When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Kabar Gembira



Tiga bulan kemudian.


"Ini baju siapa mas? Kenapa ada baju anak perempuan di lemari kita?"


Yundhi bergeming, seperti tidak mendengar perkataan Tiara.


"Mas kok diem aja sih, ini baju anak perempuan, kenapa ada di sini? Kamu yang beli ya? Buat siapa?"


Nada Tiara meninggi, kesal dengan Yundhi yang tidak merespon perkataannya.


"Kamu kok tambah nyebelin sih?"


Yundhi tetap pada pendiriannya, tidak menjawab segala pertanyaan Tiara. Perutnya malah terasa mual setiap mendengar Tiara bicara. Tenggorokannya terasa penuh ingin mengeluarkan apapun yang mengganjal di sana. Yundhi berlari ke kamar mandi karena ia ingin....muntah.


"Hah."


Tiara mengusap-ngusap wajahnya sambil menggerutu kesal. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering memimpikan baju anak perempuan tiba-tiba ada di lemarinya. Ia meraih ponsel di samping bantal tidur, menghidupkan layar dengan mata menyipit. Puluhan panggilan tak terjawab dan chat dari Yundhi ada di notifikasi ponselnya.


"Gawat."


Kalau tidak di respon seperti ini biasanya Yundhi akan marah-marah karena khawatir. Tiara buru-buru membalas chat terakhir Yundhi, meminta pengampunan, dan memberi alasan yang paling bisa di maklumi suaminya itu.


Selesai.


Ia menghempas kembali badannya menuju bantal. Menikmati sisa-sisa waktu yang ada sebelum ia kembali sibuk sore itu. Akhir-akhir ini Tiara sangat suka melakukan ritual tidur siang hingga sore yang dulu tidak pernah ia lakukan. Dalam lamunannya ia mengingat-ngingat lagi acara pernikahannya tiga bulan lalu. Bagaimana Yundhi dan keluarganya memberinya banyak kejutan, bahkan terlalu berlebihan untuk Tiara.


Di mulai dari acara lamaran saja, Yundhi dan keluarganya membawa tiga puluh lebih seserahan hingga rumah Tiara yang tidak terlalu luas itu hampir tidak cukup untuk menampung segala persembahan Yundhi dan keluarga.


Berikutnya pada acara akad nikah, Tiara harus pintar menyembunyikan wajah kagetnya mendengar jumlah mahar yang Yundhi berikan. Memang, dia sudah bersepakat dengan suaminya itu hanya meminta mahar berupa logam mulia seberat lima puluh gram. Maksud Tiara agar Yundhi tidak ribet saat mengucapkan ijab qabul. Lagi-lagi Yundhi menambahkannya dengan satu set perhiasan mewah yang katanya memang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Tapi Tiara lebih yakin dengan pemikirannya bahwa Yundhi sengaja menambahkan maharnya untuk membalas Deki yang juga hadir sebagai undangan. Dasar laki-laki.


Pada acara resepsi, Tiara lagi-lagi harus menahan napas. Kali ini mertua laki-lakinya yang membuatnya terkejut bukan main karena memberinya hadiah mobil keluaran terbaru sebuah merek luar negri. Jika ia tahu lebih dulu, Tiara akan melarang mertuanya itu menghambur-hamburkan uang hanya untuk sekedar hadiah pernikhannya. Padahal di rumah mereka saja sudah ada beberapa koleksi mobil mewah. Apa mau dikata, itu mau mereka, yang penting Tiara tidak meminta apalagi memaksa.


Untuk bulan madu, jangan di tanya, Citra dan Ranti menghadiahkan mereka tiket ke Paris. Lagi-lagi Tiara tak bisa menolak. Padahal tadinya ia hanya ingin berbulan madu ke Bali.


Tiara menggeliat, melemaskan otot-ototnya yang kaku. Tak lama getar ponsel terasa di sampingnya. Sudah pasti, balasan dari paduka yang mulia, Yundhi.


**Aku pulang nanti malam. Tungguin!~Yundhi


Ga janji, aku mau ke bimbel.~Tiara**


Tiara tersenyum jahil, membuat Yundhi jengkel ketika mereka berjauhan adalah hobi barunya. Tapi melihat wallpapper ponselnya ia bahagia, sangat bahagia. Yundhi dan keluarganya adalah berkah yang tak ternilai dalam hidupnya.


Menyadari waktu yang tertera di layar, Tiara segera beranjak ke kamar mandi. Membersihkan dan segera bersiap diri karena ia harus menghadiri rapat dengan para tutor bimbelnya. Ia menatap sejenak pada benda mungil, panjang dan lurus di atas wastafel. Desahan nafas kecewa keluar dari bibirnya. Belum rejeki.


Buru-buru Tiara mengambil sikat gigi dan segera memulai ritual mandi.


***


Dering suara ponsel menyambut Tiara sekeluarnya dari kamar mandi. Tanpa ragu ia menerima panggilan itu.


"Jadi dong, ini lagi siap-siap. Udah pada kumpul? Iya-iya sekarang aku ke sana, bye."


Tiara menutup panggilan.


Desahan kecewa kembali keluar dari rongga pernapasannya. Lagi-lagi ia harus memakai celana yang ia pinjam dari mertuanya karena sekarang semua celana yang ada di lemarinya sudah tidak muat di kancingkan di perut. Salahkan Citra yang terus menerus mencakokinya dengan makanan lezat setiap hari. Ia juga tidak di izinkan melakukan pekerjaan rumah, tapi Tiara sering mencuri waktu ketika Yundhi atau Citra tidak berada di rumah, saat itulah ia menguasai dapur dan membuat makanan yang ia inginkan.


"Kenapa harus celana mama saja yang muat sih, apa aku segemuk itu?" Tiara memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin, "kayaknya ga juga," jawabnya pada diri sendiri.


Dengan hati terpaksa ia memakai celana Citra yang untungnya masih baru ketika ia meminjamnya. Dengan kata lain, celana itu miliknya sekarang. Ingatkan ia nanti harus mengajak Yundhi berbelanja celana baru!


"Ma, Tiara ke bimbel ya, ada rapat sama tutor."


Tiara mencium pipi mertuanya yang duduk di sofa ruang keluarga dari arah belakang.


"Ga ngeteh dulu?" tawar Citra.


"Enggak deh." Tiara mencium aroma teh yang menguar, dan di tambah kue yang melengkapi hidangan itu. Tiara tergiur. "Mau deh ma." Tiara berubah pikiran, kemudian duduk bergabung dengan Citra dan Ranti.


Citra dan Ranti cukup heran karena biasanya Tiara pasti menolak dan langsung pergi karena tidak terlalu suka minum teh. Menantunya itu lebih suka minum jus buah karena lebih sehat katanya.


Citra menuangkan teh pada cangkir kosong untuk Tiara yang di sambut senyum sumringah yang meminta.


"Makasih mama." Tiara langsung mengangkat cangkirnya.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Ranti sambil menyeruput teh.


"Belum tahu oma, sepertinya sampai malam, Tiara mau bahas masalah tambahan rekrut tutor baru. Kalau cepat selesai, Tiara langsung pulang," jelas Tiara sambil sesekali menyeruput teh.


"Ini tehnya baru ya ma, kok rasanya beda?"


Citra dan Ranti saling bertatapan.


"Enggak, teh yang biasa kok. Memang rasanya gimana?" jawab Ranti.


"Kok kayaknya lebih enak." Tiara memang bukan penyuka teh, tapi ia pernah beberapa kali mencicipi teh yang di seduh Citra setiap sore.


"Tiara mau bawa ke bimbel ya, sama kuenya juga."


Lagi-lagi Citra dan Ranti bertukar pandang, saling tanya dengan kode mata keanehan yang terjadi pada Tiara. Ada yang tidak beres.


"Ya udah, minta bik Jo siapkan di dapur gih!" ujar Citra.


"Tapi Tiara pengen buatan tangan mama."


Ada apa dengan menantunya ini? Untungnya Citra tidak protes. Ia dengan senang hati menyiapkan teh dan camilan untuk menantunya itu.


"Tiara jalan dulu, bye Oma, bye Mama." pamit Tiara setelah mendapatkan keinginannya.


"Aneh," kata Citra.


"Ga biasanya," balas Ranti.


"Mimpi apa anak itu?"


"Bukannya celana yang dia pakai itu celana kamu yang di pinjam kemarin?"


"He eh, katanya celananya semua ga muat."


"Kenapa ya dia?"


Dua wanita itu hanya bertanya-tanya sendiri tentang perubahan Tiara. Tidak ada ada yang bisa menjawab, karena bertanya pada Tiara pun rasanya enggan.


***


"Maaa ke sini deh!" Yundhi yang baru menyelesaikan mandi setelah pulang dari tugas terbangnya, menuruni tangga dengan suara yang meggema ke seluruh penjuru rumah.


"Apa si Yundhi, mama lagi masak," jawab Citra tak kalah berteriak.


Yundhi yang kini tahu keberadaan sang mama segera menuju dapur.


"Ini benda apa sih ma?" tanya Yundhi sambil menunjukkan benda kecil, lurus dan panjang pada mamanya.


"Oh, itu namanya testpack, memang siapa yang hamil?"


"Mana Yundhi tahu, tadi Yundhi nemu di wastafel kamar mandi."


"Itu alat pengetes kehamilan, kalau hasilnya dua garis lurus merah kayak gitu artinya positif." Citra melepas aktivitas masaknya.


"Coba sini mama lihat lagi!"


Yundhi menyerahkan benda temuannya.


"Bener, ini positif. Berarti yang ngetes pasti lagi hamil. Tadi kamu nemu di mana?"


"Di wastafel kamar mandi," jawab Yundhi tak acuh sambil menarik kursi meja makan untuk duduk.


"Ya iyalah, masa kamar mandi tetangga." jawab Yundhi tak kalah enteng.


"Jadi siapa yang hamil?"


"Ya mana Yundhi ta___"


Mata Yundhi melotot hebat ke arah Citra, Citra tak kalah syok dengan mata membulat sempurna.


"I..ni...ini kamu nemu di kamar mandi kamu?" Citra memastikan, Yundhi mengangguk cepat.


"Jadi....jadi..." Citra menenangkan dirinya berusaha tidak meledak karena bahagia.


Yundhi hampir lemas, ia duduk lagi setelah berdiri tadi.


"Apa Tiara?" gumam Yundhi pelan.


"Aaaaaaaaaaaaaakh." Citra menjerit tak tahan. Yundhi kaget luar biasa.


"Mama bakal jadi nenek, mama bakal punya cucu." Citra menakup wajah Yundhi dengan ke dua tangannya menguyel-nguyel pipi putra tunggalnya itu.


"Tiara hamil Yundhi, astaga Tiara. Mamaaaaaaaa!" kali ini Citra berlari terbirit dengan suara menggelagar. Yundhi masih terduduk di kursi makan, mencerna apa yang terjadi. Tapi tak lama bulir keharuan lolos dari sudut matanya, ia mulai sadar bahwa kini ia menjadi seorang calon ayah. Yundhi dilanda kebahagiaan yang maha dahsyat.


Alhamdulillah.


"Paapaaaaaaaaaaaa Tiara hamil." Citra belum selesai dengan aksinya.


Seluruh rumah gempar.


"Bik Jooooooooooooo, mang Jaaaaaaaay, saya bakal jadi nenek."


Semua orang berkumpul pada sumber suara yang di buat Citra tak terkecuali bik Jo dan Mang Jay yang mengira sebuah kecelakaan menimpa majikannya.


"Mama kenapa sih?" tanya Hans yang keluar dari ruang bacanya.


"Tiara Pa, Tiara...." Citra tak bisa menyelesaikan kalimatnya saking senangnya.


"Iya, Tiara kenapa?"


"Ini..." sambil menunjuk-nunjuk testpack di tangannya "Tiara hamil."


"Oooh hamil." Otak Hans belum bekerja. "Hamil ya? Artinya...."


"Iya, papa bakal jadi kakek."


"Yang bener kamu ma?" tanya Hans tak percaya. Tak lama kemudian tawa bahagia terbit pada pasangan calon kakek dan nenek itu.


"Kalau begitu papa jadi beli rumah baru yang tadi pak Eddy tawarkan buat calon cucu papa." Hans segera kembali ke ruang baca entah untuk melakukan apa.


Bik Jo dan mang Jay juga tak kalah senang. Keduanya jingkrak-jingkrak sambil berpegangan tangan.


Oma Ranti yang keluar paling akhir mengetahui kabar kehamilan Tiara tak kalah bahagianya. Ia bahkan berencana akan langsung menggelar syukuran.


***


"Sekarang kamu susul Tiara, minta dia ganti baju pakai yang ini!" Citra menyerahkan paper bag pada Yundhi, "Bilangin jangan pakai celana lagi, kasihan nanti bayinya sesak di dalam perut," imbuh Citra lagi. "Apa lagi ya?"


"Ah, iya ajak periksa langsung, mama udah buatkan janji sama dokter yang di rekomendasikan sama Reyhan. Kamu nanti langsung ke sana aja. Kamu jangan khawatir dokternya praktek sampai malam, tapi kalau Tiaranya ngantuk terus minta pulang ya kamu pulang aja. Jangan di paksain, perempuan hamil itu sensitif," sambung Citra panjang lebar.


Yundhi hanya diam menyimak apa yang di katakan mamanya, hanya mengingat bagian penting karena saat ini dia sangat ingin bertemu istrinya.


Perasaannya masih tak karuan. Kenapa Tiara tak memberi tahu kabar bahagia itu tadi.


"Udah belom ma?"


"Apa lagi ya?" Citra kembali mengingat-ngingat, Yundhi mulai jengkel karena tertunda.


"Ah, iya ini makan malam buat Tiara, mama udah masak. Tadi aja dia maunya teh buatan mama. Minta minum jusnya juga. Jangan lupa mampir di supermarket beli susu buat ibu hamil, udah itu aja," tutup Citra. Yundhi membuang napas lega.


***


Sesampai di depan bimbel Yundhi langsung turun dari mobil. Mang Jay yang mengantarnya tersenyum melihat tingkah tak sabar Yundhi. Ia bisa membayangkan betapa bahagianya anak majikannya itu. Yundhi yang dulu sejak kecil ia gendong dan mengajaknya bermain, bahkan ikut berperan mengajari Yundhi naik sepeda kini akan menjadi seorang ayah.


"Saya kira pembahasan rapat kita sampai di situ saja. Jadi perekrutan tutor baru akan langsung kita mulai besok. Kalau kalian punya kandidat unggul silahkan minta untuk memasukkan lamaran. Mungkin itu saja, selamat malam, selamat istirahat."


Usai menutup rapat dan para tutor beranjak keluar, kecuali Razkan, Ivan, Mimi, dan Jenny, Tiara meregangkan tubuh. Rasa sedikit sesak pada perutnya terasa mengganggu.


"Mau makan ga Ra? Kita delivery," tawar Jenny.


"Enggak deh, lagi ga nafsu. Kalian aja."


Bertepatan dengan itu Yundhi membuka pintu membuat penghuni ruangan itu menoleh. Mereka serempak menyiapkan diri.


"Udah guys, bubar. Jangan sampai mata suci kalian ternodai," seloroh Jenny. Merekapun membubarkan diri.


Yundhi masih dalam mode bahagia tak terhingga jadi tidak memperhatikan segala ucapan Jenny.


Tiara menatap wajah Yundhi dengan senyum bahagia, tapi yang di tatap menunjukkan wajah yang tidak Tiara mengerti. Yundhi mendekati Tiara dengan mata berembun yang sangat kentara. Tiara bingung.


Begitu jarak diantara mereka setipis kertas, Yundhi menghamburkan diri memeluk Tiara erat.


"Kenapa sayang?" tanya Tiara heran.


"Terima kasih." ucap Yundhi tanpa melepaskan pelukannya.


"Terima kasih? Buat apa?" Tiara makin heran.


"Yundhi kamu kenapa? Ini ada apa sebenarnya?" sekarang giliran Yundhi yang mulai heran mendengar pertanyaan Tiara. Ia melepaskan pelukannya.


"Kamu ga tahu?"


"Ga tahu? Apa makanya aku ga ngerti?"


"Ini" Yundhi menunjukkan barang temuannya.


Tiara mendadak kikuk. Ia mengira Yundhi pasti salah paham.


"Sayang...i...ini." Tiara gugup.


"Kamu hamil, kenapa ga ngasih tahu aku?"


"Kok hamil, bukannya kalau garis dua kayak gitu artinya negatif?"


"Enggak sayang, itu artinya positif, kamu lagi hamil anak kita." Yundhi memeluk Tiara lagi.


Tiara membisu beberapa saat.


"Hamil. Aku hamil ya?" gumamnya pelan hampir tak terdengar.


"Kamu ga baca petunjukknya?" tanya Yundhi sembari melepas pelukan dan menuntun Tiara duduk.


"Enggak. Aku kira..."


Yundhi menjentik pelan dahi Tiara. "Kebiasaan."


Tiara menunduk menatap perutnya sendiri. Salah satu keteledorannya adalah tidak membaca petunjuk pada kemasan makanan, apalagi sekedar tes pack. Tak lama berselang air mata bahagia mengalir dari sudut matanya begitu saja.


"Aku hamil."


Yundhi menyatukan kening mereka. Ia kehilangan kata-kata untuk menimpali gumaman istrinya. Mereka menikmati pertemuan itu penuh haru bercampur bahagia. Berkali-kali Yundhi mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Tiara , di pipi dan hampir seluruh wajah istrinya yang masih terlihat syok.


"Sekarang ganti baju dulu, abis itu makan, terus kita periksa."