
Dua bulan berlalu setelah Tiara keluar dari rumah sakit, ibu satu anak, dan masih calon satu lagi di dalam perut, itu telah kembali pada rutinitansnya seperti dulu. Merawat anak pertamanya, Edward, dan sesekali berkegiatan di luar untuk memeriksa perkembangan bimbelnya dan melakukan kunjungan ke sekolah tempatnya menjabat sebagai pemimpin teratas, Green Yard.
Begitupun dengan Yundhi, setelah mendapatkan kembali lisensi terbangnya, Yundhi kembali menerbangkan pesawat seperti dulu.Tiara masih melarangnya melakukan pensiun dini sebagai pilot. Kata istrinya itu, terbangkan kami bertiga ke Green Land dulu, baru dirinya boleh pensiun. Yundhi tak habis pikir darimana Tiara mendapatkan ide untuk diterbangkan ke Green Land. Apa yang mau di lihat di sana? Salju? Badai?
Sama halnya dirinya ogah-ogahan memikirkan untuk pensiun dini, Yundhi juga ogah-ogahan untuk pulang ke rumah saat baru saja mendaratkan pesawat. Bukan tanpa alasan. Malam nanti dia dan Tiara mendapat undangan untuk menghadiri acara pertunangan Mimi dan Deki. Acara yang di sambut antusias oleh istri tercinta, tapi tidak bagi Yundhi.
Deki tetap Deki. Pria yang ingin menikungnya dulu. Mau Deki berubah menjadi lebih baik seribu kali lipat atau berkamuflase dengan bertunangan sekalipun, tetap saja pria itu memiliki catatan kelam dikepala Yundhi.
"Kamu kok cemberut gitu sih mukanya, kalau ga mau ikut, ya udah aku pergi sendiri, sama Mang Jay." Kata Tiara di depan meja rias dengan tangan yang lincah memoles wajah.
"Kamu? Pergi sendiri? Jangan mimpi!"
Yundhi yang mesih tidur terlentang, belum ada niatan sedikitpun untuk bangun dan bersiap. Membuat Tiara kesal sendiri melihat ulah suaminya yang ogah-ogahan menemaninya.
"Ya udah makanya buruan dong, aku keburu selesai dandan ini, kamu masih aja mager."
"Harus ya kita hadir?"
"Ih, kamu tu ya, ga tahu apa sejarah aku temenan sama Mimi." Tiara mulai emosi.
"Iya, tau, tau. Mimi yang selalu dengar curhatan kamu, meskipun sebenarnya dia juga ga bisa kasih masukan."
"Bukan itu aja, plis deh Sayang, kalau kamu lama beneran, kamu aku tinggal."
Mau tak mau Yundhi mulai bangkit, melihat langsung pada Tiara yang wajahnya telah tertutup make up tipis.
"Ga usah cantik-cantik gitu, bisa ga sih?" Yundhi tiba-tiba sewot.
"Terus, kamu maunya aku tu gimana? Ini make upnya udah tipis lho."
"Ya ga usah pake make up lah, kalau kamu stunning kayak gitu, bisa-bisa si Deki ingat perasaannya dulu ke kamu."
"Kamu muji atau ngeledek sih?"
"Kok ngeledek? Darimana ngeledeknya, jelas aku muji." Yundhi merasa benar sendiri.
"Iya ngeledek. Kamu tu ledekin aku. Gimana mau ingat perasaan kalau lihat perut aku buncit gini, lagian dia mau tunangan lho ini, setahap lagi mau nikahan. Ada-ada aja pikiran kamu tu."
"Ya bisa aja dia ga perhatiin perut kamu."
Tiara geleng-geleng kepala. Ada apa dengan suaminya? Kenapa jadi sensitif begitu?
"Sepuluh menit lagi, kalau belum siap, aku tinggal."
Senjata pamungkas Tiara, membuat Yundhi bergerak menuju kamar mandi dengan kaki yang menghentak ke lantai. Tiara bingung sendiri. Mengajak suaminya ke acara pertunangan sahabatnya kenapa jadi sesusah ini?
Jangan tiru Papamu Nak! Tiara mengusap perutnya.
***
"Tuh kan, ganteng."
"Udah dari lahir."
"Iya, tau, ga usah di perjelas."
Tiara tersenyum puas melihat tubuh Yundhi yang sudah berbalut baju batik hasil perburuan kilatnya. Matanya berbinar senang, dia dan Yundhi akan terlihat serasi dengan busana yang mereka kenakan.
Meski telah di puji sedemikian rupa, tetap saja Yundhi masih setengah hati menghadiri acara itu.
"Kayaknya aku masih jetlag deh, Sayang." Masih berusaha menggagalkan keberangkatan mereka.
"Ga usah banyak alasan. Jetlag dari mana kamu pilotnya."
Patah.
"Kayaknya aku masuk angin, dari tadi mau sendawa tapi ga bisa keluar."
"Nanti aku kerokin."
Patah lagi.
"Ed nanti nangis lho kalau kita tinggal."
"Udah tidur, dia kecapean main."
Gagal.
Yundhi mendesah putus asa. Mau bagaimana lagi, memang takdir dirinya harus bertemu mantan rival.
Tiara mengambil tas kecil di atas nakas kemudian mendekati Yundhi.
"Tu kan cocok, untung aku datang cepat ke tokonya, ini tinggal satu-satunya baju couple resmi di butik langganan Mama." Ucap Tiara bangga melihat bayangannya dan Yundhi di cermin. Kebaya yang ia kenakan terlihat pas di badan dan menonjolkan sedikit perutnya yang mulai membesar.
"Kenapa ga habis aja sih, sekalian."
"Jahat ya kamu, ga hargai usaha aku."
"Iya, hargai kok, aku ga rela aja kamu cantik-cantik di depan mantan."
"Apa sih, mantan, aku belum jadian kan sama Deki waktu itu," Tiara mematut diri.
"Lagian, cantik di mata kamu, ya belum tentu juga di mata orang, udah ah, ayo berangkat!" imbuhnya
Yundhi hanya bisa menurut. Berpasrah diri saat Tiara menarik lengannya. Jujur saja, Tiara berkali-kali lipat terlihat lebih cantik di matanya malam itu. Efek make up dan aura kehamilan sang istri, membuat paras pesona wanitanya itu terpancar jelas.
Kamu ga sadar sih, kalau ga cantik si Deki mana mau dekatin kamu dulu, batin Yundhi.
Tiara dan Yundhi menuruni anak tangga, di sambut keberadaan anggota Prasetya senior di lantai bawah. Citra memandang mereka takjub. Meski hampir tiap hari bertemu menantunya, ia tak bisa menyangkal Tiara tampak lebih cantik malam itu.
"Gimana, pas kan bajunya?"
"Pas kok Ma, Tiara nyaman. Yundhi juga gitu."
"Syukur deh, Mama senang lihatnya."
"Tiara jalan dulu, Ma, Pa, Oma."
"Iya."
"Hati-hati."
***
"Kamu masih pakai jasa pengawal?"
Tiara melihat ke belakang, pada mobil yang berukuran lebih besar yang mengikuti mereka sejak keluar dari gerbang rumah.
"Masih, Papa yang minta, kenapa? Kamu ga nyaman?"
Saat ini mereka di dalam kendaraan dengan Yundhi yang menyetir sendiri. Dirinya menolak di sopiri Mang Jay demi agar tak terganggu mengobrol dengan istrinya selama mereka dalam perjalanan.
"Ga apa-apa sih, aku nyaman kok, asal ga terlalu dekat aja."
"Maaf ya kalau kamu terganggu, tapi aku ga mau ambil resiko kayak kemarin."
"Iya aku ngerti kok."
Peristiwa beberapa bulan lalu masih melekat jelas baik dalam benak Yundhi atau Tiara. Terlebih bagi Yundhi, melihat Tiara yang harus di bantu dengan alat pacu jantung dan di rawat di ruang ICU, menyisakan trauma yang lebih menakutkan baginya. Jika Tiara tidak tertolong waktu itu, entah apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Kendaraan yang Yundhi dan Tiara tumpangi memasuki palataran parkir hotel tempat Mimi dan Deki melangsungkan acara pertunangan. Tiara makin antusias begitu mereka memasuki lobi. Dirinya sangat berbahagia dengan acara pertunangan sahabatnya itu. Mimi tak hanya sekedar sahabat. Mereka bertiga sudah seperti saudara kandung sejak memasuki dunia honorer.
Mimi sering membantunya, mengurusi masalah administrasi dalam pembuatan kartu NUPTK, membantu Tiara sebagai guru pengganti saat Tiara berhalangan mengajar karena ada kuliah, bahkan pernah menunggui Tiara di rumah sakit saat mengalami kecelakaan motor dulu. Bagaimana mungkin dirinya akan melewati hari bersejarah sang sahabat tercinta hanya karena trauma sepele Yundhi?
"Sudah tau aturannya, kan?" Yundhi mulai bicara setelah mereka mengisi buku tamu dan memasuki pintu utama ruang acara.
"Iya, jangan heboh, jangan jauh -jauh dari Tuan Yundhi Edward Prasetya." Jawab Tiara sedikit kesal.
"Bagus."
"Masa iya aku nempelin kamu terus, kalau ada teman lama yang mau ngobrol ga boleh gitu?"
"Boleh," Tiara berbinar, "asal aku ikut, atau jaraknya setengah meter dari tempatku," dan binarnya meredup lagi.
Yundhi benar-benar protektif dan posesif, dia sudah merasa seperti bayi yang harus di jaga setiap saat.
"Emang aku bayi ya?"
"Memang. Baby-nya Yundhi. Kenapa? Masalah? Kita pulang kalau gitu."
"Kamu nyebelin tau ga."
"Tahu, tapi suaminya Tiara juga kan."
Tiara menghela napas, belum apa-apa dia sudah kesusahan bernapas.
"Kita dulu ga pakai acara tunangan kayak gini," ungkap Tiara sedih yang di sengaja, denga suara pelan pula.
"Hm, aku ogah, keburu kamu kabur lagi, mending langsung-langsung aja, kenapa memangnya? Mau di ulang?" Tanya Yundhi cepat.
"Ngapain?, udah mau buntut dua juga, kamu tu ya ga bisa di ajak becanda, bawaannya serius terus dari tadi."
"Efek mau ketemu mantan rival." Jawab Yundhi asal.
"Ih, childish."
"Iya, suami kamu."
"Hm, untung suami."
Lagi-lagi Tiara menarik napas mengumpulkan kesabaran. Dia yang hamil, kenapa Yundhi yang semakin sensi?
Acara sudah akan di mulai. Tiara menempati tempat duduk yang telah disediakan. Seorang kru acara mengiringnya ke sebuah deretan kursi dimana di sana sudah ada Jenny dan seorang teman mengajar di sekolah.
"Hai bumil."
"Hai jombler."
"Ga usah di umumin Ra!"
"Makanya cari pasangan."
"Ini lagi usaha, mudahan ada yang kecantol."
"Kalau pawang ga ikut, aku mau juga cuci mata."
"Aku dengar lho Ra." Sela Yundhi, "jangan mimpi!"
Jenny dan Tiara kompak tertawa yang tertahan. Merasa tak enak jika nanti mereka jadi bahan tontonan jika tawa mereka meledak.
"Laki lo ya, ga berubah dari dulu."
"Jangan sampai berubah, seninya di situ aku ngadepin dia."
"Masa sih?" Tanya Jenny tak percaya.
"Makanya nikah."
"Kalau tipenya kayak laki lo, gue males."
"Cih, kalau udah tahu rasanya, hmm, gue yakin lo bakal jilat liur sendiri."
Mereka kembali tertawa cekikikan. Yundhi hanya geleng-geleng melihat tingkah istrinya, baru di bilangin jangan heboh.
"Udah-udah acaranya udah di mulai tu."
***
Tiba saat acara ramah tamah, begitu rangkaian acara utama selesai, Mimi dan Deki berbaur dengan tamu yang hadir. Aura calon pengantin begitu kuat terpancar dari wajah pasangan itu. Senyum tak pernah sirna dari wajah keduanya.
"Congrats sayang."
Mimi mengecup kanan kiri pipi sahabatnya.
"Thank you udah datang."
Jabatan tangan pun di lakukan. Yundhi begitu sigap saat Deki berjabat tangan dengan Tiara. Padahal Deki hanya kan menjabat sebentar, tapi Yundhi telah memasang ancang-ancang memisahkan.
Matanya seolah berkata, 'ingat, toleransi gue cuma sampai jabat tangan, ga lebih.'
"Selamat ya Deki," ucap Tiara tulus.
"Makasih, Ra."
***
Tiara memandangi tampilan fotonya dengan ke dua sahabatnya. Mereka tampak anggun dalam balutan kebaya. Ia sampai senyum-senyum sendiri. Terakhir mereka berfoto dengan busana kebaya adalah saat hari Kartini beberapa tahu lalu.
"Aku mau post yang ini." Tunjuknya pada Yundhi yang fokus menyetir.
Yundhi menoleh, "kenapa ga post foto yang berdua sama aku?"
Yundhi tahu Tiara sudah jarang menggunakan sosial media, dia pun begitu. Tapi boleh dong sekalinya ngepost sang istri memposting foto mereka berdua.
"Ga ah, nanti kamu di incer selebgram lagi," tolak Tiara.
"Kok gitu?" protes Yundhi.
"Ya gitu."
"Justru harusnya posting foto kita berdua dong, biar teman kamu tahu wajah tampan suami kamu."
"Justru karena wajah tampan ini, aku ga mau tiba-tiba dapat saingan, kamu di incar cewek muda, terus aku di madu, amit-amit."
Yundhi tertawa.
"Gitu ya teorinya?"
"Iyalah, punya suami ganteng harus di sembunyiin, jaman sekarang gitu lho, main suka main embat." Tiara menjawab penuh semangat dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
"Aku ge er lho." Ungkap Yundhi jujur.
"Silakan!" jawab Tiara yang kembali gokus dengan ponselnya.
Terlintas ide gila di benak Yundhi. Wajahnya tersenyum smirk.
Tanpa Tiara sadari Yundhi mengaktifkan kemudi otomatis yang melengkapi kendaraan mewahnya. Perutnya terasa geli mengingat apa yang akan dia lakukan sekarang seperti pengulangan dari kejadian dahulu. Awal mula hubungan mereka.
Bedanya, Tiara kini telah menjadi istrinya, dan sedang mengandung anak ke dua mereka.
Merasa lalu lintas cukup aman, Yundhi menjalankan aksinya.
"Tiara!"
***
Butuh waktu tiga menit Yundhi baru ingin melepaskan pagutannya. Tubuhnya meremang menahan hasrat. Andai mereka sedang tidak dalam perjalanan, Tiara mungkin sudah di lahapnya.
Napas mereka memburu, terutama Tiara. Yundhi benar-benar tak memberinya waktu mengambil napas sedetikpun. Suaminya itu benar-benar tak memikirkan tempat, bahkan menciumnya saat mereka di tengah lalu lintas.
"Kamu lagi nyetir lho," kata Tiara saat kening mereka menyatu.
"Hm, udah aku atur, love you."
Setelah mengucap kalimat itu barulah Yundhi memisahkan diri, kembali fokus pada lalu lintas di depannya. Tiara kembali menyesuaikan dirinya juga, mengambil napas agar kembali normal. Sudah bertahun-tahun menjadi suami istri, dia masih saja gugup jika Yundhi melakukan hal intim.
"Lho, ponsel aku mana?" Tiara menyadari ponselnya tidak ada di tangan.
"Jatuh mungkin, udah lah, nanti aja di ambil, kamu bakal susah gerak." Kata Yundhi bijak.
"Tapi aku belum posting."
"Nanti aja, kan bisa."
"Ga seru dong aku postnya keduluan yang lain."
"Ya di seru-seruin aja."
"Yundhi!"
"Tiara!"
Tiara menyerah, malas memperpanjang lagi perihal foto.
"Ga mungkin kan aku ambilin, lagi nyetir gini."
Tiara ingin menyahut, lha tadi main cium tiga menit bisa, ngambilin hape sedetik doang masa ga bisa?
Sayang kalimat itu hanya terucap dalam kalbunya.
"Ini kita mau ke mana?" Pandangan Tiara mengedar, menyadari arah mereka bukan jalan menuju rumah.
"Mampir ke Bu De Las, hidangan di hajatan Mimi ga banyak membantu."
Mata Tiara kembali bersinar, bakal ketemu sambel.