
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, matahari sudah meninggi. Yundhi menggeliat di sofa, meregangkan badannya yang terasa kaku karena tidur di tempat yang tidak biasa. Pelan ia membuka mata mengedarkan pandangan. Suasana masih tenang, Tiara masih terlelap, damai menyatu dengan alam mimpi. Senyum kecil terbit di wajah pilot itu.
Mendapat pemandangan wajah Tiara begitu membuka mata, menjadi hal yang luar biasa bagi Yundhi. Baru kali ini ia melihat wajah polos Tiara ketika masih tidur di pagi hari, dadanya menghangat. Cantik.
Yundhi mendudukkan badan, kemudian berdiri dan segera menuju kamar mandi. Tak lama, ia keluar dengan wajah segar. Tangannya menuju telpon yang ada di atas nakas samping tempat tidur, memesan layanan kamar membawakannya sarapan spesial ke kamar.
Setelahnya ia ikut berbaring di samping Tiara, ia memiringkan badan, menatap lembut pada gadis itu. Berpikir sejenak apa yang akan ia katakan jika Tiara bertanya di mana obatnya ketika sadar nanti.
Kamu tahu ga gimana nyeselnya aku abaikan kamu enam bulan lalu, andai waktu bisa di ulang, mungkin sekarang kamu sedang tidur di kamar kita, dengan perut buncit gara-gara perbuatanku.
Yundhi mulai ngawur, ia buru-buru menggelengkan kepala. Tak lama suara pintu di ketuk, membuat Yundhi memutuskan khayalannya tentang berumah tangga dengan Tiara. Seorang pegawai wanita mendorong sebuah rak kecil berisi makanan yang tertutup tudung dan beberapa minuman yang Yundhi pesan. Pegawai itu undur diri setelah Yundhi memberinya selembar uang sebagai tanda rasa puas akan pelayanan hotel.
Yundhi kembali ke samping Tiara, mengambil posisi telungkup memeluk bantal.
"Kebo banget sih kamu, di Loca emang kamu ga pernah tidur?" Yundhi menjawil hidung Tiara. Akibatnya Tiara merasa terusik dan mulai menggerakkan badan. Yundhi hanya memperhatikan dengan senyum yang tak pernah lepas.
"Bangun, udah siang!" ujarnya pelan, sambil menoel pipi Tiara gemas.
Tiara mengucek mata, memijit pelan pelipisnya, lalu menutup mulut karena menguap. Pelan ia membuka mata, menghadap langit-langit, belum menyadari Yundhi di sampingnya.
Tiara memegang pipi, "Kok nyata banget ya rasanya," bergumam dengan suara serak khas bangun tidur. Yundhi tersenyum menahan tawa.
Mata Tiara beraksi, mengedarkan ke sekeliling ruangan dengan posisi sama, masih berbaring.
"Perasaan kamarnya ga gini semalam, apa aku mimpi," gumamnya lagi. Menarik napas, Tiara memiringkan tubuh, manik matanya bertemu manik coklat milik Yundhi.
"Kamu nyata banget." Yundhi tersenyum, entah Tiara sudah sadar atau belum.
"Aku sering lihat bayangan wajah kamu di Loca, tapi ga senyata ini." Yundhi hanya mendengar tanpa membalas ucapan Tiara.
"Tiap hari aku nangis nahan rasa rinduku ke kamu, tapi aku cuma bisa lihat foto kamu," ujar Tiara lagi sambil tersenyum. Yundhi mengangguk menahan geli.
"Aku hancur lihat kamu jalan sama wanita itu, tapi harus pura-pura tegar di depan mama kamu. Aku marah lihat foto kalian di bandara di Jepang."
"Aku minta maaf, tapi aku sama Emmy cuma teman, ga lebih."
"Kamu pinter bohongin aku."
"Aku ga bohong."
"Boleh aku nampar kamu sekarang, biarpun cuma mimpi kayaknya aku bakal ngerasa puas." Yundhi bangun dari posisinya.
"Kamu ga mimpi, ayo, kamu bisa tampar aku sekarang."
Tiara mengerjapkan mata, memikirkan kata-kata yang baru ia dengar. Ia menolehkan pandangan ke tempat lain, mengerjapkan matanya lagi, melihat ke arah Yundhi. Ia kemudian mencubit sendiri tangannya.
"Sakit sih. Eh?!" wajah Tiara terlihat syok. Ia bangun dan terduduk, menoleh kiri kanan.
"Ini kamarnya beneran ganti, aku ga mimpi, kamu ngapain di sini?" Tiara panik.
Tiara memeriksa tubuhnya, ia lega mendapati bajunya masih seperti semula, tapi kembali panik ketika sadar ia hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek. Dan gawat, dia tidur tanpa memakai...
"Kamu ngapain aku, kenapa aku di kamar lain?" Tiara melayangkan bantal pada Yundhi sambil berteriak histeris. Keputusannya tepat untuk pindah ke kamar yang kedap suara.
"Aku ga ngapa-ngapain Ra, sumpah, aku tidurnya di sofa."
"Kamu bohong lagi, emang senengnya bohongin aku terus, katanya aku masa depan kamu, tapi kamu jalan sama cewek lain, mesra-mesraan. Ketawa sana-sini. Balik sana sama cewek kamu! Aku benci sama kamu."
Kali ini Tiara kalap, ia memukul, melempar Yundhi dengan bantal. Kehabisan bantal, Tiara mencari amunisi lain, tas tangannya di atas nakas menjadi sasaran.
"Aku ga bohong Ra, aku sayangnya sama kamu, Emmy cuma teman."
"Terus kenapa kamu jalan sama dia, nganter dia sampai Jepang, ninggalin aku sendirian, kamu kayaknya seneng banget hah, kamu bahagia sama dia, pergi sana, aku benci sama kamu!" Tiara menangis histeris, melempar segala benda yang ia dapat dari tasnya, kaca, pulpen, buku kecil, bedak, gincu, apapun benda di tangannya terlempar ke Yundhi.
"Aku bisa jelasin Ra, tenang, dengerin dulu!"
"Tenang kamu bilang, gimana caranya aku tenang? Lihat calon suami sendiri jalan sama cewek lain, kamu nyuruh aku tenang." Saat itu juga Yundhi bisa merasakan bagaimana sakitnya Tiara melihat perbuatannya. Melihat wanita itu menangis karena kelakuannya.
Lagi-lagi Tiara kehabisan amunisi, sekarang ia menerjang Yundhi, ingin memukul dengan tangannya sendiri. Tiara benar-benar ngamuk. Kejadian masa lalu terus berputar di kepalanya.
Yundhi tidak menghindar, ia menerima apapun yang Tiara lakukan dengan lapang dada. Ini memang yang ia harapkan, Tiara meluapkan kemarahan yang ia pendam selama ini.
"Kamu jahat, aku benci sama kamu, aku mau kita putus," kali ini Yundhi tidak terima, ia menahan tangan Tiara dengan hati-hati meski wanita itu menepisnya di waktu yang sama.
"Ra, tenang dulu please, aku bisa jelasin, jangan ngomong gitu!" Tiara sesenggukan.
"Kamu ga perlu milih, kamu bisa balikan lagi___"
Yundhi menarik tangan Tiara, meraih pinggangnya erat. Tiara tidak sempat menghindar. Yundhi menyatukan bibir mereka, satu-satunya jalan agar Tiara berhenti merancau. Yundhi mencium Tiara.
Ia sering melihat adegan ini di film-film yang pernah ia tonton, dimana laki-laki mencium wanita yang sedang marah untuk di tenangkan. Tapi ini pertama kalinya bagi Yundhi, menenangkan wanita yang ia cintai dengan cara itu, membuat perasaannya membuncah. Senang, sedih, takut kehilangan lagi menghampiri Yundhi saat itu.
Baru setelah kehabisan nafas Yundhi berhenti dan memberi jarak antara mereka. Ia menatap Tiara yang masih terpejam dengan napas terengah. Yundhi mencium dalam kening wanita itu lalu memeluknya. Tiara tidak melawan. Yundhi berhasil. Tiara sudah tenang kembali. Damai.
"Bisa dengerin aku sekarang?" Tiara mengangguk pelan dalam pelukan Yundhi, Yundhi tersenyum.
"Posisi kamu dalam hati aku ga pernah berubah, kamu masih di sini," Yundhi meletakkan tangan Tiara di dadannya. "Kamu udah ambil hati aku semuanya, ga ada yang tersisa buat cewek lain."
"Kamu udah dengar gimana aku hancur begitu kamu pergi, tapi kalau kehilangan kamu lagi, aku mungkin ga cuma hancur, aku bisa mati."
Tiara memukul ringan dada Yundhi, "Jangan ngomong gitu, aku ga suka!"
"Emmy cuma teman, ga lebih. Ga ada lagi perasaanku buat dia. Yang kamu lihat di mall waktu itu, aku cuma ngabulin permintaan terakhir dia sebelum pergi berobat ke Jepang."
Tiara merasa jantungnya di remas. Yundhi miliknya, tapi mendengar pengakuan itu dari Yundhi sendiri sensasinya berbeda. Sakit.
"Aku nganter dia sampai Jepang, kebetulan aku ada penerbangan ke sana." kali ini Yundhi berdusta, dialah yang memaksa atasannya memberi jadwal penerbangan ke sana. Bohong lagi.
"Aku temenin dia sebentar di rumah sakit." Tiara mulai memberontak. Tidak senang dengan kelanjutan cerita itu.
"Dengar dulu Ra!"
Yundhi tidak mau melepaskan pelukannya. Ia tahu Tiara mulai kesal.
"Aku cuma kasihan, dia sendirian di sana, mungkin sebenarnya dia sekarat karena penyakitnya, dia menderita leukemia stadium akhir." jelas Yundhi cepat.
Mendengar itu, Tiara kembali lemas dan tidak melawan.
"Besoknya aku baru tahu ayah meninggal dan secepatnya ambil penerbangan pulang. Sampai di sini kamu udah ga ada."
Tiara masih diam.
"Jadi udah ya marahnya. Enam bulan lho Ra. Kita udah baikan, kan?"
"Hm."
"Cuma 'hm'?"
"Iya kita baikan. Puas?" Tiara ingin melepas diri, "Udah dong, ini mau sampai kapan pelukan gini?"
"Dikit lagi Ra, aku seneng posisi kita kayak gini, kamu hangat."
Tiara termenung. Hening. Otaknya bekerja lambat.
Hangat?
Tiara terkesiap, memberontak. Berhasil. Ia lepas dari Yundhi. Mundur beberapa langkah dengan tangan menyilang di dada. Yundhi cengo.
"Kamu tu ya, dasar."
"Kenapa sih Ra?"
"Kamu tahu aku ga pake dalaman kalau tidur, tadi-kamu-bilang....hangat...aku, akh Yundhi!"
Yundhi melihat wajah Tiara merona. Ia kini paham maksud Tiara.
"Kenapa emangnya, bentar lagi aku juga bakal lihat semuanya." Yundhi tersenyum jahil menyilangkan tangan di dada.
"Jahat."
"Kok jahat, hitung-hitung latihan Ra, aku ga keberatan kita lanjutin ke tahap berikutnya."
"Jangan mimpi!"
Tiara mencari bajunya di dalam koper, lengkap upper wear-under wear, dan celana.
Yundhi menahan tawa melihat Tiara kelimpungan.
"Aku udah tegang lho Ra, kamu ga kasihan?"
"Bodo amat." Tiara beringsut ke kamar mandi dan mengunci diri di dalam.
"Ra, buka dong, aku pengen mandi lagi."
"YUNDHIIII!"
"Iya sayang, kamu manggil, nih aku udah di depan pintu."
"Kamu ngomong lagi aku beneran kabur ga balik-balik."
"Oke, aku diam."