When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
61



Yundhi melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada Tiara yang duduk di kursi penumpang, wajahnya semakin muram diselimuti kecemasan. Jadi dia leluasa menjalankan kendaraannya dengan kecepatan yang dia inginkan. Jika Tiara ada di samping, mana berani dia melaju di atas 80 km/jam.


Begitu mendarat tadi, dan menyalakan ponsel ia membaca pesan dari Citra bahwa Yudhistira harus di bawa ke rumah saakit. Dia belum tahu kenapa anaknya sampai harus di larikan ke rumah sakit karena begitu membaca pesan pertama saja ia langsung melesat seperti peluru. Naluri kebapaaknya berteriak ingin segera menemui sang buah hati.


Anaknya baru akan berusia satu tahun, dan dalam keadaan sehat saat ia meninggalkannya bertugas tiga hari yang lalu. Bahkan Yudhi sudah bisa berjalan dengan keseimbangan yang sangat baik saat mereka video call beberepa jam sebelum Yundhi kembali bertugas. Dalam waktu sesingkat itu tiba-tiba Yudhi sakit dan harus di rawat di rumah sakit, bagaimana dia tidak panik.


Jalanan telah lengang jam sebelas malam itu. Membuat Yundhi makin leluasa membelah raya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kendaraan lain yang berjalan lambat, menurutnya, ia salip begitu saja.


Beberapa menit kemudian roda mobilnya telah memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Yang membuatnya sedikit lega, di akhir pesan ia membaca anaknya tak harus melakukan rawat inap. Yudhi bisa di rawat di rumah kata dokter.


Begitu keluar dari mobil, dia membuka jas dan topi pilotnya, meletakkannya di kursi jati berukiran rumit yang sudah ada di depan rumahnya sejak Yudhi lahir. Yah, Tiaralah yang membuat aturan itu. Yundhi tidak boleh masuk ke dalam rumah sepulang bertugas sebelum membersihkan kaki dan tangannya dengan air di baskom yang sudah di beri cairan antiseptik. Orang rumah yang tahu jadwal kepulangannya akan menyediakan air itu bahkan sebelum ia mendaratkan pesawat.


Yundhi mengelap tangan dengan handuk kering yang juga sudah tersedia. Perasaannya masih kalut memikirkan keadaan sang anak. Jika tidak karena kebiasaan, mungkin dia sudah menerobos pintu sejak tadi mengabaikan baskom berisi air.


Di tinggalkannya jas dan topi kerjanya di sana, biar nanti di bereskan bik Jo. Yundhi memasuki rumah, menutup pintu dengan suara pelan dan segera naik ke kamarnya.


Di depan kamar, takut-takut ia membuka pintu, tak ingin Tiara atau anaknya terganggu. Sebuah pemandangan menyejukkan menyambutnya. Tiara terlelap dengan sang anak yang juga pulas dalam dekapan ibunya. Pemandangan yang selalu ia rindukan selama masa tugas.


Yundhi bergerak pelan, duduk di pinggiran ranjang mendekati Tiara. Di ciumnya kening sang istri begitu jarak di antara mereka menipis. Tiara menggeliat, terganggu, mengangkat tangannya ke atas meregangkan ototnya yang kaku. Dia sudah hapal kebiasaan lelakinya meski dirinya di alam bawah sadar. Pelan-pelan Tiara membuka mata, menerima gerakan halus Yundhi di rambut lurusnya.


"Sudah pulang?"


"Kenapa bangun, kamu istirahat aja!" bukan Tiara namanya jika ia kembali tidur setelah terusik. Bahkan kalau anaknya merengek dengan suara paling kecil di tengah malam, Tiara akan melek dan tersadar dalam waktu lama. Sekarang dia sudah dalam posisi duduk dan bersandar.


"Ed tadi tiba-tiba demam tinggi." Tiara bercerita tanpa di minta.


"Panasnya ga turun-turun biarpun aku udah kasih obat yang biasa." katanya lagi sambil memegang dahi sang anak. Yundhi mencium punggung tangan sang istri. Layaknya ibu-ibu di luar sana jika mendapati anaknya sakit, maka si ibulah yang paling menderita. Itupun terjadi pada Tiara.


"Kompres sama skinship juga ga membantu." lanjut Tiara, cairan bening lolos begitu saja tanpa di minta di sudut matanya.


Sebelum-sebelumnya, jika sang anak demam tiba-tiba dan di beri obat pereda demam Yudhi akan segera pulih. Apalagi jika Tiara mengompresnya dengan air suam kuku. Skinship hanya berlaku jika di perlukan. Ia dan Yundhi akan bergantian mendekap sang anak dalam pelukan tanpa terhalang seutas benang.


Tapi saat itu entah kenapa cara-cara yang biasa ia terapkan tidak bisa membuat sang anak pulih dengan cepat.


"Aku takut," kata Tiara akhirnya. Air matanya menderas. Yundhi mendekapnya, menenangkan.


"Kamu tahu kan aku besar tanpa seorang ibu, aku takut ga bisa jaga Edward dengan baik, ga bisa rawat dia dengan baik, jadi ibu yang baik buat dia." kata Tiara dalam pelukan Yundhi.


"Hei, kenapa ngomong gitu?" setelah hanya mendengarkan isi hati istrinya, Yundhi merasa harus bicara saat Tiara sudah terdengar menyalahkan diri sendiri atas kondisi sang anak.


"Sekarang Ed sudah baik-baik aja kan, kenapa masih sedih?"


"Kamu sudah sangat baik dalam hal mengurus Ed," Yundhi mengecup ringan pelipis Tiara, "Jadi seorang ibu ga ada sekolahnya, mama pernah bilang gitu sama aku, yang sekarang kamu lakukan udah ngalahin ibu-ibu yang lebih berpengalaman di luar sana sayang, buktinya Ed belum genap satu tahun sudah bisa jalan, mau lari malah." ucap Yundhi yang berniat menghibur sang istri.


"Edward senior sering kamu abaikan lho kalau sedang ngurusin yang junior." menjawil hidung merah Tiara, kecupan ringan mendarat di bibir istrinya. "Sekarang panasnya udah turun?"


"Udah, tadi juga udah di kasih obat anti kejang." usaha Yundhi berhasil menenangkan Tiara, nada sedih dalam suaranya menguap.


Yundhi berali ke sisi ranjang yang lain, menuju sisi Ed, panggilan Tiara untuk sang anak, meraba keningnya memastikan sendiri suhu badan juniornya itu. Tiara berdiri dari tempat tidur menuju walk in closet memilihkan baju ganti untuk Yundhi.


"Eh, mau di bawa ke mana?" Tiara kaget melihat Yundhi yang sudah berjalan menggendong anaknya.


"Ssst nanti bangun lho, bukain pintu!" Yundhi memberi aba-aba agar Tiara membuka pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar sang anak, "Maaf ya nak, papa pinjam mama malam ini, sampai kamu bangun besok."


Tatapan tajam bak bak samurai Tiara mengarah tepat pada Yundhi setelah mengucapkan kalimat itu. Tiga hari empat malam, Tiara tahu bisa menebak apa yang akan di lakukan suaminya setelah mereka bertemu. Tapi sekarang anak mereka sedang sakit, meski tidak mengidap sakit yang serius, tetap saja judulnya sakit. Demam.


"Ya Tuhan, Yundhi ini lagi sakit lho anaknya." kata Tiara yang tangannya menuruti Yundhi membuka pintu penghubung berwarna putih.


Yundhi mendengarkan tapi tetap pada posisi berjalan melanjutkan niatnya menidurkan sang anak di kamarnya sendiri.


"Dia udah sembuh kok, lihat aja besok pagi, pasti ceria lagi." Yundhi menutup pintu putih itu setelah menidurkan Ed di kamarnya dan berjalan mendekati Tiara, "Tadi kamu udah sempat tidur kan, pasti susah kalau mau lanjutin tidur lagi, sekarang gantian kamu ngurusin akunya." kata papa muda itu sambil menjelajah tubuh sang istri.


"Nanti Ed bangun lho," mulut Tiara menolak, tapi tubuhnya telah dalam kuasai Yundhi.


"Enggak, yakin deh sama aku, kalau Ed ga tidur kamu mana mau lihat aku." Yundhi semakin liar dengan melucuti satu per satu baju yang Tiara kenakan. "Jatah aku malam ini sampai besok Edward bangun, oke!"


Tiara speechless.


***


Yundhi benar-benar melakukan perkataannya. Membuat Tiara lelah atas keintiman yang ia minta. Setiap kali pulang dari tugas, perasaannya selalu menggebu-gebu terhadap sang istri, entah lama atau sebentar tugas yang di lakoni.


Ketika hari masih gelap, Tiara lebih dulu terjaga. Yundhi masih pulas di sampingnya. Mau tidur jam berapapun, Tiara aka bangun di waktu yang sama keesokan harinya. Tubuhnya seperti memiliki alarm, selalu membuatnya terjaga di waktu yang sama setiap hari. Kebiasaan itu membuat Yundhi keberatan dulunya, dia tidak suka Tiara meninggalkannya saat masih terlelap, tapi Tiara memberi pengertian jika tidak bangun tepat waktu, dirinya bisa kerepotan mengurus anak mereka dan ayahnya Edward.


Yundhi berkilah ada pembantu yang akan melakukan perkerjaan Tiara, tapi Tiara punya pendapat sendiri tidak ingin tugasnya di gantikan orang lain. Khusus dirinya dan Edward akan di urus tangan Tiara sendiri.


Pada akhirnya, Yundhi mengalah dan membiarkan Tiara melakukan keinginannya. Setiap hari Tiara melakukan tugasnya dengan baik.


Semua berjalan baik. Keluarga mereka semakin hari semakin harmonis. Bersama Tiara, Yundhi merasakan segala kebahagiaan di dunia.