
Selain Yundhi dan Kasvian, tidak ada yang tahu bahwa Tiara sudah kembali dari penelitiannya.
Jenny ataupun Mimi belum sempat Tiara kabari, tapi ia yakin kedua sahabatnya itu menjalankan amanatnya dengan baik. Bimbelnya berjalan lancar meski tanpa pengawasan Tiara.
Termasuk juga Citra. Ia memang mendengar bahwa Yundhi akan pergi mencari Tiara. Pikirannya tentu tak sampai pada kenyataan bahwa Tiara sudah kembali dan berada di satu kota yang sama dengannya. Yundhi yang menunggu Tiara bangun dari tidurnya di kejutkan dengan getar ponsel di saku celananya, nama sang mama muncul di sana.
"Ya ma, di rumah sakit." suara melengking Citra yang terkejut dengan jawaban Yundhi membuat Yundhi harus menjauhkan ponselnya beberapa senti.
"Bukan Yundhi yang sakit, Yundhi ga kenapa-napa." sambil berpikir apakah harus memberitahu tentang kepulangan Tiara atau tidak, Yundhi memutuskan menjauhkan diri dari posisi Tiara berada.
"Mama jangan kaget, yang sakit sekarang Tiara." tidak mematuhi perkataan Yundhi Citra malah semakin histeris dan meminta alamat rumah sakit tempat Tiara di rawat. Entah bagaimana kehebohan yang di buat sang mama saat ini. Yundhi memutus sambungan sepihak begitu memberitahu nama rumah sakit tempat Tiara di rawat.
Tak lama berselang, suara pintu yang di buka terdengar membuat Yundhi menoleh.
Reyhan melangkah ditemani seorang suster di belakangnya.
"Pasien saya belum bangun?" tanyanya dengan nada ringan.
"Jangan pakai kata kepemilikan, dia pacar gue, calon istri tepatnya." sanggah Yundhi.
"Dia di rawat di bawah pengawasan gue, otomatis pasien gue, astaga lo ga sembuh-sembuh dari penyakit possessif lo yang akut, sini kepala lo biar gue reparasi." kembali perdebatan tidak berguna terjadi antara teman lama itu.
"Hampir dua jam, dia belum bangun-bangun, lo udah bener ga sih ngobatinnya?"
Ingin rasanya Reyhan mengumpati sahabatnya itu. Bahkan saat kondisi Tiara yang sebenarnya membaik, Yundhi masih terlihat cemas.
Reyhan tak mengacuhkan perkataan Yundhi, tetap fokus melakukan tugasnya memeriksa Tiara yang masih terlelap. Setelah menyuntikkan obat pada selang infus yang melekat di tangan Tiara dan menyuruh suster yang bersamanya keluar dari ruangan itu, barulah Reyhan mengajak Yundhi bicara di sofa yang tersedia di sana.
"Ini normal, obatnya bekerja dengan baik, tubuhnya menyesuaikan diri dengan dosis yang gue kasih. Kita belum tahu kenapa dia minum obat penenang, bisa jadi karena pekerjaan, kelelahan, masalah keluarga, dan apapun penyebabnya nanti itulah akar yang harus di hilangkan. Kalau tidak, obat sebagus apapun ga akan berguna. Gimana dengan keluarganya, lo udah tanya?"
Yundhi sedikit tersentak dengan pertanyaan Reyhan.
"Keluarga?" Yundhi bergumam dan menjeda, "bisa di bilang dia cuma punya gue sekarang." imbuhnya lagi.
Mendengarnya Reyhan tak bertanya lagi tentang masalah pribadi Tiara. Untuk masalah itu Reyhan menghormati privasi Tiara sebagai seorang pasien.
"Pelan-pelan nanti lo bisa tanya sama dia, cari solusi secepatnya kalau ada masalah yang membuatnya harus berpikir keras. Untuk sakit kepalanya, gue udah siapkan resep. Dan nanti setelah keluar dari rumah sakit, gue bakal kasih jadwal check-up."
Yundhi mengangguk mengerti.
Melihat pergerakan dari tempat tidur, Yundhi beranjak mendekat. Tiara mengerjapkan mata perlahan, ia ingat sedang berada di rumah sakit, tapi sudah berapa lama ia tidur? Yundhi? Dimana laki-laki itu? otaknya mulai bekerja bersamaan dengan Yundhi yang muncul di sampingnya. Reyhan mengikuti di belakang.
"Kamu udah bangun?" sambil menggenggam tangan Tiara, "Ada yang sakit? Kepala kamu gimana?"
"Hei, jangan melangkahi bro, itu tugas gue!" sela Reyhan, "minggir!" Yundhi mengalah sambil berdecak sebal.
Tiara yang masih mengumpulkan kesadaran merasa heran dengan tingkah dua orang itu, seperti tidak pernah akur.
Reyhan mengeluarkan senter kecil dari saku jasnya. Mulai memeriksa indra penglihatan Tiara, dilanjutkan dengan denyut nadi dan jantung.
"Bagaimana sekarang? Kepala anda masih sakit?" tanya Reyhan ramah dengan bahasa formal.
"Tidak sakit lagi, rasanya lebih ringan. Tapi kalau nanti... apa akan kumat lagi? Karena di banding dengan minum obat sebelumnya, setelah minum obat dari dokter, rasanya sedikit berbeda?"
Reyhan tersenyum jumawa, memandang pada Yundhi seolah berkata 'Lihat gue hebat kan, jangan ragukan kemampuan gue lagi!'
Yundhi memutar mata, malas melihat sahabatnya sendiri.
"Oh ya, apa perbedaannya?"
"Rasanya jauh lebih ringan setelah minum obat dari dokter...?"
"Reyhan," sambil menunjukkan id cardnya.
"Dokter Reyhan. Terima kasih."
"Kalau ada keluhan lain segera beri tahu saya, kalau Yundhi membuat masalah, tinggalkan saja!"
Yundhi melotot ingin mengumpat dokter muda itu, tapi Reyhan buru-buru melingkarkan tangan di bahunya.
"Santai bro, gue udah punya Mega. Gue bukan orang yang suka nikung. Sebenarnya kami tiga sekawan Miss Tiara, satu lagi namanya Yaris, dia yang tadi malam___"
"Ga sudi gue nganggep lo sahabat, apa tadi, tiga sekawan lo bilang? Ga suka nikung?"
Yundhi segera memotong, tak ingin Reyhan melanjutkan ceritanya. Bagaimanapun Tiara belum tahu bahwa dia menyelinap ke kamar hotelnya bersama Yaris.
"Gue harap lo ga lupa, setiap permasalahan lo dulu, selalu gue yang atasi?" Reyhan mengingatkan.
"Gue harap lo juga ga lupa, setelahnya lo minta traktir dan gue kasih."
"Itu namanya timbal-balik."
"Ya udah jangan di ungkit." Yundhi ngegas.
"Gue cuma ngingetin."
"Apa bedanya."
"Ya bedalah." nada Reyhan meninggi.
"Lo ga inget nikung Resti dari gue?"
"Ya... yang itu gue mana tahu lo suka sama Resti." Reyhan ngeles.
"Ga tahu lo bilang, jelas-jelas lo tahu gue sering ngasih kode ke dia."
"Salah lo, siapa suruh ngode kalu bisa ngomong langsung, gue mana tahu itu kode karena lo suka Resti."
"Harusnya lo peka."
"Gue emang orangnya ga pekaan. Lo tahu sendiri."
"Ga pekaan tapi lo kencan kan sama si Resti?"
"Tapi lo..." kata-kata Yundhi terhenti karena Reyhan melotot.
Seolah lupa bahwa di ruangan itu juga ada Tiara, Yundhi baru sadar setelah Reyhan memberikan lirikan mata pada Yundhi bahwa Tiara menyaksikan mereka, plus dengan tatapan menusuk.
Tiara hanya menyaksikan adu mulut tak bermanfaat antara seorang dokter dan pilot itu. Entah apa yang terjadi di masa lalu hingga mereka tidak bisa akur sampai sekarang. Tapi satu nama perempuan mengusik rasa tidak suka Tiara dan menyadari ada CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) antara Yundhi, Reyhan dan Resti.
Wajah Yundhi berubah ngeri, berputar dengan gerakan pelan ingin melihat reaksi Tiara.
Tiara membuang muka tepat saat Yundhi melihatnya. Ia berdecih.
"Ra, please jangan mikir macam-macam, kamu lagi sakit, jangan di pikirin omongan kita tadi, ya!" nada Yundhi memelas. Tiara tak bergeming dan tetap menghindari kontak mata, meski sebenarnya ia berbalik ingin menjahili.
Reyhan menatap wajah Yundhi prihatin, "Sorry, bro. Kali ini gue ga bisa bantu." Reyhan berlalu setelah menepuk bahu Yundhi.
Tepat ketika Reyhan membuka pintu, sosok Citra muncul. Reyhan menganggukkan kepala sambil mencium punggung tangan Citra. "Apa kabar tante?"
"Baik, lama ya ga ketemu. Ga mau ngobrol dulu sama tante?"
"Hmmm, nnti deh tan, saya mau ada pasien." dusta Reyhan, "Tante hati-hati, kayaknya mau ada perang Badar!"
Citra kebingungan mencerna maksud pekataan Reyhan, tapi tak mau ambil pusing ia segera masuk menghampiri Tiara.
"Tiaraaa anakku, ya Allah, ini beneran kamu nak, kamu kemana saja? Tante khawatir." Citra berucap menggebu histeris, memeluk mencium Tiara secara bersamaan.
"Kamu kemana aja nak?"
"Maafin Tiara tante." jawab Tiara dalam pelukan Citra, menahan air mata.
Yundhi sedikit terenyuh melihat adegan itu sekaligus bersyukur kedatangan sang mama menyelamatkannya dari rajukan Tiara.
"Kamu ga salah sayang, kenapa ga kabari tante? Kamu itu anak tante, tante sedih begitu kamu pergi tiba-tiba." Citra melepas pelukannya.
"Kamu sakit? Yang mana yang sakit? Yundhi ngapain kamu lagi?" cecar Citra.
Mendengar namanya di sebut dengan topik yang tidak enak, mata Yundhi membulat.
Tiara berpikir cepat memanfaatkan keadaan.
"Yundhi jahat sama Tiara tante, masih aja suka nyakitin Tiara." suara dan wajah Tiara di buat-buat sesedih mungkin. Demi meyakinkan Citra.
Mata Citra menatap tajam pada Yundhi.
"Ra, ngambeknya jangan jalan-jalan, please!" Yundhi merengek.
"Tante masih mau anggap Tiara anak tante kan kalau Tiara nikahnya sama cowok lain?"
"AMIT-AMIT, RA, JANGAN NGOMONG GITU!" Yundhi terpancing.
Tiara tak peduli dan tetap ingin melanjutkan kejahilannya.
"Ga apa-apa kok sayang, yang penting kebahagiaan kamu, tante selalu dukung kamu." reaksi Citra semakin membantu akting Tiara.
"MAMAAAA! Apaan sih, ga ada, udah stop dramanya! Tiara aku minta maaf, tapi jangan bilang gitu lagi, ini serius, lebih horor dari film horor kata-kata kamu tadi tahu ga." Yundhi panik.
Bodo amat.
"Yundhi punya cewek lain tante, dia masih CLBK sama teman sekolahnya." Tiara semakin gencar, "barusan dia bahas sama dokter Reyhan, di depan aku lagi, di depan aku lho tante, dia ga mikirin perasaan aku tu gimana." Tiara semakin mendramatisir, memuji dirinya dalam hati atas aktingnya yang begitu sempurna. Air mata buayanya mengalir deras.
Citra memicingkan matanya pada Yundhi.
"Sumpah ma, itu ga di sengaja, Reyhan yang mancing."
"Kamu tu ya," Tangan Citra terangkat siap memukul Yundhi dengan tasnya, "Anak ga tahu diri, ga puas kamu nyakitin Tiara enam bulan lalu, ga nemenin, ga nelpon," Yundhi mendapat tabokan bertubi-tubi dari sang mama.
"Ampun ma, stop stop stop, sakit lho ma, tasnya keras."
"Biarin, sini kepala kamu sekalian, biar otak kamu benar mikirnya!" tak lama Citra kelelahan dan menghentikan aksinya.
Yundhi meringis mengelus-elus bahunya. Tiara tersenyum penuh kemenangan, secepat kilat wajahnya di ubah sedih lagi begitu Citra memutar badan padanya.
"Tiara sayang, apapun keputusan kamu, kalau itu yang terbaik buat kamu, lakukan nak, tante akan selalu mendukung dan mendo'akan kamu."
Drama berlanjut. Yundhi semakin geram.
"Ma, please, jangan ngomong gitu, ini cuma salah paham, mama juga bisa-bisanya kepancing keusilan Tiara. Pikir lagi deh, yakin mama ikhlas Tiara ga jadi nikah sama Yundhi? Mama rela Tiara jadi menantu orang lain?"
"Iya juga sih." Citra mulai ngeh.
Yundhi tersenyum lega.
"Tapi teman kamu yang nolongin kamu waktu itu juga cakep lo, Ra." sambung Citra.
Walah.
Yundhi panik lagi. Drama belum selesai.
"Maksud tante Deki?"
"Iya, nak Deki itu cakep lho, sepertinya anak orang kaya juga, mobilnya sama kayak mobil Yundhi."
Tiara tersenyum senang berhasil menjahili Yundhi.
Yundhi panas lagi.
"Ya Allah, mama, sebenarnya yang anaknya mama yang mana sih?" Yundhi protes keras.
"Tante suka, anaknya ramah, dia setia lagi ga pulang-pulang sampai acara pemakaman dan tahlilan selesai.
"Ya Tuhan mama, tega ya muji anak orang lain di depan anak sendiri."