When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Gerimis dan Kencan Mendadak



Yundhi membelokkan mobilnya di sebuah pom bensin yang terdapat di pinggir jalan. Dua buah mobil lebih dulu mengantri di depan mereka. Langit terlihat sendu, mendung pun berkumpul, rintik gerimis menyusul turun di sore itu. Tiara menikmati kali pertamanya menyaksikan gerimis sore hari setelah ia kembali. Perlahan Yundhi menjalankan mobilnya setelah mobil di depannya bergerak maju. Satu antrian lagi.


"Kamu ga ada rencana hari ini?" tanya Tiara tiba-tiba.


"Ga ada, kenapa?"


"Maju gih, yang di depan udah jalan!" jawab Tiara tanpa memberi tahu Yundhi rencana yang ada di kepalanya.


"Isi full bang!" ujar Yundhi pada seorang pegawai berbaju merah. Dengan sigap pegawai itu membuka penutup tangki mobil Yundhi dan segera mengisinya.


Di sampingnya Tiara sudah senyum-senyum sendiri memikirkan hal yang ingin ia lakukan kali itu. Dalam hati dia tak henti berdo'a semoga Yundhi mau mengabulkan keinginannya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Yundhi kembali menjalankan mobil tapi tiba-tiba kembali berbelok ke arah kiri dimana berjajar tempat ibadah, toko oli dan kamar mandi.


"Aku ke toilet sebentar ya." kata Yundhi sambil membuka sabuk pengaman.


"Hm."


Tanpa menggunakan payung yang sebenarnya ada di dalam mobilnya, Yundhi segera keluar dan menuju toilet pria.


Tiara menengok ke belakang, senyumnya semakin mengembang melihat sebuah payung yang bersandar di belakang kursi penumpang.


Tak lama kemudian Yundhi kembali ke dalam mobil, segera memasang sabuk pengaman begitu dia duduk di belakang setir.


"Kira-kira kalau kita tinggalin mobil kamu di sini bakal kenapa-napa ga ya?" ujar Tiara tiba-tiba.


Yundhi yang tadinya mau menstater mobilnya menengok pada Tiara.


"Hah? Maksudnya?" tanya Yundhi tak mengerti.


"Kita titip mobil kamu di depan toko ini, bisa?"


"Memang mau kemana? Kenapa harus titip mobil?" tanya Yundhi tak mengerti.


"Aku pengen jalan-jalan sama kamu pakai payung itu."


Yundhi tertawa hambar. "Ra!"


"Aku mau kita kencan." sambar Tiara.


Kali ini mata Yundhi hampir keluar menghadap Tiara.


"Kencan? Dating?" tanya Yundhi tak percaya.


Tiara mengangguk cepat.


"Setelah hari ini mungkin kita akan sibuk dengan semua persiapan pernikahan, meski kita sudah menyewa tenaga profesional, mereka juga pasti akan melibatkan kita. Aku juga akan mengisi seminar hasil penelitian Loca lima hari lagi, so, Yundhi Edward Prasetya, let's date! Aku ingin membuat kenangan manis sebelum resmi menjadi Nyonya Prasetya." jelas Tiara dengan suara lembut.


Yundhi memandang jendela, melihat gerimis yang turun ia sedikit ragu.


"Kamu mau kita jalan-jalan pakai payung itu?"


Tiara mengangguk. "Gerimis-gerimis gini?" Tiara mengangguk lagi.


"Kamu baru sembuh."


"Tapi aku tidak merasa sakit dari awal, dan sekarang aku sudah sehat, kan."


"Terus tujuannya kemana?"


"Ke depan." jawab Tiara sambil tersenyum, "Bagaimana kalau kita mampir di tempat makan pertama yang kita lihat, tujuan berikutnya kita putuskan di tempat itu." imbuh Tiara.


Yundhi menggeleng tak percaya.


"Please!" Tiara memohon, "Please please please please!" Tiara semakin memelas.


Yundhi tertawa tak percaya dengan permintaan Tiara.


"Oke, aku tanya dulu mobilnya bisa kita titip atau tidak, sekalian aku ambil uang cash di ATM."


Dan dia pun luluh.


***


Yundhi segera kembali ke mobil setelah berbicara pada seorang pegawai toko oli yang ada di kompleks pom bensin itu. Dengan lokasi yang cukup luas, sehingga tidak mengganggu pengendara lain, Tiara yakin mereka bisa menitipkan mobil Yundhi di sana.


"Gimana?" tanya Tiara tak sabar.


"Kayaknya memang alam semesta ngedukung kemauan kamu, kita bisa parkir, titip mobilnya di sini." jawab Yundhi.


Dan tentu saja Tiara kegirangan tepuk tangan sendiri.


"Pakai jaket dulu!" perintah Yundhi.


Tiara menurut dan mengenakan jaket yang selalu ada di mobil Yundhi dan tentu saja jaket itu kebesaran di badan Tiara.


Setelah memasang topi, Yundhi segera keluar dari mobil sambil membuka payung. Ia berjalan memutar menuju Tiara dan membukakannya pintu. Tangan Yundhi menyambut Tiara begitu gadis itu terlihat.


"Hati-hati!" melihat kaki Tiara yang memakai sepatu flat, Yundhi sedikit tenang. "Kalau kedinginan atau ngerasa ga enak segera kasih tahu." katanya setelah menutup pintu mobil.


"Iya, ngerti sayang." balas Tiara sambil melingkarkan tangannya di lengan Yundhi.


Yundhi menarik nafas gusar, "Kok aku kayak ga yakin gitu ya."


Tak menghiraukan kata-kata Yundhi, Tiara segera menarik lengan kekasihnya itu senelum Yundhi benar-benar berubah pikiran. Mereka berjalan menyusuri trotoar di bawah rintikan gerimis kecil sore itu. Tangan Tiara tak pernah lepas dari lengan Yundhi, dan tangan Yundhi tak lengah sedikitpun menjaga payung itu tetap melindungi tubuh Tiara dari air hujan dan membiarkan tubuhnya sendiri tertimpa tetesannya. Suasana romantis pun tercipta dengan sendirinya.


"Kamu tahu ga sebenarnya hujan itu pengecut." ujar Yundhi.


"Pengecut gimana?" tanya Tiara heran.


"Hujan itu kecil, kalau turun sendiri bumi ga bakal basah, makanya dia ngajak teman-temannya, turunnya keroyokan."


"Aaaa apaa sih." suara tawa Tiara sedikit keras, "Receh tahu ga."


"Biarin, tapi kamu ketawa juga kan." balas Yundhi yang kemudian ikut tertawa.


"Kamu mau nonton aku di seminar besok?"


"Memang bisa?"


"Bisa, seminarnya di buka untuk umum."


"Hm, oke. Sekalian aku jinakkin bang Vian."


"Emang bang Vian macan."


"Bukan, dia singa."


Tiara tak menggubris perkataan Yundhi.


"Aku mau minta pendapat kamu."


"Pendapatku?"


"Dengar baik-baik, masalah ini ga da yang tahu kecuali aku dan kamu."


"Apa sih?" Yundhi mulai penasaran.


"Di Loca, ada sebuah gua kecil di bawah bukit, tempatnya tidak terlalu jauh dari pekampungan penduduk, tapi jarang ada orang-orang yang masuk ke sana. Singkat cerita, seminggu sebelum timku datang menyusul, ibu dari Chio, anak kecil yang aku peluk waktu itu, ngajak aku jalan-jalan ke sana. Kamu tahu ga dinding gua itu sebenarnya mengandung berlian alami, yang kalau di olah oleh tangan ahli mungkin akan menjadi ribuan berlian seperti cincin yang kamu kasih aku ini."


"WHAT?" Yundhi berteriak tak percaya, tapi ia tetap berjalan mengikuti langkah Tiara yang pelan.


Kaget tentu saja, satu berlian kecil yang ia belikan untuk Tiara mencapai harga ratusan juta, bagaimana kalau jumlahnya ratusan atau ribuan.


"Iya, penduduk di sana ga tahu, mereka mungkin ga menyadari sumber daya alam daerah yang mereka tinggali. Aku ke sana cuma sekali, ga mau balik lagi."


Yundhi mengangguk saja, setuju Tiara tidak ke sana lagi, enam bulan dia sudah sangat trauma.


"Jadi kamu mau minta pendapat aku yang mananya?"


"Hm, bakal di eksploitasi habis-habisan, kita belum punya kemampuan untuk mengolah SDA seperti itu, ujung-ujungnya pasti akan di tawarkan ke investor asing, dan kita cuma kecipratan sedikit dari hasilnya."


"Jadi?"


"Ya sebaiknya jangan kamu beberkan masalah ini, biarkan saja penduduk Loca hidup dengan tenang. Cepat atau lambat mungkin mereka akan tahu, tapi akan lebih baik mereka mengetahui sendiri dan mungkin saat itu mereka sudah mampu mengolah SDA itu sendiri, menikmati hasilnya sendiri, dengan begitu kesejahteraan mereka akan meningkat."


Tiara menyimak dengan baik pendapat yang di berikan Yundhi. Menahan sebentar agar mereka berhenti berjalan dan menghadiahi kecupan ringan di pipi pilot itu. Yundhi tersenyum lebar.


"Terima kasih pendapatnya yang bijaksana sekali Pak Pilot."


"Sama-sama Bu Guru," mereka tertawa bersama dan melanjutkan jalan kaki sore itu.


Biarlah masalah itu tidak terungkap, menjadi rahasia dan tetap di tempatnya.


"Kamu tahu ga sepanjang perjalanan jemput kamu ke Loca, tangan aku ga berhenti gemetaran," ungkap Yundhi jujur.


"Masa?"


"Iya, kamu lihat kan aku pakai masker biar wajah aku ga kelihatan setiap dua menit aku narik napas dalam-dalam." Yundhi memutar kembali ingatannya. "Begitu lihat kamu, aku hampir ga bisa nahan diri pengen peluk kamu. Bisa ya kamu selama itu..."


"Stop, sekarang aku udah di sini, oke, jangan ingat lagi!"


"Hm, baik lah." Yundhi patuh.


Tak terasa mereka berjalan sudah cukup jauh. Tiba-tiba mata Tiara mengarah pada satu tempat makan. Merekapun menghentikan langkah di depan tempat yang di dominasi warna putih dan hijau itu.


"Kita masuk?" tanya Yundhi. Tiara mengangguk mantap.


Karena tidak ada pengunjung lain, mereka bebas menentukan tempat duduk. Tiara memilih agar mereka duduk di dekat jendela sehingga bisa menikmati pemandangan luar.


Setelah ia perhatikan, tempat makan itu berdempetan dengan barber shop, dan di sebelah barber shop itu menyambungkan pengunjung dengan ruangan khusus yang bisa di pakai untuk merokok. Pemiliknya benar-benar memikirkan kenyamanan pengunjung yang tidak menyukai asap rokok. Tiara sangat bersyukur Yundhi bukan seorang perokok seperti pria kebanyakan.


"Mau pesan apa? Kalau bisa pesan yang hangat-hangat, aku ga mau kamu sakit lagi!" titah Yundhi.


Tiara hampir protes karena ia ingin sekali minum jus buah yang dingin, tapi ia urungkan demi perdamaian dunia.


"Green tea tanpa gula, kentang goreng, sama Chicken popcorn deh." pesan Tiara. Pelayan yang berdiri di samping meja mereka segera mencatat pesanan Tiara. Yundhi geleng-geleng kepala. Tiara heran, bukankah tadi dia memesan teh, teh hangat lho.


"Nasi lalapannya dua porsi sama minumnya milkshake coklat" pesan Yundhi. Minta air putih juga mba" sambungnya.


Setelah membacakan ulang pesanan Tiara dan Yundhi, pelayan itu segera undur diri.


"Kenapa dua porsi, kamu lapar banget?"


"Kamu ga sadar yang kamu pesan itu camilan semua, ga pesan main course lho kamu itu." jelas Yundhi.


"I see." Tiara mengangguk mengerti. Ternyata perhatian Yundhi sedikitpun tak lepas darinya.


"Kamu ga ada niat potong rambut?" Tiara tersenyum jahil.


***


Setelah sempat bermain tarik-tarikan, Tiara akhirnya sukses menggeret Yundhi ke barber shop yang ada di samping tempat makan itu. Yundhi telah selesai di keramas, sedikit mendapat pijatan dan saat ini rambutnya mulai di tata.


Tiara mengawasi dengan seksama, memberi masukan pada pegawai yang menangani rambut Yundhi. Jika tidak suka melihat hasilnya, Tiara akan menegur dan meminta pegawai itu membuat model yang Tiara inginkan. Rambut milik Yundhi di bawah kekuasaan Tiara.


Yundhi tentu saja di larang protes, apalagi ikut campur memberi komentar.


"Udah to mba, masnya udah keren nih." ungkap si tukang cukur. Sepertinya dia kelelahan mengikuti kemauan cerewet Tiara.


Tiara mengamati dari berbagai arah, sesekali melihat pantulan Yundhi di cermin.


"Oke, keren keren, udah, buka penutupnya!" titah Tiara.


Dengan sangat jelas pegawai itu menghembuskan nafas lega. Pegawai itu pun membuka kain yang melindungi tubuh Yundhi dari potongan-potongan rambutnya.


***


Wajah Yundhi terlihat lebih segar, dan kalau ketampanannya memang tidak perlu di ragukan. Lirikan pengunjung wanita yang baru datang sudah memberikan bukti konkret bahwa memang pilot itu tampan dari lahir.


"Apa mata mereka melihat hal yang sama dengan mataku ya?" ungkap Tiara tiba-tiba. Dagunya di tumpu dengan kedua tangan di atas meja. Pesanan mereka sudah tersedia di meja, tapi Tiara belum mau memulai acara makannya.


"Memang mata kamu lihatnya apa, mata mereka lihatnya apa?" Yundhi balik bertanya dengan menumpu dagu dengan sebelah tangannya.


"Mataku melihat seorang malaikat tanpa sayap jatuh di hadapanku." gombal receh Tiara.


"Aaah, jadi mata mereka juga lihatnya gitu ya?" ujar Yundhi pura-pura ge er.


"Aku nyesel bikin kamu lebih tampan dari sebelumnya." ujar Tiara lebay.


"Tanpa kamu turun tangan aku memang tampan dari lahir, Ra." balas Yindhi meladeni kelebaian Tiara.


"Gitu ya, akh tumben aku ga pinter." sesal Tiara pura-pura.


Yundhi keluar dari kursinya dan menuju kursi Tiara. Sambil berdiri Yundhi meraih dagu Tiara dan langsung mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Tidak terlalu lama, tapi Yundhi sempat menggigit kecil bibir Tiara dan membuat si empunya bibir mendadak syok.


Jangan di tanya bagaimana merah padamnya wajah Tiara. Para wanita yang sedari tadi mengamati Yundhi pun segera membuang muka, ada juga yang tertawa malu dan berbisik dengan teman semejanya. Sadar pria yang mereka tatap sudah punya pawang.


"Biar mereka tahu, malaikat ini milik wanita yang ada di depannya."


Tiara speechless.


Untuk pertama kalinya ia mendapat ciuman di tempat umum secara terang-terangan. Dulu iya, tapi masih di dalam mobil yang tertutup, iya kan?


Yundhi selalu berhasil membuatnya terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba.


Pilot itu sudah kembali ke tempat duduknya tapi Tiara belum menemukan kesadarannya.


"Bangun, ayo makan!" Yundhi menoel hidung Tiara.


Tiara mengedipkan mata, dan segera memulai acara makan mereka. Ia harus meminum beberapa teguk air putih untuk menetralkan perasaannya. Berdebat? Ga perlu lah. Mungkin cara itu memang efektif agar Tiara tidak cemburu lagi.


***


Setelah menyelesaikan acara makan dan berakhir dengan Yundhi membayar bil mereka di kasir, pasangan kekasih itupun segera keluar dan akan kembali ke titik awal mereka melangkah.


Hari sudah menjelang petang, gerimis masih juga setia membasahi bumi kala itu.


Yundhi masih menugaskan diri memegang payung. Mereka berjalan bergandengan tangan.


"Udah senang sekarang?" tanya Yundhi.


Tiara mengangguk tersenyum.


"Ada lagi yang ingin kamu lakuin?" tanya Yundhi lagi.


"Banyak, kita belum nonton, belum ke game center, belum ke pantai, belum naik motor, belum___."


Yundhi menghentikan langkah membuat mereka berhadapan.


"Kamu mau lakuin itu semua sekarang?"


Tiara tertawa melihat wajah tegang Yundhi.


"Aku belum gila, kita lakuin semua itu setelah kamu men-sahkan aku jadi Nyonya Yundhi, aku ga mau dapat ciuman lagi kayak tadi, di lihat orang lain saat kita belum resmi." ungkap Tiara jujur.


Tiara bergidik ngeri dan menarik tangan Yundhi agar mereka berjalan lagi.


"Kita proper date seperti awal pacaran dulu, kamu mau juga, kan?"


"Hm, tentu. Semua kencan berikutnya setelah kamu ijab qobul." tegas Tiara.


Yundhi tersenyum paham. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Tiara. Berjalan sangat pelan agar mereka tiba lebih lama di tempat mereka menitipkan mobil. Sepertinya mereka sama-sama tidak ikhlas jika kencan itu segera berakhir.


Yundhi dan Tiara menyusuri jalan itu di temani gerimis dan kilau lampu kota yang temaram. Tiara akan mengingat hari itu sebagai kenangan manisnya sebelum menjadi nyonya Prasetya. Begitupun Yundhi, perasannya tak kalah bahagia. Segala kesedihan mereka selama ini terbayar lunas hari itu. Ia kini senang Tiara meminta mereka melakukan kencan mendadak. Hal yang hampir ia tolak.


Ps: Terima kasih untuk gerimis yang telah menciptakan kencan romantis.