
Tiara kembali di buat besar kepala oleh keluarga besar suaminya. Selain kamar inapnya yang sudah di hias sedemikian rupa denga berbagai pernak-pernik berwarna merah jambu begitu Tiara kembali dari ruang operasi, hadiah untuk kelahiran anggota baru Prasetya itu pun mulai berdatangan ke rumah sakit. Tiara yang masih dalam masa pemulihan tidak bisa berbuat banyak untuk mengatur di mana hadiah-hadiah itu harus di letakkan. Untungnya, Citra dan Helma ada di sana mengurusi segalanya. Sebagian hadiah bahkan sudah di bawa pulang ke rumah oleh Mang Jay karena merasa tidak enak pada pihak rumah sakit jika hadiah-hadiah itu berjejer di sepanjang koridor. Tidak hanya dari keluarga besar Prasetya, kata Yundhi hadiah-hadiah itu juga datang dari rekan bisnis dan koleganya.
"Udah bisa miring kiri kanan kan, Bun?"
"Sudah Dok."
"Bagus itu, lebih banyak bergerak, bekas operasinya akan semakin cepat kering. Tapi geraknya yang ringan-ringan dulu, jangan terlalu di paksa. Apalagi nanti kalau sudah bisa jalan, Bunda bisa segera pulang." Dokter itu menjelaskan, Tiara yang di dampingi Yundhi mendengarkan dengan seksama.
"ASI-nya gimana? Sudah keluar?" Tanya si dokter lagi, "kalau melahirkan secar memang ASI agak lama, di pancing terus sama baby-nya ya Bun, bisa di bantu dengan suplemen pelancar ASI, banyak minum air dan makan sayur," wejang sang Dokter.
"Kayaknya sudah keluar sih Dok, baby-nya pinter mancingnya." Yundhi yang menjawab tanpa ragu, karena di ruangan itu hanya ada mereka berempat dengan si bayi, "turunan Papanya," sambung Yundhi yang di sambut pelototan tajam Tiara.
"Kalau semua oke, saya tinggal dulu ya, bisa panggil saya nanti kalau Bundanya punya keluhan."
"Makasih, Dok." ujar Yundhi dan Tiara bersamaan.
Bersamaan dengan perginya sang dokter, suara tangis bayi terdengar kembali. Yundhi dan Tiara menoleh pada boks bayi yang terletak di samping tempat tidur.
"Kayaknya baby-nya mau mancing lagi," seloroh Yundhi sambil mengangkat anaknya, "anak Papa haus ya?"
Yundhi mengecup singkat pipi merah anaknya sebeluh di serahkan pada Tiara.
Tiara menerima bayinya dengan penuh suka cita yang tidak bisa di lihat siapa pun. Hanya dirinya yang merasakan dalam hati. Tanpa di minta, bayi mungil itu mengeluskan wajahnya pada dada Tiara seolah tahu bahwa apa yang ia cari ada di sana.
"Pinter banget sih."
Tiara memulai proses menyusui dengan dampingan Yundhi.
"Jadi kamu sudah siapin nama?" tanya Tiara.
Karena kelahiran anaknya yang di majukan, Yundhi bahkan belum menyiapkan nama. Di tambah sebelumnya dia tidak mengetahui jenis kelamin calon anaknya, membuatnya tidak mempersiapkan nama sama sekali.
"Kalau sekarang sih udah ada gambaran, kamu gimana, sudah ada nama juga?" tanya Yundhi balik.
"Ada sih, kalau kamu setuju, aku pengen kasih nama 'Kirana'.
"Kirana? Kedengarannya bagus."
"Kamunya gimana?"
"Kalau dari aku, mau kasih nama 'Yosicha', pakai CH ga pake K, Y-O-S-I-C-H-A."
"Artinya apa?" tanya Tiara karena merasa sedikit aneh dengan nama yang di sebut Yundhi.
"Artinya kemandirian, anak yang mandiri, kalau Kirana artinya apa?" tanya Yundhi.
"Kirana punya banyak arti positif, diantaranya sinar, cantik, molek, dan elok," jelas Tiara bangga.
"Ya udah kita gabungkan aja, Yosicha Kirana Prasetya, kakaknya Yudhistira Edward Prsetya."
Yundhi mengikrarkan nama anak-anaknya.
"Yosicha Kirana Prasetya," ulang Tiara, "kedengarannya bagus, aku suka," ungkap Tiara sembari menoleh pada suaminya yang membuat Yundhi refleks mencium sekilas bibir Tiara karena gemas.
"Yang lain ke mana?" karena sedari tadi Tiara tidak menemukan semua anggota keluarga yang sejak kemarin berkumpul di ruangannya.
"Pada nyari makan, Om Jo booking restoran yang di depan, katanya buat perayaan, semua di boyong ke sana."
"Edward juga?"
"Iya dong, sama susternya."
***
Lima tahun kemudian
Yundhi mendesah kasar sambil berjalan memasuki kediamannya pelan. Senyumnya kecut, wajahnya di tekuk menyadari hanya dirinya seorang di rumah megah itu. Tiara, dan anak-anaknya, Yudhi dan Ochi, menginap di rumah salah satu misan Yundhi yang melaksanakan pernikahan beberapa hari lalu.
Berbicara tentang anak-anak. Si sulung Edward tidak mau di panggil Edward lagi dan minta di panggil Yudhi, alasannya ingin terdengar seperti nama sang ayah yang diidolakannya. Dan adiknya, memilih di panggil Ochi setelah sebelumnya Tiara memberi panggilan Icha. Katanya Icha terlalu pasaran. Yudhi semakin tumbuh semakin mirip dengan Tiara, hanya matanya yang mewarisi mata Yundhi yang coklat dan postur tinggi tegap ayahnya, sisanya menurun dari gen sang ibu. Ochi, tidak di ragukan memang benar-benar duplikat Yundhi versi wanita. Sama sekali tidak mewarisi gen tubuh Tiara. Dasar memang Yundhi niat sepenuh hati saat membuatnya. Dan sekarang Yundhi merindukan mereka, anak-anak dan istrinya.
Dan...
Semua berawal saat H+1 resepsi, Yundhi yang harus pergi mendadak masalah pekerjaan ke luar kota beberapa hari menggantikan Hans. Yah, Yundhi telah sepenuhnya bergabung dengan perusahaan keluarganya, menjadi satu-satunya calon pengganti Hans Prasetya, membuat Yundhi resmi melepas seragam pilotnya tiga bulan lalu. Tiara yang awalnya tidak setuju, mau tak mau harus setuju mengingat usia sang mertua yang sudah tidak muda lagi. Dan sebagai gantinya, Hans membeli pesawat pribadi untuk menantu satu-satunya, Tiara. Tak tanggung-tanggung, pesawat itu juga di beri nama sesuai dengan nama sang penerima. TIARA SKY.
Karena Yundhi yang harus keluar kota, Tiara mengusulkan agar mereka menginap lagi selama Yundhi pergi dan Yundhi menyetujuinya. Dan saat ini, ketika sampai di rumah, bukannya pergi menjemput sang istri, dia harus bertemu lagi dengan seorang kolega pagi tadi. Pertemuan yang membuat Yundhi hampir mati bosan.
Begitu pertemuan selesai, Yundhi memutuskan beristirahat sejenak di rumah sebelum menjemput kembali istri dan anak-anaknya. Badannya terasa lelah setelah melakoni segala tuntutan pekerjaan. Ingin rasanya ia mendapat sambutan meriah dari Tiara, Yudhi dan Ochi, begitu dirinya menginjakkan kaki di rumah. Apalah daya, dia harus mengubur keinginannya saat ini. Sore nanti, barulah Yundhi akan pergi menjemput mereka.
"Papa! Papa!"
Sontak Yundhi menunduk dengan senyum lebar menyambut putra putri yang menghampirinya. Hangatnya dekapan ayah dan anak menguapkan segumpal lelah yang ia rasa sedari tadi. Mata Yundhi mengitari setengah ruangan. Di sanalah Tiara berada dengan topi khas ulang tahun dan sepotong kue di tangan.
"Kamu udah pulang, Ma?"
Semenjak Ochi lahir, Tiara dan Yundhi memutuskan mengubah panggilan mereka dengan sebutan Mama-Papa, memang harusnya dari dulu.
"Kapan sampai rumah?" tanya Yundhi lagi tak bisa menahan rasa penasaran karena setahunya, dari Citra, Tiara masih berada di rumah misannya.
"Kejutan dong, Papa tiup dulu!"
Melihat lilin yang mulai meleleh Yundhi segera meniupnya. Setelah lilin padam, Yundhi bergantian mencium pipi Yudhi dan Ochi, dan ciuman bibir untuk Tiara.
"Selamat ulang tahun Papa." Sorak Yudhi dan Ochi.
"Kita udah pulang dari kemarin, anak-anak ngotot mau bikin sendiri kue ulang tahun sendiri begitu mereka ingat. Jadi aku telpon Pak Mus buat jemput."
"Papa bawa oleh-oleh ga?" Edward menyela obrolan mereka.
"Papa cuma keluar kota sayang, kerja, bukan jalan-jalan."
"Ada kok di bawah, Papa taruh di ruang tamu."
"Asyiiiiiiik." Ke dua anaknya berlari meninggalkan Yundhi dan Tiara di sana.
"Astaga aku kangeeeen." Kali ini Yundhi memanfaatkan peluang yang ada, tangannya langsung memerangkap Tiara dalam dekapannya.
"Kamu ga mau makan kuenya dulu, kita udah gotong royong lho bikinnya."
"Aku makan kamu dulu bisa?"
"Ih, baru juga tiga hari."
"Tiga hari itu ribuan detik, Sayang."
"Gombal."
"Biarin."
"Kamu ga minta hadiah?"
"Enggak, kalian udah jadi hadiah paling indah, aku ga butuh hadiah lagi."
"Tapi aku mau ngasih kamu hadiah." Tiara memaksa.
Kali ini Yundhi melepaskan pelukannya, "apa sih?"
"Ada tu di atas nakas, ambil gih, aku taruh kuenya dulu ke dapur."
Sesaat Yundhi menatap nakas, ada kotak kecil di sana.
"Enggak, kamu di sini, taruh kuenya di situ aja," sambil menunjuk meja rias Tiara, Yundhi menuntun Tiara meletakkan kue kemudian menuju nakas.
Tangannya meraih kotak kecil berwarna coklat, segera Yundhi membukanya.
Saat itu juga dada Yundhi bergemuruh dengan desiran hangat yang membuatnya ingin bersorak kegirangan.
"Barapa bulan?"
"Mungkin enam minggu, aku belum periksa, nunggu kamu pulang."
Saat itu juga Tiara mendapat pelukan dan ciuman bertubi-tubi dari Yundhi. Rumah megah yang ia bangun untuk keluarganya itu akan di ramaikan lagi dengan suara tangis bayi delapan bulan yang akan datang.
"Akhirnya setelah lima tahun."
"Kamu sengaja taruh oleh-olehnya di bawah?"
"Tau banget akal suaminya."
"Aku suka kamu nakal gini, tapi aku pengen ke dokter."
"Kita pergi periksa, tapi aku jenguk dulu."
END