When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Sakit



Tiara menatap ragu rumah mewah dengan design minimalis yang ada di hadapannya. Sejak awal tujuannya memang rumah itu, di mana penghuninya bisa membantu Tiara keluar dari pusaran badai yang menerpanya. Tapi mengingat hari sudah memasuki tengah malam, rasa ragu muncul kalau tuan rumah mau repot-repot bangun dari tidur nyenyak membukakannya pintu. Meski itu yang akan terjadi nanti, Tiara sudah bertekad tidak akan beranjak, kalau perlu ia akan tidur di depan gerbang rumah Kasvian, sang pemilik rumah.


Tiara menekan bel yang menempel di sisi kanan gerbang, berdo'a dalam hati semoga salah satu penghuni di beri kemurahan hati membuka pintu untuknya.


Dua kali


Tiga kali


Sampai akhirnya suara serak laki-laki terdengar di interkom gerbang.


"Siapa?"


"Tiara bang."


"TIARA??!!"


Kasvian berteriak tak percaya. "Ngapain kamu malam-malam begini?"


"Tiara kedinginan bang, abang tega biarin Tiara di luar."


Hening sesaat. Suara gerbang terbuka otomatis membuat Tiara mengukir senyum tipis.


Tiara masuk ke halaman rumah, menutup kembali gerbang yang tadinya terbuka.


Pintu utama rumah itupun di buka oleh sang pemilik. Menyambut Tiara dengan wajah bantal di balut kesal.


Tanpa disilakan Tiara masuk lebih dulu, membuat Kasvian geleng-geleng kepala melihat tingkah Tiara yang untungnya sudah dia anggap adik.


Tiara menghempaskan badan di sofa. Kaca mata yang melingkari wajahnyapun di lepaskan.


"Abang tadi datang ke pemakaman, sorry ga sempat nyapa kamu. Abang langsung balik ke kantor."


"Hm, ga pa-pa." jawab Tiara malas.


Kasvian menatap mata Tiara yang menyipit. Ia bisa membanyangkan sebanyak apa gadis itu menangis hingga bola matanya hampir tak terlihat. Sembab.


"Sebutkan alasan kamu!" Kasvian langsung ke poin utama. Tidak mungkin Tiara datang tengah malam ke rumahnya jika tanpa tujuan.


"Kirim gue ke Loca besok pagi bang!"


Kasvian tertawa sumbang, "Jangan gila, penelitianmu baru di mulai dua minggu lagi, mau ngapain kamu di pulau itu sendirian?"


"Kalau abang ga ngirim gue besok pagi, gue bakal beneran gila."


"Kalau abang nurutin mau kamu berarti abang yang gila. Itu pulau terluar. Meski sekarang sudah era milenial penduduknya masih sedikit primitif, kolot. Kamu ga kenal siapa-siapa di sana."


"Ya udah gue pergi sendiri kalau gitu."


Kasvian mengusap wajahnya gusar, rasa kantuknya menghilang seketika mendengar permintaan anak gadis di depannya.


"Kamu kenapa? Cerita sama abang!"


"Ga kenapa-napa bang. Abang tahu arti kata serenity kan? Tiara butuh itu."


"Sampai harus ke Loca lebih dulu, alasan kamu ga masuk akal," nada bicara Vian meninggi.


"Abang mau atau ga, kenapa sekarang tambah lemes?" tak mau kalah, nada Tiara juga sedikit naik.


"Ra, di sana___"


"Tiara bisa bang, percaya deh sama Tiara."


Kasvian tidak menjawab baik iya atau tidak. Ia kenal Tiara, ada yang di sembunyikan gadis itu. Sesuatu yang besar sampai ia harus mencari ketenangan ke tempat yang sangat jauh. Meski nanti Tiara pasti akan ke sana untuk penelitian. Tapi itupun dua minggu lagi, bersama yang lain, bersama timnya yang telah di tentukan dari pusat.


"Besok pagi Tiara harus berangkat ke Loca, apapun yang terjadi, abang setuju atau enggak," cetus Tiara tak ingin di bantah apalagi di tolak.


"Abang tahu kamu sedang sedih, tapi ke sana sendirian, tanpa ada yang menemani ___"


"Justru itu bang," lagi-lagi Tiara memotong ucapan Vian, wajah Tiara berubah murung, "Tiara lagi ga pengen di temani siapapun, siapapun." Tegasnya. Kali ini dengan wajah tertunduk.


Vian tak bisa menyanggah lagi, ia tampak berpikir mengenai permintaan Tiara yang menurutnya sangat beresiko, baik untuknya ataupun Tiara sendiri.


Dia memang memiliki akses untuk memenuhi permintaan Tiara. Pekerjaannya sebagai staf kementrian mampu melaksanakan kemauan Tiara untuk di antar ke pulau Loca, salah satu pulau terluar yang akan menjadi tujuan penelitian pemerintah.


"Abang harus beritahu pak mentri lebih dulu. Kalau beliau tidak setuju ___"


"Pasti setuju, harus, abang harus yakinkan, kalau enggak Tiara bakal keluar dari tim," gertak Tiara.


"Kamu punya hobi baru, motong perkataan abang." Vian berubah geram, menyadari beberapa kali Tiara tak mau membiarkan dirinya menyelesaikan kalimat.


Tiara tertawa pelan, "cuma sama abang."


"Ya sudah, sekarang istirahat dulu!"


"Mba Asti sama Geva udah tidur?"


"Menurut lo? kalau mereka bangun kamu udah di lempar, ngerusuhin rumah orang tengah malam."


"Hm, syukur deh." Sejenak Tiara melupakan masalah yang menimpanya, keputusannya datang ke rumah Vian di rasa tepat. "Minta password wifi dong bang!"


"Jangan tanya, Ra."


"Pelit banget sih bang, numpang wifi semalam doang."


"Jangan tanya, Ra."


Vian melempar Tiara dengan bantal sofa dan tepat mengenai wajahnya, "Adduh."


"Dibilangin 'jangan tanya'."


"Ya udah kalu ga ngasih, dasar pelit, percuma kaya tapi pelit."


"Percuma ya kamu pinter, passwordnya jangan tanya, gitu aja ga paham. Sana tidur di kamar tamu!" ujar Vian sambil melangkah ke atas menuju kamarnya.


Tawa Tiara meledak, menyadari otaknya yang lelet mencerna maksud ucapan Vian.


"Abang sih ngomongnya ga jelas." ujar Tiara berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan.


"Jangan ribut, nanti yang lain bangun, *******!"


"Makasih bang Kas, abang yang terbaik." ucap Tiara sambil membuat emoji hati dengan kedua tangannya melingkar di atas kepala.


***


"Tante siapa?"


Helma menatap wajah Yundhi dengan seksama, ia merasa pernah melihat wajah itu, tapi entah di mana, ia lupa.


"Ada apa malam-malam ke sini?"


"Oh, saya nyari Tiara."


"Kamu siapanya Tiara?"


"Saya calon su ___"


"Oh, kamu Yundhi kan, calon suami Tiara?" Helma berkata sedikit histeris, membuat Yundhi sedikit terkejut. Adib pernah menceritakannya bahwa Tiara akan segera menikah dan memperlihatkan foto Yundhi yang memakai seragam pilot sebagai calon suami Tiara.


Meski merasa di kenal, Yundhi masih dibiarkan Helma berdiri di luar. Ia sadar ini sudah melewati tengah malam, bukan jam yang pantas untuk bertamu, lagi pula yang di caripun tak ada di rumah.


"Tante siapa?" Yundhi mengulang pertanyaan.


"Adib pernah cerita tentang kamu dulu, maaf saya baru ingat. Tapi Tiara ga ada di rumah."


"Hah? maksudnya?"


"Tiara tadi pergi, bawa ransel, ga tau mau kemana, dia ga mau cerita."


Wajah Yundhi berubah pucat. Kemana Tiara malam-malam begini, membawa ransel, kemana?


Harapannya bertemu Tiara pupus seketika.


"Kamu sebaiknya pulang dulu, besok bisa datang lagi, saya ga enak sama tetangga, sudah hampir pagi."


Yundhi menghela nafas gusar, rasa takut tiba-tiba muncul bercampur penyesalan dan rasa bersalah yang pekat. Dengan lutut yang bergetar, ia meninggalkan Helma bahkan lupa mengucapkan kata pamit karena pikirannya di penuhi kata tanya kemana Tiara pergi.


Selama menunggu taksinya datang Yundhi mencoba menghubungi ponsel Tiara, hasilnya sama seperti sebelumnya, tidak aktif. Yundhi semakin tidak tenang, banyak hal terlintas dibenaknya. Meski begitu ia berharap besok saat ia kembali, Tiara sudah ada di kamarnya, sampai Tiara memaafkannya, Yundhi bertekad tidak akan pergi sejengkal pun dari hadapan Tiara. Sekarang dia merindukan calon istrinya itu.


*Y*a Tuhan kamu di mana Tiara? jangan pergi!


***


Hari telah menunjukkan tengah malam menjelang pagi. Tiara masih memeriksa hasil pekerjaan muridnya dengan gerakan cepat. Ia tidak tahu bagaimana ceritanya amplop yang berisi lembar jawaban muridnya, hasil ujian semester, berada di dalam kamarnya. Begitu lembaran terakhir telah ia beri nilai, Tiara lalu memindahkan nilai-nilai muridnya ke laptop. Membuatnya dalam bentuk tabel hingga ia bisa mendapatkan bentuk nilai asli, nilai rapot yang telah di katrol dengan tambahan nilai tugas siswa, analisis, rentan nilai dan segala tetekbengek keperluan administrasi lainnya. Setelah ini, ia akan menyetorkannya lewat email ke setiap wali kelas agar bisa di isi ke rapot para siswa. Tiara menyelesaikan tanggung jawabnya, dia akan meninggalkan dunia mengajar dalam waktu yang lama.


Setelah semua pekerjaannya selesai, ketika semua tabel pekerjaannya tertutup dan laptopnya menampilkan wallpaper yang memajang fotonya dan Yundhi, wajah Tiara kembali murung. Di tatapnya foto itu sambil memeluk kaki dengan kepala di atas lutut. Jari-jarinya menyusuri setiap sudut wajah Yundhi. Tampan. Memesona.


Matanya kembali basah. Rasa sakit itu datang, dadanya kembali sesak. Kali ini sangat sesak, membuat Tiara sulit bernafas.


Bagaimana mungkin kamu lupa secepat itu.


Rasa dikhianati, di abaikan, dilupakan, tak dicintai, menghujam benak Tiara. Ucapan-ucapan, janji-janji Yundhi dulu terngiang di telinganya. Tiara meremas rambutnya kuat, bayangan Yundhi dan Emmy muncul ketika matanya terpejam. Tiara menutup wajah dengan bantal, berteriak kesakitan di sana, menggeliat di atas tempat tidur, histeris, sendiri. Teriakannya di telan bantal yang menutupi wajah, sambil memukul keras dadanya yang sesak. Sakit. Perih. Ternyata patah hati rasanya sesakit itu.


Meski Yundhi tak pernah mengucapkan kata putus. Nyatanya ada jarak yang lebar memisahkan mereka sekarang.


Bagaimana bisa secepat itu Yundhi?


Tiara bahkan masih mengingat wangi parfum Yundhi ketika laki-laki itu tak ada di sisinya.


Kamu tega, jahat Yundhi Edward Prasetya.


Kamu bilang aku masa depan, dia masa lalu


Apa kamu lupa itu?


Kamu bilang tidak akan pergi, dan secepatnya mengikatku dengan tali pernikahan, tapi secepat itu juga kamu kembali dalam dekapan masa lalu yang mungkin lebih indah, lebih manis.


Maafkan aku yang harus lari, aku takut mendengar kenyataan bahwa kamu telah berpaling. Maafkan aku yang lebih memilih menjadi pengecut.


***


Yundhi menutup pintu kamar dengan ponsel yang masih di tangan. Menelpon satu per satu temannya yang ada di maskapai lain. Menanyakan nama Tiara yang mungkin ada di daftar penumpang malam itu. Meski mendapat jawaban tidak ada, dia tetap berpesan pada temannya untuk segera menghubunginya jika nama Tiara muncul di daftar penumpang besok pagi. Kemungkinan terburuk yang di pikirkan Yundhi, Tiara mungkin berencana meninggalkan kota. Ini salah satu cara yang bisa ia tempuh untuk mengetahui keberadaan calon istrinya.


Yundhi sudah putus asa menghubungi ponsel Tiara yang tak kunjung aktif. Gadis itu kali ini benar-benar menyiksanya dengan perasaan takut.


Tubuh Yundhi mendarat di atas tempat tidur, terasa remuk. Meski matanya terpejam tangannya masih setia memegang ponsel menghubungi orang-orang yang bekerja di maskapai yang ia kenal. Hatinya tak pernah berhenti melafalkan kalimat 'jangan pergi Tiara' sejak Helma memberi tahunya bahwa Tiara tak ada di rumah.


Tak mendapat jawaban dari orang yang ia hubungi, kesadaran Yundhi menipis. Rasa lelah dan kantuk yang hebat mendominasinya. Yundhi terlelap meski hatinya tak berhenti menyebut nama Tiara.


Besok, jika mereka bertemu, bagaimana dia akan menghadapi kemarahan wanita itu?