When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
81



Jangan pegang Ed kalau baru dari luar rumah


Taruh baju kotor di keranjang


Pencet odol dari bagian paling bawah, jangan pencet di bagian tengah.


Jangan taruh handuk basah di atas tempat tidur


Jas kerja jangan taruh sembarangan


Dan sederet aturan lainnya yang di buat Tiara kembali teringat kembali dalam memori Yundhi. Dalam hati ia berjanji akan menuruti semua aturan sederhana yang dicanangkan sang istri. Aturan sederhana yang kadang sangat sulit dipraktekkan.


Pelan Yundhi meraba bagian kaki pengawal yang tergeletak di depan pintu. Ia tahu pasti pengawal itu menyimpan pistol di bagian yang tak terlihat karena tidak mau menarik perhatian. Dengan gerakan sehalus kapas Yundhi menarik knop pintu agar tidak bersuara saat di buka. Berhasil, pintu terbuka tanpa suara. Jantungnya berdebar kencang namu mata dan tangannya yang memegang senjata semakin awas. Yundhi bisa melihat dari celah seorang perawat wanita melakukan sesuatu pada selang infus istrinya.


Beruntung perawat itu memunggunginya saat Yundhi mencoba masuk.


Dia bisa merasakan dirinya tidak bernapas saat ini, melihat orang asing mengutak atik selang infus yang bisa saja berakibat buruk melihat cara masuk perawat itu dengan melumpuhkan pengawal yang berjaga. Tangan kirinya memegang selang infus dan tangan kanan memegang sesuatu yang akan...


"Apapun yang kamu lakukan, berhenti!" Perawat itu patuh, "angkat tangan, mundur!"


Di tangan perawat itu Yundhi bisa melihat sebuah alat suntik dengan cairan yang tinggal setengah.


"Kepala kamu meledak kalau tidak menjawab jujur, saya cuma bicara satu kali, siapa ya g menyuruh dan apa yang kamu suntikkan?"


Hening beberapa detik, Yundhi menarik pelatuk, "satu....,"


"Lingga, cairan pelemah denyut jantung." Saat itu juga Yundhi mata Yundhi menggelap memukul keras tengkuk perawat itu tanpa ampun, sekuat tenaga, tak peduli yang ia pukul adalah seorang wanita. Kewarasannya masih bekerja, dia tidak menembak wanita itu saat itu juga.


Yundhi segera menuju Tiara melepaskan selang infus dan mengeluarkan jarum yang menancap di pembuluh darah istrinya dengan sangat hati-hati namun cepat dan gesit, Yundhi menepuk-nepuk pipi Tiara, mencoba membuatnya sadar tapi belum berhasil. Usahanya untuk tidak panik gagal di tempat. Sekarang tidak hanya panik, Yundhi mulai ketakutan hingga level tertinggi. Dengan seluruh tubuh yang bergetar Yundhi mencoba keluar ruangan mencari bantuan. Berlari dengan kecepatan maksimal, Yundhi menuju meja informasi dan mendapat seorang petugas wanita yang berjaga.


"Panggil dokter, cepat ke kamar saya!" Perintahnya tegas dan menggelegar.


Petugas yang tadinya terlihat mengantuk itu langsung sigap dan berdiri, melakukan apa yang di perintahkan Yundhi tanpa bertanya lagi.


Seorang petugas di dampingi dokter masuk ke kamar Yundhi dengan gerakan berlari dan tampak panik. Melihat pengawal yang tergeletak di luar saja sudah bisa membuat mereka menebak apa yang terjadi.


Yundhi yang sedang melakukan CPR seperti yang di lakukan Rey saat itu menoleh pada dua orang yang datang.


"Apa yang terjadi pada pasien?"


"Cairan pelemah denyut jantung," jawab Yundhi tepat.


"Siapkan defibrilator! dokter itu memerintah petugas di belakangnya dan membuat petugas itu kembali berlari ke luar.


Dokter itu pun ikut keluar ruangan namu kembali beberapa detik kemudian dengan sebuah jarum suntik di tangannya. Setelah menyuntik di lengan Tiara, dokter itu meminta Yundhi untuk turun dari tempat tidur agar dia bisa mengambil alih. Tiara belum juga melakukan pergerakan saat dokter memeriksanya dengan stetoskop. Yundhi membiarkan dokter itu bekerja karena dia sendiri sudah tak berdaya melihat Tiara yang tidak sadarkan diri.


Sebuah alat kejut jantung masuk ke ruangan itu dengan di dorong keras oleh petugas. Cepat dan sigap petugas itu memasang alat tersebut, menyambungkannya dengan sumber listrik hingga bisa di gunakan, memasang elektroda di bagian kanan dan kiri dada Tiara.


Yundhi terkesiap mendengar bunyi lurus begitu elektroda menempel di dada Tiara. Dia memang tidak menempuh pendidikan di bidang kesehatan, tapi sering ia lihat di film yang ia tonton bahwa bunyi yang diiringi garis lurus pada alat kejut jantung menandakan bahwa pasien itu...


"200 joule."


"200 joule siap."


"Shoot."


"200 joule."


"200 joule, siap."


"Shoot."...."250 joule."


"250 joule, siap."


"Shoot."


Hening, dunia rasanya tak bersuara. Tubuh Yundhi lunglai menyentuh lantai yang dingin. Ceroboh, dia harusnya tidak keluar dari kamar meninggalkan Tiara sendiri meski istrinya sedang tidur. Bahaya nyatanya masih setia mengikuti mereka hingga tempat itu meski penjagaan sudah dilakukan


."250 joule siap."


"Shoot."


Tidak


Yundhi tidak akan bisa tanpa Tiara disekelilingnya.


***


Tiara mematut diri di depan cermin, melihat tampilan tubuhnya yang tidak seindah ketika remaja dulu. Setelah melahirkan Ed tubuhnya memang belum kembali seperti semula meski saat ini Ed sudah menginjak usia enam bulan. Namun, Tiara termasuk beruntung, tubuhnya tidak melebar ke samping melebihi batas normal seperti ibu-ibu lain di luar sana pasca melahirkan. Tubuhnya hanya lebih berisi dan cukup padat. Tapi memang dasar wanita, selalu saja menyukai ukuran yang lebih kecil. Mungkin Tiara termasuk golongan itu, tapi tak lantas membuat dirinya terburu-buru ingin menurunkan berat badan dalam waktu singkat.


"Udah laku juga, ngapain sih masih pusingin bentuk badan." Yundhi yang baru keluar dari kamar mandi menyela begitu saja saat melihat tingkah istrinya.


"Aku pengen ke Korea Selatan, operasi plastik biar badanku kayak dulu."


"Ga usah, enakan juga gini, lebih empuk."


"Sedot lemak kalau gitu, di sini ada kayaknya, ga perlu ke Korsel." Tiara masih ingin mengisengi suaminya.


"Boleh, kalau kamu mau, tapi ukurannya harus turun satu senti aja, dari ukuran kamu yang sekarang."


"Kalau turun satu senti mah sama aja bohong, mana kelihatan hasilnya."


"Kalau gitu ga usah, mau kurus kayak gimana lagi sih, kayak lidi?"


"Ih kan ga lucu, kamu yang atletis gitu terus aku gembul gini, yang ada aku di kira pengasuh kalau kita jalan bertiga."


"Emang ada yang berani bilang gitu?"


"Ya enggak, tapi kita ga tahu orang ngomong di belakang, lagian kamu kan kaya raya, masa aku sedot lemak aja ga di kasih."


"Aku kasih kok, tapi ukurannya jangan turun banyak-banyak, aku lebih suka bentuk badan kamu yang sekarang yang lebih berisi, aku lebih cepat hornynya." ujar Yundhi panjang lebar dengan alis turun naik membentuk wajah dan seringai jahil.


"Mesum mesum mesum."


"Bro!" Reyhan mengguncang tubuh Yundhi yang lemas menatap kosong ke satu titik dengan sudut mata berair. Lamunannya tentang kejadian dulu dengan Tiara terhenti.


"Lo harus kuat! Ga bisa lemah kayak gini."


Tepukan ringannya pada bahu Yundhi semoga bisa menyadarkan temannya itu sepenuhnya.


"Gimana?" lirihnya.


"Istri lo kuat, dia udah balik, tapi kita rawat intensif dulu di ICU sampai dia sadar nanti."


"Kapan? Kapan Tiara sadar?" tanyanya cepat dengan suara lemah


Andai Reyhan juga boleh menunjukkan emosinya betapa dirinya marah pada Lingga saat ini. Mereka mengira dengan di tangkapnya Lingga semua masalah sudah selesai. Tapi nyatanya. Musuh Prasetya itu ternyata lebih licik dan lihai dari yang mereka kira. Lingga memang tertangkap, dan itu membuat anak buahnya yang lain bergerak melaksanakan rencana cadangan mereka.


Tiara masih menjadi sasaran. Orang yang paling berharga, bagian dari jantung trah Prasetya.


"Lo belum jawab."


"Secepatnya."


Reyhan tidak bisa memberi jawaban pasti semisal dua atau tiga jam lagi. Tiara memang bisa diselamatkan, tapi kesadarannya belum kembali. Entah berapa banyak cairan itu telah masuk ke tubuhnya, membuat otak Tiara belum bekerja seperti semula, tidak dapat menerima rangsangan dan tertidur amat pulas.


"Anak gue?" Getir. Yundhi menahan diri untuk tidak menangis mengingat calon bayinya yang masih dalam kandungan Tiara.


Sejengkel-jengkelnya Reyhan pada Yundhi melihat keadaan Yundhi yang sekarang dalam keadaan terpuruk, dirinya juga merasa sakit tak tega. Jalin pertemanan bertahun-tahun nyatanya tidak bisa mengurangi nestapa yang terjadi pada salah satu dari mereka saat ini.


"Anak lo juga kuat, dia bertahan, berjuang sama ibunya." Hembusan pelan tanda kelegaan yang samar mengudara dari seorang Rey, andai dirinya bisa melakukan hal yang lebih lagi.


"Tiara sekarang butuh lo, butuh Yundhi yang jahil seperti biasanya, Tiara pasti sadar, hanya dia perlu waktu. Mungkin dia lagi capek ngurus kalian berdua, sekarang gantian lo yang ngurus dia."


Seribu kata lebih dulu bebs, lg sedih soalnya Tiara rankingnya turun mulu, vote dong vote dong, hehe


Ada kerjaan, jngn nagih up, kalau sudah waktunya pasti sy up, ok.


ps.sy nangis lho nulis bab ini, kalian nangis jg ga sih?