
Tengah malam setelah acara lepas kangen selesai, gemuruh lapar menyerang Tiara. Antara rasa kantuk dan lapar, Tiara dengan berat hati mengangkat tubuhnya dan memupuk kesadaran.
"Yundhi!"
"Hm."
"Yundhi!"
Tidak ada jawaban.
"Aku pengen nasi goreng sama roti bakar."
Dalam alam bawah sadarnya Yundhi merasa mendengar kalimat 'nasi goreng dari koki berbakat.'
"Koki yang mana, sayang?" tanya Yundhi yang juga berusaha menyadarkan diri. "Restorannya masih buka ga sekarang? Besok deh kita nyari."
Dengan mata terpejam Yundhi mencari ponsel yang tadi ia taruh di atas nakas.
"Roti sanyang, bukan koki."
Kali ini Yundhi mengerjap, setelah menemukan yang ia cari, Yundhi mengenakan baju kaos yang sempat ia lepas sembarang.
"Aku pengen roti bakar sama nasi goreng."
"Lapar ya?" Tiara mengangguk.
"Aku bangunin Bibik dulu."
"Ga usah, aku mau masak sendiri, kamu temenin."
"Yakin mau masak?"
"Iya."
Yundhi sadar saat ini dia di hadapkan dengan siklus ngidam mendadak Tiara. Kali ini masih lebih baik, dari pada dulu dia harus mencari bubur kacang hijau jam tiga pagi. Jam tiga pagi, dia harus menggedor pintu pedagang bubur di belakang kompleks perumahan yang ia tempati.
"Ayo kalo gitu."
Yundhi turun lebih dulu dari tempat tidur, baru kemudian ia membatu Tiara.
"Yakin ni mau masak?" tanya Yundhi lagi, masih tidak tega kalau Tiara harus memenuhi sendiri keinginan ngidamnya.
"Iya, yakin."
Pada akhirnya di sinilah Yundhi sekarang menemani Tiara membuat nasi goreng dan roti bakar di dapur, pukul tiga pagi.
Tiara mulai beraksi setelah perjuangannya menyiapkan bahan yang diperlukan. Sesekali Yundhi terkesiap, mengangkat kepala secara tiba-tiba karena masih mengantuk. Tapi, bunyi kompor yang di nyalakan membuat kesadarannya kembali. Tiara mulai memasak.
"Rotinya mau di panggang pakai teflon?" tanya Yundhi melihat dua kompor di nyalakan bersamaan, "kenapa ga pakai alat panggang aja?"
"Lebih enak yang di teflon, rotinya lebih empuk, kalau pakai panggangan, rotinya jadi keras."
Yundhi mengangguk mengerti.
"Biar aku yang bakar."
***
Tiara memancarkan wajah cerah. Yundhi bisa menemaninya untuk menjalani jadwal pemeriksaan kandungan rutinnya tiap bulan. Dia sempat mengira akan melakukan pemeriksan sendiri saat Yundhi tidak kinjung kembali dari tugas. Rasanya pasti tidak menyenangkan. Siapa yang akan membantunya bangkit dari kursi tunggu jika Yundhi tidak ada. Dia sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Yundhi.
"Sebentar, aku mau ke kamar mandi lagi."
Begitu mereka akan memasuki mobil, Tiara kembali masuk ke dalam rumah untuk buang air kecil. Untuk ke sekian kalinya. Semakin besar kandungan istrinya itu, membuat intensitas Tiara merasa ingin mengeluarkan air seni makin sering. Tentu saja dikarenakan pergerakan sang calon bayi yang terus menekan kandung kemihnya menjadi salah satu penyebab.
"Hati-hati, aku tunggu di sini." Yundhi memilih menunggu sang istri di samping kendaraannya yang baru selesai di panasi.
Di dalam rumah, Tiara bisa melihat asisten rumah tangganya sedang memasak, dan suster Anna menjaga Ed bermain.
"Ada yang lupa Non? Biar Bibik ambilin." Asisten yang bernama Bik Jemi itu sigap menghampiri begitu melihat Tiara masuk kembali.
"Enggak Bik, saya mau pipis, biar pakai kamar mandi yang di kamar bawah."
Asisten itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan masakan terbaik andalannya.
"Sus, titip Ed ya."
"Iya Bu."
Tiara berlalu melewati Edward yang menggeluti beberapa mainannya, Tiara kembali berjalan keluar setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
"Udah?" sambar Yundhi begitu melihat Tiara muncul dan di jawab anggukan oleh sang istri.
Ia kemudian membuka pintu mobil untuk Tiara.
Belum saja satu kilometer perjalanan mereka, Tiara kembali merasakan panggilan alam itu. Rasanya cukup kesal, padahal belum lewat setengah jam yang lalu ia sudah buang air kecil.Tapi Tiara tidak mengungkapkannya pada Yundhi, ia ingin menahannya hingga mereka tiba di tempat praktek dokter.
Tiara merasa cukup aneh. Saat mengandung Edward, dirinya tidak begitu merasakan hal seperti ini. Seingatnya dulu intensitas buang air kecilnya saat hamil Ed biasa-biasa saja meski kandungannya menginjak sembilan bulan.
"Tumben kamu ga ikut nyanyi," celetuk Yundhi saat mereka berhenti di depan lampu lalu lintas yang menyala merah, "tadi semua kan lagu kesukaan kamu."
"Aku pengen pipis lagi."
"Hah?!" Yundhi tampak kaget, tentu saja, masalahnya beberapa saat lalu Tiara sudah melakukannya.
"Cari kamar mandi umum deh, di pom bensin atau di mana gitu," pinta Tiara, dia tidak tahan kalau harus menahan lebih lama.
"Kita cari yang bersih deh, di mana ya?" Yundhi mulai berpikir, dan merasa tidak asing dengan daerah yang ia lalui, "sepuluh meter lagi kita bakal lewati hotelnya Yaris, kita ke sana deh."
Tiara mengangguk setuju.
***
Baru tiga hari ini Tiara merasakan hal itu. Intensitas buang air kecilnya meningkat tajam. Tengah malampun panggilan alam itu selalu mengusiknya beberapa jam sekali. Sempat terpikir untuk mengenakan popok dewasa tapi belum membeli popok itu saja Tiara sudah merinding membayangkan bagaimana rasa saat memakainya.
Tidak.
"Ngapain Bung?" Yaris muncul di lobi hotelnya dan menyapa Yundhi yang duduk di sofa depan meja resepsionis.
"Minjem kamar mandi hotel lo," jawab Yundhi dengan nada enteng.
"Terus kenapa lo duduk di sini?"
"Bukan gue, Tiara."
"Ooh, muka lo kenapa?" telah lama saling mengenal Yaris bisa menebak wajah serius yang Yundhi pajang saat ini.
"Enggak ada sih, gue kasian aja sama istri gue, ini belum setengah jam kita jalan dari rumah dia udah mau ke belakang lagi, buang air kecil memang, tapi intensitasnya tinggi. Normal ga sih kalau begini?"
"Sori deh, gue ga ada maksud nyinggung masalah Ralin," sesal Yundhi pada sahabatnya.
"It's okay. Kita udah biasa. Udah bisa nerima dari awal."
"Ngobrolin aku?" sela Tiara tiba-tiba.
Mereka berdua sontak melihat pada Tiara.
"Iya," jawab Yaris tanpa beban, "aku heran kenapa kamu bisa kepincut sama pilot tengik ini. Kamu di pelet sama dia Ra, sadar ga sih?" lanjutnya dengan nada jahil.
Yundhi hanya menggelengkan kepala dengan senyum, malas untuk membalas kejahilan Yaris. Angannya masih di penuhi kondisi Tiara.
"Kamu juga melet mba Ralin kali," balas Tiara, "udah deh, yuk jalan."
"Pebisnis kaleng," gumam Tiara lagi.
"Aku denger lho, Ra."
Yundhi dan Yaris kompak tertawa. Entah kenapa malah Tiara yang dongkol.
***
"Wah, sudah masuk bulan ke sembilan minggu ke dua ya Bu Tiara."
"Iya Dok."
"Gimana, ada keluhan?"
"Saya Dok sering banget buang air kecil ya, sekalinya pipis itu agak lama, terus banyak. Hadusnya kan berkurang karena sering."
Dokter itu mendengarkan dengan seksama keluhan Tiara.
"Sudah berapa hari Bu Tiara merasakan gejala seperti itu?"
"Tiga hari ini, Dok."
"Bayinya aktif bergerak?"
Mendengar pertanyaan itu, alarm waspada Yaris memperingati. Kenapa dokter itu menanyakan keaktifan bayi mereka? Apa hubungannya dengan intensitas buang air kecil Tiara?
"Aktif, Dok."
"Oke, kita periksa dulu ya." Dokter wanita itu bicara santai, tidak menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres pada pasiennya.
Di awali dengan pemeriksaan tekanan darah, Tiara kemudian disiapkan untuk pemeriksaan USG.
"Nah, ketemu, Bu Tiara jangan setres ya! Jangan panik!"
"Maksudnya?"
Yundhi yang mendampingi Tiara meremas lembut tangan sang istri. Dia belum mengeluarkan sepatah kata pun, padahal biasanya Yundhi lebih aktif bertanya.
"Bu Tiara keka oligo nih (oligohidramnion)."
Yundhi dan Tiara bertukar pandang, belum mengerti maksud keterangan sang dokter.
"Bisa jelaskan maksudnya?" tanya Yundhi.
"Jadi oligo itu kondisi dimana cairan ketuban lebih rendah dari rata-rata yang di anjurkan." Dokter itubicara dengan nada yang paling santai yang ia bisa, yang Yundhi artikan sebagai bentuk pengalihan agar mereka tidak panik dengan keadaan yang terjadi.
"Untuk kasus Bu Tiara, ini air ketubannya sudah minus, tapi hebat ya, bayinya kuat, aktif nih."
Yundhi dan Tiara tercengang sekaligus takut mendengar penjelasan santai dokter itu.
"Bisa lebih detil lagi ga dok?"
"Begini, jadi tanpa Bu Tiara sadari air ketuban Ibunya keluar bersama air seni yang keluar ketika merasakan ingin buang air kecil. Kalau air seni dan air ketubannya sama-sama bening tentu saja Bu Tiara tidak akan curiga, hal ini juga sering terjadi kok, bukan Bu Tiara saja yang mengalami, hasilnya kita cetak dulu ya, lanjut di meja yuk."
Selang beberapa menit Yundhi, Tiara dan Dokter itu duduk berhadapan kembali.
"Jangan tegang lho, situasinya ga buruk kok."
"Jadi, istri dan bayi saya sebenarnya keadaannya bagaimana?"
"Ibu dan anak bapak dalam keadaan baik, baik sekali malah. Hanya ada masalah yang terjadi pada kandungannya, dalam hal ini air ketuban Bu Tiara banyak berkurang dalam waktu singkat. Ada beberapa penyebab oligo ini terjadi, ketuban pecah tanpa di sadari, plasenta mengelupas dari dinding dalam rahim sebelum melahirkan, setres, darah tinggi, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Mungkin Bu Tiara pernah mengalami salah satu hal tersebut?"
Tiara tampak mengingat-ngingat.
"Dulu, waktu awal kehamilan saya memang pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan, pernah menjalani terapi pengobatan, dan memang kemarin sempat setres Dok."
"Ga apa-apa, jangan sedih gitu Bu!" Dokter itu menenangkan karena melihat raut wajah Tiara yang berubah drastis.
"Jadi, solusinya gimana, Dok?" Sela Yundhi yang kini mulai tidak sabar dengan penjelasan berikutnya.
"Jalan yang paling baik ibu Tiara bisa melahirkan secara secar, lebih cepat lebih bagus. Ya bisa saja kita menunggu hingga waktu HPL (hari perkiraan lahir)nya dua minggu lagi, tapi untuk memulihkan air ketubannya ke jumlah rata-rata juga tidak mudah karena sudah minus. Kalau berkurangnya sedikit mungkin bisa saja."
Yundhi menarik napas samar. Sungguh hal ini jauh dari perkiraannya. Bayangannya hari ini, Tiara di periksa, mendapat resep obat, setelah itu mereka pulang.
Kondisi Tiara tidak jauh berbeda, tentu saja dia yang paling shock di sini. Mendengar kata secar lumanyan membuat bulu kuduknya berdiri.
"Bapak bisa pulang du..."
"Enggak Dok, ambil tindakan sekarang, saya mau anak dan istri saya selamat," potong Yundhi cepat, sangat cepat hingga Tiara tidak menangkap dengan sempurna kalimat suaminya.
***
Entahlah, Yundhi tidak bisa menjabarkan perasaannya sekarang. Mungkin dirinya belum memahami dengan baik atas kondisi yang di alami Tiara. Tapi sebagai kepala keluarga, ayah dari anak-anaknya, dan suami dari istri yang sangat dia cintai, Yundhi dengan segala pemikiran logikanya mantap mengambil keputusan agar Tiara di tindak secara secar secepatnya.
Keputusan itu ia ambil bahkan tanpa bertanya dulu pada Tiara. Namun, Tiara bisa memahami tindakan yang di ambil suaminya. Bagaimanapun Yundhi memiliki hak penuh dalam hal mengambil keputusan atas dirinya dan dia rela menerima apapun hasil keputusan suami yang juga sangat ia cintai itu.
Begitu menyelesaikan masalah administrasi, Yundhi menemui Tiara yang sudah berada di ruang inap VVIP rumah sakit. Badannya berbaring miring, pakaiannya berganti dengan seragam pasien, tangannya pun telah di pasangi selang infus.
Yundhi menyingkirkan kursi roda yang tadi di pakai untuk membawa Tiara. Setelahnya, satu kecupan dalam di kening ia daratkan pada wanita pujaannya. Dengan lembut, Yundhi mengusap perut Tiara yang masih membuncit.
"Jangan dipikirin, semua akan baik-baik saja. Mau aku hubungi Mama?"
Menyadari gelar Citra di sebut, Tiara menitikkan air mata.
"Hm, bilangin cepetan dateng! Mama Helma juga, minta pak Mus jemput, biar cepet."
"Oke, nanti biar sekalian aku minta Mama, ambil barang-barang kamu sama anak kita." Yundhi mengarahkan telunjuknya pada sudut mata Tiara, "jangan nangis lagi!"
"Aku ga nangis lagi asal kamu juga nanti nemenin di ruang operasi."
"Iya aku temenin."