
Tipikal orang seperti Tiara adalah orang yang cenderung menggunakan otak kanan untuk berpikir. Dimana otak kanan adalah pusat dari EQ (Emotional Quotient) manusia. Karena itulah Tiara menjadi orang yang perasa, mudah tersentuh, dan cepat kasihan pada penderitaan seseorang. Karena itu juga dia lebih suka belajar bahasa ketimbang memaksa otaknya bekerja mempelajari rumus yang rumit. Meski jika dia ingin, mudah saja bagi Tiara untuk mempelajarinya karena kemampuan otaknya terbilang di atas rata-rata.
Yang menjadi hal negatif pada dirinya, Tiara memikirkan penderitaan orang lain tapi tidak ingat bahwa dia juga menderita.
Emma mungkin tidak bermaksud jahat karena hanya mengutarakan pemikirannya. Dia juga sudah minta maaf mengakui kesalahannya meski dengan cara gegabah dan tidak membiarkan Tiara bicara. Hal itu berimbas pada Tiara, kata-kata Emma seperti menyindir dirinya dan sekarang memenuhi pikirannya dan Tiara membuat kesimpulan yang salah akan arti dirinya terhadap Yundhi.
"What?"
Yundhi hampir gagal mencerna kata-kata Tiara.
"Kalau seandainya Emmy tidak sakit, dan aku tetap hadir di kehidupan kamu, apa kamu akan berpaling dari Emmy?" ulangnya lagi.
Yundhi hampir tertawa tapi urung mengingat Tiara sedang tidak dalam mode bisa dicandai, yang diperlukan gadis ini adalah diyakinkan bahwa pemikirannya salah. Lagi.
"Aku bukan orang yang puitis atau orang yang bisa merangkai kata-kata romantis. Tapi satu hal yang aku yakini Ra, semua yang terjadi dalam setiap hubungan yang terjalin antara manusia, entah dengan pasangannya, pekerjaan, hobi, idola atau yang lainnya terjadi karena CIN-TA." Yundhi sengaja memberi penekanan pada katanya yang terakhir.
"Kata orang cinta selalu punya jalan untuk menyatukan dua orang yang memang harus bersatu, sebesar apapun rintangannya, sebanyak apapun masalah yang harus di lalui. Romeo dan Juliet, Kate Middleton dan Pangeran William, dan banyak contoh lainnya yang aku yakin kamu pasti tahu. Latar belakang mereka membuat kita menyimpulkan bahwa mereka tidak mungkin menjadi pasangan, tapi malah sebaliknya dan disanalah cinta memainkan perannya, bukan begitu?"
Yundhi berhasil membuat Tiara mengalihkan pikirannya dan tertarik, air matanya hanya meninggalkan jejak, tak keluar lagi, napasnya mulai tenang, bibirnya menyungging senyum tipis.
"Lanjutkan, surprise me!" kata Tiara.
"Balik lagi ke kita, dulu aku memang yakin Emmy adalah jodohku, dia akan menjadi istri dan ibu anak-anakku. Tapi kenyataan berkata lain. Kami berpisah. Dan kalaupun dia tidak sakit, jika kami memang tidak berjodoh mungkin Tuhan akan membuat cara lain dan kami tetap tidak akan bersatu. Kemudian kamu datang sebagai orang asing yang karena adanya cinta di sini," Yundhi menunjuk dada kirinya, "Orang asing ini menjadi sangat berarti bagi seorang Yundhi."
Yundhi kemudian menghadapkan tubuhnya ke samping, meraih tangan Tiara dalam genggamannya.
"Kalau memang takdir tidak mau kita bersatu, perasaanku tidak akan terpelihara sampai sekarang. Mungkin selama waktu enam bulan kemarin bisa saja aku mendapat cinta yang lain, tapi itu enggak terjadi. Banyak yang sudah kita lalui, aku, kamu, kita sama-sama menjalani banyak hal yang bisa saja membuat kita pisah, tapi yang terjadi seperti yang kamu lihat sekarang, sampai detik ini dan seterusnya perasaan kita tetap utuh. Aku mencintaimu Tiara Pradita Putri dan aku berdo'a rasa cinta ini untuk selamanya."
Kata-kata Yundhi berhasil membuat Tiara bergetar. Dari sekian waktu yang mereka lalui, saat itu adalah momen yang paling membuat Tiara menyadari bahwa dia juga merasakan apa yang Yundhi rasakan. Segala prasangka yang berkecamuk di kepalanya terhadap Yundhi menguap begitu saja. Ia menangis, bukan karena marah atau sedih, air matanya mewakili rasa haru yang ia rasakan terhadap perjuangan mereka hingga sampai di tahap ini. Yundhi menyadarkannya bahwa perjalanan mereka tidak mudah dan cinta mereka pantas di perjuangkan.
"Sekarang udah yakin?" tanya Yundhi sambil menyeka air mata Tiara dengan ibu jarinya.
Tiara bergeming, bukan karena ia tidak dengar, tapi karena merutuki kebodohannya yang terlalu memikirkan kata-kata Emma.
"Kamu bikin aku ingkar janji tahu ga sih Ra, aku udah janji ga akan bikin kamu nangis lagi, tapi kemarin-kemarin udah berapa kali kamu nangis lagi gara-gara aku, sekarang lagi."
"Yang ini bukan gara-gara kamu, cuma aku aja yang ****, mending kamu rubah deh janji kamu sekarang?" pinta Tiara.
"Apa?"
"Jangan tinggalin aku setiap aku nangis, jangan pergi setiap aku marah, jangan berhenti bujuk aku setiap aku merajuk, mau?"
Yundhi mencium punggung tangan Tiara ringan, "Pasti."
"Jadi siapa?" tanya Yundhi lagi.
"Siapa maksudnya?"
"Yang bikin kamu mikir kayak gitu?" tepat sasaran dan Tiara terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan Yundhi.
"Emma," jawab Tiara jujur, tapi Yundhi terlihat tidak kaget dan Tiara merasa lega, "dia hanya mengungkapkan pemikirannya dan sudah mengakui kalau dia yang mengirim foto-foto kamu dulu. Dia juga sudah minta maaf."
Sedikit tersirat raut kecewa di wajah Yundhi pada mantan calon adik iparnya itu, "dan kamu, kamu mau memaafkannya atau kita bikin perhitungan?"
"Kita maafkan saja, toh sudah berlalu dan yang penting kita tetap sama-sama, seperti sekarang." mereka saling melempar senyum, menikmati kebersamaan yang mereka jalani.
Hening.
Mereka berdua melihat ke arah pantai yang mulai tenang. Matahari sore terasa hangat, bergerak lambat beranjak dari peraduannya. Semburat jingga terlukis indah di langit sore itu.
"Mau turun lihat sunset?" tanya Yundhi tiba-tiba. Tiara berpikir sejenak.
"Boleh."
***
Di lain tempat, Deki sedang menyiapkan dirinya untuk menghadiri makan malam dengan Tiara. Setelan jas mahal, sepatu mengkilat, parfum limited edition, juga jam tangan mewah sedang ada dihadapannya sekarang, tinggal ia kenakan.
Deki ingin Tiara terkesan baik dengan penampilannya dan juga hadiah mahal yang sudah ia siapkan. Ia yakin, sedikit trik jitunya itu bisa membuat Tiara berubah pikiran dan memberinya kesempatan seperti halnya Yundhi.
Deki melihat ke arah cermin, memuja pantulannya sendiri dengan tatapan sedikit angkuh, menyugar rambut basahnya dengan jari, mata bening kecoklatan, rahang tegas, badan tegap, otot biceps, dan perut sixpack itu, wanita mana sih yang mampu menolak pesonanya.
***
Tiara melihat jam tangan yang melingkari pergelangannya.
"Kayaknya kalau pulang ganti baju dulu ga keburu deh ketemu Deki, aku langsung ke hotel aja ya?" ujarnya pada Yundhi yang sudah duduk di belakang setir.
Mereka baru selesai menikmati matahari terbenam dan sedikit bermain di tepi pantai. Hari itu mereka tutup dengan menikmati kelapa muda yang di jajakan pedagang setempat.
"Hm, ga usah ganti baju, ga usah cantik-cantik, ga usah tambahin make up, ga usah lama-lama ngomong sama dia, aku kasih waktu dua puluh menit. Kalau dalam 20 menit kamu ga keluar, aku bakal nyusul kamu. Eh ralat, lima belas menit deh."
Tiara memberengut kesal. Ia dengan mudah bisa membaca Yundhi tidak mau dirinya terlihat memesona di depan Deki.
"Lima belas menit makanannya juga belum dateng, ngapain coba." Tiara protes. Bagaimanapun hotel tempatnya bertemu Deki nanti adalah hotel bintang lima yang terkenal dengan menunya yang mahal dan enak.
"Kalau kamu ngincer makanannya nanti aku beliin, atau kalau mau aku sewa chefnya biar dia masak buat kita," balas Yundhi sengit.
"Bukan gitu, ini judulnya kan dinner, masa aku tinggalin sebelum makanannya datang, kan ga sopan?" pungkas Tiara.
"Terserah, pokoknya lima belas menit, ga ada tawar menawar lagi." Yundhi tak mau kalah.
"Huft." Tiara mendengus kesal, rasanya ia malas harus menyanggah Yundhi lagi, "Oke, lima belas menit." Tiara pasrah.
***
Deki terus melihat ke arah pintu masuk restauran, sesekali matanya melirik jam tangan mewah yang melingkari pergelangannya. Sepuluh menit pertama ia masih berpikir mungkin Tiara terkena macet dengan padatnya jalanan saat jam pulang kantor, mendekati satu jam menunggu ia mulai gelisah, mengira-ngira mungkin Tiara berubah pikiran dan tidak menepati janji, jika hal itu terjadi maka dia akan....
"Maaf, sudah lama ya nunggunya?" Tiara datang sedikit tergesa, Deki berdiri menyambutnya.
"Gak juga." dengan gaya gentleman Deki menarik kursi untuk Tiara.
"Thanks'."
Deki memperhatikan penampilan Tiara, meski terlihat agak lelah, Deki masih saja terpesona melihat gestur tubuh wanita yang ada di depannya. Merasa di perhatikan, Tiara menjadi salah tingkah. Tatapan Deki membuatnya mati gaya dan Tiara sedikit tidak suka tatapan intens Deki.
"So, ada yang kamu mau omongin?" Tiara akhirnya berinisiatif membuka obrolan.
"Kamu kayaknya ga habis dari rumah?"
"Hm, seharian ini jadwalku agak padat, jadi tidak sempat balik ke rumah dulu, kalau kamu ga nyaman aku bisa pulang sekarang."
"Itu terlalu frontal Ra, aku cuma basa-basi."
Tiara bisa melihat beberapa kali Deki menatap mata yang memperhatikan mereka dan tentu saja rasa tidak nyaman sedikit kentara dari gestur tubuhnya.
"Sudah siap untuk memesan Tuan?"
Seorang pramusaji menghampiri mereka dan Tiara merasa tertolong.
Deki menyebut pesanannya dan Tiara masih membolak balik buku menu di tangan. Dari banyaknya menu entah kenapa tidak ada yang membuatnya tertarik, padahal dari namanya saja Tiara bisa tahu semua deretan menu itu pastilah memiliki cita rasa lezat.
"Kamu mau pesan apa?"
"Aku? Aku ikut kamu saja, tapi minumnya orange juice."
***
Yundhi memutar radio mobilnya, memilih lagu secara asal sembari menunggu Tiara. Menurut perkiraannya jika di hitung dari rata-rata durasi lagu, Tiara harus kembali setelah lagu ke lima yang ia dengar.
"Oke, kita mulai." Lagu pertama pun mengalun.
Yundhi menyandarkan tubuh, menurunkan sedikit sandaran jok mobilnya agar bisa melemaskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Tak jarang bibirnya mengikuti lirik lagu yang mengalun dari radio.
***
"Ini buat kamu." Deki menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna hitam pada Tiara. Membuat Tiara mengukir wajah heran bercampur syok dan Deki merasa puas melihat ekspresi Tiara saat itu.
"Apa ini?"
"Kamu buka saja!"
Tiara menatap curiga pada Deki.
"Itu buka bom, yang pasti kamu akan suka." Deki berkata penuh percaya diri.
Tiara membuka kotak itu. Meski ia tahu pasti itu kotak perhiasan, rasa penasaran akan bentuk benda yang ada di kotak itu mendorongnya ingin melihat isi di dalamnya. Dan dugaannya benar, itu barang paling mewah yang pernah ia lihat. Tiara menutup kembali kotak beludru itu sambil tersenyum.
"Jadi apa maksud kamu memberiku barang ini?"
"Itu hadiah buat kamu, sebagai ungkapan rasa sukaku," tembak Deki langsung. "Kalau itu masih kurang, aku bisa memberi barang yang lebih mewah asal kamu ___" Deki menggantung kalimatnya.
"Asal aku?"
"Mau menjadi pasanganku." Deki to the point.
"Jadi ini imbalan kalau aku menerima perasaan kamu?"
"Kalau kamu mengartikannya begitu, aku tidak masalah."
Kali ini Tiara melihat sisi lain seorang Deki, selain sifat pecicilan, ramah dan jahil yang di miliki pria itu, Deki juga memiliki sifat angkuh, sedikit sombong dan rasa percaya diri yang tinggi.
"You are a good person Deki, tapi aku sedikit kaget melihat sisi kamu yang sekarang." Tiara menyodorkan kembali kotak perhiasan itu pada Deki.
"Aku tidak bisa menerima hadiah ini, kamu malah keliru, ini terlalu mewah buatku."
Deki terlihat bingung tapi sebisa mungkin secepatnya menguasai diri.
"Anggap saja saya tidak memberi kamu hadiah ini, tapi apa saya punya kesempatan untuk lebih dekat dengan kamu?" mendadak Deki bicara formal memakai sebutan 'saya' karena merasa gugup.
"Tidak bisa begitu, saya tetap menganggap kamu memberi saya hadiah itu tapi jangan khawatir, saya masih tetap menganggap kamu orang baik Deki, hanya pandanganmu terhadap wanita harus di rubah sedikit. Tidak semua wanita menyukai barang mewah seperti ini. Apalagi kamu memberi di awal pertemuan, kesannya saya kayak cewek matre gitu." Tiara mengikuti alur yang di mainkan Deki dengan sebutan 'saya', Tiara tertawa samar.
Deki ikut tersenyum kecil.
"Kamu berbeda," Deki menjeda sejenak, "Ini partama kalinya seorang wanita menolak hadiah yang saya berikan."
"Apa mungkin saya juga akan menjadi wanita pertama yang menolak menjadi pasangan kamu?"
Mata Deki melebar, tak bisa menyembunyikan wajah syoknya. Kepercayaan dirinya runtuh seketika.
"Kenapa? Apa karena laki-laki itu?"
"Iya, karena saya sudah memiliki Yundhi," jawab Tiara tenang namun terdengar tegas.
Deki tertawa miris.
"Kamu orang baik Deki, saya yakin itu, dan orang baik pasti mendapatkan pasangan yang baik pula."
"Memangnya kamu bukan cewek baik?"
"I don't know, bisa jadi saya bukan orang yang tepat untuk jadi pasangan kamu, mungkin kita lebih cocok jika menjadi teman."
"Teman? Ayolah Tiara, tidak ada kata teman untuk laki-laki dan perempuan."
"Ada, hanya kita tidak tahu pada siapa itu terjadi, saya akan berusaha yang terbaik untuk menjadi teman kamu."
"Saya menolak," tegas Deki. "Tiara, apa yang dimiliki Yundhi sampai kamu menolak saya, saya bisa memberi apa yang dia beri, saya bisa menjamin kamu dengan segala yang saya miliki, mobil, rumah, apartemen, deposito, logam mulia, katakan apa yang kamu mau!"
Deki mulai frustasi.
"Calm down Deki. Saya hargai segala yang kamu tawarkan. Terus terang dari segi kekayaan mungkin kalian sama. Kalau saya minta Yundhi membelikan saya hotel ini dia mungkin akan membelinya saat itu juga. Dia suka menawarkan saya barang mewah, malah dia sudah menyediakan saya kartu khusus untuk memenuhi kebutuhan saya dan saat saya menolak apa yang ia tawarkan, dia marah tapi tidak memaksa dan menghargai keputusan saya. Dia melakukan yang terbaik yang ia bisa, dan melakukan hal yang tidak saya duga saat saya meninggalkan semua masalah saya di sini." Tiara menatap Deki yang terlihat kesal dan juga bingung.
"Deki, ada sebagian wanita yang senang di suguhi barang mewah berharga fantastis, ada juga sebagian wanita yang jatuh cinta pada laki-laki yang mengerti dirinya, bertutur lembut, dan memperlakukan wanitanya dengan agung. Yundhi membuat saya jatuh cinta dengan pengertiannya dan kepribadiannya."
Posisi Deki yang tadinya duduk tegap, terkulai bersandar di sandaran kursi. Pandangannya pada Tiara yang akan gembira ria menerima pemberiannya melenceng jauh dari perkiraan. Tiara pemecah rekor dari deretan wanita yang dia dekati, satu-satunya wanita yang menolak pesona seorang Deki Pranala.
Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka. Deki menatapnya tak berselera, berbeda dengan Tiara yang terlihat berbinar.
Tiara sedikit tersentak menyadari sesuatu. Tanpa ia sadari wajahnya berubah panik. Sudah berapa lama dia berada di sana?
"Ga apa-apa kan kalau aku makan duluan?"
Deki menatap Tiara keheranan, tapi Tiara tak acuh, ia memotong steak yang ada di depannya kemudian meminum beberapa teguk orange juicenya.
"Kita sudah dinner, which is mean hutang saya lunas, maaf saya harus pergi, enjoy your food, it's really good."
Deki masih mencerna sikap dan perilaku Tiara. Tiara beranjak berdiri, "maaf ya, maaf banget," ungkap Tiara tidak enak sambil mulai melangkah meninggalkan Deki yang terpaku.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang menahan pergelangan tangannya. Tentu saja Tiara kaget, dan refleks menarik tangannya yang tertahan sebelum melihat wajah pelaku itu. Tiara menoleh.
"Yundhi?"