When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Rival



Yundhi mencoba untuk tetap tenang di lagu ke tiga yang ia dengar. Sama seperti sebelumnya, ia mencoba mengikuti lirik lagu yang mengalun. Tapi di menit-menit berikutnya ia mulai tidak tenang. Rasa penasaran terus-menerus datang menghampiri. Di tambah lagi, lagu yang berputar adalah lagu tentang kisah cinta segi tiga. Maka tanpa pikir panjang, seperti mendapat dorongan dari sang penyanyi, dan sebelum lagu berakhir dia segera keluar dari mobil, masuk ke hotel menuju restauran tempat di mana Tiara makan malam dengan Deki.


Pandangannya mengitari ruangan megah nan luas restauran. Yundhi harus memasang mata jeli agar bisa mengetahui posisi Tiara. Tak lama pandangannya menangkap sosok Tiara yang sedang duduk dengan seseorang. Jaket denim yang di pakai Tiara cukup kontras dengan pengunjung lain yang ada di sana hingga cepat di kenali. Beruntung meja yang ada di belakang Tiara sedang kosong. Yundhi dengan langkah seribu dan sedikit menunduk melangkah menuju meja kosong tersebut. Ia kini duduk saling membelakangi dengan Tiara.


Obrolan demi obrolan di dengarnya dari Tiara dan Deki. Kadang ia senyum sendiri, kadang terlihat marah, kemudian senang, berikutnya memasang wajah jengkel. Ada saja dari omongan Deki membuatnya hampir meledak. Ingin rasanya Yundhi menghampiri pria itu dan menghantam wajahnya. Tapi di sisi lain ia di tenangkan dengan jawaban yang Tiara berikan pada Deki.


Beruntung lo *******, umpatnya dalam hati, kalau bukan karena lo udah nolongin calon istri gue, lo udah gue hajar.


Yundhi melihat jam tangannya, Tiara bicara sudah hampir dua puluh menit, satu menit lagi jika Tiara tidak pergi dari meja itu, Yundhi akan menghampiri mereka.


***


"Yundhi?"


Tiara sedikit kaget melihat kehadiran Yundhi di sana. Jika pria itu duduk di sana sedari tadi artinya dia juga mendengar pembicaraan Tiara dan Deki, bukan begitu?


Yundhi segera berdiri dari duduknya dengan tangan yang masih menahan Tiara.


Tiara sedikit khawatir melihat ekspresi Yundhi yang tidak bisa ia tebak, bisa saja Yundhi saat ini sedang menahan emosi jiwa.


Sedangkan Deki cukup terlihat tenang meski sedang ada orang yang tidak ia suka di hadapannya. Setidaknya dia bisa bicara langsung tentang rasa sukanya pada pasangan Tiara tersebut. Ia tak akan segan menjadi rival Yundhi untuk merebut Tiara. Nekat. Memang, Deki orang yang nekat, masalahnya lawannya Yundhi, cukup seimbang dengan dirinya melihat latar belakang status sosial dan kekayaan keluarga mereka.


"Kamu sejak kapan di sini? Aku udah selesai kita balik sekarang ya?!" bujuk Tiara dengan nada merayu setenang mungkin, sambil menarik tangan Yundhi. Tapi Yundhi masih bergeming. Tubuhnya berputar menuju meja yang tadinya menjadi tempat Tiara berbincang dimana masih ada Deki di sana.


Yundhi kemudian duduk di kursi kosong persis di depan Deki. Tiara ketar ketir, mengedarkan pandangannya takut menjadi pusat perhatian. Masalahnya, meja yang di pesan Deki hanya untuk dua orang, kini Yundhi yang duduk di kursi tempatnya tadi, artinya ia harus berdiri di antara mereka.


Suasana restauran yang hangat kental dengan nuansa romantis mendadak berubah panas penuh aroma persaingan hanya di area meja Deki.


Keduanya saling memberi tatapan penuh intimidasi, menyiapkan amunisi kata untuk saling menjatuhkan.


"Saya, dengan tulus, mau mengucapkan banyak terima kasih atas makan malam ini." Yundhi berbicara formal. "Setidaknya sekarang saya tahu perasaan Tiara yang sebenarnya dan sebagai laki-laki setidaknya anda sudah berusaha tapi sayang sasaran anda salah." Yundhi dengan nada meremehkan.


Wajah Deki tampak datar mendengar ucapan Yundhi.


"Jangan merendahkan diri, dengan mengambil apa yang sudah menjadi milik orang."


"A-KAN. Kalian belum resmi menikah. Tiara masih bisa memilih," koreksi Deki cepat.


Mata Tiara melotot pada Deki. Laki-laki itu benar-benar nekat.


Yundhi tertawa mengejek sembari membuang muka sekaligus menahan amarah.


"Saya akan pastikan undangan pernikahan saya dan Tiara akan anda dapatkan besok pagi. Dan, terima kasih sudah pernah membantu calon istri saya melewati sebagian kecil masa sulitnya," akhirnya ia melakukan apa yang di minta Mimi untuk berterima kasih pada Deki secara resmi. Yundhi berdiri merapikan penampilannya, menarik kerah jas yang membalut tubuh atletisnya dengan dagu terangkat.


" Enjoy the food, it's really good, A-LONE." Tutup Yundhi, menekankan kata alone bermaksud mengejek. Tiara hanya bisa geleng-geleng kepala.


Meski terlihat tenang, rahang Deki mengetat menandakan ia tersentil dengan ucapan Yundhi.


"Kalau," Deki berhasil menunda niat Yundhi untuk pergi, "saya mendapati Tiara menangis lagi tanpa anda di sisinya, pastikan anda harus waspada karena saya bukan orang yang suka menyia-nyiakan kesempatan." Lagi-lagi Deki memberi ancaman pada rivalnya itu.


"Jangan mimpi, bro!" ejek Yundhi.


"Kalau perlu saya akan menunggu sampai dia menjadi seorang jan___"


"Deki, stop! Ayo kita pergi, ini udah ga bener!" ajak Tiara cepat.


"Saya sarankan anda jangan berharap, karena saya pastikan itu tidak akan terjadi. Permisi."


Yundhi kemudian berdiri, menggandeng tangan Tiara meninggalkan tempat itu dengan perasaan jengkel luar biasa. Sudah ia duga sebelumnya, makan malam hanya kedok Deki untuk menikungnya. Tiara melemparkan senyum kikuk pada Deki dan mengucapkan kata 'sorry you lose' tanpa suara.


Deki hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.


"Kamu serius mau hotel ini?" tanya Yundhi saat mereka melewati pintu keluar restauran, "aku bisa telpon pemiliknya sekarang dan kita beli sahamnya."


Mulut Tiara menganga lebar, buru-buru ia menolak dan mencegah hal gila yang Yundhi pikirkan.


***


"Kenapa kakakmu belum pulang Wahyu, memang tadi mau kemana lagi? Sudah malam begini"


Helma terlihat cemas di ruang tamu di temani Wahyu yang bermain dengan boneka dino kesayangannya.


Kecemasan Helma bukan tanpa alasan. Tadi siang ia menerima surat dari bank untuk Tiara. Entah apa isi surat itu. Pikirannya sudah bercabang kemana-mana. Mungkinkah Tiara mengambil pinjaman di bank, tidak sanggup menyetor cicilannya hingga nanti rumah mereka di sita. Pikir Helma yang membuatnya berjalan mondar-mandir dilingkupi kecemasan hebat.


Helma sudah mencoba menyembunyikan rasa cemas tapi gagal karena Tiara langsung bertanya "Ada apa tante?"


Seolah bisa membaca kegundahan ibunya itu laksana buku yang terbuka.


***


"Tante tenang saja, besok biar Tiara yang urus, ini bukan masalah utang-piutang, ayah ga pernah ngambil pinjaman dari bank, begitupun saya. Mungkin ada masalah lain."


Yundhi belum memberi tanggapan. Ia masih serius membaca surat yang datang dari salah satu bank swasta itu.


"Apapun masalahnya nanti tolong beritahu tante, kamu bisa janji kan?"


"Tante jangan tegang gitu, Tiara benar ini bukan masalah utang-piutang, kalau itu masalahnya pasti ada bukti tunggakan atau nominal angka yang belum di setor. Bisa jadi masalah deposito atau masalah keuangan yang lain. Besok biar saya sama Tiara yang ke sana, kalau ada apa-apa saya bisa minta bantuan pengacara keluarga, jadi tante ga usah khawatir!" ujar Yundhi menenangkan.


"Begitu ya, tante bisa sedikit lega sekarang. Tante soalnya belum baca surat itu, tapi kalau yang datang dari bank pastinya ga jauh-jauh dari masalah finansial."


"Maaaaa! Temani Wahyu tidur." Suara Wahyu setengah berteriak dari dalam kamar di sela pembicaraan mereka.


"Kalau begitu tante masuk dulu, nak Yundhi nanti bawakan kue yang tadi tante janjikan ya, sudah tante bungkus di atas meja makan."


"Beres tante." Yundhi mengangkat jari jempolnya pada Helma yang berlalu meninggalkan mereka. Pandangannya kemudian beralih pada Tiara.


"Biar aku yang bawa surat ini, kalau kamu yang pegang aku yakin kamu ga tidur-tidur."


***


Besoknya Tiara mengunjungi bank swasta yang mengirim surat panggilan untuknya kemarin. Di temani Yundhi, Tiara melewati pintu masuk dengan jantung yang berdetak tak karuan. Seorang penjaga keamanan menyambut mereka dan bertanya tentang keperluan mereka ke sana. Tiara menunjukkan surat yang ia terima kemarin dan petugas keamanan tersebut mengiringnya ke ruangan lain di sana yang terpisah dari counter teller dan customer service. Ruangan itu adalah ruangan pimpinan cabang dari bank tersebut. Seorang wanita seumuran Citra menyambut mereka dan mensilakan mereka duduk.


"Terima kasih sebelumnya sudah mau datang," buka wanita anggun itu, Tiara membaca name tag yang terjepit di seragamnya, Eva Haris, nama yang tertera di sana.


"Maaf sebelumnya kalau surat panggilan buat mbak Tiara terlambat kami kirim, ini kesalahan kami yang terlambat mengetahui tentang kepergian bapak Adib," sambungnya.


Tiara mengernyit heran. Yundhi menggenggam tangannya erat.


"Jadi surat panggilan yang saya terima sebenarnya tentang apa?" tanya Tiara to the point.


"Jadi begini, bapak Adib beberapa tahun lalu menyimpan dana deposito di bank kami sebesar delapan puluh juta dan dana asuransi senilai enam puluh juta." Mulut Tiara sedikit menganga tak percaya apa yang ia dengar, "untuk deposito masa berakhirnya tiga bulan yang lalu, secara otomatis masuk ke rekening bapak Adib, tapi dengan keadaan yang sekarang dana tersebut akan di terima ahli waris beliau, di sini tertulis penerima manfaat dana ini adalah anaknya, Tiara Pradita Putri. Untuk asuransi masa setornya berakhir bulan lalu, tapi seperti yang mba Tiara ketahui, almarhum belum sempat menyetor beberapa bulan, jadi dana yang akan cair nanti di kenai penalti, tapi mba Tiara tak perlu khawatir, kami dari pihak bank memberi kebijakan untuk penaltinya hanya akan di potong sejumlah satu bulan setoran saja. Mohon di maklumi ini sudah menjadi kebijakan, kalau mba Tiara keberatan___"


"Tidak, saya tidak keberatan." potong Tiara cepat. "Kalau perlu silahkan di potong sejumlah bulan yang belum di setorkan oleh ayah saya, saya tidak ingin ada tunggakan apapun," giliran wanita itu yang menganga karena biasanya yang ia hadapi ahli waris lain pastinya akan keberatan dengan berbagai potongan apalagi penalti.


"Ah, begitu ya mba Tiara. Tapi kemarin kami sudah memutuskan dalam rapat kalau yang akan di potong hanya sejumlah tersebut. Ini sudah di tetapkan, jadi kita sama-sama ikhlaskan saja, bagaimana?"


Tiara memandang ke arah Yundhi, matanya mengisyaratkan meminta pendapat lelakinya itu. Yundhi menganggukkan kepala, artinya Tiara bisa menerima keputusan dari pihak bank.


"Baik, saya setuju. Artinya ayah saya tidak meiliki tunggakan setoran apapun lagi bukan?"


"Iya, tentu saja."


Tiara menjabat tangan wanita di depannya sebagai bentuk akad mereka.


"Dan untuk pengalihan dananya mohon mba Tiara bersedia membuka rekening baru untuk memudahkan proses selanjutnya."


***


Tiara dan Yundhi keluar dari gedung bank swasta itu dengan rasa penuh kelegaan. Tadinya mereka mengira kalau almarhum Adib memiliki masalah keuangan yang serius dengan bank tersebut. Yundhi malah sudah menghubungi pengacara keluarga untuk bersiap-siap jika di butuhkan guna menghadapi pihak bank.


Tiara membagi dana yang cair dari deposito dan asuransi itu menjadi dua rekening terpisah. Satu atas nama dirinya, satu lagi atas nama Wahyu. Ia membuatkan tabungan rencana untuk adik laki-lakinya. Setidaknya dengan begitu Tiara tak perlu khawatir tentang biaya pendidikan Wahyu nanti.


"Sekarang kita ke kementrian kan, hadiri seminar kamu?" tanya Yundhi ketika mereka berjalan menuju parkiran."


"Hm, kenapa?" tanya Tiara curiga, karena Yundhi pun bertanya dengan nada yang tidak begitu mengenakkan.


"Setelah seminar ini ada urusan lain yang harus kamu selesein ga?"


Tiara berpikir sejenak.


"Kayaknya ga ada," jawab Tiara kemudian.


"Bagus, siapkan diri kamu buat pernikahan kita!" Yundhi berkata dengan penuh keyakinan. Ada tuntutan dan sedikit paksaan dalam kalimatnya. Seolah kata-katanya adalah bersifat mutlak dan tidak bisa di bantah.


"Aku males harus hadapi Deki-Deki yang lain," imbuh Yundhi, "pernikahan kita aku percepat."