-pa, dia jadi punya teman main nanti."
"Astaga Yundhi."
Tiara menyerah
***
"Berapa orang yang lulus? Tiga, kalau sudah pasti bisa terbang langsung saja kasih jadwal, atau nanti kita bahas dalam rapat, oke, makasih."
Yundhi menutup panggilan, kembali bergabung dengan Tiara dan Ed di pojok bermain.
"Dari kantor?"
"Hm, tiga pilot sudah lulus uji terbang, kalau bisa secepatnya mengudara aku bisa punya lebih banyak waktu sama kamu sama Ed."
"Yeay, papa bakal sering nginjak bumi, main-main sama.Ed, seneng ga?" Tiara menepuk-nepukkan tangan anaknya, Ed mulai berceloteh melangkah pelan menuju Yundhi yang duduk agak jauh.
Melihat anaknya mengarah padanya, Yundhi bergerak mundur, memancing Ed agar berjalan lebih jauh, anak itu sedikit mempercepat langkahnya, mungkin takut Yundhi akan lari dari gapaiannya, Yundhi kembali mundur melihat Ed yang makin lincah mengejarnya. Beberapa detik ia menahan napas, khawatir bercampur bangga melihat perkembangan anaknya yang cukup pesat. Tiga langkah kemudian Ed berhasil meraih Yundhi, karena Yundhi juga tidak bisa mundur lagi, mentok dengan pagar pembatas pojok bermain itu.
"Wooohoooo keren anak papa," teriaknya senang, "Ed mau hadiah apa? Mau hadiah adik baru ga?" Pertanyaan Yundhi di sambut celotehan khas anak kecil Edward, "Mau katanya Ra."
"Idih, itu mah mau kamu, nanti deh kalau dia dua tahun."
Tiara masih berat harus menambah momongan lagi, mengingat Ed yang masih kecil, dan lagipula dia masih ingin meng-ASI-kan Ed hingga berumur dua tahun.
"Ga apa-apa deh Ra, sekarang aja, biar sekalian capeknya."
"Mama mulai ngawur, kita tinggal aja, kita berenang ya Ed, nanti papa ajarin nyelem."
"Gitu aja ngambek."
Benar saja, malas berdebat lagi dengan Tiara Yundhi meninggalkan Tiara keluar menuju kolam renang.
"Jangan lama-lama, nanti Ed ada undangan ulang tahun anaknya Reyhan."
"Ya."
***
Terlambat lima belas menit dari jadwal acara yang tertera di undangan tidak menyurutkan semangat Tiara untuk menghadiri acara milad anak sahabat suaminya. Mereka baru tiba di hotel lokasi acara dan baru melewati lobi menuju lift.
"Gila ga sih ini, anaknya baru tiga tahun lho, rayainnya harus di hotel banget." Tiara mulai bicara saat lift mulai bergerak naik.
"Dapat diskon dia dari Yaris."
"Sediskon-diskonnya hotel tetap saja mainnya jutaan."
"Kalau kamu mau besok kita rayain Ed juga di hotel."
"Aku malah ga kepikiran mau rayain, mau ngundang siapa Ed baru setahun, jangan mulai!"
"Siap Nyah."
"Jangan nekat di belakang aku kamu rencanain diam-diam."
"Boleh juga usul kamu."
Tiara memutar bola mata mendengar jawaban asal suaminya. Percakapan ringan itu terhenti saat denting lift berbunyi. Tiara melangkah keluar diikuti Yundhi. Ed tampak tenang di gendongan ibunya. Baju kemeja anak-anak yang di pakai Ed tampak senada dengan baju yang di pakai Yundhi, hanya saja Yundhi memakai bahan sweeter semi formal berwarna hitam. Tiara sengaja, memadu padankan warna baju suami dan sang anak. Dia selalu senang jika Yundhi dan Ed tampak seragam jika mereka keluar rumah.
Begitu memasuki ruangan, beberapa pasang mata langsung menyorot pada Yundhi sekeluarga. Bisik-bisik tercipta diantara para tamu yang hadir, tepatnya para orang tua yang menemani anaknya. Semakin melangkah ke depan, Tiara dan Yundhi makin menjadi pusat perhatian. Di atas panggung yang di hiasi balon beraneka warna, tiruan tokoh kartun kuda poni, dan banner berukuran besar denganfoto sang anak yang berulang tahun, Rehan dan keluarganya tampak baru saja menyelesaikan acara potong kue. Di kelilingi anak-anak berumuran tiga sampai lima tahunan, Reyhan sekeluarga tampak bahagia.
Tiara dan Yundhi makin dekat dengan Reyhan menyadari kehadiran mereka. Sejenak, Reyhan meninggalkan anak dan istrinya yang sedang membagikan potongan kue.
"Datang juga akhirnya," Sambut Reyhan menjabat tangan Yundhi, "hai Ra, makasih ya udah datang."
"Sori ya kita telat, tadi Ed agak rewel sebelum berangkat," kata Tiara sambil menyerahkan kado.
"Yang penting datang, gue udah siapin meja sama Yaris, tuh sebelah sana."
Reyhan menunjukkan sebuah meja paling depan di pojokan, Yaris melambaikan tangan pada mereka, sedang duduk manis di sana.
"Gue gabung sama Yaris deh, kayaknya Vo masih sibuk bagi kuenya."
"Sip, tunggu gue di sana."
Tiara dan Yundhi melangkah turun menuju meja yang di tunjuk Reyhan. Yaris dan istrinya, Ralin, menyambut kedatangan mereka. Obrolan mulai mengalir, istri dengan istri, suami dengan suami. Tiara mengenalkan Ed pada Ralin. Hanya bertemu beberapa kali saat Ed baru lahir, Ralin tampak takjub melihat tumbuh kembang anak sahabat suaminya. Mereka bertukar cerita, bertukar pengalaman dari cara mengurus anak, pengobatan jika terserang sakit, hingga tips kesehatan dan kecantikan wanita.
Tiara selalu kagum pada Ralin yang bisa tampil begitu cantik menurutnya, di setiap acara yang mereka hadiri bersama. Ralin, tentu saja, tidak pelit membagi ilmunya pada Tiara.
Menit-menit berlalu, Ed mulai bosan di ajak duduk saja. Badannya menggeliat. Menunjuk kumpulan permainan yang di penuhi anak-anak yang lebih besar darinya.
"Kayaknya Ed bosan, pengen main dia, aku bawa ke sana dulu ya," pamit Tiara pada tiga orang teman duduknya.
"Di sana ada Arya juga, bisa main sama kak Arya deh Ed," ujar Ralin sambil mencubit gemas pipi gembul Edward.
"Oke, aku tinggal dulu," Tiara memberi anggukan pada Yundhi yang di balas anggukan juga oleh suaminya.
Obrolan berlanjut antara tiga orang yang di tinggalkan itu. Tiara bergabung dengan anak-anak mengajak Ed bermain jungkat-jungkit mini di sana. Banyak permainan lain dalam bentuk mini, di siapkan di salah satu sudut, di atur sedemikian rupa agar anak-anak itu bermain dengan aman.
Reyhan benar-benar membuatkan acara ulang tahun yang mewah. Tiara baru menyadari ada tembok seperti kastil mengelilingi tempat pesta itu.
Ed makin bersemangat, Tiara merasa kewalahan mengimbangi rasa antusias anaknya. Merasa tidak tahan dengan panggilan alam yang dirasakan, Tiara meraih Ed ke gendongannya, "sebentar aja sayang, mama pengen ke toilet, nanti sama papa dulu." Tiara melangkah buru-buru.
"Lho, Yundhi mana?" tanyanya pada Yaris dan Ralin.
"Lagi ke toilet Ra, kenapa?"
"Gawat."
"Gawat gimana?
"Aku juga kebelet."
"Ya udah sini Ed sama aku aja," tawar Ralin ramah.
"Ngerepotin mba."
"Siapa bilang? Mau kan Ed sama tante Ra?" Untungnya Ed menurut, tubuhnya ia julangkan pada Ralin.
"Thanks mba."
Tiara segera melesat di tengah keriuhan acara itu.
***
Di bagian toilet pria, Yundhi baru menyelesaikan kesibukannya. Dengan cepat ia merapikan kembali pakaian, memandang sebentar ke arah cermin lalu segera keluar.
"Yundhi?"
"Eh," Yundhi melihat pada pada sumber suara yang menyebut namanya, "Nana?"
"Hai, gila, apa kabar?"
"Gokil, bisa ketemu di sini, baik lah gue, gimana Sydney?"
Jabat tangan terjalin antara Yundhi dengan wanita yang ia sebut Nana. Nana teman lama Yundhi dan Emmy. Dia tinggal di Sydney, mengikuti kekasihnya yang bekerja di sana. Layaknya hubungan manusia modern jaman sekarang, Nana belum terikat hubungan resmi dengan pasangannya.
"Sepi ga ada kamu dan Emmy, by the way, I'm so sorry about Emmy, aku telat dengar kabarnya jadi ga bisa datang waktu pemakaman."
"Ga apa-apa, udah lewat," Yundhi malas harus menjelaskan perihal hubungannya dengan Emmy, meski sepertinya Nana tidak tahu hubungan mereka sudah berakhir jauh sebelum Emmy meninggal.
"Gimana sekarang, kayaknya udah move on banget."
"Banget lah, udah punya penerus gue."
"Oh ya, gila, gue ketinggalan banyak. Pengen deh ngobrol lebih lama tapi dia udah nunggu di bawah."
"Lo lanjut deh kalau gitu, lain kali kita sambung."
Nana tak bisa menyembunyikan rasa senangnya bertemu teman lama, ia buru-buru menyuruh Yundhi menyimpan nomor ponselnya yang baru.
"By the way," Nana merentangkan tangannya dengan ragu.
Yundhi terperangah, dia sedikit takut, tapi tak kuasa menolak permintaan Nana.
"I miss you so bad," Nana mengeratkan pelukan membuat Yundhi risih ingin segera di lepaskan tapi tiba-tiba Nana mencium pipinya lama sebelum mengakhiri reuni singkat mereka.
Jika tidak ingat wanita itu temannya, Yundhi mungkin sudah mendorong Nana.
"Keep in touch ya."
"Sure."
Langkah Nana terburu-buru. Mungkin benar pasangannya sudah menunggu di bawah. Kenangan mereka lumanyan banyak saat Yundhi masih berpacaran dengan Emmy. Mereka sering pergi berlibur ke Sydney mengunjungi Nana.
***
Tiara berdiri kaku melihat adegan live di depannya. Laki-laki yang sangat ia kenal meski membelakanginya, dalam pelukan seorang wanita cantik yang tidak ia kenal.
"I miss you so bad."
"Mmmuach, keep in touch ya."
"Sure."
Tiara tadinya berbalik, merasa malu jika harus melihat adegan lain yang lebih intim. Tapi setan dalam dirinya menghasut agar dia menoleh lagi pada dua orang berbeda jenis yang sepertinya sedang melepas rasa rindu.
Benar saja, beberapa detik lalu wanita itu mencium mesra si pria, membuat Tiara meradang. Darahnya mengalir terlalu cepat dan membuat sensasi panas di sekujur tubuh. Sial, kakinya bergetar membuatnya sulit melanjutkan tapakan. Air mata sudah akan keluar, tapi sangat kuat Tiara menahannya.