When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Brankar Talk



Tiara menatap tak percaya jari manisnya, tak menyangka akan ada cincin indah yang melekat di sana dalam waktu secepat itu. Bagaimana ini, nyatakah? Batin Tiara terus bergolak. Yundhi tidak main-main dengan ucapannya. Tiara memang bersedia menjadi Nyonya Prasetya, tapi dalam waktu dua minggu lagi seperti yang dikatakan Yundhi tadi padanya membuat Tiara sedikit kewalahan mengatur perasaan. Citra dan Ranti juga tadi membicarakan rencana yang tertunda itu, tapi tidak sedkitpun mengatakan akan dilaksanakan dua minggu lagi.


"Mikirin apa?" Yundhi yang baru selesai melaksanakan kewajibannya dan melipat sajadah dan duduk di kursi samping tempat tidur Tiara. "Mikirin semuanya terlalu cepat?"


Tiara menoleh, merasa pikirannya bisa di baca Yundhi.


"Dulu juga kamu mikirnya gitu, tapi kita menghadapi kenyataan lain, sekarang aku ga mau buang-buang waktu, kamu ga perlu mikirin apapun, semua akan dikerjakan tenaga profesional. Kamu cuma harus menyiapkan diri dan fitting baju, that's it."


Tiara mengukir senyum manisnya. "Kapan kamu siapkan cincin ini, aku ga tahu?"


"Mmm, kapan ya? Aku lupa tanggal pastinya, setelah kamu setuju waktu aku minta di mobil waktu itu, aku langsung pesan."


"Selama ini kamu simpan?"


"Hm, dulu rencananya mau aku kasih saat lamaran resmi, nanti buat lamaran resmi kita beli lagi." Tiara membelalakkan mata, cincin yang sekarang dikenakannya saja tak bisa ia perkirakan harganya.


"Ga usah, ini udah cukup, jari manisku cuma dua."


"Kalai bisa aku beliin sepuluh, biar jarimu keisi semua."


"Jangan nyebelin!" mereka tertawa bersamaan.


"Cincin nikahnya juga udah jadi, kita pakai yang kiya pesan dulu, atau kamu mau beli yang baru?"


"Jangan berlebihan, pakai yang dulu saja!"


"Jangan bilang aku berlebihan, aku cuma ga mau kamu punya alasan pergi lagi kayak dulu."


"Aku udah bilang ga akan pergi lagi."


"Aku juga pengen bilang mohon terima apapun yang aku beri," balas Yundhi cepat, "Aku tulus dan memang kamu pantas diistimewakan." lanjutnya.


Tiara bungkam, istimewa, aku istimewa?


***


Lamat-lamat Tiara membuka mata. Rasa kebas pada tangannya membuatnya terjaga dari tidur. Ia menoleh, telapak tangannya yang masih dalam genggaman Yundhi, menjadi alas tidur laki-laki itu. Yundhi tertidur dalam posisi duduk di pinggir brankar.


Ia mengingat lagi pembicaraan mereka tadi malam. Banyak hal yang mereka bahas. Pernikahan, pekerjaan, dan rencana Yundhi tentang masa depan mereka.


Brankar talk itu berakhir sedikit alot. Tiara menentang Yundhi yang ingin pensiun dini menjadi pilot setelah mendengar atasannya mengatai Tiara orang yang tidak penting waktu itu. Tiara ingin anak-anak mereka tahu bahwa ayahnya seorang pilot dan melihat Yundhi menerbangkan pesawat. Begitupun Yundhi, ia ingin Tiara tidak bekerja dan menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga saja. Tentu saja Tiara menolak. Belum ada keputusan mengenai hal itu. Entah siapa yang lebih dulu, mereka akhirnya tertidur.


"Dia pasti pegal." Tiara segera mendudukkan badannya. "Yundhi, bangun! Tidur di tempat tidur. Pindah gih!" sambil menoel pipi Yundhi.


"Yundhi, bangun, nanti sakit lho badannya."


"Hmm." Yundhi masih diam di posisinya.


"Mau aku gendong?" Tiara memberi candaan tapi sukses membuat Yundhi melakukan pergerakan.


"Ngantuk lho." Yundhi menggeliat.


"Makanya sana tidur di tempat tidur, biar nyaman."


"Di situ aja bisa ga?" Yundhi menganggukkan dagu ke bagian brankar yang tersisa.


"Jangan aneh-aneh, pindah gih! Kalau kamu ikut sakit, kita bakal repot."


Akhirnya Yundhi menurut, dengan mata setengah terpejam dan langkah berat ia beralih ke tempat tidur yang di sediakan untuk penunggu. Sepertinya memang Yundhi sabgat lelah, dan langsung terkelap lagi.


Tiara memperhatikan dengan seksama, ia segera turun dari tempat tidur, menuju sebuah lemari kecil di samping tempat Yundhi tertidur. Ia meraih selimut dan menutupi tubuh Yundhi hingga batas lehernya.


"Ra!" Tiara berbalik mendengar suara Yundhi. "Cium. Kening. Please!" gumamnya. Entah Yundhi sadar atau tidak.


Tiara tertegun sejenak, ia kemudian duduk dan mengabulkan gumaman Yundhi.


Nafas laki-laki itu terdengar teratur, tidak ada gumaman lagi. Tiara hampir tertawa melihat wajah polos Yundhi yang tertidur untuk pertama kalinya.


"Dasar." Tiara kembali ke tempat tidurnya dan kembali melanjutkan istirahat.


***


Tiara baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati beberapa wadah berisi makanan di atas meja sofa. Dengan rambut yang masih di gelung handuk, Tiara menarik tiang infusnya dan berjalan menuju sofa dengan tatapan takjub.


Yundhi, tentu tidak takjub dengan pemandangan makanan yang baru ia buka satu per satu, matanya takjub melihat Tiara yang terlihat cantik dengan rambut yang masih dililit handuk, meninggalkan beberapa anak rambutnya di luar, wajah segar sehabis mandi dan syukurnya Tiara keluar masuh dengan piyama rumah sakit hingga tidak membuat fantasi Yundhi berjalan lebih jauh lagi.


"Siapa yang bawakan ini semua?" tanya Tiara yang sudah duduk di sofa.


"Ra, jangan cantik-cantik lah di sini, aku ga ikhlas ada yang lihat kamu selain aku."


"Kamu ngigau?" Tiara menepuk sebelah pipi Yundhi, "Baru selesai mandi juga."


"Habis mandi aja kamu stunning banget, apalagi nanti kalau dandan dikit, kamu di Loca ngelakuin ritual mempercantik diri juga ya?"


"Tambah ngaco deh, aku lapar nih." Tiara merengut.


Yundhi kembali fokus pada makanan yang ada di depannya, membantu Tiara menata wadah agar mudah di jangkau.


"Tadi mang Jay yang dateng nganterin."


"Wow, kayaknya enak semua, sanggup ga sih kita berdua ngabisin?"


"Ya semampunya perut aja "


Suara pintu yang yg tiba-tiba di buka membuat Tiara dan Yundhi menoleh. Reyhan dengan jas putih kebesarannya muncul dari sana. Tersenyum seramah mungkin pada Tiara dan Yundhi.


"Ga perlu, dia sibuk Ra." sambar Yundhi cepat. Malas harus pagi-pagi melihat wajah sahabat sendiri.


"Ini yang di sebut rejeki dokter sholeh, kebenaran saya juga belum sarapan." jawab Reyhan.


Yundhi berdecak sebal, "Ngapain sih, masih pagi juga."


Adu mulut di mulai lagi.


"Jam sembilan buat saya udah siang lho. Saya juga mau melaksanakan kewajiban memeriksa pasien saya sendiri, ya keberuntungan saya saja yang menemukan kalian sedang menghadapi hidangan seperti ini."


"Kan lo bisa nolak!" tukas Yundhi.


"Jangan di dengar dok, ini kebanyakan buat kaami berdua, mama Citra lho yang masakin."


Reyhan kegirangan merasa Tiara berpihak padanya, Yundhi hanya tertegun, merasa tersentuh Tiara menyematkan panggilan 'mama' untuk Citra.


"Kali ini lo lolos." Yundhi melunak.


"Ih ga boleh gitu, sudah, ayo makan!"


Tiara mengambilkan makanan untuk Yundhi lebih dulu, membuat Yundhi merasa desiran hangat memenuhi perasaannya. Sedangkan Reyhan, memilih sendiri makanan yang sesuai dengan seleranya. Ketiganya menikmati sarapan dengan tenang, tanpa di lalui adu mulut yang tidak bermanfaat.


***


"Kepalanya sudah tidak sakit?"


Tiara mengangguk. Reyhan kini memeriksanya dengan sangat telaten. Dia juga membuka jarum infus yang melekat di punggung yangan Tiara, segera menutup bagian yang di tusuk dengan sebuah plester di bantu seorang perawat perempuan di samping Reyhan.


"Setelah pemeriksaan akhir nanti siang, kamu boleh pulang, nanti ada beberapa resep yang akan saya berikan, tiga hari setelah keluar tolong datang untuk check-up ya mbak Tiara." ucap Reyhan.


"Kalau Yundhi bikin kami stress lagi, tinggalkan saja!" jahil Reyhan kumat.


Membuat Yundhi yang tadinya hanya bersandar kembali menegakkan badan.


"Bosen hidup ya lo!"


"Gue belum selesai."


"Apanya?"


Tiara geleng-geleng kepala mendengar perdebatan itu lagi.


"Ga perlu ngegas, gue mau bilang tinggalin hubungan pacaran dan ajak nikah." sambung Reyhan.


"Alasan ya lo biar gue ga marah."


"Enggak, emang bener. Antara kita bertiga, lo doang yang belum nikah."


"Eh, lo udah nikah?" tanya Yundhi tak percaya.


"Makanya kalau di darat tu silaturrahmi biar tahu berita, gue udah tiga bulan yang lalu kali nikahnya."


Akhirnya dua sahabat itu kembali berbicara nagalor ngidul, melupakan Tiara juga ada di ruangan itu. Suster yang membantu Reyhanpun memilih keluar lebih dulu.


"Sama si Mega yang lo bilang itu?"


"Hm."


"Terus ngapain lo sarapan sama gue kalau udah punya istri?"


"Dia lagi ngidam, lumayan parah, cuma bisa bed rest sekarang. Setelah ini gue balik lagi mau nemenin dia."


"Gila, selamat deh bro."


Dua sahabat itu akhirnya saling merangkul, melupakan perdebatan yang telah mereka lalui. Tiara senyum-senyum sendiri melihat tingkah Yundhi dan Reyhan.


"Udah ya, gue balik dulu." Reyhan pamit.


"Salam buat istrinya ya dok." ujar Tiara.


"Sip."


"Thanks' bro."


"Anytime, ajak Tiara main ke rumah dong!" ucap Reyhan sebelum keluar dari ruangan itu, membuat Yundhi menganggukkan kepala.


***


Yundhi harus mengakui bahwa Reyhan sangat profesional menjalankan pekerjaannya. Setelah beberapa jam yang lalu Reyhan pulang ke rumah menemani istrinya yang sakit, siangnya dokter itu kembali lagi memeriksa kondisi Tiara untuk memastikan bahwa Tiara benar-benar sembuh dari rasa sakitnya.


Tiara kembali melakukan pemeriksaan MRI, hasilnya akan Reyhan beritahu ketika nanti Tiara melakukan check up rutin. Setelahnya ia memberikan beberapa resep obat untuk pasiennya itu dan kemudian memberikan lampu hijau untuk Tiara keluar dari rumah sakit.


Yundhi memasukkan barang-barang Tiara ke dalam bagasi mobil. Tiara lebih dulu duduk manis di kursi penumpang. Tak berapa lama Yundhi menyusulnya duduk di belakang setir.


"Congrats' baby, kamu sudah sembuh." ucapnya pada Tiara.


"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah menemaniku melewati bagian ini." ucap Tiara tulus.


Yundhi tersentuh.


"Dan seterusnya kamu ga akan melewati apapun sendirian."