When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
96: Bucinnya Yundhi



Tiara mengusap perutnya yang masih datar sambil menikmati nuansa tenang rumahnya. Siang itu, Yudhi dan Ochi sedang menikmati tidur siang, dan Tiara meminta para pekerja di rumahnya juga beristirahat. Jarang-jarang dirinya bisa menikmati suasana tenang seperti sekarang. Biasanya ada saja tingkah Yudhi atau Ochi yang membuat seisi rumah gempar.


Tiara memutuskan membuat teh sendiri ke dapur. Kalau di pikir-pikir sudah lama dia tidak membuat teh blackcurrant seperti yang biasa di buat Citra. Tiara menuangkan air panas ke dalam cangkir lalu mencelupkan teh kemasan ke dalamnya. Aroma teh rasa buah itu menguar ke indra penciuman Tiara. Tiara lalu menambahkan satu sendok kecil gula. Dia tidak terlalu suka sesuatu yang manis-manis. Satu sendok kecil saja, sebagai penguat rasa teh blackcurrant itu.


"Hmmm, wangi."


Tiara lalu menuju bagian belakang rumahnya. Duduk di kursi yang di sediakan di samping kolam renang. Waktu yang sangat tepat menikmati teh sambil membaca buku kesukaan. Akan lebih menyenangkan lagi kalau Yundhi bisa menemaninya. Sayang, sang belahan jiwanya itu sedang menjalankan tugas mulia menggantikan Hans memimpin sebuah pertemuan. Yundhi sudah berpesan kalau pertemuan itu akan memakan waktu yang lama. Kemungkinan dia akan pulang tengah malam.


Tiara membuka buku yang ia pegang, setelah satu seruputan teh ia nikmati membasahi tenggorokan.


Belum saja selesai membaca satu halaman, ponsel yang ia letakkan di samping cangkir tehnya bergetar. Sebuah panggilan dari suami tercinta.


"Hallo, Sayang."


"Hallo Cinta."


"Kamu lagi ngapain?" tanya Yundhi di seberang.


"Aku lagi ngeteh, kamu? Sempat nelpon lagi sibuk gitu?"


"Harus sempat dong, apa sih yang ga aku lakuin buat kamu."


"Gombal."


"Lagi istirahat, makanya aku telpon, anak-anak mana?"


"Lagi tidur siang."


"Kamu sendirian?"


"Iya, yang lain juga aku suruh istirahat."


"Sudah makan?"


"Sudah, kamu?"


"Sudah barusan."


"Jadi pulang jam berapa?"


"Belum tahu, pertemuannya alot, kita belum capai sepakat, mungkin bakal sampai malam."


Tiara menghembus napas pelan.


"Kenapa?" tanya Yundhi karena Tiara tidak merespon.


"Enggak ada, ya udah lanjutin pertemuannya."


"Kamu ada ngidam? Ada yang pengen di makan? Biar nanti aku beliin pas pulang."


"Enggak deh, jangan, kamu sibuk gitu."


"Kalau jawabannya gitu berarti ada yang kamu kepengen, udah bilang aja, nanti aku usahain nyari."


"Beneran, ga ada."


"Yakin?"


"Sekali lagi aku tanya, yakin ga pengen apa-apa?"


Tiara diam beberapa saat, tidak menjawab, membuat Yundhi penasaran apa yang dipikirkan wanitanya.


"Tiara, Sayang, ayo kasih tahu kamu pengen apa?"


"Aku takut kamu ga bisa penuhi."


"Kamu ngeremehin aku?"


"Enggak."


"Barang yang kamu mau itu harganya berapa? Mahal?"


"Enggak, lagian ini bukan barang."


"Pengen apa makanya?"


"Aku yakin kamu ga bisa penuhi, Pa."


"Wah, kamu beneran remehin aku lho, Ma. Kasih tahu berapa nominal yang harus aku keluarin buat penuhi ngidam kamu? 10 juta? 50 juta? 100 juta? Satu milyar? Sebutin sayang!"


"Kamu ga bakal bisa beli, ini masalahnya ga ternilai."


Tiara tidak tahu di seberang sana Yundhi sudah berdiri dari kursinya, mondar mandir, panas dingin merasa Tiara meremehkannya. Hal itu membuat egonya terluka. Tidak ada yang bisa meremehkan seorang Prasetya. Apalagi ini hanya masalah memenuhi keinginan ngidam istri tercintanya. Masalah yang sangat sepele bagi seorang Yundhi.


"Apapun itu, berapapun nilainya, bakal aku penuhi buat kamu, Sayang, kasih tahu deh sekarang!"


"Yakin?" goda Tiara.


"Yakin lah."


"Serius?" goda Tiara lagi.


"Sejuta rius."


"Oke, aku kasih tahu, kamu harus tenang, ga boleh panik, janji?!"


"Janji, promise."


"Sebenarnya aku ngidam pengen di peluk kamu aja kok, tapi kan ga mungkin, kamu lagi kerja, ini juga demi masa depan kita, jadi bisa aku tahan kok Sayang sampai nanti kamu pulang, kamu lanjutin aja pertemuannya...hallo?"


Tidak ada jawaban, tapi timer di ponsel Tiara terus berjalan.


"Hallo Sayang?" panggil Tiara, namun tidak ada jawaban dari Yundhi, ponsel itu hening.


"Yundhi Edward kamu masih di sana kan? Udah mau lanjut lagi ya? Ya udah aku tutup..."


"Sayang..." suara Yundhi tiba-tiba terdengar, "sepuluh menit lagi aku sampai rumah, ini lagi di mobil, lagi nyetir. Aku juga kangen, pengen peluk kamu."


"Astaga Yundhi!"


Tiara speechless. Kamu udah janji ga panik.