When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
62 Serangan



Semenjak resmi menjadi seorang ibu, Tiara memutuskan untuk vakum sementara dari dunia mengajar, meski tidak sepenuhnya. Untuk urusan bimbel, dia telah menyerahkannya pada teman-teman yang ia percaya, Tiara hanya memberi keputusan jika ada hal penting atau memberikan tanda tangan dokumen jika di perlukan. Begitupun pekerjaannya menjadi kepala sekolah di Green Yard, yang notabene masih milik keluarga sang suami, untungnya tidak memberatkannya untuk berhenti sementara demi mengurusi Yudhistira. Semua berjalan lancar hingga Tiara menyelesaikan ASI eksklusif untuk sang buah hati selama enam bulan.


Pagi ini Tiara telah dalam kondisi bersih dan rapi. Setelah tadi malam harus melayani sang suami sampai menjelang pagi dan hanya sempat tidur selama tiga jam, Tiara bangun lebih dulu sebelum kedua lelakinya terjaga. Dengan telaten Tiara membereskan kamarnya yang berantakan akibat ulah nakal Yundhi, menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami dan segera memeriksa keadaan putranya di kamar sebelah. Edward masih tidur, suhu badannya sudah kembali normal. Mungkin efek obat yang di berikan di rumah sakit, anak itu tidur lebih lama dari biasanya. Tiara lega dan bersyukur Edward tidak sampai mengalami kejang kemarin.


Tiara berjongkok, menyesuaikan dirinya agar dapat menjangkau Edward di tempat tidur. Di usapnya rambut sang anak, dan menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi dari wajah hingga bagian tubuh Edward yang lain.


"Anak mama kenapa bobonya sampai siang gini, ayo bangun sayang," ganggunya pada Edward.


Berhasil, Ed akhirnya bergerak merasa terganggu ulah sang ibu.


"Bangun bangun bangun, ayo! Papa udah pulang lho," ucapnya di telinga sang anak.


Edward membuka mata, mendapati wajah ibunya ketika matanya terbuka membuat anak kecil bertubuh sehat itu tertawa. Suara celotehan, rancauan khas anak kecil terdengar dari mulutnya. Tiara bisa menangkap Ed bergumam kata 'papa' beberapa kali, membuatnya semakim merasa gemas. Lagi-lagi ia memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah anaknya, membuat Edward tertawa cekikikan.


Yundhi berdiri di ambang pintu penghubung. Menikmati pemandangan indah di depannya. Tiadak ada yang tahu bagaimana ia sangat bahagia memiliki istri yang perhatian dan anak laki-laki yang lucu menggemaskan yang saat ini sedang bermain di depannya.


"Mainnya kenapa kok ga ajak-ajak papa." Tiara menoleh melihat Yundhi berjalan mendekati dirinya dan Ed.


"Tu papa udah dateng," tunjuk Tiara, membuat Ed bangun langsung berdiri menyondongkan badannya ingin meraih sang ayah.


"Kangen ya, sama, papa juga kangen sama Ed, sekarang main sama papa ya, mau ya, Ed mau main apa," berondong Yundhi seolah anaknya memahami semua ucapannya.


Yundhi menggendong Ed menuju area bermainnya yang juga terletak di kamar itu. Tiara sengaja mengosongkan salah satu pojok kamar anaknya dan di jadikan area bermain khusus untuk Ed. Semua mainan anaknya di kumpulkan di pojok itu. Ada pagar pembatas dari bahan plastik yang aman untuk menjaga Ed saat bermain. Ada juga lemari yang cukup besar untuk menampung segala mainan milik anaknya. Tidak heran jika lemari besar itu hampir penuh, baik Yundhi, Opa, Oma sampai Eyang Ranti memanjakannya dengan mainan setiap mereka mengunjungi pusat perbelanjaan. Tidak hanya satu jenis, mereka kadang membeli beberapa mainan untuk cucu tunggal kesanyangan keluarga Prasetya.


Kadang Tiara mengeluh, takut Edward terbiasa dengan mainan mahal dan sejenisnya. Tapi anggota keluarganya itu punya banyak alasan untuk menyanggah. Senjata andalan mereka adalah, 'mainan itu untuk merangsang sel motorik atau tumbuh kembang cucu mereka.' Klasik.


"Kata mama Ed sakit, coba bilang sama papa mana yang sakit?" seakan benar-benar paham kata Yundhi, Ed menunjuk pipinya untuk menjawab sang ayah.


"Oh, pipinya Ed sakit," suara tawa Tiara keluar melihat interaksi anak dan suaminya, "o, kasian anak papa, tapi udah sembuh ya sekarang, udah di obatin sama mama, iya?" Ed mengangguk, menggumamkan kata 'mama' beberapa kali di depan Yundhi.


Yundhi dan Edward sudah berada di pojok bermain. Ed bersemangat, tangan mungilnya memegang beberapa mainan secara berganti, memberikannya pada Yundhi kadang meletakkannya sembarangan, sesuka hati.


"Lihat sekarang, siapa yang di cuekin kalau anaknya bangun." Yundhi hanya memberi cengiran saat Tiara mengeluarkan protesnya, melihat mereka dari atas tempat tidur.


"Aku kan wajar udah lama ga ketemu Ed, lama banget malah, ya kan Ed?" anak itu tidak menoleh, masih sibuk dengan mainan ikannya.


Tiara mendekat, ikut bergabung dengan suami dan anaknya. Di ciumnya kening sang anak kemudian memberi ciuman sekilas pada bibir Yundhi.


"Kamu sekarang kenapa suka lupa kasih morning kiss sama aku?" katanya sambil berlalu, berdiri kemudian menuju pintu.


"Masa sih?" Tiara tak menjawab.


"Aku tinggal ke bawah bikin sarapan."


***


Semua anggota keluarga Presetya telah berada di meja makan, kecuali Yundhi yang masih menemani Edward bermain di kamarnya.


Tiara baru menyelesaikan membuat menu sarapan khusus untuk Edward. Menu yang berbeda dari yang di konsumsi anggota keluarganya. Sejak anaknya memasuki masa di berikan makanan pendamping selain ASI, Tiara telah menyiapkan daftar menu khusus untuk Ed dan kadang dirinyalah yang turun tangan langsung membuat makanan itu.


"Gimana Ed, sudah baikan?" tanya Citra saat Tiara mengangkat panci dari atas kompor.


"Udah Ma, panasnya udah turun, sekarang lagi main sama papanya."


"Syukur deh, Yundhi udah pulang?"


"Sudah, tadi malam."


Citra tak melanjutkan pertanyaan mengetahui cucunya sudah membaik, segera menuju meja makan, kembali bergabung dengan Hans dan Ranti.


"Tiara ke atas dulu ya Ma, Pa, panggil Yundhi."


Sebelum menuju kamar anaknya, Tiara lebih dulu masuk ke kamar, menyiapkan air hangat untuk memandikan Ed.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Tiara. Bukan suara ponselnya, tapi dering itu berasal dari posel Yundhi. Tiara meraih ponsel itu di atas nakas, belum sempat ia menekan tombol hijau panggilan itu berhenti. Tiara mengangkat bahu, tak ambil pusing saat yang menghubungi sang suami adalah nomor kantor maskapai.


Tangannya sudah meletakkan ponsel itu kembali, namun ada bunyi lain lagi yang terdengar. Tidak satu kali, beberapa kali bunyi notifikasi masuk ke ponsel suaminya. Tiara sebenarnya tidak ingin peduli tapi bunyi notif itu tak berhenti sampai dia keluar dari kamar mandi.


Karena terlalu penasaran, Tiara membuka daftar notif yang masuk, kebanyakan dari akun sosial media Yundhi. Tapi kenapa banyak sekali, yang ia tahu suaminya sudah jarang menggunakan aplikasi itu dan lebih sering menelpon atau di telpon.


Jarinya menyentuh salah salah satu daftar notif, seketika matanya membulat begitu melihat foto yang di unggah memperlihatkan foto suami dan anaknya.


Mungkin harusnya Tiara senang melihat foto suami dan anaknya. Ia ingat betul saat Yundhi memakai baju di foto itu adalah saat mereka mengajak Ed jalan-jalan ke salah satu mall. Yundhi mengenakan kaos navy berkerah dengan celana selutut, dan Ed juga memakai baju warna senada dengan ayahnya. Ia bisa melihat Yundhi senyum terpaksa di foto itu.


Ia juga ingat dirinya ada di sana waktu itu. Tapi kapan gambar itu di ambil? Kenapa ia tidak tahu ada wanita yang mengambil gambar dengan anak dan suaminya.


Mata Tiara beralih, melihat pada gambar wanita yang mengambil gambar suami dan anaknya. Asing. Tiara tidak mengenalnya. Satu yang di catat Tiara, wanita itu cantik. Matanya kemudian bergerak membaca keterangan di bawah foto. Kalimat yang membuatnya mendidih, sakit, marah dan kecewa di saat yang sama.


'Selfie with my hot daddy.'


Apa-apaan ini? Kenapa ada wanita lain yang mengklaim suaminya?


Tiara harus duduk agar tidak terjatuh saat itu karena kakinya tiba-tiba lemas.


Matanya terus bergerak, membaca satu per satu keterangan di sana. Ada ribuan orang yang sudah menyukai gambar itu, berbagai macam komentar dari para penghuni jagat maya berjumlah hampir ribuan. Bahkan ada ucapan selamat yang di terima wanita itu di kolom komentar. Banyak pula yang memuji dan menulis mereka pasangan serasi.


Tiara makin mendidih.


Ada komentar lain di mana akun itu men-tag akun milik Yundhi. Sudah pasti mereka orang yang mengenal Yundhi. Jumlahnya tak mampu di hitung Tiara. Tepatnya tidak mau. Pantas saja bunyi notif terus terdengar.


Tiara harus menarik napas beberapa kali agar emosinya reda. Ia cukupkan diri melihat gambar yang sebenarnya indah tapi membuatnya emosi jiwa.


Seakan belum cukup, satu notifikasi kembali masuk. Kali ini sebuah pesan pribadi dari teman suminya yang juga ia kenal. Yaris dan dokter Reyhan.


Tiara membuka room chat suaminya, dan sangat menyesal ia harus kembali menelan rasa getir.


Yaris mengiriminya sebuah artikel yang memuat perihal foto Yundhi dengan seorang selebgram ternama. Darah Tiara kembali membara, wajahnya terasa panas, sekujur tubuhnya bergetar.


Di bacanya dengan seksama setiap kata yang di tulis artikel gosip itu, membuat Tiara makin kehilangan kontrol dirinya. Tiara menangis, dadanya sesak, ada benda tak kasat mata menyedot seluruh oksigen dari paru-parunya. Ini terlalu pagi untuk menangis, dan hari terlalu indah jika harus di lewati dengan tangisan.


Beberapa chat masuk dari dua sahabat suaminya yang sepertinya juga merasa khawatir dengan apa yang menimpa Yundhi. Tiara tersenyum miris membaca chat Yaris dan Reyhan yang lebih mengkhawatirkan dirinya dan mengumpati Yundhi dalam tulisan.


Berulang kali tarikan napas dalam di lakukan Tiara agar tangisnya terhenti dan emosinya stabil. Tidak mudah. Tentu saja. Melihat suaminya di beritakan seperti itu, meski berita itu bohong yang di buat-buat, tetap saja ada rasa sakit yang menghujam dadanya.


Fokus. Tiara mencoba menata hatinya. Ada Edward yang harus ia prioritaskan sekarang. Tiara menuju kamar mandi, mengusap wajahnya dengan air, mengeringkannya lalu segera menuju Edward di kamar.


Senyum terpaksa ia layangkan saat dua lelakinya melihat Tiara datang.


"Kayaknya dia lapar, udah ga fokus main." kata Yundhi saat Tiara sudah memasuki area bermain.


"Biar aku mandiin dulu, kamu sarapan aja sekarang." semaksimal mungkin Tiara menyembunyikan rasa sedihnya.


"Kamu udah sarapan?"


"Udah tadi." bohong. Dalam hati Tiara tidak ingin berbohong, tapi otak dan lisannya lebih cepat bereaksi.


"Padahal aku pengen kamu temenin sarapan, biar Ed di titip dulu sama bik Jo."


"Yang lain udah nunggu di bawah, tadi aku duluan karena ga tahan." bohong Tiara lagi, biar saja, dia hanya tidak ingin lebih lama dengan Yundhi sekarang.


"Ya udah tapi kalau udah selesai nanti ke bawah ya." Tiara tak menjawab, Yundhi mengecup kening istrinya. "Jagoan papa mandi dulu ya, nanti kita main lagi."


Yundhi berlalu keluar dari kamar anaknya. Tiara kembali melankolis saat punggung Yundhi menghilang di balik pintu. Air matanya tak mampu ia tahan. Berita sialan.


***


"Tiara mana, kenapa ga ikut sarapan?" tanya Citra saat Yundhi menuruni tangga terakhir.


"Lho, katanya tadi udah."


"Masa sih, perasaan mama belum, dia tadi cuma buatin makanan buat Ed deh."


"Nanti aku panggil deh, sekarang dia lagi mandiin Edward." balas Yundhi yang kemudian bergabung dengan keluarganya.


Beberapa menit berlalu, Tiara tidak juga turun. Tidak ada yang tahu apa yang sudah menimpanya saat itu. Yundhi sedikit merasa aneh, tapi segera ia singkirkan. Mungkin sekarang Tiara sedang menyusui anaknya.


Tiba-tiba suara Tiara terdengar di interkom yang menempel di dinding dapur. Semua bisa mendengarnya, Tiara meminta sarapan Edward di bawakan ke atas oleh bik Jo. Semua orang di meja makan saling melihat.


Kenapa?


Tidak biasanya Tiara mengajak anaknya sarapan di kamar. Mereka pernah di beritahu agar Ed di biasakan makan di meja makan.Yundhi bahkan sudah membelikan kursi makan untuk balita sejak Ed berusia empat bulan.


"Bik, tadi non Tiara sarapan ga di dapur?" tanya Yundhi pada bik Jo yang sedang menyiapkan makanan untuk bayi Ed.


"Seingat bibik sih enggak den, non Tiara mana pernah makan di dapur" jelasnya.


Belum ada yang bisa mencapai pemikiran kenapa Tiara tidak juga turun untuk sarapan.


***


"Biar bibik yang suapin den Edward ya non. Non kan belu sarapan."


"Ga bik, sini biar Tiara yang suapin Ed."


"Kenapa ga di ajak sarapan di bawah non?"


"Lagi pengen di kamar aja bik." tentu saja bik Jo merasa heran mendengar jawaban Tiara. Jika Yundhi ada di rumah mereka akan berkumpul di bawah dan makan bersama. Kenapa kebiasaan itu berubah tiba-tiba?


Suara pintu terbuka, Yundhi datang memasuki ruang. Entah kenapa Tiara merasa sesak, seperti Yundhi mengambil alih seluruh oksigen di ruangan itu. Bik Jo segera pamit setelah sebelumnya meminta di panggil jika tuannya membutuhkan sesuatu.


"Kamu belum sarapan kata mama, kenapa tadi bilang sudah?" Tiara semakin ingin meledak saat semua orang mempermasalahkan perihal sarapannya.


"Udah kok tadi, sebelum mama keluar." jawab Tiara tanpa sedikitpun melihat pada Yundhi Untungnya ia sibuk menyuapi anaknya hingga mungkin Yundhi tidak mempermasalahkan sikapnya yang tidak ramah.


Ayah muda itu terus melihat pada anaknya yang mengunyah makanannya dengan lahap.


"Kamu bikinin apa? Aku boleh cicip ga? Kayaknya Ed suka banget."


"Kalau kamu yang makan pasti ga ada rasanya, ini khusus buat anak balita." jawab Tiara dengan usaha sabar maksimal.


"Dikit aja."


"Ga boleh!" suara Tiara sedikit tinggi, "Please, Yundhi, ini Ed baru sembuh" tidak ada hubungannya tapi semoga alasan itu masuk akal untuk Yundhi.


"Mama pelit ya Ed." Tiara bergeming tak peduli.


Sayup-sayup Yundhi mendengar dering ponsel miliknya di sela ocehan bayi ala Edward. Bertanya sendiri siapa yang berani menghubunginya saat day off.


"Aku tinggal sebentar."


***


"Sinting!" kata Yaris pada temannya.


"Apaan sih lo, main sinting aja."


"Tiara ga apa-apa? Lo ga babak belur sekarang?"


"Kenapa gue mesti babak belur, ngapain lo tanya istri gue?"


"What the hell, Yundhi kamu sudah baca tadi artikel yang aku kirim, kenapa masih nanya balik kayak gitu?"


"Artikel apa sih, gue ga ngerti."


"Terus siapa yang baca chat gue ke lo tadi, jelas-jelas tandanya udah kebaca. Lo ga pernah buka hape? Nama sama foto lo ada di semua artikel gosip sekarang. Gue sama Rey khawatir, bukan apa-apa masalahnya istri lo pernah hampir depresi, kalau dapat serangan kayak gini kita takut rumah tangga lo kacau." Yundhi hampir gagal menangkap setiap arti kata yang di ucapkan Yaris, ia masih tidak mengerti arah omongan sahabatnya itu.


"Rumah tangga gue baik-baik aja, artikel apa yang lo maksud?"


"Percuma gue jelasin, lo mending buka hape, buka internet, buka akun sosmed lo, jangan lupa siapin mental, kalau ada apa-apa gue sama Rey siap bantu!" tutup Yaris. Yundhi makin tidak mengerti.


Segera di turutinya ucapan Yaris dan benar saja apa kata sahabatnya itu. Nama dan fotonya hampir terpampang di semua artikel gosip dengan berita bohong, tidak benar, lengkap di bumbui fitnah tidak jelas.


Ia mencoba mengingat kapan foto itu di ambil. Memorinya mengulang saat mereka bertiga jalan-jalan di sebuah mall, saat itu Yundhi dan Tiara baru keluar dari toko baju anak-anak, seorang wanita muda menghampirinya karena gemas melihat Edward, wanita itu meminta foto bersama, sebelum ia mengijinkan wanita itu sudah mengarahkan kamera pada mereka. Tidak ada Tiara di sana karena saat itu istrinya sedang ke toilet.


Yundhi hampir membanting ponsel miliknya jika ia tidak mengingat harus menghubungi beberapa orang untuk menyelesaikan masalah ini. Pantas saja Tiara bersikap tak acuh padanya. Tiara pasti sudah tahu lebih dulu tentang berita ini.


Di bawah, semua anggota keluarganya kalang kabut, mondar mandir. Hanya Ranti yang duduk di sofa memijit pelipisnya, Citra dan Hans berbicara di telpon masing-masing entah dengan siapa. Ia bisa mendengar topik pembicaraan mamanya adalah dirinya. Citra langsung mematikan sambungan begitu melihat Yundhi turun. Ibunya langsung menyambut Yundhi di tangga akhir, melayangkan pukulan bertubi-tubi di lengan Yundhi sambil mengoceh.


Celaka.


"Kamu kenapa bisa begini, ngapain kamu foto-foto sama perempuan lain, sadar ga kamu, sekarang gimana istri kamu, pantas dia ga mau turun makan sarapan tadi." Citra berhenti saat tangannya terasa kebas.


"Astaga Yundhi." Citra tersengal karena menahan marah.


"Gimana Tiara?" tembak Citra, tidak mungkin anaknya itu tidak tahu maksud pertanyaannya.


"Yundhi belum bahas, belum ngomong sama Tiara." jawab Yundhi sambil mengelus bahunya.


"Papa kamu sudah panggil pengacara kita, sebentar lagi mau ke sini."


Citra menghempaskan badannya di sofa, menutup wajah dengan ke dua tangannya. Mungkin ini berita tidak penting dan hanya sekedar hiburan untuk beberapa orang. Tapi efek dari berita ini bagi keluarga mereka akan sangat besar. Ada nama baik trah Prasetya yang menjadi pertaruhan, dan yang lebih penting dari itu semua adalah perasaan menantu mereka. Bagaimana perasaan Tiara sekarang. Tadi saja mereka sudah di kejutkan dengan bohongnya Tiara perihal sarapan. Kalau sedang tidak marah, tidak mungkin Tiara melakukan hal itu.


Hans berusaha tidak sepanik Citra. Lelaki bijaksana itu memilih berpikir bagaimana agar berita ini segera hilang dan keluarganya kembali tenang.


Yundhi menghubungi Yaris. Menanyakan apa lagi yang di ketahuinya tentang artikel yang memberitakannya.


"Cewek yang foto sama lo itu selebgram. Lumayan populer. Kayaknya dia nyari sensasi ngepost foto lo biar makin tenar. Kasih tahu gue kalau lo mau hapus beritanya, gue punya hacker yang bisa di pake."


Hanya itu yang data yang di terima Yundhi dari Yaris. Mereka sudah berjanji akan bicara lebih lanjut jika Yundhi sudah membahas masalah ini dengan pengacaranya.


"Mama ga mau denger gimana ceritanya kamu bisa foto sama perempuan itu, tapi kalau sampai Tiara kenapa-kenapa, sekedar sakit kepala sekaipun, mama bakal pecahin kepala kamu." ancaman Citra terdengar serius tapi sama sekali tidak berpengaruh untuk Yundhi. Dirinya lebih tenggelam dengan pikiran bagaimana menenangkan Tiara nanti. Kata-kata Yaris kembali terngiang.


Tiara pernah depresi, jangan sampai masalah ini menjadi pematik penyakit itu kembali. Ada Edward yang masih sangat membutuhkan ibunya.


Yundhi makin khawatir.


Untungnya pengacara keluarga itu telah datang. Tanpa basa-basi mereka segera membahas langkah apa yang harus di lakukan agar berita ini segera hilang. Memulihkan kembali nama baik Yundhi dan keluarganya.


***


Ada rasa takut yang terlintas saat Yundhi akan menarik knop pintu penghubung kamarnya dengan kamar sang anak. Tapi rasa takut itu hilang ketika samar-samar ia mendengar celotehan Edward di balik pintu.


Senyumnya mengembang melihat Ed bermain sendiri di atas tempat tidur. Tiara juga di sana tapi dalam keadaan tertidur pulas. Tiga kancing paling atas bajunya terbuka, menandakan Ed baru selesai menyusui pada ibunya.


Yundhi menatap wajah tenang Tiara, ada jejak sisa air mata di pipi istrinya. Membuat Yundhi di selubungi rasa bersalah yang dahsyat.


Bagaimana bisa istrinya menyusui dalam keadaan perut kosong dan menangis.


"Ed sama papa dulu ya, kasihan mama capek, ketiduran deh mamanya Ed." suara Yundhi mencoba ceria berbicara dengan anaknya.


Ia mengajak sang anak keluar. Turun melewati tangga menuju anggota keluarganya yang lain yang masih berkumpul di ruang tengah rumahnya.


"Mama sama yang lain bawa Ed ke villa dulu deh. Yundhi minta tolong. Biar Yundhi sama Tiara berdua di sini. Kalau Tiara udah tenang nanti kita nyusul." Yundhi meminta pada keluarganya. Mereka menyanggupi dan segera bersiap.


"Tiara mana?" tanya Ranti.


"Ketiduran Oma."


"Selesaikan baik-baik sama istrimu, jangan pakai emosi, jangan bikin Tiara stres, dia masih menyusui."


Yundhi mengangguk.


Dia bisa tenang membiarkan anaknya bersama Oma dan Opanya. Mereka mungkin lebih dekat dengan Edward di banding Yundhi karena sering bertugas meninggalkan Ed. Hal ini dilakukannya untuk berjaga-jaga, bisa saja nanti Tiara berteriak memarahinya. Jangan sampai anaknya melihat orang tuanya ribut.


Yundhi kembali ke kamar sang anak saat semua penghuni rumah, termasuk bik Jo, berangkat menuju villa milik Tiara. Di lihatnya Tiara masih terlelap sangat tenang. Tangannya mengambil selimut, menutupi tubuh istrinya hingga dada. Seandainya situasinya tidak seperti ini, dia akan memeluk Tiara di sana.


Langkah Yundhi menuju sofa yang sering di pakai Tiara duduk menyusui Ed ketika bayi. Pink pastel, warna kesukaan istrinya. Warna girly sofa itu kontras dengan warna maskulin dinding kamar Ed. Yundhi tidak berani membantah saat Tiara menginginkan sofa itu di taruh di kamar sang anak.


Setelah bersandar, Yundhi mengetik sesuatu di ponselnya.


'She owns me, Yundhi belongs to her.


Just like always, from the beginning till the end.'


Untuk sekian lama, Yundhi kembali memposting gambar di akun instagramnya. Bukan gambar dirinya, tapi puluhan foto Tiara, Edward dan dirinya. Semoga caption itu bisa menjelaskan pada dunia siapa wanitanya yang sebenarnya.


Tak lama setelahnya, Yundhi melihat pergerakan di balik selimutp. Ia beranjak mendekat.


"Kamu udah bangun?" Tiara membuka mata, menyadari anaknya tak berada di samping, Tiara kemudian duduk.


."Mana Ed?"


"Ke villa sama yang lain."


Tiara bergerak turun, ingin melangkahi Yundhi.


"Kenap kamu ga bangunin aku, aku belum siapim makanan buat dia" Tiara berdecak sebal, Yundhi menahan tangannya .


"Aku mau ngomong, sayang."


"Ga sekarang Yundhi, aku belum masak buat makan siang Ed, aku mau masak sekarang." tolak Tiara.


"Mama udah siapin makanan Ed, kamu jangan khawatir."


"Tapi aku tetap mau masak, gimana nanti kalau Ed ga suka terus nangis." Tiara ingin menghindar. Mencoba melepaskan tangan Yundhi yang terus berusaha meraihnya. Tiara bicara tanpa melihatnya. Wanitanya itu benar-benar marah.


"Lepasin Yundhi, kita bicara nanti, aku mau masak." Tiara masih ingin menghindar.


"Oke kita masak, tapi kamu makan dulu. Aku udah bawain makananya di meja."


"Aku ga lapar."


Ini yang sangat ia benci, Tiara akan keras kepala saat marah dan tidak memedulikan dirinya. Sama-sama menjadi keras bukan solusi yang benar sekarang. Posisi Yundhi juha bersalah.


Yundhi mengalah. Mereka turun dan Tiara langsung menuju dapur. Sampai detik ini Tiara masih menghindari kontak mata dengannya, membuat tubuh Yundhi mendadak sakit.


Tiara bergelut di dapur. Yundhi hanya melihatnya dari kursi yang ada. Kepala dan tubuhnua tidak bisa bekerja dengan baik, melihat gerakan indah istrinya di dapur tapi mereka sedang perang dingin membuat Yundhi frustasi.


Kalau dulu logikanya menerima Tiara di Loca ketika wanitanya itu marah, tidak bisa memeluknya agar mereka segera berbaikan. Sekarang dia bahkan hampir gila, Tiara marah, ada di depannya tapi tak bisa ia jangkau.


Akhirnya Yundhi menyerah, ia tidak bisa bertahan lagi tanpa memeluk Tiara.


"Yundhi lepas!"


"Ayo marah Ra, kamu maunya bagaimana, mau teriakin aku, mau pukulin aku, terserah."


Tangan Tiara masih berusaha melepas lingkaran tangan Yundhi di perutnya.


Jika pada novel yang ia baca, akan terjadi adegan romantis saat pasangan melewati acara memasak di dapur, sungguh Tiara ingin merubah adegan itu dengan baku hantam saja.


"Aku ga marah, siapa yang bilang aku marah?" Tiara masih tidak rela Yundhi mendekapnya.


"Kalau gitu cium aku sekarang, ayo balik." tantang Yundhi.


Tiara bergeming.


"Ga bisa kan? Please, jangan marah gara-gara foto itu. Kamu tahu apa yang terjadi waktu itu."


"Foto yang mana, aku ga ngerti."


"Ra, ayo marahin aku, tapi jangan dingin begini, aku lebih suka kamu marah dan berhenti cuekin aku."


"Aku ga marah Yundhi."


"Ra!"


"Oke, foto itu bagus. Aku suka lihatnya." suara Tiara bergetar, "Untung ga ada aku, bakal rusak kalau aku di situ," tangan Yundhi mengerat, "Aku tadi bercermin, muka aku banyak fleknya, ada bekas jerawat juga, badan aku ga karuan, gelambir di mana-mana." Tiara sudah berurai air mata, "Ternyata kalau aku melihat di cermin itu, bakal rusak kalau kita satu frame. Untung cewek itu yang ada di foto, cantik memang, makanya gambarnya jadi bagus."


Sudah, cukup, Tiara melenceng dari bahan yang harusnya membuatnya marah. Kenapa malah sekarang membully dirinya, bukannya mengutuk wanita itu. Yundhi tidak tahan lagi mendengar rancauan Tiara, ia membalik paksa tubuh sang istri agar mereka berhadapan.


"Kamu ngomong lagi jelek-jelekin diri sendiri, aku bersumpah bakal datangin sendiri perempuan itu, ga perlu pakai pengacara."


"Lho mau ngapain, dia sepenting itu sampai harus kamu samperin," jawaban Tiara mulai absurd.


Salah lagi.


"Aku sudah bilang aku suka fotonya. Sekarang bisa lepas, aku mau lanjutin..."


Yundhi di puncak kesabarannya. Dia sudah menyerang Tiara dengan ciuman sebelum wanita itu menolaknya lagi. Meski Tiara mati-matian menolak, mendorong Yundhi dengan kekuatannya. Sia-sia. Yundhi menang kali ini. Mulut dengan mulut. Satu-satunya jalan yang bisa membuat Tiara berhenti.


Yundhi memisahkan diri setelah Tiara hampir kehabisan napas. Lelaki itu memeluknya. Ia bisa merasakan tangan lemah Tiara mulai memukul dadanya, ia bahkan siap jika Tiara mukulnya lebih sakit dari itu. Akan lebih baik daripada Tiara mendiamkannya.


For u bebs, 3700 kata lebih, jahat kalau ga vote komen.


aku cinta kalian.