
Selama menyusul Tiara ke lantai dasar, Yundhi terus mencoba menghubungi kekasih abadinya. Yundhi tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya Tiara sekarang. Salah satu kelemahan istrinya itu yakni tidak bisa berada di tempat gelap. Tiara takut dengan gelap. Di kamar pun, mereka selalu tidur dengan lampu yang menyala.
Dan sekarang Tiara terjebak di dalam lift yang sempit dengan kondisi lampu yang mati, artinya ruangan itu gelap dan sempit. Mungkin saat ini Tiara sudah menangis ketakutan.
Dari jauh, begitu membuka pintu yang menghubung ruang tangga darurat, Yundhi melihat dua orang teknisi sedang berjongkok mengitak-atik pintu lift.
"Bagaimana?" Tanya Yundhi khawatir.
"Belum bisa di buka pak."
"Ruang kendali?"
"Sedang di perbaiki juga."
Lengkap sudah, Tiara terjebak di sana. Sebelum signal terputus tadi, Tiara sempat mengiriminya pesan bahwa dia berada di lift dan liftnya berhenti tiba-tiba.
Yundhi semakin gelisah.
Di saat seperti ini Yundhi mengutuk penemu teknologi yang bernama lift ini. Masa terlemah manusia adalah saat mereka tidak bisa melawan ciptaannya sendiri.
Yundhi mulai frustasi ketika sepuluh menit kemudian pintu lift itu belum bisa di buka oleh dua teknisi yang bertugas. Ingin rasanya Yundhi berteriak marah, namun sayang tempat itu menuntut dirinya untuk menjaga sikap dan wibawa.
***
Dalam lift yang gelap.
Sejak awal lift berhenti Tiara sudah mulai panik. Segala rasa negatif langsung menyerangnya begitu lampu lift padam. Di ruang sempit itu dia sendirian karena jam istirahat akan berlaku tiga puluh menit lagi. Gugup, badan bergetar, itu yang Tiara rasakan sekarang. Dengan cepat dirinya mengambil ponsel dan segera mengetik pesan untuk Yundhi. Benar saja begitu pesan terkirim, tanda signal di ponselnya membentuk silang. Pikirannya pesan bisa di baca kapan saja, kalau dia menelpon belum tentu Yundhi akan mengangkatnya saat itu juga.
Dalam napasnya yang mulai pendek, dan air mata yang mulai meleleh, Tiara mengingat kembali sesi terapi yang ia lakukan paska kejadian penculikan. Dia mengingat kembali deretan kalimat menenangkan yang terapisnya katakan jika dia terjebak dalam situasi yang membuatnya panik.
Tutup mata, tarik napas, buang napas, ulangi.
Bayangkan tempat menyenangkan, tempat yang membuat kita seperti memasuki dunia yang membuat kita merasa istimewa....
***
Yundhi hampir menghajar tembok tak berdosa jika saja salah satu teknisi itu tidak berteriak 'berhasil' di detik ke dua puluh lima masa menunggunya.
Begitu pintu terbuka, suara Adele menyambut. Lagu selow berjudul All I Ask terdengar merdu di telinga Yundhi. Ia ingat itu adalah salah satu lagu kesukaan Tiara yang Yundhi benci liriknya karena bertema perpisahan.
Di salah satu pojok, Tiara duduk berselojor, melihat cahaya karena pintu terbuka ia membuka mata. Yundhi merangsek masuk menyingkirkan badan dua teknisi itu dan menghampiri Tiara. Wajah cemas tak bisa hilang dari raut Yundhi saat itu.
Yundhi sigap memeriksa Tiara, mulai dari wajah, badan hingga kaki.
"Kamu ga apa-apa?" gelengan tanpa suara menjawab Yundhi. "Ayo!" Yundhi membantu Tiara berdiri.
Jika saja dua teknisi itu tidak ada di sana, Tiara ingin memeluk suaminya begitu Yundhi menghampiri.
"Ayo ke ruanganku."
Sekejap Yundhi merasa takjub, tidak mendapati Tiara menangis seperti yang ia bayangkan. Istrinya kini bisa mengendalikan diri, trauma dan rasa panik. Ia memuji diri dalam hati, berhasil membantu Tiara mengatasi kelemahannya, tentu saja dengan mengirimkan terapis terbaik untuk sang istri.
"Kenapa? Tenang aja ga bakal ada yang berani..."
Belum selesai Yundhi bicara Tiara lebih dulu bergerak mengunci pintu ruangan. Yundhi hanya diam, membiarkan apa yang ingin di lakukan Tiara. Begitu berbalik Tiara menyerang Yundhi dengan tas selempang yang ia kenakan.
"Aduh, aw, ampun Sayang kenapa aku di pukulin?"
Tiara ingin menjawab tapi tangis lebih dulu keluar dari bibirnya. Tenaganya yang masih lemah membuatnya harus berhenti hanya setelah beberapa kali tabokan. Yundhi mendekat melihat wajah Tiara yang sudah dialiri cairan.
"Aku takut," Yundhi tak bisa berkata-kata, "aku takut, kenapa kamu lama?" Tiara sedikit histeris. Yundhi meraih, merengkuh Tiara dalam pelukannya.
"Iya, iya maaf."
***
Tangis Tiara reda beberapa menit berikutnya bertepatan dengan ketukan pintu dari luar. Yundhi bergerak mendekati pintu dan membukanya.
"Oh iya, makasi."
Yundhi kembali dengan wadah bersusun yang baru di berikan orang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Bekalnya kelupaan."
"Eh iya."
"Kamu masak apa?"
"Apa ya tadi?" Efek panik Tiara lupa apa yang sudah ia masak, "sayur lodeh, suwir daging, perkedel, sama sambal ikan asin."
Begitu wadah di buka, aroma masakan menguar di ruangan Yundhi. Aroma yang menggugah selera, yang membuat perutnya meronta.
"Hmmm, baunya aja udah enak."
Tiara menata satu per satu bekal makan siang yang ia bawa. Yundhi setia mengamati setiap gerakan Tiara.
"Ed gimana? Ga nangis waktu kamu tinggal?"
"Enggak, dia anteng sama susternya."
"Hari ini ga mual?"
"Enggak."
"Jadi, tadi tempat apa yang kamu bayangin?" Tanya Yundhi yang sedikit mengetahui langkah terapi Tiara.
"Sawah."
Yundhi mendesah dan tersenyum setelahnya, dirinya salah menebak dalam hati tempat yang akan Tiara bayangkan adalah toko buku, "boleh deh kita beli sawah kapan-kapan."
Tiara speechless.