
Tatapan nanar berbalut sendu terpasang kuat di wajah tampannya. Yundhi berjalan gontai mendekati Tiara yang masih setia menutup mata. Wajah pucat itu tertutup alat bantu pernapasan, kabel elektroda di kanan kiri dada menempel di tubuh lemah istrinya, selang infus yang sudah di ganti mengingatkan Yundhi cara jahat yang di lakukan oleh orang suruhan Lingga menghabisi nyawa Tiara.
Yundhi ingin marah. Sangat. Ingin menghajar Lingga saat ini juga. Ingin menyiksa wanita bodoh yang mau saja di peralat pria licik itu melakukan kejahatan. Tapi di atas itu semua, ada yang lebih penting. Ada seseorang yang lebih membutuhkannya. Ah, salah, tepatnya Yundhi yang membutuhkan seseorang itu karena dengan pesonanya telah berhasil menjadikan dirinya seperti udara yang Yundhi butuhkan untuk bernapas. Kalau seseorang itu pergi, dia tidak yakin bisa bernapas dengan benar lagi.
Detak teratur alat pendeteksi detak jatung memecah kesunyian ruang ICU yang Tiara tempati. Di ruangan itu hanya ada Tiara. Yundhi sudah mewanti-wanti agar tidak ada pasien lain yang menempati ruangan yang sama denga sang istri. Dia juga meminta agar ruangan itu di buat senyaman mungkin, meski sebenarnya tidak perlu, agar Tiara merasa seperti tertidur di kamar mereka.
Belum ada kata yang mampu terucap meski kini tangan Yundhi tengan menyatu dengan tangan lemah itu. Tangan yang biasanya hangat kini terasa dingin. Tangan yang biasanya mengurusinya dengan sangat baik kinj tegeletak layu. Ada rasa sakit yang menyayat samar melihat harusnya bukan ini yang terjadi sekarang. Harusnya mereka akan bersiap-siap pulang dari rumah sakit.
Bodoh
Yundhi mengutuki dirinya beberapa kali.
Kenapa dirinya baru menyadari betapa pasnya tangan Tiara di genggamannya, dan kapan terakhir kali mereka berjalan dengan jari-jari terpaut?
"Kalau kamu sembuh nanti, hal yang pertama akan kita lakukan, tidak, hal pertama yang akan aku lakukan adalah menggenggam jarimu seperti ini," suara Yundhi bergetar sambil menunjukkan tangan mereka yang menyatu di depan wajah Tiara, "seperti ini, ga akan aku lepasin." Sudut matanya berair.
"Kata Rey kamu capek? Aku janji ga akan taruh jas sembarangan, ga akan taruh handuk lembab di atas tempat tidur, ga akan pegang Ed kalau aku pulang dari luar, ga akan pencet odol dari bagian tengah, semua yang bikin kamu capek," jeda, Yundhi belum mampu untuk melanjutkan kalimatnya hingga beberapa detik. Dirinya sering menatap Tiara yang tertidur, tapi tanpa kepastian kapan istrinya itu terbangun seperti sekarang, dirinya akan lebih senang mendengar ocehan wanita itu.
"Asal kamu bangun sekarang, aku akan patuh sama aturan kamu, sayang, ayo bangun!"
"Aku harus bilang apa nanti sama Ed kalau dia nyariin Mamanya? Gimana kalau dia sakit, karena kangen sama Mamanya? Andai aku dengar kata-kata kamu."
Mengingat Tiara sangat ingin pulang kebih cepat agar bisa menemani Ed di rumah, Yundhi sedikit menyesal tidak menuruti kemauan wanitanya.
"Sebentar lagi rumah kita bakal selesai di renovasi, apa kamu ga mau ikut menatanya, aku sudah minta sama desiner interior memberi sentuhan pink pastel di dapur, warna kesukaan kamu. Itu bagian dari kejutan yang mau aku kasih, tapi karena kamu ngambek gini, aku kasih bocoran."
***
Untuk masalah kali ini Yundhi meminta Rey dan Yaris yang membereskannya. Tanpa melibatkan anggota Prastya yang lain. Melibatkan mereka sama saja membuatnya ribet nanti dengan berondongan pertanyaan dan tuntutan ini itu, protas protes papanya apalagi.
Mereka kini tengah berada di kantor polisi. Menyerahkan pelaku wanita yang menyuntikkan cairan pelemah detak jantung pada Tiara. Wanita itu mengakui semua perbuatannya. Dia juga mengakui bahwa Lingga menjanjikannya uang yang sangat banyak dan memang sedang membutuhkan uang itu.
"Tiara gimana?" Tanya Yaris pada Rey di saat menunggui pelaku yang sedang di introgasi.
"Kalau gue bilang koma, dia ga lagi sakit, kalau gue bilang lagi tidur, gue juga ga tahu kapan dia akan bangun. Jadi, gue belum punya istilah yang tepat buat menggambarkan kondisi Tiara."
"Ngefly?" Tebak Yaris asal.
"Sialan lo, ga juga kali, kalau ngefly juga masih bisa sadar." Rey menarik napas panjang dan menghembuskannya, "tergantung Tiara kapan mau bangunnya."
"Kasihan juga tu anak, dapat masalah ga selesai-selesai kayak gini."
"Tahun ke tiga pernikahan mereka, bakalan ga akan Yundhi lupain."
***
"Ed mau main sama Mama, ayo Ma sini, Ed punya mainan baru, Opa yang beliin, nanti Mama yang dorong ya, ini mobil mainan tapi bodinya kayak mobil Papa, nanti dorongnya yang kencang, Ed mau kayak pembalap di tipi, sini Ma lihat!" Ed bicara tanpa henti dan terus menarik tangan Tiara. Tiara tak percaya melihat badan Ed yang lebih besar, tidak seperti anak usia satu tahun pada umumnya.
Tiara ingin bicara, berkata agar anaknya pelan-pelan saat menariknya. Takut kalau mereka terjatuh. Tapi Ed semakin giat menariknya cepat, Tiara ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tak bisa ia keluarkan. Ed kembali menariknya sangat kencang. Tiara berusaha mengimbangi sambil menjaga perutnya.
Entah kenapa sepertinya Ed begitu jauh mengajaknya. Sedari tadi mereka tak sampai di tempat mainan yang Ed bicarakan.
"Ayo Ma, ayo Ma, lari, lari, temani Ed, temani Ed, Mama yang dorong, Mama yang dorong, kita main sama-sama, Ed mau jadi pembalap!"
Tiara berlari seperti yang Ed perintahkan, langkah pun ia percepat tapi tiba-tiba ada undakan kecil yang tiba-tiba muncul tidak Tiara perhatikan , rasanya tadi undakan itu tidak ada di sana. Tiara ingin berhenti tapi tangan Ed lebih kuat menariknya dan....
Napasnya tersengal, mulutnya terbuka. Tiara mengamati sekeliling. Warna putih mendominasi ruangan itu. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sedikit terang. Benar. Ini bukan kamarnya yang ia tempati sebelumnya. Apa yang terjadi?
Sarafnya mulai bekerja. Ada remasan yang menggenggam tangan kanannya. Tiara menoleh, suaminya di sana menakup tangannya dan menempel di kening Yundhi layaknya orang yang sedang berdo'a atau mungkin...putus asa?
Mata suaminya terpejam, tak menyadari dirinya yang mulai kehausan. Pelan, Tiara mencoba membalas genggaman Yundhi, tangannya terasa sangat lemas.
"Sa-yang," berbisik, lirih, pelan, Tiara mencoba menyadarkan Yundhi, tapi sia-sia, Yundhi masih fokus dengan kegiatannya dengan mata terpejam.
Kembali, Tiara mencoba menggenggam tangan hangat itu. Meski tak mengerti kenapa tubuhnya hampir tak bertenaga, Tiara terus mencoba menggerakkan jarinya yang dalam dekapan Yundhi agar lelakinya itu tersadar.
"Hah?" Gelagapan.
Yundhi seperti orang melamun dan di kagetkan dengan suara keras.
Mata Yundhi berbinar haru melihat Tiara yang juga melihatnya, "sadar?"
Tangannya menyentuh lembut kepala istrinya, "benar kamu udah sadar atau aku yang mimpi?" Yundhi mencubit kulit pinggangnya di tempat Tiara biasa mencubitnya. "Sakit."
"Benar, aku ga mimpi." Mencium dalam kening sang istri, "sebentar aku panggilkan dokter."
Tak berapa lama Yundhi kembali dengan seorang dokter dan seorang perawat.
Dengan sigap dokter itu memeriksa Tiara secara lengkap, "lebih cepat dari yang saya duga, ibu Tiara benar-benar sudah sadar, segera bisa dipindahkan ke kamar perawatan." Ujar dokter itu begitu menyelesaikan tugasnya.
***
Meski belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, Tiara menatap intens beberapa perawat yang mendorong brankarnya dan Yundhi yang sedetikpun tidak pernah lepas mengawasinya. Tapatnya, mengawasi cara kerja para perawat itu. Bahkan saat seorang suster melepaskan kabel elektroda yang melekat pada tubuhnya, Yundhi mengawasi dengan mata penuh. Membuat suster itu salah tingkah dan kini Tiara berpikir suaminya menyukai suster itu.
Dan di sinilah Tiara akhirnya, kembali ke kamar yang ia tempati. Ia baru menyadari dirinya baru saja keluar dari kamar ICU. Suster yang membantunya telah keluar, dan sekarang tinggal mereka berdua.
Yundhi mengambil kursi dan duduk di sampingnya?
"Ada yang kamu rasain? Ada yang sakit? Atau ada yang kamu pengen?" Berondong tanya Yundhi pada Tiara.
"Aku haus."
"Oh, oke." Yundhi menyodorkan botol air minral yang sudah siap dengan pipet. Pelan Tiara meneguk air itu.
"Kamu flirtring?"
"Hah?"
"Kamu suka sama salah satu suster yang tadi nolongin aku?" Tanya Tiara yang sedikit kembali mendapat kekuatannya.
Pertanyaan itu sukses membuat Yundhi terkejut.
"Enggak, ih mana berani, enggak enggak enggak, kamu salah paham."
Mata Tiara memicing penuh curiga.
"Terus ngapain kamu melotot ga ngedip-ngedip liat tu suster bantuin aku, mata kamu sampai bulat penuh begitu, kamu tega ya selingkuh di depan aku banget, mana lagi hamil, diselingkuhi pula."
Astaga, belum genap satu jam sadar dari tidur lamanya, sekarang Yundhi harus berhadapan dengan Tiara yang salah memahaminya. Tepatnya cemburu.
"Kamu mau nikah lagi?"
Hening.
"Emang boleh?"
Tawa Yundhi meledak melihat wajah Tiara yang merah. Tidak hanya memerah, istrinya sekarang mulai menangis.
"Kenapa jadi nangis?"
"Kamu kayaknya senang lihat aku menderita."
"Iya, aku senang." Air mata Tiara semakin deras. "Akhirnya kamu kembali, aku senang. Kamu tahu rasanya orang yang dapat jekpot? Seperti itu perasaanku sekarang."
Yundhi mencium punggung tangan istrinya.
"Kamu kuat ga ya kalau aku peluk sekarang? Ga usah deh kamu masih lemah," Yundhi tiba-tiba bangun dan duduk di pinggir tempat tidur, tangannya mengukur jengkalan sisa tempat tidur Tiara yang kosong.
"Cukuplah kalau aku tidur di sini," mengambil posisi untuk tidur di samping istrinya, "kamu kan suka lihat aku kesempitan."
Meski masih tidak mengerti, Tiara membiarkan Yundhi melakukan apa yang suaminya itu inginkan. Masih tidak menyahut, berdebat nanti saja saat tenaganya benar-benar pulih. Dan kalau benar suaminya itu ingin menikah lagi, ia tidak akan segan untuk...
"Kamu tahu ga kamu tu tidurnya dua puluh dua jam, selama itu kamu tidur, selama itu aku ga tidur. Sekarang gantian, aku yang tidur kamu yang nungguin, tapi cium dulu."
Satu kecupan ringan dihadiahkan Yundhi di bibir Tiara.
"Welcome back my wife."