
Tiara dan keluarga besarnya baru kembali dari pemakaman sang ayah. Beberapa teman kuliah juga rekan guru terlihat masih setia tinggal di rumahnya. Tapi entah kenapa kehadiran mereka tak begitu dihiraukan Tiara. Malah yang paling menyita perhatiannya saat ini adalah seorang wanita berumur pertengahan, mungkin seumuran dengan Citra, yang membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar 3 tahun. Tidak ada yang aneh dengan penampilan wanita dan anak laki-laki itu, dia memakai pakaian serba hitam seperti pelayat umumnya, yang membuat Tiara memberi perhatian adalah tingkah yang mereka tunjukkan selama pemakaman berlangsung.
Ketika ayahnya akan di masukkan ke liang lahat, wanita itu terlihat kewalahan menenangkan sang anak yang meronta ingin ikut masuk ke dalam lubang, dan yang paling membuat Tiara jengah, suara teriakan anak itu yang memanggil ayahnya dengan sebutan 'papa'. Papa?
Tiara mengumpulkan keluarga terdekat ayahnya di ruang tamu. Ia harus mendapat penjelasan dengan apa yang ia lihat selama pemakaman yang berlangsung. Memang tidak hanya dirinya yang menangisi kepergian sang ayah. Orang yang mengenal ayahnya dan tentu saja keluarganya masih Tiara anggap wajar menangisi ayahnya yang telah di kubur.
Tapi wanita dan anak itu, Tiara tidak mengenalnya sama sekali. Mereka bukan bagian dari anggota keluarganya, jauh maupun dekat. Lalu kenapa wanita itu malah terlihat menangis begitu pilu? Dan yang ada di gendongannya tak berhenti menyebut 'papa' pada jasad ayahnya?
Kepala Tiara semakin terasa berat dan berdenyut. Tapi sakitnya tak menjadi penghalang untuk meminta penjelasan pada keluarga ayahnya. Pasti mereka mengenal wanita itu karena benerapa kali saudara perempuan ayahnya bergantian menenangkan anak laki-laki itu di pemakaman.
"Tiara ga suka basa-basi," bukanya ketika para anggota keluarga yang di anggap mengetahui status wanita yang masih misterius bagi Tiara, "siapa tante itu?"
Para anggota keluarga saling pandang, belum ada yang berani membuka suara. Semua seperti merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan pada Tiara. Mereka tahu pasti emosi Tiara hari ini masih labil, jika mereka salah bicara Tiara mungkin akan kembali histeris.
"Paman, paman pasti tahu." tanya Tiara pada adik kandung ayahnya. Hardi.
"Tiara, dengar paman baik-baik! Apapun yang kami katakan, yang akan kamu dengar, paman harap bisa kamu terima dengan lapang dada."
"Paman langsung saja, Tiara akan terima apapun yang akan paman katakan."
Hening. Semua anggota keluarga yang mengelilinginya tampak cemas dengan apa yang akan terjadi.
"Tante yang kamu maksud tadi adalah istri kedua ayahmu."
Mata Tiara terbuka lebar di lingkupi cairan bening dan masih merah. Tubuhnya kembali lemas mendengar kenyataan yang terungkap, tapi sepertinya otaknya menolak kebenaran yang di ceritakan pamannya. Tiara masih diam kehabisan kata-kata.
"Paman juga heran kamu bertanya seperti ini, paman kira ayahmu sudah memberi tahumu sejak dulu." Hardi menjeda, melihat reaksi keponakannya setelah apa yang ia ungkapkan. Melihat Tiara yang tampak tenang membuatnya sedikit lega. "Apa kamu masih mau mendengarkan?"
Meski tertunduk dengan tubuh yang sudah lemas dan bergetar halus, Tiara mengangguk, biarlah hari ini semua badai kehidupan menyerangnya.
"Ayahmu menikah dengan Helma sejak empat tahun yang lalu, mereka memiliki anak. Anak laki-laki yang tadi kamu lihat di pemakaman adalah adikmu, namanya Wahyu, umurnya tiga tahun."
Tiara semakin menenggelamkan kepala, tubuhnya terasa tak memiliki tulang. Tangannya bahkan harus bertumpu pada lantai agar badannya bisa tetap duduk. Jenny yang hanya bisa melihat dari kejauhan, menatap pilu sahabatnya itu. Ia tidak berani mendekat karena ia sadar itu bukan ranahnya meski sejak tadi ia ingin memeluk Tiara yang rapuh dan kacau.
Tiara berusaha menata hatinya, meski segala ucapan pamannya terasa seperti mata pisau yang menyayat tubuh. Ayahnya menikah? Empat tahun lalu? Punya anak? Dia punya saudara. Empat tahun lalu bahkan saat itu Tiara masih kuliah.
"Tiara!" Hardi memanggil halus Tiara yang seperti tak sadarkan diri meski dengan posisi masih duduk di lantai. Kepalanya tetap tertunduk dan terdengar isakan kecil di sana. Tiara menangis.
Terguncang hebat dengan kenyataan yang menimpanya, Tiara sekuat mungkin terlihat tegar walau hatinya saat ini hancur berkeping-keping. Ayahnya dan Yundhi sangat kompak memberinya kejutan kesedihan di waktu yang sama.
"Cukup!" Tiara mengangkat wajah dan menghapus jejak-jejak air matanya. Dengan sisa tenaganya Tiara mencoba berdiri.
"Tiara minta tolong, paman beritahu tante Helma dia boleh tinggal di sini sama Wahyu." Semua orang yang ada di ruangan itu tersentak. Tidak ada yang menyangka Tiara akan mengucapkan kata-kata itu. Mereka bahkan mengira Tiara akan menyangkal kenyataan dan akan mengusir Helma dari sana. Meski begitu tak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun sebelum tubuh Tiara meninggalkan ruang tamu tempat mereka berkumpul.
"Ra!" Jenny meraih lengan Tiara tepat sebelum Tiara masuk ke kamarnya.
"Gue pengen sendiri Jen." jawab Tiara masih dengan mata basah.
"Tapi ___"
"Please," Jenny melepas lengan lemah itu meski berat, ia ingin sekali menemani Tiara mendengarkan apapun yang ingin sahabatnya itu ungkapkan. Mendengar keluh kesahnya, mengurangi beban pikiran sahabatnya itu. Sejak kejadian membanting ponsel Tiara tak bicara sedikitpun tentang apa yang ada di benaknya meski Jenny sudah bertanya puluhan kali. Sekarang di tambah Tiara harus menghadapi kenyataan ayahnya telah menikah lagi tentu sahabatnya itu terluka hebat.
"Thanks, udah nemenin gue, gue minta tolong lo urusin temen-temen yang dateng."
Sangat paham dengan apa yang di ucapkan Tiara, Jenny menggangguk. Apapun. Apapun akan dia lakukan asal Tiara merasa lebih baik.
Setelahnya Tiara masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana. Hingga para pelayat telah sepi meninggalkan kediamannya, Tiara tak juga keluar dari kamar.
***
Yundhi melihat berkali-kali jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Meski sudah berada di dalam pesawat yang pasti akan mengantarnya pulang, ia masih saja gelisah. Kursi penumpang yang ia duduki terasa seperti di tempeli duri. Dia tidak bisa duduk tenang seperti penumpang lain padahal waktu pesawatnya akan mendarat sebentar lagi. Tapi baginya waktu yang berjalan saat ini terlalu lambat. Enam jam terlama dalam hidup, Yundhi alami saat ini.
'Maaf sayang, maaf.' Yundhi terus mengulang kalimat itu dalam hati. Dengan mata terpejam dan tangan yang menangkup di depan kepala Yundhi hanya bisa berdo'a Tiara baik-baik saja.
Sebelum berangkat ia sudah berusaha menghubungi Tiara, tapi ponsel kekasihnya itu tidak aktif. Jika di lihat dari tanggal pesan singkat yang dikirim Jenny padanya, artinya ayah Tiara meninggal ketika ia baru mendarat di Jepang. Perkiraannya Adib sudah di makamkan ketika ia sedang bersama Emmy di rumah sakit. Dan selama itu dia tidak bersama Tiara, bodohnya ia lupa mengaktifkan ponsel. Segala perbuatannya menambah rasa bersalah yang muncul di benak Yundhi.
Yundhi tidak berani membayangkan apa yang akan Tiara katakan padanya. Kepalanya ia sibukkan dengan merangkai kata-kata maaf yang mungkin bisa di terima Tiara.
"Aaargh." tanpa sadar Yundhi menghantam kursi penumpang di depannya. Membuat penumpang yang duduk di sana terlonjak berdiri.
"Maaf, maaf, saya tidak sadar." ujar Yundhi yang ikut berdiri.
"Maafkan saya, anggota keluarga saya meninggal, saya takut tidak bisa bertemu untuk terakhir kali." ucap Yundhi. Hanya itu alasan yang terlintas di kepalanya dan memang benar calon mertuanya meninggal tapi jelas dia tidak bisa melihat Adib untuk terakhir kali.
Penumpang yang terganggu itu melunak, "lain kali jangan di ulangi!" ujarnya sambil kembali duduk.
"Sekali lagi maaf dan terima kasih."
Yundhi menghela nafas berkali-kali agar bisa kembali tenang. Sungguh pikirannya sangat kacau saat ini. Jika melompat dari pesawat tidak membuatnya mati dan bisa langsung bertemu Tiara mungkin hal itu sudah ia lakukan dari tadi.
Sedang apa dia sekarang?
***
Meski merasa asing, Helma berusaha menyesuaikan diri di rumah almarhum suaminya itu. Anaknya, Wahyu, sudah ia tidurkan di kamar yang tidak di tempati Tiara. Sudah pasti itu kamar almarhum suaminya. Jika mereka tinggal bersama, mungkin ia juha akan tidur di sana. Tapi empat tahun ini mereka tinggal berjauhan. Adib memutuskan mengontrakkan Helma rumah lain yang cukup jauh dari tempat tinggalnya dan Tiara. Alasannya dulu, dia ingin menjaga perasaan Tiara. Ia takut Tiara tidak bisa menerima keputusannya untuk menikah lagi.
Layaknya seorang ibu, Helma menyiapkan makan malam untuknya dan Tiara. Memasak seadanya, apa saja yang tersedia di dalam kulkas.
Hari mendekati tengah malam, rumah itu juga telah sepi dari pelayat. Tinggal ia, Wahyu dan Tiara. Meski merasa mengantuk, Helma masih menunggu Tiara keluar dari kamar. Ia tahu pasti, anak tirinya itu belum makan seharian ini.
Merasa sedikit resah, Helma mendekati pintu kamar Tiara. Ia mengetuk pelan beberapa kali dan tak mendapat tanggapan dari sang penghuni.
"Nak Tiara, tante udah siapkan makan malam." ujarnya dari balik pintu. Nihil. Tiara tak juga membalas. Helma hampir putus asa.
Ketika membalikkan badan Helma dikejutkan dengan suara handle pintu yang di buka.
Tiara muncul dengan baju kasual di balut jaket kebesaran, lengkap dengan topi dan tas ransel di punggungnya. Helma tentu kaget, mau kemana anak gadis itu malam-malam begini?
Untuk pertama kalinya mereka saling berhadapan, Helma sedikit kikuk. Satu katapun tak mampu keluar dari mulutnya. Tiara memandangnya sangat intens.
"Ta-tante sudah siapkan___"
"Tiara titip rumah, tante boleh tinggal di sini sama Wahyu."
Helma mematung, mencerna kata-kata Tiara. Helma bisa melihat gurat kesedihan di wajah Tiara, tapi mau kemana anak tirinya itu malam-malam begini. Pertanyaan itu terus mengusiknya.
Air mata Tiara kembali menetes, segala sudut yang ia lihat di rumah itu seolah menarik matanya untuk menangis. Ada bayangan Yundhi dan ayahnya sedang tertawa di sana.
"Tiara minta tolong, tante jaga rumah selama Tiara pergi." ujarnya sambil terus menangis.
Helma masih bingung dengan apa yang dia dengar hingga ia tidak membalas ucapan Tiara.
Tiara lalu melangkah ke kamar ayahnya. Ia tahu adiknya saat ini berada di sana. Helma hanya mengikutinya dari belakang.
Tiara membuka pintu, memandang Wahyu yang tertidur pulas. Ia mengingat kembali ketika Wahyu menangis di pemakaman. Meski tak melihat terlalu dekat, Tiara tahu anak itu mewarisi mata ayahnya. Tiara menutup pintu kembali. Ia melangkah keluar, meninggalkan Helma. Menyadari Tiara akan pergi, Helma menarik tangan anak tirinya itu.
"Mau kemana?"
Tiara melihat tangannya yang di genggam Helma dan Helma segera melepas genggamannya. Dilihat dari wajahnya, ia tahu Tiara tidak akan menjawab pertanyaannya.
"Setidaknya makan dulu, kamu belum makan seharian ini."
Mata Tiara tertuju pada meja makan. Ia melangkah pelan dan menempati satu kursi di sana. Helma terkejut sekaligus senang. Tak menyangka Tiara mau menurutinya. Dengan telaten ia mengambil piring dan nasi untuk Tiara, tak lupa lauk sederhana yang ia masak.
Tiara melihat hidangan di depannya dengan tatapan getir. Entah sudah berapa lama ia tidak mendapat pelayanan seperti itu. Dan kali ini Helma bersedia melayaninya tapi entah kenapa ia belum siap menerima kehadiran wanita pilihan ayahnya itu. Padahal ia juga merindukan kasih sayang seorang ibu. Mungkin ini terlalu mendadak.
Tiara meraih sendok dan memakan makanan yang di berikan Helma. Satu sendok makanan itu rasanya sulit sekali tertelan di tenggorokannya. Tiara mengambil gelas yang sudah berisi air. Tentu saja Helma juga yang menyediakannya.
"Cukup, saya harus pergi." Tiara berdiri dan melangkah menuju pintu. Helma bahkan tidak bisa mencegahnya.
***
Sopir taksi yang di tumpangi Yundhi hampir mengumpat karena tindakan Yundhi yang membuka pintu sementara taksinya belum berhenti. Yundhi segera memberikan uang pada sopir taksi itu bahkan melebihi harga yang tertera di argo. Mereka berhenti tepat di depan rumah Tiara.
Yundhi segera berlari ke dalam. Tak peduli saat itu sudah melewati tengah malam ia nekat menemui Tiara. Ia tidak akan bisa tenang sebelum bertemu calon istrinya.
Yundhi mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Tiara. Entah sudah berapa kali ketukan ia baru bisa mendengar tanda-tanda pintu akan di buka. Rasanya sudah tidak sabar ia ingin memeluk Tiara.
Beberapa saat kemudian pintu di buka. Mata Yundhi terbelalak melihat wajah asing di depannya.
"Tante siapa?"