
Yundhi asyik berbincang dengan Adib di ruang tamu sambil menunggu Tiara bersiap di kamarnya. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya membuat Tiara senyum-senyum sendiri di depan cermin. Beberapa hari ini suasana di rumah Tiara jadi sedikit meriah dengan kedatangan Yundhi. Meski hanya datang sebentar untuk menjemputnya, itu menjadi hiburan tersendiri bagi ayah Tiara.
Kenapa begitu cepat, Yundhi bisa sangat akrab dengan ayah, mengambil hati ayah lebih dulu, berani menghadapi ayah sejak pertama kali datang ke sini, dan ayah seperti mendapat teman baru tepatnya dapat anak laki-laki baru.
Tiara sesekali mendengar bahan obrolan dua laki-laki terdekatnya itu, kadang bicara politik, pekerjaan, hobi, semuanya nyambung. Yundhi selalu bisa mengimbangi tema yang di bahas ayah Tiara.
'He's awesome.' Tiara bergumam dalam hati ketika melihat keakraban yang diciptakan Yundhi dengan ayahnya. Kamu pinter banget sih ngambil hati calon mertua. Tiara senyum sendiri menyebut istilah calon mertua dalam pikirannya.
Menyadari orang yang di tunggu sudah telah keluar kamar, Yundhi menoleh dan terperangah melihat penampilan Tiara yang dilihatnya lebih cantik ketimbang saat mereka ke pesta kemarin. Padahal cuma pakai kemeja putih kebesaran, celana jins, flat shoes, tanpa embel-embel perhiasan yang melekat di tubuh, hanya jam tangan mungil berbahan kulit yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Apa ya yang membuatnya berbeda malam ini, mungkin karena Tiara mengikat rambutnya ekor kuda sehingga sedikit mengekspose bagian leher jenjanngnya. Garis wajahnya terlihat jelas, membuat Yundhi menyadari Tiara ... speechless.
Jantung Yundhi berdetak tak karuan, padahal ini bukan pertama kalinya dia akan keluar bersama Tiara. Hebatnya setiap kali akan pergi bersama selalu ada kesan berbeda yang dibuat Tiara pada indra penglihatannya.
"Ayah pamit ya," ucap Tiara sambil menenteng totte bag dibahu kiri dan segera menyalami ayahnya.
"Jaga sikap di rumah orang, awas kamu malu-maluin!"
"Siap bos."
"Jangan kemalaman!"
"Kalau itu ke Yundhi kali Yah, bukan ke Tiara."
"Iya dua-duanya."
Tiara keluar lebih dulu, tanpa menoleh ke arah Yundhi, selalu saja begitu, ck.
"Iya Om, ga lama kok, pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati!"
Yundhi mengangkat jempolnya sambil membukakan Tiara pintu mobil.
***
"Kita mampir beli buah dulu ya, atau beli bunga aja, kamu tahu apa kesukan Oma?"
Jika pendengaran Yundhi tidak salah, Tiara sepertinya merasa gugup. Kentara dari rancauan dan ekspresinya yang tidak biasa.
"Jawab dong, Oma sukanya apa?"
"Chill honey, kamu kenapa jadi gugup gitu? Kamu udah duluan ketemu Oma lho daripada aku."
Eh apa tadi, honey, aduh Yundhi bilang honey lagi, bikin tambah nervous.
"Kelihatan ya? Masalahnya dulu kan beda sikon, sekarang mau ngasih tahu hubungan kita, apa ga terlalu cepat? Kita beli apa kek gitu dulu buat buah tangan."
"Emang harus ya bawa buah tangan."
"Iyalah, biar enggak kosong-kosong banget akunya."
"Oma lebih suka buah daripada bunga."
"Ya udah mampir dulu di minimarket, ya!"
Yundhi menyisir jalan mencari supermarket terdekat untuk memenuhi permintaan Tiara. Sebenarnya tanpa Tiara membawa apapun, semua sudah tersedia di rumahnya, tapi takut juga mengecilkan hati gadis yang makin terlihat menggemaskan jika gugup itu membuat Yundhi tak tega menolak.
"Tunggu ya, biar aku aja yang masuk."
Beberapa saat Yundhi patuh pada perintah Tiara menunggu di mobil, tapi dia teringat kejadian-kejadian yang menimpa Tiara kemarin dan mengingat penampilan apik Tiara malam ini membuatnya berubah pikiran. Dalam sekejap dia menyusul Tiara ke dalam supermarket dan mencari-cari keberadaan wanitanya itu.
Tidak mendapati Tiara di beberapa lorong Yundhi dilanda panik, dia terus mencari dan ternyata Tiara tengah menunggu pelayan mengemas pesanan buahnya di bagian paling belakang minimarket itu.
"Kenapa nyusul?" tanya Tiara.
"Aku mau beli camilan juga buat di rumah." Yundhi membuat alasan valid dan ekspresi meyakinkan. Malu juga jika harus jujur dia takut Tiara di goda laki-laki lain.
"Ya udah, cari dulu kudapannya, aku nunggu..."
"Enggak, aku temenin sampai parselnya selesai, kita cari kudapannya sama-sama."
Belum saja Tiara selesai dengan ucapannya Yundhi dengan sigap memotong, keputusan itu ia ambil setelah tanpa sengaja melihat mata pelayan pria yang mengemas pesanan Tiara melirik ke arah kekasihnya. Apaan coba, masa ngeliat aja ga boleh.
Tiara merasa heran, tapi juga menyetujui permintaan Yundhi karena malas berdebat. Tak lama parsel buah pesanannya selesai di kemas, Yundhi dan Tiara menuju bagian lorong minuman dan makanan ringan.
"Kamu suka ngemil?" tanya Yundhi sambil mengambil alih parsel yang ada di tangan Tiara.
Tiara mengangguk, "suka."
"Ya udah kamu yang pilih!"
"Kok aku?" Tiara menghentikan langkahnya sambil menatap Yundi heran.
Tentu saja Yundhi tidak tahu makanan ringan yang enak di konsumsi, masalahnya dia orang yang tidak suka makan makanan ringan yang tidak bermanfaat.
"Aku lagi pegang ini, ga bisa milih." Yundhi menunjukkan parsel sebagai alibi agar Tiara bersedia memenuhi permintaannya. Membuat Tiara terkekeh kecil melihat tingkah pria tampan itu.
"Oke." tangan Tiara mulai bergerak mengambil makanan ringan kesukaannnya. Snack kentang Lays rasa rumput laut, Chetos rasa keju Amerika, Chitato rasa bbq, biskuit Verkade rasa rempah, dan terkecuali minuman, Tiara meminta pendapat Yundhi.
"Teh, kopi, atau air lemon?"
"Lemon deh. Kamu ga suka soda?"
Tiara menggeleng, "Enggak bagus. Udah ya, ni tangan aku udah ga muat." Tidak menyangka akan ada tambahan, Tiara lupa menggunakan keranjang.
Yundhi tersenyum puas. Dia senang mendengar Tiara masih peduli kesehatan dengan tidak mengkonsumsi minuman soda. Merasa mirip gitu karena dia juga tidak suka soda. Klop lah.
Di kasir, tadinya Tiara ingin memisahkan belanjaannya dengan kepunyaan Yundhi, tapi Yundhi dengan seenaknya meminta penjaga kasir menyatukan belanjaan mereka. Lagi-lagi Tiara mengalah demi kedamaian dunia.
Setelah membayar mereka segera menuju parkiran dan Yundhi menyimpan belanjaan mereka di kursi belakang.
***
Semakin mendekati rumah kediaman Yundhi perasaan Tiara semakin tidak karuan. Jantungnya debar-debur, otaknya sibuk menentukan bagaimana harus bersikap dan mencari bahan obrolan, membuat perutnya terasa mulas tanpa alasan.
Yundhi bisa melihat wajah Tiara yang tampak gelisah. Ia mengelus lembut puncak kepala Tiara untuk menenangkannya. Meski hanya dengan gerakan kecil, seketika kegelisahan Tiara menyurut.
Memasuki halaman rumah, Yundhi sedikit heran. Beberapa mobil lain terparkir di sana. Tidak mau membuat Tiara bertambah gugup, Yundhi diam saja, dugaannya ada anggota keluarganya yang datang malam itu. Mobil kedua orang tuanya pun ada disana. 'Kapan mereka kembali?'
Di depan pintu masuk, Tiara kembali di landa rasa gugup, tapi kali ini semakin kuat. Dia mencium akan ada kejadian tak terduga yang akan menimpanya. Berkali-kali ia menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa gusar. Sejenak ia menahan tangan Yundhi yang menggenggamnya sedari tadi dan membuat Yundhi membatalkan niat menarik knop pintu.
"It's okay, yuk!"
"Assalamu'alaikum."
Yundhi melangkah masuk diikuti Tiara di sebelahnya.
Sontak saja Tiara kaget melihat kehadiran beberapa orang disana dan tidak hanya Oma Ranti. Ada anggota keluarga Yundhi yang lain yang sedang berkunjung, tapi kenapa Yundhi tidak memberitahunya?
"Miss Tiaraaaa!"
Wajah yang sangat di kenal Tiara mendekati dan memeluknya.
'Ada Claudia di sini berarti ada mba Elok jugakah?'
"Claudia kangeeen."
"Miss juga kangen." Tiara membalas pelukan dan menepuk-nepuk bahu Claudia, mantan muridnya.
Tetiba saja Tiara di landa was-was. Tanpa persiapan apapun dia akan berhadapan dengan anggota keluarga Yundhi yang lain.
"Anak kecil nyerobot aja, awas!" Yundhi menarik lengan baju Claudia agar melepaskan Tiara.
"Mas Yundhi nih ganggu aja, Claudia kan kangen, udah lama nggak ketemu miss Tiara."
"Nanti aja!"
Yundhi menarik tangan Tiara menuju ruang tamu dimana di sana ada oma Ranti dan kedua orang tuanya.
"Ma, pa kapan balik?" Yundhi menyalami satu persatu orang tua yang ada di ruangan itu, diikuti Tiara di belakangnya.
"Baru saja, nak. Kamu tepatin janji nih bawakan mama pasanganmu pas umur 27." Citra menepuk keras bahu Yundhi gemas.
"Malam om, tante. Oma gimana kabarnya?"
Tidak hanya menyalami, oma Ranti juga memeluk Tiara hangat, membuat Tiara melupakan rasa gugupnya.
"Ini lho Hans, Citra gadis yang mama ceritakan tadi." ujar oma Ranti sambil menarik tubuh Tiara agar duduk di sampingnya.
Tiara mengangguk pada orang tua Yundhi yang duduk di hadapannya. Yundhi meninggalkannya di sana membawa parsel yang ia bawa tadi ke dapur.
Gantianlah sekarang, dulu aku juga di tinggal pertama kali ngadep om Adib.
"Miss Tiara dulu guru lesnya Claudia tante Cit."
"Eh beneran ada Tiara." wajah lama yang Tiara kenal muncul lagi. Benar saja, ibu dari Claudia, mba Elok, tiba-tiba datang dari dalam. "Jadi udah pacaran nih sama Yundhi?"
"Mba to the point banget sih." Tiara memberanikan diri membuka suaranya. Dia mengedarkan pandangan pada kedua orang tua Yundhi ingin melihat reaksi mereka.
"Emang mau keliling kemana dulu?" Elok kembali mengeluarkan candaan agar suasana mencair.
Tiara bisa melihat senyum manis di wajah Citra dan Hans. Melihat itu saja Tiara merasa cukup lega. Paling tidak jangan sampai ada tatapan horor ala sinetron.
"Elok udah lama kenal sama nak Tiara?" Citra bertanya pada Elok yang kini duduk di samping Tiara. Tiara yang duduk di antara oma Ranti dan Elok, merasa akan di sidang. Ia sebagai terdakwa, Elok dan Ranti sebagai pembela.
"Lumayan kak, Tiara dulu rekomen dari temen Elok yang jadi dosen di kampusnya Tiara waktu Claudia butuh guru les bahasa Inggris. Tiara kalau enggak salah masih semester tiga ya waktu itu?"
"Bener mba, masih ingat mbanya."
Elok tertawa lebar, "Masih lah, pertemuan pertama kamu udah bikin kesan gimana gitu. Jadi kak, di hari pertama dia ngajar Claudia, Tiara ini langsung bisa bikin Claudia speak fluently (bicara fasih/ lancar). Makanya Claudia klop banget sama Tiara. Kalau enggak karena mau KKNM waktu itu mungkin bakalan masih les sampai sekarang. Sekarang beneran udah skripsi ya, Ra?"
"Udah selesai sih mba, tinggal yudisium sama wisuda."
"Pak Yon bilang bilang kamu wisuda akhir bulan ini?" Elok bertanya antusias.
Tu kan pantes mba Elok tahu duluan aku mau wisuda, biangnya pak Yono nih.
"Iya mba, insha Allah, akhir bulan ini."
"Jadi gimana tawaran mba?"
"Tawaran apa maksudnya Cit?" kali ini pertanyaan itu datang dari Hans yang suaranya membuat Tiara di landa grogi.
"Elok nawarin Tiara jadi kepala sekolah di Green Yard kak, ini atas saran temen Elok juga. Tiara termasuk mahasiswa unggulan lho kak," ujar Elok menggebu-gebu. "Jadi gimana, Ra?"
Tiara sedikit bingung atas serangan mendadak yang dilancarkan Elok. Dia sedikit khawatir jika jawabannya akan menyinggung salah satu hati disana. Tapi dasar Tiara yang tidak pandai basa basi.
"Masalah itu, saya belum berani menerima mba, maaf banget, sepertinya kemampuan leadership saya belum sampai untuk memimpin satu sekolah. Saya tersanjung banget atas tawaran mba, tapi saya masih perlu mengasah kemampuan saya dulu, takutnya saya nanti malah bikin kacau sekolah mba Elok. One day I wish I could, if you don't mind." Tiara akhirnya dengan tegas tapi santun menolak permintaan Elok. Ia berharap tidak menyinggung hati siapapun.
Jawaban Tiara di sambut senyuman oleh Elok, Hans mengangguk kagum, Citra dan Ranti tersenyum dengan calon mantu dan cucu mantunya itu.
Jangan tanya Yundhi, ia yang sedari nguping di sofa depan tv perasaannya sudah meluap-luap sejak Elok memuji-muji Tiara. Tugasnya jadi lebih ringan untuk mengenalkan Tiara pada orang tuanya.
"It's okay, I don't mind." Elok menepuk halus pundak Tiara. "Tapi kalau mba minta kamu ngasih kelas untuk guru-gurunya bisa kan? Mba mau menaikkan kemampuan bahasa Inggris guru-guru GY."
'Tuhaaaan, ternyata belum nyerah, ada aja.'
"Kalau yang itu bisa aja mba, nanti saya atur dengan jadwal ngajar saya."
Elok tersenyum puas.
"Eh kenapa jadi ngomongin kerjaan terus, tamunya belom minum lagi." oma Ranti menengahi perbincanga itu.
"Meja makan sudah disiapkan nyah, tuan."
seorang asisten rumah tangga datang memberitahukan mereka bahwa hidangan makan malam telah disiapkan.
"Nah pas nih, ayo kita makan dulu."
Semua yang ada di ruangan itu beranjak dari tempat duduk kecuali Tiara, ia memilih melakukan gerakan slow motion dengan berjalan paling belakang. Sebagai orang asing tentu ia masih segan untuk membaurkan diri.
Yundhi yang memperhatikannya tidak tinggal diam, ia lalu menghampiri Tiara dan meraih tangan kekasihnya. Tanpa ragu Yundhi mencium puncak kepala Tiara dan membuat wajah Tiara memerah seketika.
Cubitan kecilpun mendarat di pinggang Yundhi membuatnya meringis menahan sakit.
"Apaan sih."
"Itu hadiah lho buat kamu."
"Enggak lucu Yundhi."