When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Kecolongan



Yundhi melompat dari tempat tidur ketika matanya menatap layar ponsel. Ia menyambar baju dan celana lalu segera memakainya dengan buru-buru. Seperti orang kerasukan, dia mencari kunci mobil dan dompet. Keluar dari kamarnya dengan gerakan lari, benar-benar lari.


Citra yang sedang minum di meja makan harus tersedak melihat tingkah anaknya sendiri.


"Kenapa lagi tu anak?"


Ingin bertanya tapi rasanya akan percuma. Yundhi sudah keluar dari pintu.


"Sudah jam segini lho, mau kemana sih dia."


Citra mencari ponsel, berpikir kalau di telpon pasti Yundhi akan menjawab.


Berhasil, Yundhi mengangkat telponnya.


"Ini udah jam 12 malam, kamu mau kemana lagi?"


"Nyari Tiara ma, udah ya, tutup, nanti Yundhi cerita."


Yundhi melajukan mobil dengan kecepatan penuh, hampir sama dengan kecepatan jantungnya yang menggila.


Ia masih ingat dengan jelas mengantar Tiara sampai rumahnya, dan hendak masuk, tapi....


Yundhi mengingat lagi, Tiara belum masuk rumah ketika ia pergi meninggalkannya. Dia kecolongan.


Tiara tidak benar-benar pulang ke rumah, sekarang tanda yang menunjukkan posisi Tiara bergerak pada layar ponsel Yundhi. Aplikasi GPS yang ia download pada ponsel yang ia taruh di tas Tiara secara diam-diam bekerja dengan baik. Ketika iseng-iseng Yundhi membuka aplikasi itu setelah membersihkan diri, bermaksud memastikan saja, Yundhi malah melihat tanda bahwa posisi Tiara bergerak. Niatnya ingin beristirahat batal begitu sadar Tiara akan lari lagi. Entah akan kemana Yundhi tidak tahu.


Yundhi melajukan kendaraannya hampir mencapai batas maksimal, untungnya saat itu tengah malam, jalanan sudah lengang. Sambil membagi fokus antara menyetir dan memantau ponselnya, Yundhi terus berdo'a dalam hati jangan sampai kehilangan lagi. Cukup. Cukup enam bulan, itu sudah membuatnya hampir gila.


***


"Bibir kamu lagi sakit lho itu, jangan makan pakai sambel!"


Yundhi teringat lagi, ketika mereka makan di warung Lastri sebelum Yundhi mengantar Tiara pulang. Tiara sangat mengkhawatirkannya karena Yundhi tetap memaksa ingin makan dengan sambal.


"Nanti kalau kena yang luka kamu kesakitan. Mau aku suapin?"


Tiara sangat cerewet dan memperhatikannya, Yundhi senang luar biasa mendapat perhatian itu lagi. Baru beberapa jam lalu mereka bertemu, sekarang Tiara hendak pergi entah kemana. Tidak akan ia biarkan.


Hampir satu jam bergerak, titik yang menandai Tiara akhirnya berhenti. Yundhi sedikit lega, tapi tentu belum tenang. Dia mempejelas layar ponsel agar bisa membaca dengan jelas alamat dimana posisi Tiara berada dan cukup terkejut saat mengetahui posisi terakhir Tiara saat ini ada di sebuah hotel. Kembali, Yundhi menambah kecepatan.


***


"Kalau ini ga penting, gue bersumpah bakal ngehajar lo, tapi kenapa muka lo udah babak belur duluan?" ucap seorang laki-laki tinggi berpakaian kasual pada Yundhi yang saat itu duduk di depan lobi hotel.


"Kalau dia ga mahapenting buat gue, gue juga ga bakal ganggu lo pagi buta gini, ganggu acara panas-panasan lo sama Ralin," balas Yundhi.


"Masalah lo apa, ngapain lo minta identitas tamu hotel gue? Muka lo tu juga, berantem lo?"


"Jangan bahas muka gue, yang gue tanyain identitasnya itu calon istri gue, dia nginep di sini, tapi pegawai lo ga ngizinin gue nanya-nanya, apalagi mau masuk pakai kunci cadangan."


"Kenapa lo ga sama dia?...Dia sama cowok lain kali."


"Jangan asal lo, ceritanya panjang, udah, sekarang bantu gue, lo bisa di andelin ga sih?" Yundhi mulai kesal


"Siapa tadi namanya?"


Yaris Mawwali Sa'id, pemilik hotel tempat Tiara menginap, sekaligus teman Yundhi semasa SMA membantu Yundhi mencari nama Tiara di daftar tamu. Tentu saja jika Yaris yang meminta pasti di beri.


Sebelumnya Yundhi sudah minta sendiri pada resepsionis, tapi sayang tidak di ijinkan. Akhirnya dia nekat menelpon sang pemiilik meski waktu menunjukkan pukul 2 pagi.


"Kamarnya di lantai lima. Ini kuncinya. Ada lagi yang mau gue bantuin, cepet, Ralin nunggu gue."


"Temenin gue ke kamarnya. Perasaan gue ga enak."


"Kenapa? Lo takut dia lagi sama cowok lain?"


"Jangan ngarang, gue takut dia ga lagi baik-baik aja. Cuma itu."


Meski terus menyanggah, Yaris tetap menemani Yundhi menuju kamar yang Tiara tempati. Mereka mulai berjalan menuju lift.


"Emang dasar teman kurang ajar lo, ga datang ke nikahan gue, sekarang malah nyusahin," umpat Yaris.


"Gue udah kirim hadiah bro, lagian nikahan kok mendadak, di Lombok lagi, lo pikir gue bisa dari London ke Lombok cuma sejam."


"Ini cewek yang sama, sama lo waktu di London?"


"Bukan, yang itu gue udah putus. Gue ga bakal nikah selain sama cewek yang ini."


"Gila."


"Hm, emang gue udah gila."


Suara denting lift menghentikan pembicaraan mereka, Yundhi dan Yaris segera menuju kamar Tiara. Yundhi mengambil kunci cadangan dari tangan Yaris, dan langsung membuka pintu, ia masuk lebih dulu.


Ia sedikit tenang, Tiara tertidur pulas, tapi keadaan kamar itu sedikit berantakan.


"Lo serius dia calon istri lo?" suara Yaris tiba-tiba.


Yundhi reflek melihat Yaris dan segera menutup mata Yaris dengan dua tangannya dan menyeret temannya itu menuju balkon.


"Apaan sih lo, gila," suara Yaris berbisik takut sang empu kamar terbangun.


"Pacar gue terlalu cantik kalau lagi tidur, mana pakaiannya gitu lagi, lo tunggu gue di balkon!"


"Wah, kurang ajar lo emang. Gue udah punya Ralin, ga minat lagi sama yang lain."


"Terserah, tapi cuma gue yang boleh lihat pemandangan itu."


Yundhi membuka mata Yaris begitu mereka berada di balkon. Ia lalu kembali ke kamar dan memeriksa apa yang di lakukan Tiara sebelum tidur.


"Menurut lo ini obat apa?"


Yaris yang hampir menggigil karena di terpa angin malam memandang jengkel pada Yundhi. Ia meraih salah satu botol yang ada di tangan Yundhi.


"Ada logo obat kerasnya nih, coba lo tanya Reyhan."


Yundhi mengangguk dan segera mengambil ponsel di saku celananya.


Tak lama dia tersambung video call dengan seseorang.


"Gue kira gue mimpi, lo beneran vc, ada apa, gue capek habis tugas ni," ujar laki-laki di seberang.


"Sorry, gue ganggu lo pagi buta gini, lo tahu ini obat apa?" Yundhi menunjukkan botol obat yang ada di tangannya.


"Obat penenang, lo yang minum?"


Yundhi tak menjawab, dan mengambil botol lain dari tangan Yaris.


"Kalau yang ini?"


Laki-laki itu mengamati dengan cermat botol yang Yundhi tunjukkan.


"Obat sakit kepala, dosis tinggi. Jangan gila lo, jangan di minum samaan, efeknya ga bagus." terang laki-laki berkaca mata itu.


"Bukan Yundhi yang minum Rey, tapi pacarnya." Yaris menyela.


"Lo di sana juga Ris? Ngapain lo berdua?" ujar Reyhan sedikit kaget.


"Lo diam dulu Ris! Kalau kita minum ini secara bersamaan efeknya apa, Rey?"


"Ya itu, bisa ketergantungan, dosisnya tinggi lho itu. Kalau sakit kepala pacar lo kambuh, ya berarti sangat sangat sangat sakit sampai harus di kasih obat itu, cuman dokter ga akan ngasih obat itu kecuali..." Reyhan menggantung kalimatnya.


"Kecuali apa?"


"Kecuali pasiennya menolak di terapi dengan pengobatan yang lebih aman."


Yundhi menghela napas berat. "Saran lo apa?"


"Bawa aja ke sini, nanti gue bantu. By the way, cewek lo abis minum obat itu?"


"Mungkin, kenapa?"


"Bakal tenang banget sih, bangunnya lama. Cewek lo depresi?"


"Jangan ngasal!" Yundhi sedikit panik. Dalam benaknya ia berharap Reyhan salah.


"Besok lo bawa ke sini deh!"


"Hm, gue tutup dulu."


***


"Jadi gitu ceritanya." Yundhi menceritakan sebagian kecil hubungannya dengan Tiara pada Yaris.


"Gue sedikit curiga sih tadi, dia terlalu tenang di depan gue padahal gue udah ciptain badai di kehidupannya dia. Enam bulan gue jeda dan ketenangan dia bikin gue khawatir. Gue lebih lega dia marah sambil mukul gue."


"Jadi sekarang rencana lo apa?" Yaris melihat Yundhi prihatin. Ia enggan menjahili lagi jika keadaannya Yundhi terlihat putus asa.


"Kamar yang ini kedap suara ga?"


"Enggak, yang kedap cuma president suite, kenapa?"


"Pindahin gue sama Tiara ke sana!"


"Jangan gila, lo mau apain anak orang?"


"Lo su'udzon mulu sama gue. Lo ga denger apa kata Reyhan tadi, sekarang dia kelihatan tenang karena pengaruh obat, gue mau buang obat ini dan lihat gimana reaksinya."


Yaris mengangguk mengerti. Ia kemudian menelpon salah satu staf hotelnya. Mengatur pemindahan Tiara ke kamar yang di minta Yundhi.


***


"Pegel lo pasti."


"Enggak, biasa aja."


"Sukur deh, itung-itung latihan lo."


"Hm."


"Gue balik dulu, gila lo nahan gue sampe jam empat, di marah Ralin gue."


"Thanks', salam maaf gue buat Ralin."


"Hm, jaga yang bener, anak orang tu!"


"Cerewet."


Yaris meninggalkan Yundhi di sebuah kamar president suite sesuai permintaannya. Staf hotel membantunya membawa barang-barang Tiara, dan Yundhi menggendong Tiara tiga lantai dari kamar sebelumnya. Semulus itu. Tiara tidak terusik atau bangun sama sekali.


Yundhi menyelimuti Tiara hingga batas leher. Ia kemudian duduk di pinggiran tempat tidur memandangi wajah damai Tiara. Tangannya menyingkap anak rambut yang menutupi wajah itu.


"Beban kamu berat banget ya sampai harus minum obat kayak gitu, apa semua gara-gara aku? Mulai detik ini dan seterusnya, aku ga akan ngelewatin hal sekecil apapun tentang kamu, ga ada alasan kamu lari lagi dari jangkauanku. Kamu sakit, aku bakal lebih sakit. Kita akan sembuhin sama-sama dan lewati ini semua."


Yundhi mengecup dalam kening Tiara. Setelahnya ia merebahkan diri di sebuah sofa panjang kamar mewah itu. Badannya terasa remuk, ia butuh istirahat meski sebentar lagi langit akan terang, dan yang pasti besok ia harus bangun lebih dulu dari Tiara.