
"Ini rumahnya Yaris?" Tiara tidak bisa menyembunyikan rasa kagum yang timbul begitu saja saat mobil mereka memasuki pelataran rumah salah satu sahabat suaminya.
"Muka kamu jangan kayak gitu, rumah kita lebih bagus."
"Kalau ga ada perlu kamu ga bakal ajak aku ke sini kali ya."
"Ngapain nyari orang rese macam Yaris, ini kita nyari Ralin."
"Rese gimana, perasaan kalau kita ada masalah Yaris yang paling dulu khawatir."
Yundhi tertawa datar mendengar Tiara membela Yaris. Dari sudut pandang sang istri Yaris memang sangat baik terhadap keluarga mereka, tapi dari sudut pandang Yundhi, lain lagi.
"Iya, dia khawatir karena takut saingannya di permainan saham ga ada lagi, ga seru kata dia kalau dia main sendiri, kalau ada masalah tentang salah satu dari kami jadi sorotan publik, ngaruh ke acara kejar-kejaran di permainan bursa."
"Maksudnya kami siapa nih?"
"Aku sama Yaris, sama dokter itu?"
"Reyhan?"
"Hm, jangan di bahas , hari ini dokter itu menang banyak, udah, kamu ga bakal ngerti."
Dari gelagat Yundhi yang enggan menyebut nama Reyhan tampaknya memang terjadi hal yang tidak di harapkan Yundhi hari ini. Istilah menang banyak bisa jadi adalah nilai saham yang di miliki Reyhan harganya naik melebihi harga saham suaminya. Di samping pekerjaan utama Yundhi sebagai pilot, ada pekerjaan lain yang memang di geluti Yundhi, begitupun Yaris dan Reyhan. Sesuatu yang mereka sebut permainan kadang adalah istilah yang melibatkan uang yang jumlahnya tidak sedikit.
Tiara, oleh Yundhi, di beri batasan mengenai pekerjaan sampingan sang suami. Yundhi mungkin punya alasan khusus, dan katanya Tiara hanya perlu menikmati hasil. Urusan berusaha dan berpikir itu masalah Yundhi. Dan hasil yang Tiara nikmati semuanya legal.
"Mari silakan masuk, aku udah nungguin lho dari tadi." Ralin menyambut ramah kedatangan Yundhi dan Tiara di pangkal pintu. Mereka di giring langsung ke ruang tamu yang cukup luas. Di sana Tiara melihat foto pernikahan Yaris dan Ralin terbingkai dalam ukuran besar.
"Anggap rumah sendiri ya, aku ambil minum dulu, ada majalah di bawah meja kalau bosan Ra." Ralin meninggalkan mereka ke dalam setelah Tiara dan Yundhi menikmati sofa empuk ruang tamu rumah itu.
"Kayaknya kamu ga pernah ngajak ke nikahannya Yaris."
"Memang, mereka nikah waktu aku masih pendidikan kalau ga salah. Aku cuma kirim hadiah waktu itu. Nikahan mereka itu dadakan, begitu Yaris datang mau lamaran, malah di minta langsung nikah aja sekalian sama bapaknya Ralin. Biar ga capek bolak-balik katanya, almarhum bapaknya Ralin ga tahu aja segimana kaya menantunya. Di kira Yaris ga punya ongkos bolak-balik ke Lombok."
"Mba Ralin asli Lombok?"
"Mungkin, katanya kampung halamannya di Lombok, tapi dari rautnya kayaknya punya darah campuran."
"Ngobrolin aku ya?"
Ralin datang dengan membawa baki berisi tiga cangkir minuman. Di belakangnya, seorang asisten membawa beberapa toples makanan kecil pendamping.
"Eh, kita ngerepotin ya jadinya."
"Aku suka di repotin lho Ra, jarang-jarang soalnya, maklum di sini ga ada keluarga."
Teh panas beraromakan blackcurrant merebak di sekitar mereka. Tiara bisa memastikan teh yang di sajikan Ralin sama dengan teh yang biasa di minum mertuanya.
"Keluarganya di mana mbak Lin?" Sementara Ralin dan Tiara mengobrol, Yundhi memilih mengambil salah satu majalah bisnis yang tersusun rapi di bawah meja tamu. Pendengarannya menangkap sambil lalu percakapan sang istri.
"Keluargaku semua di Lombok, kalau Mas Yaris kebanyakan di Bandung. Kita pindah ke sini karena Papa memutuskan kantor pusat di pindah ke sini, ya gitu deh, jadi Mas Yaris yang ngurus dari awal sampai megang sendiri gantiin Papa."
Tiara menanggapi dengan anggukan semua cerita yang mengalir dari Ralin. Seprertinya wanita itu memang kesepian, begitu mendapat tamu, sesuatu yang langka bagi Ralin, l Ralin sangat bersemangat bercerita. Tiara seperti oase yang menampung aliran cerita Ralin saat itu.
"Sambilan di minum Ra, Cobain kuenya juga. Yundhi kenapa diam aja, ayo di minum, atau aku ganti kopi?"
"Bawa kopi Lombok juga ga ke sini? Kalau ada boleh deh Lin. Lama juga ga minum kopi kampung halamanmu." Kata Yundhi dengan nada santai yang langsung mendapat pelototan tajam Tiara, ga sopan, ngerepotin, amit-amit nak jangan ngikut tingkah papamu, batin Tiara sambil mengusap perutnya.
"Ga apa-apa Ra, Yundhi dulu kalau ke sini ketemu Yaris memang di bikinin kopi."
"Tapi kita ke sini jadi double ngerepotin, mana mau di kasih babysitter, sekarang betingkah lagi minta ganti minum."
Yundhi tak ambil pusing dengan keluhan sang istri, fokusnya tertuju pada majalah yang ia baca. Ada yang menarik perhatiannya di salah satu halaman.
"Kamu belum lihat gimana ributnya mereka kalau sudah kumpul bertiga, ribut kayak preman pasar Ra."
"Pernah sekali, berisik memang, mereka kalau ketemu kayak cewek pms, akur cuma nol koma satu persen, sisanya main urat."
Tawa Tiara atau Ralin tak terelakkan. Kali ini Yundhi menunjukkan reaksinya.
"Ketawa aja terus, gitu-gitu juga suami kalian, lain kali kalau kumpul sama Mega juga, aku videoin, kita lihat mana yang lebih berisik."
Tiara mencebik mendengar komentar Yundhi.
"Boleh tu Ra, lain kali kita kumpul-kumpul sama Mega."
"Aku sih oke-oke aja Mba, memang ga banyak kegiatan, kalau Mba Ralin sama Mba Mega ada waktu kita bisa kumpul."
"Mega gampang kok, sekarang ga yerlalu sibuk, aku udah minta dia rekrut manajer sama karyawan tambahan buat ngurus kafe."
"Mba Mega kerja sama mba Ralin?"
"Iya, dia manajer aku dari dulu, dari awal buka kafe waktu masih lajang, dulu sih masih kedai biasa, sekarang udah berkembang. Semenjak nikah sama Reyhan aku minta dia tambah karyawan buat bantuin. Meganya yang suka kerja, ga mau berhenti biar Reyhan yang minta. Udah terlanjur sayang sama kafe kita katanya."
Tiara mendengarkan dengan baik semua cerita Ralin. Menjadi hiburan tersendiri baginya mengobrol dengan sesama ibu muda. Selama ini teman mengobrolnya Mimi Jenny yang notabene masih lajang. Sedang Citra dan Ranti termasuk sudah sepuh. Iya kan?
"Omong-omong, gimana babysitternya? Beneran mba Ralin ga pake lagi buat Arya atau nanti buat rencana nambah momongan mungkin?"
Tanpa harus menggunakan kepekaan tinggi ada suasana yang tidak enak yang tercipta setelah Tiara menyelesaikan kalimatnya. Ralin menjadi sedikit sendu, pandangannya tak tentu arah , wanita itu salah tingkah.
Yundhi berdehem pelan, menentukan apa yang harus di ucapkan. Tanpa Tiara duga suaminya itu terlepas dari majalah bisnis yang dia baca.
"Ada kok, tadi aku sudah suruh siap-siap, dia orangnya pintar ngurus anak, telaten, makanya aku kasih ke kalian. Arya udah ga butuh susternya kok, santai aja. Dari pada kalian repot nyari yang lain, mending yang memang yang udah pasti aku tahu gimana kerjanya, makanya waktu Yundhi telpon aku langsung ngajuin susternya Arya."
Yundhi tidak menyangka Ralin bisa begitu tenang saat menjelaskan pada mereka, dia bahkan sudah merasa tidak enak sejak tadi. Istri sahabatnya itu sangat bisa menguasai diri. Mungkin hanya dia yang tahu keadaan Ralin sebenarnya. Tanpa sengaja Tiara menyentil sedikit perasaan Ralin sepertinya.
"Sebentar ya aku panggilkan, kayaknya lagi perpisahan sama Arya." Ralin berlalu masuk menjemput babysitter yang ia ceritakan.
"Kayaknya aku belum cerita tentang Ralin ke kamu ya Ra?"
"Dari tadi mulutku udah gatal tentang suasana yang berubah, apa aku salah ngomong?"
"Nanti deh aku ceritain di rumah."
***
"Kenalin Ra, ini suster Ana."
Di hadapan Tiara dan Yundhi berdiri seorang wanita berusia sekitar empat puluhan. Raut wajah wanita itu sangat teduh dan ramah. Ada garis-garis putih yang terselip di rambut hitamnya.
"Ga perlu di training lagi, suster Ana udah pengalaman, tadi Arya sempat ga mau lepas kalau aku ga janjiin mainan."
Wajah Tiara berbinar. Melihat Ana yang sangat di agung-agungkan Ralin, Tiara yakin Edward juga akan menyukai penjaga barunya.
"Saya Tiara, ini Yundhi suami saya, salam kenal suster Ana." Tiara mengulurkan tangan, bergantian dengan Yundhi. Ana mengangguk hormat pada calon majikannya.
"Mba Ana jangan khawatir, mereka orang baik kok, bakal betah kayak di sini."
Suster itu menyunggingkan senyum ramah mendengar celotehan Ralin. Suasana yang tadinya sempat kaku, kini kembali cair.
"Saya ga jago-jago sekali kok, mohon nanti di bimbing lagi!" kata Ana penuh kerendahan. Tiara langsung menyukai wanita itu dengan hanya melihatnya.
***
"Kita kemana lagi? Kenapa ga ke arah rumah kamu nyetirnya?"
"Kita ke rumah calon."
Tiara memicingkan mata mendengar jawaban suaminya. Ana yang duduk di belakang sedikit gelisah mengira akan ada kejadian tidak mengenakkan. Kata calon seakan mengundang hal negatif dalam hubungan suami istri meski dalam pembicaraan santai.
"Calon rumah baru Ra, cepet banget sih reaksinya."
"Lagian kamu ngomongnya setengah-setengah, kamu serius beli rumah?"
"Kalau aku main-main kita ga ke sini deh."
"Rumah jadi atau gimana?"
"Rumah jadi, sedang di renovasi, mungkin sebulan lagi baru selesai, aku belinya lewat Yaris juga."
"Kamu kapan belinya sih, udah main renovasi segala." Tiba-tiba saja Yundhi meminggirkan mobilnya, "kenapa, ada yang lupa?"
Yundhi melihat pada Tiara dengan wajah datar tanpa dosa, "aku lupa rumah itu mau jadi kejutan."
"Terus?"
"Ya kita pulang kalau gitu, lihatnya nanti saja kalau benar-benar udah jadi, udah siap di tempati."
Tawa kecil Tiara di ikuti oleh Ana di belakang. Yundhi memutar kembali arah kendaraan.
"Sebenarnya aku ga keberatan kalau kita lihat-lihat sekarang, tapi jujur aku suka kok tinggal sama Mama sama Oma. Aku bosan kesepian dari kecil tau ga."
"Ya tetap aja nanti kita butuh privasi, ga mungkin kan sama Mama terus sampai Edward gede punya tiga adik. Lagian kita ga langsung pindah besok sayang."
"Tadi kamu belum jawab, kapan beli rumah itu."
Yundhi.tampaknberpikir.
"Sekitar dua bulan yang lalu kalau ga salah."
"Dua bulan yang lalu? Terus aku ga tau, hebat banget ya kamu." Tiara sarkas.
"Prosesnya cepet banget Ra, salah satu relasi Yaris ownernya, beliau buru-buru mau pindah ikut suaminya ke luar negri. Yaris bingung juga mau nawarkan ke siapa kalau mesti cepat-cepat, kepikiran aku tu anak. Dia kirim-kirim gambar rumahnya, lusanya kita deal harga. Uangku kurang dikit, jadi pinjam dulu sama Papa."
Tiara menghela napas mengumpulkan kesabaran, ada perasaan yang membuatnya merasa kehadirannya tidak penting karena Yundhi mengambil keputusan tanpa melibatkannya. Itu sisi Yundhi yang tidak Tiara sukai, sisi Prasetya.
"Kalau gini kamu tu ngeselin tau ga, keputusan sebesar ini kamu ga tanya aku dulu."
***
Mungkin maksud Yundhi sangat baik, mau menyenangka istrinya. Tapi ada kalanya, meski tidak harus, jika mengenai satu perkara dalam rumah tangga ada baiknya perkara itu di bicarakan dua belah pihak.
Membeli sebuah rumah, bukan perkara besar bagi Yundhi, hingga dia merasa tidak perlu memberitahukan sang istri. Toh dia berencana ingin membuat kejutan untuk Tiara. Sayangnya pria itu tidak pandai dalam mengolah strategi.
Jika Ana tidak ikut dengan mereka, mungkin Yundhi aka melanjutkan perdebatan kecil itu. Setelah kalimat terakhir yang di ucapkan, Tiara belum bicara lagi sampai mereka tiba di rumah.
Ada pemandangan aneh menyambut Yundhi dan Tiara ketika mobil yang mereka tumpangi telah memasuki pekarangan rumah. Satu buah mobil milik kepolosian dan satu lagi mobil yang Yundhi kenali sebagai milik Rudy, pengacara keluarganya, terparkir di halaman.
Baik Yundhi atau Tiara sama-sama mengerutkan kening. Kenapa ada mobil polisi di halaman rumah mereka?