
"Jangan marah sama Yundhi ya sayang, tante minta maaf atas tingkah Yundhi tadi."
"Tiara ga marah kok tante, Tiara yakin Yundhi punya alasan sendiri dan ga mungkin khianati Tiara."
Citra memegang erat tangan Tiara saat itu, mencoba mengikis perasaan kecewa yang tak diperlihatkan Tiara meski bibirnya berucap tak marah atas perbuatan Yundhi. Sebagai sesama wanita, Citra paham betul bagaimana perasaan Tiara sekarang, hanya saja calon menantunya itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya dan terlihat biasa saja melihat Yundhi bermesraan dengan wanita lain.
Mobil yang mereka tumpangi telah tiba di depan rumah Tiara. Meski begitu, Citra malah semakin was-was melepas Tiara karena sikap tegar yang ia tunjukkan.
"Nginep di rumah aja yuk, Ra!"
"Hah, kalau sekarang terlalu mendadak tante, Tiara belum bilang sama ayah, ayah pasti nungguin."
"Tapi beneran ya kamu ga marah sama Yundhi, tante janji bakal marahin dia begitu pulang nanti."
Tiara menyunggingkan senyum terbaiknya, ia tahu calon mertuanya itu sangat ingin berusaha menghiburnya.
"Tiara percaya sama Yundhi tante, tante jangan khawatir ya, Tiara ga apa-apa kok."
Melihat kesungguhan Tiara, Citra merasa tenang dan membiarkan Tiara masuk ke rumahnya setelah mereka mengakhiri percakapan.
"Besok tante jemput, kita fitting baju pengantinnya ya Ra!" ujar Citra dengan kepala sedikit keluar dari jendela mobil.
"Siap tante, Tiara masuk dulu, tante hati-hati!" Tiara melambaikan tangan dan segera masuk rumah setelah mobil yang ia tumpangi tadi tak terlihat di ujung jalan.
Lepas dari tatapan Citra, wajah Tiara berubah sendu. Sungguh akting yang melelahkan. Sekarang gurat kecewa tergambar jelas di wajahnya. Yundhi dengan segala sikap romantisnya hari itu membuat Tiara besar kepala karena memberikannya sebuah kartu debet, merasa di percaya, pantas, dan hanya dirinya, hanya dirinya yang ada dalam hati pilot itu.
Dengan langkah gontai, Tiara masuk ke kamar, meletakkan tas belanja dan tas jinjingnya di sembarang tempat. Badannya ia lempar keras ke atas tempat tidur. Pandangannya nanar ke atas langit-langit kamarnya, sekilas bayangan Yundhi dan Emmy melintas di kepalanya. Tiara harus mengakui, mereka terlihat serasi, seperti foto yang dulu ia terima, hanya saja saat itu ia menyaksikannya secara live.
Apa artiku bagimu Yundhi?
Apa aku penghalang akan bersatunya kalian?
Apa aku berhak di tempatku sekarang?
Apa aku bukan bahagiamu yang sebenarnya?
Tiara menutup wajah dengan kedua tangan, dan mirisnya air mata Tiara berhasil melewati seluk tangan yang menutupi wajahnya. Ia menangis tapi tidak meraung. Bukan karena kebersamaan Yundhi dan Emmy, tapi karena dirinya berada di tempat yang tidak seharusnya. Jika memang begitu, kenapa Yundhi masih saja mengiminginya dengan janji pernikahan.
Tiara memiringkan kepala, melihat ke arah tas belanja yang berisi baju batik untuk ayahnya kenakan di acara lamarannya nanti. Ah, ia hampir melupakan ayahnya. Orang yang paling bahagia melihatnya mendapat calon suami seperti Yundhi. Sedikit rasa takut menghinggapinya, bagaimana jika ayahnya tahu apa yang ia alami hari ini. Jangan sampai, ia tidak mau ayahnya juga kecewa.
Tiara bangkit, meraih tas belanja bermaksud menyerahkannya pada sang ayah. Pada jam segini, biasanya ayahnya berada di kamar membaca buku.
"Ayah! Tiara udah ambilin baju batik buat lamaran, nanti ayah cobain ya. Tiara siapin makan malam dulu!" ujar Tiara dari balik pintu. Tidak ada jawaban, Tiara mengangkat bahu, mungkin ayah terlalu sibuk dengan bacaannya.
Tiara menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tak butuh waktu lama, ia hanya perlu menghangatkan lauk dan sayur yang sudah tersedia di dapur. Pasti ayah yang masak.
Setelah semua tertata di atas meja, Tiara kembali ke pintu kamar sang ayah.
"Ayah, Tiara udah siapin makan malam, ntar keburu dingin lagi!" Tidak ada jawaban, Tiara mengetuk lagi.
"Ayah, istirahat dulu dong bacanya!" Tiara meninggikan suara, tapi sama sekali tak mendapat jawaban dari dalam.
Ia memutar knop pintu dan ternyata tidak di kunci. Tiara masuk ke kamar ayahnya dan melihat sang ayah tertidur pulas dengan buku di atas badannya.
"Ayah, bangun gih makan dulu!" Tiara menggerakkan kaki Adib yang terbungkus sarung.
"Ayah, bangun dong, kita makan dulu!"
Adib tetap tenang, tak terusik suara dan gerakan Tiara padanya.
"Ayah!" tangan Tiara berpindah pada tangan Adib. Dingin.
"AYAH!" Tiara mengguncang tubuh ayahnya sekuat tenaga.
"AYAH BANGUUUN, AYAH!" tangan gemetar Tiara menepuk wajah tenang Adib.
"AYAH!"
***
Deki keluar dari kendaraannya, mencocokkan alamat yang tertulis di ponselnya dengan rumah tipe 45 yang ada di hadapannya. Setelah yakin, ia melangkah memasuki pekarangan rumah itu penuh dengan rasa percaya diri. Sebuah amplop besar berwarna coklat bertengger di tangannya.
Deki mengetuk pintu, berharap tuan rumah ada di dalam dan menyambutnya. Ia menantikan reaksi wajah pemilik rumah itu melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
Tak mendapat respon pada ketukan pertama, Deki mengetuk kembali pintu rumah itu.
"Permisi, bu Tiara, ini saya Dek___"
"AYAH!"
Samar-samar Deki mendengar teriakan dari dalam rumah, etika kesopanannya pun menguap dan mulai menggedor pintu rumah Tiara dengan kencang.
"TIARA, BUKA PINTUNYA, INI SAYA, DEKI!"
"TIARA!"
Deki bisa mendengar teriakan Tiara meski samar, sesuatu yang tak beres terjadi di dalam sana.
Hampir mendobrak pintu, suara kunci yang di putar terburu-buru terdengar dari dalam. Wajah basah Tiara muncul di hadapan Deki.
"Tolongin ayah saya, tolongin ayah saya, tolongin ayah saya." Tiara meraih kerah baju Deki dengan tangan gemetar hebat.
Tanpa berpikir lagi Deki berlari ke dalam dan di susul Tiara, ia bisa melihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka dan segera masuk ke sana.
"Sudah berapa lama?"
Deki menangkup wajah Tiara mencoba untuk menenangkannya.
"Dengar, apapun yang terjadi kamu harus kuat, sekarang tenang dulu, kalau kamu panik kita ga bisa bawa ayahmu ke rumah sakit. Sekarang cari bantuan, saya butuh orang lain buat angkat ayah kamu, paham!" Tiara mengangguk menuruti ucapan Deki, ia segera berlari keluar mencari bantuan lain.
***
Setibanya di rumah sakit, ayah Tiara segera di beri tindakan. Meski ia adalah keluarga terdekat Tiara tak di izinkan masuk selama ayahnya di periksa.
Deki bisa melihat dengan jelas Tiara di sampingnya duduk dengan wajah pucat, dan tubuh yang bergetar. Tak bisa berbuat banyak, Deki hanya menepuk bahu Tiara pelan mencoba memberi dukungan. Pikiran isengnya untuk mengganggu tak jua muncul meski setitik, yang ada hanya perasaan iba melihat rekannya itu yang sedang dalam masalah.
"Dengan keluarga bapak Adib?"
Tiara dan Deki berdiri bersamaan mendengar suara dokter yang baru muncul dari dalam ruangan.
"Maaf, kami tidak bisa___"
Pandangan Tiara menggelap, badan dan otaknya tidak sanggup mendengar ucapan dokter itu sampai akhir, jika Deki tidak menjaganya Tiara mungkin ambruk di lantai.
***
Mata Tiara mengerjap, ia melihat ke atas, mengenali langit-langit itu. Ah, dia berada di kamarnya. Tangannya beralih pada jam yang melingkar di pergelangannya, pukul 2 dini hari. Ingatannya berputar, senyumnya merekah, cuma mimpi, it was a nightmare gumamnya dalam hati.
Otaknya kembali bekerja menangkap suara berisik di sekitarnya. Ada bacaan kitab suci tertangkap rungunya, suara-suara yang ia kenalpun terdengar samar di balik pintu. Tiara beranjak dari tempat tidur, mencoba berjalan meraih gagang pintu. Dengan sangat pelan ia menarik handle pintu kamarnya.
Ada Citra, Jenny, Mimi, dan Deki duduk lesehan dengan alas karpet. Di sisi lain om Hans, oma Ranti, beberapa anggota keluarga ayahnya bisa Tiara lihat duduk dengan wajah tertunduk mengelilingi sosok tubuh yang tertutup kain di tengah ruangan.
"Ra, lo udah bangun."
Jenny berdiri cepat meraih Tiara yang muncul dari dalam kamar. Nafasnya mulai pendek, matanya kembali menghangat.
"Ayah." lirihnya samar. Jenny memeluk erat sahabatnya itu. Mimi bahkan tak berani mengangkat kepala melihat reaksi Tiara menghadapi kenyataan ayahnya meninggal secara mendadak.
"Ayah baik-baik aja, tapi lo harus sabar, harus kuat." ucap Jenny setenang mungki, meski begitu ia tidak juga bisa menyembunyikan tangisannya.
Tiara makin histeris, tubuhnya terguncang hebat. Jenny tak kuasa menahan tubuh Tiara yang luruh ke lantai. Citra dan Mimi berdiri membantu Jenny menenangkan Tiara yang mulai merancau sambil berteriak.
Melihat Tiara terpuruk orang yang mengelilinginya ikut meneteskan air mata. Deki yang mungkin memiliki rasa empati palik sedikit karena baru mengenal Tiara, merasa jantungnya di remas melihat keterpurukan gadis itu. Jika sudah begini, segala rencananya untuk menjahili Tiara ambyar seketika.
Kedatangannya pada sore hari menjelang petang ke rumah Tiara untuk memberikan kertas jawaban ujian semester para murid, berakhir pilu dengan ia sebagai orang pertama yang membantu Tiara menghadapi kepergian ayahnya. Dia mengurus segala keperluan administrasi, menitipkan Tiara yang pingsan pada suster jaga, bolak-balik rumah sakit ke rumah Tiara untuk mencari ponsel Tiara agar bisa menghubungi orang terdekatnya. Entah bagaimana ceritanya ia juga bisa menelpon Citra. Jenny, orang pertama yang berhasil ia hubungi tak kalah panik dan segera menyusul ke rumah sakit.
Keheningan dini hari itu terpecahkan suara tangis Tiara yang tak kunjung reda. Butuh beberapa jam untuk menenangkannya sampai bisa menerima kenyataan. Citra dan Hans yang bergantian menghubungi Yundhi tak juga mendapat balasan. Seharian itu ponsel Yundhi tidak aktif. Bukan tanpa alasan, beberapa kali saat tak sadarkan diri Tiara menyebut nama calon suaminya itu, seperti ingin mengadu tentang apa yang menimpanya.
"Yundhi, ayah curang ninggalin kita duluan, bilangin ke ayah aku marah."
***
"Kamu ga usah repot-repot gini, aku udah biasa sendiri, Yundhi."
Sejak mereka mendarat di bandara Narita, Yundhi selalu berada di samping Emmy sepanjang hari. Ia seakan lupa dengan tujuan awalnya, sejak kemarin tak semenitpun dirinya meninggalkan Emmy. Ia bahkan ikut menginap semalam menunggui Emmy menjalani pengobatannya. Suster senior yang biasa menjaga Emmypun kerap menggoda mereka sebagai pasangan kekasih.
"Ini ungkapan rasa bersalah aku, ga ada di samping kamu selama ini, jangan protes!"
"Aku ga mau apa yang kamu lakuin ini ganggu kerjaan kamu Yundhi, mending balik deh!"
"Itu urusan aku, kamu tenang aja. Aku boleh ambil gambar ga mau kasih lihat seseorang."
Emmy mengangguk lemah di atas brangkar. Ia tahu kepada siapa Yundhi akan menunjukkan gambarnya meski Yundhi tak menyebut nama gadis itu di depannya.
Yundhi mengambil ponsel di saku mantelnya. Ia lupa sejak kemarin ponselnya belum ia aktifkan lagi sejak turun dari pesawat. Yundhi menghidupkan handphone, menunggu dengan antusias ponselnya aktif sempurna. Begitu ponselnya aktif, getaran notifikasi terus bermunculan. Nama Citra muncul paling awal, bahkan beberapa kali, diikuti nomor kontak papanya, oma Ranti, bahkan Jenny. Ketika pesan singkat yang di kirim Jenny masuk, Yundhi membacanya sekilas tapi pesan itu bahkan membuat lututnya lemas, tubuhnya seperti di tarik, dan tangannya sibuk mencari sandaran hingga berhasil menyentuh nakas.
"Kenapa Yundhi?" tanya Emmy dengan nada panik, melihat wajah Yundhi yang mulai pias.
Yundhi memejamkan mata, mencerna kata-kata di pesan singkat itu.
"Yundhi!"
"Sorry, Em, aku pergi sekarang, sorry!" Yundhi berlari secepat yang ia bisa menyusuri lorong rumah sakit mengabaikan panggilan Emmy. Beberapa kali mengumpat mendapati lift yang tak kunjung terbuka. Ia memutuskan turun melewati tangga, secepat mungkin melompati beberapa anak tangga dengan kaki panjangnya sampai ia tiba di lantai dasar.
Tak ingin menunggu lama untuk mendapatkan taksi, Yundhi memilih berlari ke hotel tempatnya menginap yang tak jauh dari rumah sakit tempat Emmy di rawat. Menerjang setiap orang yang menghalangi langkahnya.
Di hotel pun ia tak mau menunggu untuk naik ke kamarnya menggunakan lift. Baginya itu akan membuang waktunya lebih lama dan lagi-lagi memilih tangga. Setiap orang yang memandangnya mengira Yundhi sedang di kejar-kejar entah siapa.
Secepat kilat Yundhi mengambil koper dan memasukkan baju yang untungnya tidak terlalu banyak. Sesegera mungkin ia keluar dari kamar itu setelah memeriksa tidak ada barangnya yang tertinggal.
Kali ini tujuannya bandara. Ia harus secepatnya kembali, Tiara membutuhkannya.
***
"Belum aktif pa, ga biasanya Yundhi kayak gini."
Dari balik pintu yang tak tertutup sempurna, Tiara bisa mendengar Citra menyebut nama Yundhi, dadanya bergemuruh hebat, merindukan kehadiran pria itu di sampingnya. Tiara ingin membagi kesedihan yang ia rasakan. Bagaimanapun Yundhi adalah laki-laki yang paling dekat dengannya setelah sang ayah.
Tiara meremas pinggiran tempat tidur, mengurangi rasa sesak di dadanya. Air matanya kembali lolos setelah kering beberapa saat.
Getar handphone mengusik Tiara. Bukan kiriman pesan melainkan kiriman gambar ke akun media sosialnya. Ia kecewa bukan Yundhi yang menghubunginya. Tiara bangun dari tempat tidur, memandang ponselnya dengan air mata yang masih mengalir.
Ia membuka notifikasi, menunggu gambar yang masih buram belum terlihat sempurna. Beberapa saat kemudian dadanya semakin sesak, air matanya menderas. Ia meremas keras ponsel yang dalam genggamannya dengan mata terpejam. Merasa tak tahan, Tiara berdiri dari tempat tidur dan membanting handphonenya ke lantai sekuat tenaga. Benda pipih itu kini berserakan, bersamaan dengan itu Jenny masuk ke kamar Tiara dan panik melihat Tiara yang terlihat marah.
Rasa percayanya pada Yundhi luruh seketika, melihat foto Yundhi memegang tangan seorang wanita di bandara dengan wajah bahagia. Bahkan ayahnya belum di makamkan dan Yundhi menambah kesedihannya di waktu yang sama.
Ingin rasanya Tiara berteriak, merasa tidak terima dengan apa yang menimpanya, bahkan ia ingin berteriak marah di depan Yundhi dan Emmy mengungkapkan perasaannya dan ingin mendengar jawaban mereka tentang hatinya yang berduka dan patah di waktu yang bersamaan.