
Tiara tertidur sangat lelap di pundak Yundhi. Tangannya melingkari lengan Yundhi, matanya tertutup rapat dengan dengkuran halus yang hanya Yundhi yang bisa mendengarnya. Penampakkan mereka menjadi pusat perhatian pasien yang berkunjung di tempat praktek spesialis kandungan itu. Tapi Yundhi tidak peduli. Malah dirinyalah yang menyarankan Tiara untuk tidur selama menunggu giliran mereka di panggil.
Menurut informasi dari petugas, mereka akan di panggil sekitar satu setengah jam lagi.
Untuk menghilangkan rasa bosan Yundhi memilih bermain game, tepatnya permainan menembak dengan sasaran dua sahabatnya, Yaris dan Reyhan. Mereka memainkan permainan itu secara online di tempat terpisah.
Hampir beberapa kali Yundhi ingin mengumpat karena kalah. Untung saja rengkuhan Tiara mampu menahannya.
Tiara mengerjap tanpa Yundhi sadari. Matanya menyipit, terbuka pelan.
"Main apa sih?" Tanya Tiara dengan suara serak.
"Eh, kok bangun? Giliran kita mungkin dua puluh menit lagi."
"Pegel."
"Yang mana? Sini aku pijit." Tawar Yundhi sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Semua badan aku pegel, pengen rebahan."
"Ya udah ayo kita ke hotel yang di depan. Aku booking kamar biar kamu bisa rebahan sambil nunggu giliran."
Tiara berdecak tidak suka.
"Lama-lama aku takut lho sama kamu yang manjain aku kayak gini."
"Memang harus gitu, istrinya Yundhi Prasetya ga boleh susah."
"Huh, mulai deh."
"Jadi gimana?"
"Enggak perlu, biar nanti tidurnya di rumah sekalian." Tegas Tiara.
"Yakin?"
"Apaan sih Yundhi. Pegel bukan badan remuk atau patah."
"Oke, Sayang, kasih tahu kalau kamu berubah pikiran."
"Hm."
Hening sejenak terjadi antar keduanya.
"Aku mau tanya." Kata Tiara memecah kebisuan.
"Apa?"
"Kamu beneran bisa nembak?"
Yundhi terkesiap tak menyangka itu yang akan Tiara tanyakan.
"Iya." Jawab Yundhi adanya.
"Sejak kapan?"
"Dari dulu sih, sering latihan sama Yaris dan Rey. Kita latihannya resmi kok." Jelas Yundhi yang menangkap kenginan Tiara menyelidikinya.
"Kenapa? Ada alasan khusus kamu latihan nembak?"
Yundhi tampak berpikir.
"Awalnya sekedar iseng, lama-lama jadi hobi. Kita sempat rehat. Setelah menggeluti bidang masing-masing, kita baru sadar latihan nembak itu ada manfaatnya, terutama buat melatih fokus. Akhirnya kita latihan lagi lebih serius sampai dapat sertifikat resmi. Alasannya ya itu, buat melatih fokus aja, Yaris yang serius di bisnis, Rey di kedokteran, dan aku di penerbangan. Bidang yang kami geluti memang butuh konsentrasi banyak."
"Oh jadi gitu." Yundhi bernapas lega, Tiara menerima alasannya.
" Kenapa nanya masalah nembak?"
"Hah, ya... ya itu, aku sempat lihat kalian pegang senjata waktu aku di culik Lingga. Penasaran aja sih."
Yundhi menggenggam penggung tangan Tiara, melihat Tiara yang seperti salah tingkah.
"Kita memang punya keahlian itu kok, tapi di pakai sesuai tempatnya, ga sembarangan. Kamu jangan mikir macam-macam."
"Iya, ngerti."
"Ibu Tiara Prasetya!" Suara seorang petugas memanggil.
"Ibu Tiara Prasetya!"
"Ada Sus," balas Tiara cepat.
Yundhi bangun lebih dulu dari sofa, kemudian menghadap Tiara dan membantu istrinya itu untuk bangkit dengan menarik ke dua tangan Tiara. Kemesraan mereka lagi-lagi menjadi perhatian sisa pengunjung di sana.
"Udah masuk lima bulan kan sekarang?" Tanya Yundhi saat mereka akan sampai di depan pintu ruang praktek.
"Iya. Kenapa?"
"Udah bisa lihat kelamin dong."
"Iya, tapi aku rencananya ga mau di kasi tahu sih sampai lahiran."
"Kok gitu?" Prates Yundhi
"Ya ga apa-apa, biar jadi kejutan aja."
Yu dhi menghentikan aksi protesnya dan tampak berpikir saat mereka duduk di depan dokter spesialis kandungan itu.
"Sore Ibu Tiara, bagaimana? Ada keluhan?"
"Ga ada sih dok, cuma masih sering mual aja, kok nisa ya oadahal udah masuk tri semester ke dua."
"Ga apa-apa bu, tandanya bayinya sedang mengembangkan kemampuan otaknya dengan baik," jawab dokter itu sederhana, "obat mualnya tetap di minum?"
"Iya, Dok, rutin kok."
"Masa sih dok, bayinya lagi belajar gitu?" serepet Yundhi penasaran dengan keterangan dokter tadi.
"Menurut hasil penelitian terbaru memang demikian, sederhananya saat si ibu merasakan mual artinya si calon bayi sedang membangun sel saraf untuk kemampuan kinerja otak. Ya selain mitos bawaan bayi juga berlaku, ilmu pengetahuan juga turut mengimbangi. Beberapa artikelnya sudah banayak beredar di internet, nanti Bapak dan Ibu bisa browsing." Jelas dokter itu lebih lanjut.
"Oke, Dok."
"Wah sudah masul lima bulan, sekarang kita bisa cek kelamin ini." Seru si dokter.
"Iya," jawab Yundhi.
"Enggak," balas Tiara.
Dokter itu menoleh, tersenyum mendengar jawaban berbeda.
"Aduuuu Ra, plis deh, gimana kalau bayinya ga punya kelamin?"
"Naudzubillah, amit-amit, jangan sampai." Tiara hampir menabok suaminya sendiri. "Saya pengen jadi kejutan Dok."
Dokter itu menganggukkan kepala.
"Tapi nanti pastiin kelaminnya terbentuk ya, Dok," kata Yundhi akhirnya mengalah.
Demi... demi....
"Kalau begitu kita periksa sekarang ya."
Dokter itu pun bangkit, diikuti Tiara dan Yundhi. Tiara mengambil posisi di tempat tidur, di bantu seorang petugas wanita. Baju yang ia kenakan di angkat sampai memperlihatkan bagian perut, kaki Tiara di selimuti, dan perutnya di lumuri gel khusus yang terasa dingin. Yundhi duduk di sisi kanan Tiara, meraih tangan sang istri menggenggamnya kuat. Mata mereka mengarah pada layar komputer yang memperlihatkan hasil USG. Meski sudah sering melakukannya, Yundhi selalu gugup jika mereka akan melakukan USG. Baginya, pertemuan secara tidak langsung dengan calon bayinya itu adalah momen sakral yang penuh emosional.
"Kita mulai ya," kata sang dokter sambil menempelkan alat USG di perut Tiara.
Alat USG itu mulai bekerja, mengeluarkan suara degupan kasar yang teratur.
"Detak jantungnya normal ya." Ucap sang dokter.
Tiara tersenyum haru, dan Yundhi merasa wajahnya bersemu menghangat. Genggamannya mengerat, dan Yundhi mencium kening Tiara spontan.
"Sehat banget lho pak bayinya," terang dokter itu lagi, "perkiraan berat badan juga oke, sesuai dengan usia kandungan." Tambahnya.
"Ini kelaminnya sudah terbentuk." Dokter itu menunjukkannya dengan kursor di komputer.
Yundhi tersenyum lega.
"Semua lengkap kan Dok?"
"Aman Pak."
"Iya."
Dokter itu kembali menggerakkan alat USG di atas perut Tiara, tak lama, karena kemudian hasil cetakan pemeriksaan kandungan itu keluar.
"Oke." Seru sang Dokter.
"Permisi, maaf ya Bu," sela petugas wanita yang membantu Tiara. Petugas itu membersihkan sisa gel di perut Tiara dengan hati-hati. Tentu saja mata Yundhi tak lepas dari sana. Masih trauma.
Setelahnya Yundhi siaga membantu Tiara, hingga mereka kembali duduk di depan sang Dokter kandungan.
"Semuanya normal kan Dok, lengkap?" tanya Yundhi lagi, ingin memastikan. Di sini dialah yang paling khawatir dan paranoid.
"Semua aman kok Pak, ga perlu khawatir. Ibunya tinggal menjaga asupan nutrisi buat calon bayi, saya resepkan vitamin dan obat anti mual."
"Vitaminnya yang paling bagus." Sela Yundhi.
Tiara mendesah pasrah dengan kudeta Yundhi. Biarkan saja suaminya itu yang mengambil alih. Ini kehamilannya yang ke dua, dan dia sudah merasa terbiasa.
"Pasti Pak."
***
Suara tembakan peluru memenuhi ruangan latihan bernuansa hitam itu. Tiga orang laki-laki, berdiri tegak dengan alat menembak di tangan masing-masing, sedang menumpahkan semua amunisi yang ada di dalam senjata mereka. Desingan bising senjata tak mengganggu ketepatan sasaran yang berada seratus meter dari tempat mereka berdiri. Alat pelindung pendengaran dan kaca mata khusus itu sangat membantu Yundhi, Yaris dan Reyhan.
Senyap menyapa, amunisi mereka habis. Papan sasaran datang menuju kubik masing-masing.
"As always," seru Yundhi paling awal.
"Kenapa gue mentok di angka 7, 8 kalau latihan ya?" Keluh Reyhan.
"Lo kebanyakan lihat usus, limpa, lambung sama jantung sih," ejek Yaris.
"Kayak lo nembaknya bener."
"Nih lihat!" Yaris meninjukkan hasil tembakannya.
"Sama aja woy."
Mereka tertawa.
"Apaan sih, berisik."
Yaris dan Rey kemudian melihat pada papan tembakan Yundhi.
"Lo kalau latihan selalu tepat, kenapa kalau main game kalah mulu." Reyhan berkomentar.
"Gamenya aja yang oon, bukan salah gue."
"Ngeles."
"Gue ga mau ngomong ya, kalian udah lihat sendiri buktinya."
"Lo kebanyakan di udara, makanya salah lihat target di ponsel. Bawaannya ngambang."
"Ga mutu lo pada, udah, gue selesai." Yundhi melepas atribut tembaknya, begitupun dua sahabatnya.
Mereka kemudian memilih santai sejenak di kafe yang melengkapi sarana tembak itu.
Tidak ada pembicaraan serius. Yang ada mereka saling melempar canda dan hinaan. Tepatnya obrolan yang tidak bermanfaat.
"Fix ni, minggu depan selamatan rumah baru lo, biar gue kosongin jadwal." Reyhan memilih pembicaraan yang lebih serius.
"Hm, Tiara maunya sekalian syukuran empat bulanan, padahal hamilnya udah lima bulan, sengaja di undur, biar efisien katanya."
"Bukannya syukuran kayak gitu pas hamil anak pertama doang?" tanya Rey.
"Gue orang kaya, jadi beda, mau anak ke berapa aja gue bakal tetap syukuran."
"Dasar, blagu."
"Kenyataan man, kalian juga jangan sok-sok an jadi orang ga mampu padahal kita sama kayanya."
"Eh, ga usah ngomong kenyataan!" tanggap Yaris.
"Sialan lo."
"Tapi kalian sadar ga sih, istri-istri kita mengimbangi tingkah polah kita dengan kearifan mereka."
"Setuju," kata Yundhi, "kalau kalian berjodoh sama perempuan lain, gue ga tau kalian bakal jadi sebejat apa." Tawa Yundhi menggema.
"Huuuuuuu kayak lo enggak aja."
***
"Ke Heron dulu deh."
Sore itu Yundhi mengajak Tiara jalan-jalan ke salah satu mall. Yundhi ingin membeli perlengkapan untuk bayi perempuan meski dirinya tidak tahu jenis kelamin calon anak keduanya. Tiara ingin membelikan suster Ana seragam baru karena melihat seragam pengasuh anaknya itu sudah lusuh.
"Oke." Jawab Yundhi bersemangat.
Tiara memilih toko peralatan bayi sebagai tujuan utama sebelum mereka bertemu Yaris, Reyhan dan istri-istri sahabat suaminya. Mereka memiliki janji makan malam bersama.
Selain perlengkapan bayi, toko tersebut juga menyediakan seragam pengasuh, perlengkapan ibu dan anak hingga kebutuhan terkecil. Ibaratnya, one stop shopping.
Seperti biasa, Yundhi bersikap posesif dengan merangkul Tiara sedari awal mereka menginjakka kaki di tempat itu. Tak jarang Tiara mendapat tatapan iri, dan Yundhi mendapat tatapan penuh minat dari wanita jablai yang berpapasan dengan mereka. Hingga mereka tiba di toko tujuan, Tiara dan Yundhi langsung mencari keperluan mereka.
"Pink atau ungu?" Tanya Yundhi pada Tiara setelah mereka mendapat seragam pengasuh, Yundhi berhadapan dengan pilihan baju bayi perempuan.
"Pink dong."
"Tapi yang ungu ini juga lucu, manis."
"Ya udah yang ungu."
"Yang pink juga bagus."
"Ya udah dua-duanya." Usul Tiara, biar cepat.
"Tapi kalau adiknya Ed yang lahir cowok, gimana?"
"Haduh, kamu tu ya. Beli deh, kalau cowok kita bungkus lagi jadi hadiah kalau ada yang lahiran." Usul Tiara lelah.
Yundhi memasukkan ke dua pilihannya ke keranjang.
"Lagian kamu pakai ga mau di kasih tau kelamin anak kita."
"Biarin, biar penasaran semua, termasuk Papa, biar seru." Jawab Tiara sambil berjalan di depan.
"Ra, sini deh!"
"Apa?"
"Sepatunya lucu." Tiara mencium bau debat tambahan, "putih atau kuning?"
Tu kan, apa dia bilang.
"Putih," usul Tiara.
"Yang kuning juga bagus, ga ngejreng warnanya."
"Ya udah, kuning."
"Tapi putih juga oke, nanti anak kita pakai waktu aqiqahan."
"Dua-duanya kalau gitu." Usul Tiara cepat.
"Tapi..."
"Yundhi!"
"Oke, dua-duanya."
Mereka berjalan lagi, kali ini Yundhi memimpin dengan menggenggam tangan Tiara.
"Kita cari topi sama bandana juga."
Dalam hati Tiara berdo'a, semoga anaknya yang lahir nanti benar-benar perempuan. Dia menarik napas menyiapkan diri untuk debat berikutnya.
"Sekalian baju ballet, boleh ga Ra?"