
"Tiga jam?" Rey mengangkat 3 jarinya dengan wajah tak percaya yang jelas di tunjukkan pada Tiara.
"Gue sih ga kaget." timpal Yaris.
"Gue ga kagetin Yundhi yang tidur, tapi kamu Ra, kuat di peluk Yundhi kayak gitu," Rey menganggukkan dagu pada Tiara yang berbaring dengan Yundhi yang memeluknya seperti guling, "sejak tiga jam yang lalu."
Yaris dan Rey baru kembali sore harinya ke rumah sakit setelah menyelesaikan masalah penyuntikkan Tiara. Sekembalinya, mereka ke ruangan Tiara, langsung di suguhi pemandangan Yundhi yang tidur pulas di samping Tiara. Tadinya mereka bermaksud melaporkan hasil pekerjaan mereka pada sang bos besar.
"Mau gimana lagi, katanya dia ga tidur dua puluh jam lebih, nungguin aku, emang aku kenapa Rey? Kenapa aku sampai di rawat di ICU."
"Belum sempat di ceritain?"
Tiara menggeleng.
Yaris memilih duduk di sofa, dan Rey duduk di samping Tiara di bangku yang tadinya Yundhi duduki. Tiara mengelus pelan tangan Yundhi yang memeluknya tanpa merasa risih sedikitpun meski di sana ada Rey dan Yaris. Pemandangan itu membuat Yaris menggelengkan kepala karena heran. Pasangan ajaib.
"Lingga kirim anak buah, menyuntikkan cairan pelemah detak jantung ke selang infus kamu."
Tiara menganga, "bukannya di sini juga ada Yundhi?"
"Waktu itu katanya dia sempat keluar nyari udata segar. Yundhi cuma ke ruangan gue, dan balik lagi setelah tahu gue udah pulang. Terus ya begitu, pengawal depan bisa dilumpuhkan, suster wanita itu beraksi dan ketahuan Yundhi." Yaris menjeda ceritanya.
"Dari beberapa mili yang di suntikkan kayaknya sempat masuk ke tubuh kamu. Dokter sempat melakukan pertolongan dengan alat kejut, itu yang bikin Yundhi shock berat. Dikira kamu ga bisa diselamatkan."
Tiara menoleh pada Yundhi yang wajah mereka masih dalam posisi sejajar. Membuat Tiara menatap haru wajah pulas suaminya setelah mendengar cerita dari Reyhan.
Pantas saja dia melototin suster yang bantuin aku di ICU, batin Tiara.
Tiara menoleh lagi pada Rey.
"Sejak kapan di luar ada pengawal?"
"Sejak awal kamu di rawat, ga tahu?"
"Enggak, siapa yang suruh mereka?"
"Mertua tersayang, Om Hans."
"Oh."
Hening menyapa beberapa saat.
"Ga pegel Ra?" tanya Yaris akhirnya, setelah sedari tadi hanya sebagai pengamat.
"Pegel lah. Tapi dia lebih pegel mungkin nungguin aku sambil duduk, biar aja sekarang gimana nyamannya dia."
"Mau aku ledakin petasan? Biar dia bangun."
Tiara tertawa mendengar usul Yaris, "bisa aja deh."
"Cabut yuk," ajak Rey, sepertinya juga dokter itu tampak lelah.
Yaris menanggapi dengan berdiri.
"O ya, kapan aku bisa pulang, dok?" Tanya Tiara.
"Setelah sekian lama akhirnya kamu panggil aku 'dokter' juga." Reyhan tampak menggerutu.
"Lho,kemarin-kemarin memang ga pernah ya?"
"Ini yang pertama kali, aku kira kamu di pengaruhin cecunguk ini, dia mana mau ngakuin gelarku." Kalimatnya di iringi tatapan kesal pada Yundhi yang tertidur.
"Nanti aku diskusikan sama tim dokter yang tangani kamu, dokter kandungan udah ngecek?"
"Udah."
"Besok kami observasi lagi, kalau hasilnya bagus, secepatnya kamu bisa pulang."
"Oke, makasi dok."
"Bagus, biasain bilang dokter," ujar Rey bangga.
Kini mereka berdiri sejajar menghadap Tiara, seperti sikap pengawal yang menghadap pada tuannya.
"Tadi di periksa dokter kandungan juga posisinya begini?" tanya Yaris dengan volume suara yang tidak di tahan-tahan seperti sebelumnya. Biar saja, biar Yundhi mendengarnya dan segera bangun. Kalau harus adu urat, dia siap meladeni.
"Kami repot-repot ngurusin masalahnya, dia enak-enakan tidur." Nada Yaris makin meninggi, sengaja.
Tiara hanya tertawa, tak enak pada sahabat suaminya meski dalam hati dia mengumpat Yaris yang sengaja ingin membangunkan Yundhi.
"Kalian ya, bener-bener."
***
Citra yang baru sempat mengunjungi menantunya di rumah sakit, melakukan reaksi yang sama dengan Rey dan Yaris.
"Jangan di bangunin Ma, biarin aja, kasian dia capek sejak kemarin."
"Kamu tu terlalu sabar, ih Mama aja yang lahirin dia malu ngelihat Yundhi kayak gitu, udah berapa lama dia tidur?"
"Baru empat jam."
"Astaga, empat jam kamu bilang baru, Mama ambilin air."
"Jangan Ma, kasihan Yundhi dari kemarin ga tidur," dalam hati Tiara bersyukur kemungkinan mertuanya tidak mengetahui bahwa dirinya baru saja keluar dari kamar ICU, "mending Mama ceritain tentang Ed, gimana dia? Masih demam? Ga nyariin aku? Ga rewel? Kenapa ga ikut?" Tiara menyerang Citra dengan pertanyaan agar perhatian mertuanya itu teralihkan.
"Ed udah baikan, baik sekali malah," berhasil, Citra tampak antusias, " sekarang lagi asyik main barangkali di rumah, punya mainan baru di beliin Opanya, mobil-mobilan, kayak mobil Papanya tapi dalam versi mini."
Tiara tersentak, "mobil-mobilan?" taanyanya ragu, merasa de javu.
"Iya, uuuh susternya sampai kewalahan, dia minta di dorong terus, Mama sempat kesel sama Papamu beliin mainan kayak gitu, kita pada jadi tukang dorong bergilir. Tapi lihat Ed ceria kayak gitu, Mama malah senang sekarang. Beberapa kali sebutin nama kamu, tapi lihat mobil-mobilannya parkir, eh malah mau main lagi."
Persis seperti mimpinya.
"Syukur deh kalau Ed baik-baik aja. Kemungkinan Tiara pulang besok."
"Lho, kenapa ga jadi sekarang?"
"Itu, em, dokter kandungannya mau benar-benar mastiin aku sembuh total, biar ga terjadi apa-apa ke depannya."
"Ooh ya udah, nginep lagi semalam, Mama kira kamu mau pulang sekarang, makanya Mama datang jemput."
"Biar besok Tiara sama Yundhi, Mama sama yang lain tunggu di rumah aja."
Melihat lagi Yundhi yang pulas tidur sambil memeluk Tiara, Citra kembali terusik. Meski tidak mau mengakui, Citra tahu pasti Tiara merasa pegal dan kebas di peluk seperti itu empat jam lamanya.
"Tapi Mama pegel lihat kamu kayak gitu, punggung kamu pasti panas ga bisa bangun, udah ya jangan larang Mama bangunin cowok yang udah mau punya buntut dua ini."
Citra dengan cepat mengambil air botol di atas nakas, melumuri tangannya dan mengusap wajah Yundhi.
"Ma, jangan, kasian."
"Bodo, Mama ga dengar kamu ngomong apa."
Belum berhasil, Citra kembali mengulang, tapi kali ini menampung sedikit air dengan telapak tangan membentuk mangkuk.
"Bangun ga kamu!"
***
Yundhi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, kaos abu, celana selutut dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Dirinya sukses di bangunkan sang Mama dengan ruapan air di wajah tiga kali. Setelah mengomelinya panjang lebar, barulah Citra berangkat pulang sejam yang lalu. Wajah segar Yundhi semakin memesona saat-saat seperti itu, menjadi pemandangan tersendiri bagi Tiara yang terbangun dari tidur ayamnya.
"Kok aku tiba-tiba pengen makan burger ya?" Kata Yundhi, "kamu udah makan?"
"Ga lihat apa nasinya masih utuh, aku nunggu kamu, mau di suapin," jawab Tiara jujur.
"Oke, bentar." Yundhi menuju jemuran kecil di sudut ruangan, menyampirkan handuk kecil yang basah itu di sana, ia kemudian kembali menuju Tiara, duduk manis di kursi dan mengambil nampan berisi makanan lengkap ala rumah sakit.
"Kamu ga bosan makan makanan rumah sakit? Aaa!" Satu suapan masuk ke mulut Tiara.
"Enggak lah, enak kok, tiap hari tiap waktu makan menunya ganti-ganti, makanan rumah sakit ini ga buruk kok, rasanya juga enak. Yang bilang makanan rumah sakit ga enak sih orang picky akut."
Yundhi tersenyum mendengar jawaban Tiara yang bijaksana. Ia akan segera membuang jauh-jauh sifatnya yang suka memilih-milih makanan. Sifat anti mubazir sang istri akan ia teladani mulai sekarang.
Tanpa sadar Yundhi ikut menyuap makanan yang ia pangku.
Tiara menyadarinya, tapi tak mau berkomentar.
"Tapi aku masih pengen burger," sela Yundhi di tengah kunyahan, "ngidam kali ya?" Ia menyuapi Tiara kemudian.
"Ya udah, nanti delivery."
"Kamu ga ada ngidam? Pengen makan apa gitu? Kayak dulu hamil Ed."
Yundhi mengingat-ngingat bagaimana dulu Tiara ingin makan jangung rebus yang di jual keliling tengah malam. Ingin makan apel merah dengan merek luar negri saat subuh, ingin bubur kacang hijau ketan hitam jam dua dini hari. Masa ngidam Tiara yang membuat Yundhi ketar-ketir setiap tengah malam.
"Hamil yang sekarang sih enggak, atau belum mungkin. Ga tahu nanti." Jawab Tiara santai.
Dalam hati Yundhi berdo'a semoga itu tidak terjadi.
Sampai nasi yang ada di nampan itu tandas oleh mereka berdua, tidak ada lanjutan dari obrolan itu. Hanya acara suap-suapan yang terjadi.
"Mau aku pesenin juga?" Ternyata Yundhi masih dalam usaha memenuhi keinginannya makan burger.
"Yang fish fillet deh."
"Dari dulu yang itu-itu aja, ga mau nyoba yang lain? Aku mau yang beef, ukuran besar pakai keju."
"Enggak, aku fish fillet aja. Lagian tumben kamu ga ngingetin, biasanya juga kalau soal junk food kamu bilangnya 'ga sehat'.
Yundhi masa bodo.
"Kalau ngidam kan apa aja halal, asal ga yang ekstrim kayak pengen makan sabun batangan, pengen makan tanah liat, atau nyentuh kepala biksu."
"Ya ya terserah." Tiara memutar bola mata, malas melanjutkan debat perkara ngidam dan junk food.
Hening tercipta sejenak, Yundhi sibuk dengan ponselnya.
"Udah, beres."
"Tadi Rey sama Yaris ke sini."
"O ya? Kok aku ga tahu."
"Ya gimana kamu bisa tahu, tidur kayak orang mati gitu, tadinya mau mereka bangunin, tapi aku larang."
"Terus mereka bilang apa?"
"Katanya sih urusan anak buah Lingga udah selesai, sudah di urus pihak berwajib, nanti Pak Rudy yang bakal pantau perkembangannya."
Yundhi hanya memberikan anggukan.
"Baguslah kalau gitu."
"Jadi aku masuk ICU gara-gara itu?"
Sama-sama tahu arti kata 'itu' yang di ucapkan Tiara, Yundhi hanya diam, salah satu dari sahabatnya pasti sudah bercerita pada sang istri.
"Lingga sedendam itu ya sama kamu, sampai ga mau lihat kamu punya pasangan. Emmy juga dia renggut dari kamu, meski enggak secara terang-terangan. Kalian ngapain sih di masa lalu?" Tiara mengutarakan pikirannya yang beberaoa hari ini ia pendam. Lingga memang menceritakan sedikit masa lalu mereka saat Tiara di sekap, tapi Tiara ingin cerita detilnya dari Yundhi.
"Apa setelah hari ini kita akan baik-baik saja, lepas dari teror dia?" Sambungnya lagi.
"Pasti."
"Kamu bisa jamin?"
"Kamu ga percaya?"
"Enggak, cuma mastiin. Aku percaya."
"Setelah hari kemarin, dia ga akan datang lagi, aku jamin, jadi ga usah khawatir. Jalani hari-hari kamu kayak biasa."
Kata-kata itu untuk menenangkan sang istri. Padahal Yundhi sendiri msih sedikit was-was. Di belakang istrinya, dia dan Hans sudah menyiapkan pengamanan berlapis untuk menjaga Tiara dan sang anak, Edward.