When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
End, Wait For Season 2



"Kenapa sih mesti ke sekolah lagi, kamu kan udah cuti?" Yundhi menekuk wajah melihat Tiara yang sudah rapi pagi itu dan sedang menyisir rambut di meja rias. Badan telanjangnya yang tertutup selimut di rebahkan lagi dengan perasaan kecewa, ia benci melewati pagi hari tanpa Tiara.


"Hari ini aku mau rapat sama mbak Elok buat tentukan PLT (Pelaksana Tugas) selama aku cuti melahirkan, lagian cuma setengah hari juga, kamu kenapa sih ngambekan terus?"


"Aku udah cuti duluan lho buat kamu, biar bisa nemenin, aku juga pengen di temenin."


"Ya Allah, tiap hari ketemu, tiap jam aku sama kamu, kemarin seminggu baby moon aku di tempel terus,"


"Itu udah dua bulan yang lalu Ra, udah lewat jauh. Lihat perut kamu, udah turun banget kata mama, gimana kalau kamu mules di jalan?"


Memasuki bulan melahirkan, posisi perut Tiara memang terlihat lebih menurun dari posisi sebelumnya. Terakhir ia memeriksa kandungan, posisi kepala bayi sudah memasuki lubang panggul. Ia juga sebenarnya mulai merasa lebih cepat lelah ketimbang di awal-awal hamil dulu, tapi mau bagaimana lagi, PLT untuk menggantikannya benar-benar harus di tentukan hari ini.


"Makanya aku cuma sebentar, setelah aku beritahu daftar kerjaan ke pelaksana tugasku, aku langsung pulang, janji!"


Yundhi menutup seluruh badannya dengan selimut pertanda tidak mau menerima janji Tiara.


Ini sebenarnya siapa yang hamil sih, kenapa malah suaminya yang ngambekan.


"Kamu mau nganterin, atau aku minta mang Jay?"


"Nanti aku yang jemput." Suara sahutan Yundhi samar-samar terdengar dari balik selimut, Tiara bingung melihat tingkah suaminya.


"Kalau gitu aku jalan ni." Yundhi masih tak mau menampakkan diri, sampai Tiara menghilang di balik pintu dan setelah terdengar suara pintu di tutup barulah ia menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Sudut matanya berair, Tiara benar-benar pergi meninggalkannya sendiri melewati pagi hari itu. Sebenarnya ia masih berharap Tiara berubah pikiran, atau lebih kuat lagi merayunya untuk minta di temani. Tapi dasar Tiara yang tidak peka, malah main pergi saja tanpa marayu Yundhi lagi. Ga tahu apa calon bapak itu juga kecipratan hormon kehamilan istri, buktinya Yundhi menjadi seorang melankolis hanya karena Tiara pergi bekerja setengah hari.


Yundhi menghentak-hentakkan kaki di atas tempat tidur, mengacak-acak tempat tidur yang memang sudah berantakan karena kegiatan panas mereka semalam, di lanjutkan dengan menutup wajahnya dengan bantal layaknya abg labil patah hati. Sangat kekanak-kanakan.


Samar-samar suara teriakan Yundhi mengudara di balik bantal, "Raaa, baliiiik! Aku mau lagi."


***


"Jadi kita pilih bu Aini ya Ra."


"Iya mba, di antara yang lain, dia termasuk yang paling senior, kinerjanya juga bagus, aku sering amati beliau di kelas. Selain itu yang paling mendukung juga latar belakang pendidikannya, beliau sarjana PGTK (Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak), jadi mumpuni lah kalau kita tunjuk beliau sebagai PLT saya."


"Mba setuju kalau begitu, kita panggil saja ke sini untuk di konfirmasi sekaligus pemberian tugas, nanti untuk pengajar yang lain biar Mba yang nginformasikan, kamu kayaknya capek banget Ra."


Elok merasa kasihan melihat wajah Tiara yang sedikit pias, napas Tiara juga terlihat tidak teratur, bulir kecil keringat meski samar tapi dengan jarak sedekat itu Elok bisa melihatnya jelas.


"Aku rada mules mba, sejak keluar dari rumah tadi, tapi jaraknya masih jauh, tapi tambah ke sini kok malah tambah sering," ungkap Tiara jujur.


"Astaga Tiara kenapa kamu ga bilang?" Elok yang tadinya santai bersandar seketika terperanjat berdiri menyadari tanda-tanda Tiara akan melahirkan.


"Mba jangan panik, panggil bu Aini saja, saya mau beritahu beberapa tugas penting."


"Ya Tuhan Tiara, kamu masih mikirin tugas saat-saat kayak gini, kamu itu mau melahirkan."


"Iya mba, makanya saya maunya lahirannya dengan tenang, please mba, minta tolong panggilin bu Aini."


Elok sedikit linglung mau meninggalkan Tiara atau tidak, atau dia menelpon saja, tapi baru ingat dia tak punya nomor ponsel guru senior itu. Mau tak mau Elok berlari kecil menuju pintu.


"Jangan sampai ganggu guru yang lain mba!" Tiara mengingatkan ketika Elok sudah di daun pintu.


"Iya."


***


Kini mereka bertiga berada di ruangan Tiara. Aini dengan seksama mendengarkan penjelasan Tiara tentang tugasnya sebagai PLT. Beberapa lembar map berisi surat penting di serahkannya pada Aini. Dengan nada tenang dan lugas Tiara menjelaskan mana yang harus di selesaikan lebih dulu dan tugas yang bisa di kerjakan lebih santai.


Elok yang tahu keadaan Tiara saat itu modar-mandir cemas di belakang kursi yang di duduki Aini. Tiara yang melihatnya jadi merasa ikutan cemas dan memepercepat penjelasannya seiring rasa sakit yang di rasakan semakin dekat intensitasnya.


"Udah, itu saja bu, kalau ada yang ibu bingungkan, atau mau di tanyakan, nanti bisa hubungi mba Elok atau saya."


"Hubungi saya aja!" sela Elok cepat.


"Siap bu Tiara, bu Elok. Terima kasih atas kepercayaannya."


"Ibu bisa kembali ke kelas dulu, besok pagi ibu bisa bekerja di sini."


"Baik, kalau begitu saya permisi, mari."


Tiara menghembuskan napas lega, setengah bebannya terasa ringan. Elok segera mengampirinya dengan wajah cemas yang tak lepas.


"Kita ke rumah sakit, atau pulang dulu?" tanyanya langsung.


"Bantu aku berdiri dulu mba, bisa?" kaki Tiara sedikit terasa lemas kala itu. Elok meraih tangan Tiara. Membantu Tiara mengangkat tubuhnya.


"Kok rasanya ada yang jatuh mba," ungkap Tiara saat berhasil berdiri. Tahu pasti apa yang menimpa Tiara karena lebih dulu mengalami, Elok melihat ke arah lantai.


"Air ketuban kamu pecah."


Benar saja, cairan bening mengalir dari bagian atas tubuh Tiara dan menggenang di lantai.


"Kita ke rumah sakit aja langsung, ayo!"


Elok memapah Tiara menuju mobilnya yang berada di parkiran. Dengan susah payah Tiara berjalan di bantu Elok dan berhasil masuk mobil setelah sepuluh menit berjalan. Beberapa kali Tiara berhenti di tempat karena rasa sakit yang hebat yang melanda di bagian bawah tubuhnya.


"Sambil jalan, mba telpon Yundhi ya."


***


Satu jam lebih Yundhi harus berendam air dingin untuk meredam hasratnya. Efek Tiara meninggalkannya dalam keadaan horny menggebu membuatnya harus berlama-lama di kamar mandi pada pagi menjelang siang itu. Merasa sudah lebih baik, Yundhi memutuskan menyelesaikan ritual mandi dan segera bersiap menjemput sang pujaan hati.


Lebay sekali memang calon ayah ini.


Dalam balutan busana kasual Yundhi keluar dari walk in closet kamarnya, menuju meja rias Tiara meraih parfumnya yang terselip di antara kosmetik Tiara dan menyemprotkannya ke beberapa bagian tubuh. Wangi. Yundhi mencium aromanya sendiri. Wangi yang Tiara sukai pastinya.


Getaran ponsel yang di iringi lagu Celin Dion berjudul Eyes on Me, mengudara di ruang kamar Yundhi. Tiara yang memintanya memakai nada dering itu, untuk mengingatkan Yundhi bahwa Tiara selalu mengawasinya dan agar tidak berpaling pada wanita lain. Padahal tanpa lagu itupun Yundhi memang sudah ogah melihat wanita lain sekalipun kasir mini market. Calon ayah gitu lho.


Yundhi mencari-cari ponselnya. Entah kenapa hanya suara saja yang terdengar, ponselnya terselip di mana mungkin. Lagu itu tak berhenti mengalun, begitupun Yundhi yang tak henti mencari.


Ketemu.


Ternyata di bawah kolong tempat tidur, lagi-lagi karena kejadian semalam yang membuat barang-barangnya berhamburan.


Elok? Ada apa nelpon, tumben.


"Ya mba?"


"Yundhi ke rumah sakit sekarang!" tanpa basa-basi Elok memerintahnya.


"Siapa yang sakit?"


"Tiara mau melahirkan."


"Oh," serunya santai, "APA? Maksud mba?" Yundhi langsung panik.


"Pakai speaker mba!" pinta Tiara dari kejauhan.


"Sayang, jangan panik!" Tiara bicara mengambil alih.


"Gimana aku ga panik, kamu di mana?"


"Kita udah di jalan ke rumah sakit Yundhi." sambar Elok.


"Kamu sekarang ke rumah sakit ya, bawa tas di belakang pintu yang isinya perlengkapan bayi, aku ga apa-apa." Tiara berusaha meyakinkan Yundhi karena tahu betul bagaimana suaminya itu kalau di landa panik.


Yundhi mendesah gusar.


"Ga apa-apa gimana? Suara kamu udah kayak nahan sakit berat gitu, di kira aku ga tahu, jangan tutup telponnya, aku jalan sekarang."


"Jangan nyetir sendiri," Tiara mulai menangis, Yundhi membeku, "aku tahu kamu gimana nyetirnya kalau panik begitu, minta mang Jay yang supirin!"


Yundhi menarik napas berkali-kali mencoba tenang, tapi...gagal.


"Aku ga mau kamu kenapa-napa." hatinya terenyuh Tiara masih mengkhawatirkannya saat dia sendiri kesakitan.


"Aku udah bawa tasnya," Yundhi mencoba bicara tenang, "aku pergi sama mang Jay, kamu juga tenang," tapi Yundhi malah gemetaran, berkebalikan dengan kata-katanya. Namun sekuat tenaga ia tutupi.


"Minta tolong, hubungi tante Helma."


"Iya, jangan nangis lagi!"


Di seberang sambungan Yundhi memanggil-manggil seisi rumah, memberi tahu apa yang terjadi, tak lupa meminta mang Jay menyupirinya.


"Mama ke rumah sakit sama Oma, sama tante Helma juga ya, Yundhi duluan ke sananya."


Kediaman Prasetya mendadak gempar mendengar kabar tiba-tiba itu. Ranti linglung keluar masuk kamar. Citra bolak balik dapur mencari madu untuk Tiara.


Di seberang Yundhi.


"Tarik napas Ra, yang dalam, yang teratur." Elok mencoba membantu Tiara untuk mengatasi rasa sakit yang mulai datang bertubi-tubi.


Yundhi yang masih dalam sambungan hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat sendiri keadaan sang istri. Lagi, lagi-lagi dia kecolongan. Seperti setahun lalu, ketika dia meninggalkan Tiara ke Jepang bersama Emmy dan Tiara melewati masalahnya sendiri.


"Mba, posisinya di mana?"


"Sudah hampir sampai rumah sakit nih, sekitar sepuluh meter lagi."


"Mang Jay, bisa lebih cepat?"


"Bisa Den."


"Mba, aku tutup sebentar, aku mau hubungi Reyhan."


Sungguh dia tidak punya keberanian menyebut nama Tiara karena rasa bersalah yang menimpa. Andai dia tidak egois, andai dia mau mengalah mengantar Tiara pagi itu, andai dia lebih dewasa menguasai perasaannya dan tidak bersikap kekanakan, andai dia...tidak hanya mementingkan diri sendiri karena akan berpuasa empat puluh hari, (karena tubuh Tiara memang sudah menjadi candunya, mau bgaimana lagi), tentu dia sendiri sekarang yang akan berada di samping Tiara. Menemani Tiara menghadapi proses melahirkan anaknya, menawarkan diri sebagai lampiasan rasa sakit yang dirasakan sang istri, menyemangatinya, memberikan rasa tenang.


Sesal.


Itu yang di rasakannya sekarang.


***


"Sorry, ya Ra, sekarang harus ke IGD dulu, tapi sebentar kok, kamar kamu udah siap."


"Lho maksudnya, Rey?"


Sementara Tiara di tangani petugas, Reyhan menjawab rasa penasaran Elok yang di kenalnya sebagai keluarga sang sahabat.


"Tiara trauma IGD mba, sepeninggal ayahnya di sini."


"Terus kamarnya? Perasaan saya baru nongol di sini."


"Yundhi udah booking sejak sebulan lalu, katanya sih buat jaga-jaga, seenaknya memang."


"Kalu seenaknya kenapa kamu mau aja di suruh sama dia?" Sedikit Elok mengetahui sejarah persahabatan dua pemuda itu.


"Ya mau bagaimana lagi, bapak sama anaknya kompakan punya saham di sini." jawab Reyhan sedikit kesal. "Brengsek ga ponakan mba itu? Tadi bentak-bentak saya di depan pasien, meski lewat telpon, saya juga snewen."


Elok tertawa mendengar curhatan Reyhan. Ternyata Tiara benar, Yundhi akan menakutkan jika sedang panik, terutama menyangkut istrinya.


***


"Mang, ga bisa lewat jalan pintas?" Yundhi duduk dengan perasaan gusar di kursi penumpang, wajahnya terlihat tak ramah, seperti akan memangsa apa saja yang mengganggunya.


"Ini baru keluar dari jalan pintas den, tapi tetap ketemu macet, ini jam istirahat kantor, biasanya ramai."


"Rumah sakitnya tinggal satu kilometer lagi, ya udah saya jalan kaki kalau gitu, kayaknya memang ga bisa jalan mobilnya. Nanti mang Jay susul saya, buka bagasi!" perintahnya cepat. Jika harus menunggu, mungkin dia benar-benar akan melewati persalinan Tiara yang sudah ia tunggu-tunggu selama sembilan bulan ini. Dan Yundhi tidak sudi jika itu sampai terjadi.


Yundhi mengambil tas paling kecil yang berisi perlengkapan Tiara dan bayinya. Untungnya Tiara menyiapkan dua buah tas yang sudah di siapkan jauh-jauh hari. Tas jinjing yang besar berisi perlengkapan yang lebih lengkap, seperti selimut bayi, baju, diaper, bedok dll. sedangkan tas kecil hanya berisi masing-masing satu perlengkapan dasar ibu dan anak.


Setelah mengambil tas, Yundhi menuju trotoar dan mulai berlari secepat mungkin, dengan langkah beringas, menabrak apapun, siapapun yang menghalanginya.


Yundhi akan benar-benar mengerikan jika di landa panik, terlebih lagi jika kepanikannya di sebabkan oleh Tiara. Bayang-bayang kejadian masa lalu tentu saja tidak bisa hilang begitu saja dari ingatannya.


Apalagi saat ini, momen yang ia tunggu-tunggu akan terjadi. Kelahiran penerus klan Prasetya, anak pertamanya.


***


Tiara berbaring ke bagian kiri tubuhnya. Tangannya telah di pasangi selang infus. Dokterpun telah selesai memeriksanya, tinggal menunggu kemajuan pembukaan Tiara selanjutnya karena saat di periksa tadi oleh dokter wanita yang di tunjuk Yundhi, dia baru mengalami bukaan 5.


Tangan Tiara menggenggam erat pembatas pinggiran tempat tidur. Bulir keringat terus mengalir dari dahi dan bagian tubuhnya yang lain. Matanya terpejam, sesekali menyipit dalam ketika rasa sakit itu datang. Elok mengelus bagian belakang tubuhnya yang memang terasa pegal, nyeri dan sakit yang tidak bisa ia ungkapkan. Wanita itu sangat tahu titik dimana dia harus memijit bagian tubuh Tiara. Ia bersyukur ada Elok yang menemaninya saat ini.


Suara pintu yang di buka kasar mengalihkan pandangan Elok tapi tak berpengaruh bagi Tiara.


"Gimana mba?" suara Yundhi tersengal-sengal.


"Baru bukaan lima."


Yundhi mengatur napasnya agar kembali normal. Langkahnya cepat menuju kamar mandi. Ia mencuci wajah, juga tangannya. Kemudian ia keluar meraih handuk kecil yang sudah tersedia di kamar mandi ruang VVIP itu.


Merasa dirinya siap, Yundhi melangkah pasti menuju Tiara yang masih menggenggam pinggiran tempat tidur dengan mata terpejam menahan sakit. Tangannya mengambil alih tangan Tiara yang mengerat di pembatas. Tiara membuka mata.


Tersenyum.


"Kamu udah datang? Kapan?"


"Barusan," Tiara tak menyadari kedatangannya, Yundhi mengecup lembut kening sang istri, "sakit ya?"


"Enggak, cuma nyeri aja," Tiara masih saja berusaha membuatnya tidak panik, dalam hati Yundhi bersyukur telah di pertemukan dengan wanita ini.


Yundhi menempelkan tangan Tiara di bibirnya lama.


"Kamu yakin bisa melewati jalan ini, kalau enggak aku bisa atur sekarang kita pilih opsi kedua?"


"Enggak, aku yakin mau lahiran normal, kita sudah omongin ini." jawab Tiara pelan.


"Apapun, apapun asal kamu senang, aku akan dukung."


Yundhi dengan setia berada di sisi Tiara, menawarkan dirinya sebagai pelampiasan istrinya itu jika di datangi sakit yang dahsyat. Jika Tiara ingin, Yundhi membolehkannya mencakar, membejek, atau menjambak dirinya. Tapi Tiara menolak, malah tertawa mendengar tawaran Yundhi. Wanitanya itu sangat pintar mengatasi rasa sakit. Enggan merusak wajah tampan sang suami. Tiara hanya meremas tangan Yundhi dan memejamkan mata, menarik napas dalam saat rasa sakit datang.


Tak lama kemudian Ranti, Citra, Helma dan Hans datang memasuki kamar mewah tempat Tiara di inapkan. Tiara bisa mendengar keriuhan yang terjadi di balik tubuh Yundhi yang menjaganya.


"Bisa panggilin mama Helma?" pintanya pada Yundhi. Yundhi tersentak, bukan karena permintaan Tiara, tapi karena untuk pertama kalinya Tiara memanggil Helma dengan sebutan 'Mama'.


"Ma!" Citra menoleh, "Mama Helma, Tiara mau ngomong." Helma pun menoleh, melangkah menuju Tiara. Membungkukkan badan, mendekatkan wajahnya dengan wajah Tiara.


"Kenapa sayang? Mana yang sakit? Biar tante pijitin."


"Enggak, Tiara ga sakit. Tiara minta maaf selama ini sudah salah."


"Salah apa? Kamu ga ada salah sayang, udah fokus sama lahiran kamu!"


"Tiara ga pernah panggil tante dengan sebutan Mama," akhirnya Tiara mengeluarkan isi hatinya, "Itu salah, jadi boleh mulai sekarang Tiara panggil tante dengan sebutan Mama?"


Suasana hening mendera, melankolis penuh haru. Semua yang ada di ruangan itu terenyuh mendengar pembicaraan ibu dan calon ibu itu.


Helma terutama, air matanya sudah bercucuran entah sejak kapan.


"Iya sayang, tante sama sekali ga keberatan, maksudnya mama." Helma memeluk Tiara erat, mengelus pelan punggung anak perempuannya itu.


"Makasih mama." Tiara tak urung ikut menangis. Suasana haru tak terelakkan. Yundhi tak menyangka Tiara juga memikirkan hal itu, merubah panggilannya pada Helma saat dirinya dalam proses menjadi seorang ibu.


"Yang kuat sayang, kamu bisa!"


Setelah Helma beranjak, Yundhi kembali menggantikannya. Bersamaan dengan itu, seorang petugas datang. Merasa dirinya sudah akan mengeluarkan calon bayinya, Tiara memanggil Citra dan Ranti. Meminta maaf dan do'a dari dua wanita yang di sayanginya itu. Memeluk mereka bergantian, dan Tiara di bisiki kata-kata penyemangat yang membangkitkannya. Pada Hans, Tiara mencium tangan ayah mertuanya, tak lupa meminta do'a Hans agar bisa melewati persalinannya dengan lancar.


"Maaf, bisa keluar sebentar," suara petugas medis.


Di dalam, hanya Yundhi yang boleh menemani Tiara, anggota keluarga yang lain di minta menunggu di luar.


"Bukaannya sudah sempurna, kita bisa pindahkan pasien ke kamar bersalin. Saya panggilkan petugas dulu."


Di saat yang sama jantung Yundhi bertalu kencang, pertarungan sebenarnya akan di mulai. Oke, Yundhi jangan panik!


***


"Gimana sus?"


Dua puluh menit terlama dalam hidup yang di rasakan Helma, Citra, Ranti dan Hans, dalam ketidak tentuan, cemas, khawatir, menegangkan, juga meresahkan selesai setelah seorang petugas keluar dari kamar bersalin yang ada Tiara di dalamnya. Buru-buru mereka mengerumuni petugas itu.


"Bayinya sudah lahir, ibu dan bayi dalam keadaan sehat."


"Alhamdulillah." Koor jamaah yang menunggui Tiara.


"Kelaminnya?" tanya Citra yang memang diantara mereka tidak ada yang tahu karena Tiara dan Yundhi merahasiakannya.


"Bayinya laki-laki."


"ALHAMDULILLAH." Kali ini koor yang lebih besar menggema ke seantero gedung.


Siapa yang berani melarang, jika tersangkanya adalah sang pemilik.


Tak berselang lama Yundhi menyusul keluar dari ruangan itu. Hans menjadi orang yang paling pertama menghampirinya. Di peluknya sang anak, diiringi ucapan selamat tiada henti pada Yundhi. Yundhi tak kalah erat memeluk sang ayah. Kebahagiaan tak terkira mereka rasakan hari ini, kelahiran anggota keluarga baru trah Prasetya. Sang calon penerus yang akan menjadi kebanggaan keluarga.


"Makasih, Pa."


Di samping mereka, para wanita tertawa cekikikan setelah melepas pelukan mereka tadi, membayangkan kelucuan sang cucu yang belum mereka lihat.


***


"O o o, lucunya cucu Oma, cakep banget sih."


"Mirip Yundhi ya."


"Bukan, mirip ibunya itu."


"Belum pas, kalau udah besar baru ketahuan."


"Petugasnya mana ini, cucu saya kok di tinggal?" Citra heboh. "Nanti di tukar lagi."


"Hush, jangan ngomong sembarangan Citra!" tegur Ranti.


Para Srikandi penjaga Tiara sedang menikmati pemandangan baru yang akan menjadi favorit mereka mulai saat ini. Meski harus di batasi dengan dinding kaca, para wanita itu tak mengurangi rasa kagum mereka pada penampakan sang cucu. Bayi mungil itu kini sedang berada di ruangan khusus bayi. Meski kekhawatirannya tidak beralasan, karena bayi Tiara adalah satu-satunya bayi yang ada di ruangan itu, Helma dan Citra tetap saja mengkhawatirkan cucu pertama mereka.


Suara brankar yang di dorong mengalihkan perhatian mereka. Tiara berbaring lemah di sana. Ia akan di pindahkan ke ruang inap. Yundhi masih setia mendampingi berjalan di samping sang istri.


"Kita tunggu di sini aja jeng Helma, nanti bayinya di tuker lagi kayak di sinetron-sinetron, iya ndak?" Citra bicara heboh.


"He eh."


"Mama ke kamar aja, biar kita berdua yang awasi bayinya."


Ranti mengangguk setuju, berjalan meninggalkan Helma dan Citra dari pada harus mendengar lagi tingkah konyol menantunya.


***


"Kamu udah siapin nama?" tanya Tiara sembari menyusui sang anak. Meski masih kaku, dengan sabar Tiara berusaha agar bayinya merasa nyaman. Seperti mengikuti instingnya, bayi itu dengan patuh menyusu pada sang ibu.


Tiara tersenyum bangga, haru, dan bahagia. Yundhi tak kalah senang. Perasaannya membuncah, tapi tak bisa ia ungkapkan dengan kata. Hanya pandangan dan binar matanya menyorot kebahagia dan kagum yang kental.


Kini hanya tinggal mereka berdua, karena anggota keluarga yang lain telah pulang sejam yang lalu. Yundhi duduk di samping Tiara, membantu Tiara memegangi kepala sang anak dan kalau-kalau Tiara membutuhkan sesuatu.


"Sudah, kamu jangan protes karena kamu sendiri yang minta aku siapkan nama."


"Iya, asal artinya baik, aku pasti setuju."


Yundhi menarik napas dalam. Tiara menatapnya penuh tanya. Mereka sama-sama tersenyum.


"Siapa?" tanya Tiara lagi.


"Nama untuk anaka kita...YUDHISTIRA EDWARD PRASETYA."