When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Another Extra Part



Yundhi dan Tiara keluar dari ruang periksa dokter kandungan dengan wajah senang yang tidak di tutup-tutupi. Setelah mendapat pemeriksaan tadi, dokter mengataka bahwa janin yang di kandung Tiara dalam keadaan sehat, kram perut yang di alami Tiara juga biasa terjadi pada wanita hamil seiring bertambah besarnya usia kandungan. Untuk mengurangi intensitas kram, dokter menyarankan Tiara melakukan senam kehamilan, menjaga jenis, porsi dan nutrisi makanan, serta istirahat yang cukup.


Sangat tidak dianjurkan bagi Tiara untuk melakukan pekerjaan berat yang membuatnya kelelahan. Itu poin yang paling penting yang di catat Yundhi di kepalanya. Tidak boleh lelah, artinya dia harus sadar diri mengurangi minta jatah.


Selama pemeriksaan berlangsung, Yundhi cenderung lebih aktif bertanya daripada Tiara yang sedang hamil. Tiara sampai geleng-geleng, tidak menyangka Yundhi bisa secerewet itu dengan pertanyaan yang kompleks dan detil.


"Setelah ini kamu ada kerjaan lain?" Tiara bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ga ada sih, terbang baru minggu depan, di kantor papa juga aku belum sepenuhnya terlibat, kenapa?"


"Aku pengen jalan-jalan."


"Jalan-jalan? Kan baru di bilangin dokternya ga boleh capek."


"Ini lagi ga capek Mas, nanti kalau capek ya kita istirahat dong, lagian aku bosan di rumah terus, kamu ga kasihan?" Tiara membuat wajah memelas sambil mengusap perut buncitnya.


Yundhi mendesah gusar, Tiara selalu berhasil membujuknya tanpa harus bersusah payah. Selamat pada hormon kehamilan yang selalu membuat para suami menjadi jinak dan penurut.


"Mau jalan-jalan kemana?"


"Hmm, ke mall aja deh, aku pengen nyari buku dan lihat perlengkapan bayi," jawab Tiara dengan semangat berkobar.


"Oke, tapi nanti kalau capek jangan di paksa."


"Yes Sir."


***


Sesampainya di pusat perbelanjaan terbesar di daerah tempat mereka tinggal itu, Tiara selalu mengembangkan senyum senang. Itu tak luput dari perhatian Yundhi, melihat Tiara senang seperti itu dia jadi tidak menyesal mengikuti kemauan sang istri.


"Kita ke toko buku dulu ya."


Tiara mengiring Yundhi ke salah satu toko buku terlengkap di mall itu. Melihat buku-buku yang berjejer, Tiara merasa menemukan dunianya. Toko buku seperti taman bermain untuk Tiara.


Beberapa saat kemudian Yundhi dan Tiara memisahkan diri. Seperti biasanya Tiara akan segera menuju rak tempat dimana novel-novel di pajang. Sambil mengingat-ngingat judul novel yang menjadi incarannya, Tiara membaca satu per satu judul novel yang menjadi best seller saat ini.


"Aku ke sana sebentar ya," kata Yundhi pada Tiara yang terlihat asyik membaca blurb sebuah novel.


"Hm."


Yundhi melangkah ke bagian buku pengetahuan tentang ibu hamil. Hal yang menjadi perhatiannya sekarang karena sang istri yang tengah mengadung. Satu per satu di bacanya judul buku yang berjejer, berusaha mendapatkan buku yang paling lengkap agar bisa menjawab rasa ingin tahunya.


"Yundhi?"


Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi kegiatan Yundhi memilih buku.


"Benar, kan, Yundhi?" wanita itu sedikit histeris menanggapi bahwa tebakannya benar, tapi Yundhi masih berusaha mengingat-ngingat wajah yang ada di depannya itu.


"Kamu pasti lupa," si wanita mengulurkan tangannya, "Selvi, yang suka jahilin kamu dulu." Yundhi membalas jabatan tangan Selvi dengan senyum menahan malu.


"Iya, iya, sorry, aku baru ingat, apa kabar?"


"Baik, kamu gimana kabarnya? Lagi nyari buku apa?"


"Baik. Oh, ini lagi nyari buku tentang ibu hamil."


"Kamu udah nikah?"


"Iya, istriku lagi hamil sekarang."


Refleks Selvi menepuk-nepuk bahu Yundhi, tanpa sadar juga melingkarkan tangannya pada lengan Yundhi, "Wah the bad boy sekolah bisa nikah juga," Yundhi merasa sedikit risih, tapi segan untuk menghindar.


"Aku yang play girl malah belum ketemu jodoh."


"Eh," Yundhi berusaha menarik diri, "masa sih, wah sulit di percaya." dengan sedikit tawa Yundhi berhasil menjauhkan diri dari teman lamanya itu.


"Kamu ga nyari istri lagi, aku available lho." Selvi nekat, melihat wajah Yundhi sekarang dia tidak mungkin tidak jatuh hati.


"Ga deh, satu aja cukup."


"Ngomong-ngomong istri kamu mana? Kalau lebih cantik dari aku, aku bakal ikhlasin deh."


"Ada di bagian novel." getaran ponsel di saku menyela obrolan mereka, sebuah pesan dari Tiara. "Sebentar."


Aku mau pulang.


"Sorry ya Sel, kayaknya aku harus duluan, lain kali deh kenalannya."


"Eh, kok gitu, kita baru ketemu lho?"


"Iya, Tiara nunggu soalnya. Sorry banget."


"Oh, oke." Semburat kecewa terukir di wajah Selvi.


Yundhi mengitari bagian novel tempat ia meninggalkan Tiara tadi, tapi tidak ada Tiara di sekeliling bagian itu. Yundhi kemudian meluaskan pencarian ke bagian lain. Nihil. Tidak ada Tiara di sana. Buru-buru ia menuju kasir membayar buku yang ada di tangannya.


"Mbak ada lihat ibu hamil ga tadi lewat sini?"


Karena toko terbilang sepi, Yundhi merasa pelayan itu pastinya menandai Tiara dengan perut buncitnya.


"Oh, ada kok tadi, sudah keluar mas, baru aja."


"Gitu ya, makasih." Secepatnya Yundhi keluar dari toko buku dengan perasaan gusar. Kenapa Tiara tidak menunggunya?


Mata Yundhi mencari keberadaan sang istri, ia sudah merasa takut kalau-kalau Tiara merasa tidak enak badan.


Tak lama mencari, Tiara terlihat duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di mall itu.


"Kamu di sini, aku nyariin lho, kenapa...eh, kok?"


Tiara langsung berdiri sebelum Yundhi menyelesaikan kalimat tanyanya dan berjalan bermaksud meninggalkan Yundhi di sana.


"Ra, kenapa? Kamu sakit? Yang mana yang sakit? Kita balik ke dokter?"


"ENGGAK." Suara Tiara ketus.


Tentu saja Yundhi heran dengan perubahan sikap istrinya itu. Tiara terus berjalan tanpa menghiraukan Yundhi yang berusaha mengimbanginya.


"Biarin." Suara Tiara sedikit bergetar dan Yundhi menangkap tanda itu. Ada yang tidak beres.


"Katanya mau lihat perlengkapan bayi, ayo kita ke toko bayi."


"Enggak, ga jadi, ga perlu, ga usah beli sekalian."


Yundhi makin serba salah. Sebenarnya ulah apa lagi yang di lakukan hormon kehamilan itu kali ini.


"Ra jangan gini, ngomong dong, kamu kenapa?"


"Ga kenapa-kenapa, aku mau pulang, aku capek."


"Oke, kita pulang, kamu tunggu di lobi, biar aku ambil mobil. Kamu duduk dulu di situ." Yundhi mencoba meraih tangan Tiara tapi segera di tepis cepat oleh Tiara sendiri membuat Yundhi makin syok.


"Ga usah pegang-pegang!"


Salah apa lagi dia sekarang?


"Mau aku beliin minum?" dengan sabar dan suara yang lembut Yundhi masih berusaha menenangkan Tiara yang ia sadari sedang dalam emosi. Sungguh berbeda dari ketika mereka baru tiba di tempat itu.


"Enggak, ambil aja mobilnya sekarang!" makin jelas terdengar suara Tiara yang bergetar menahan tangis.


"Tunggu sebentar!" buru-buru Yundhi berlari menuju tempat kendaraannya terpakir. Perasaannya tak karuan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Tiara. Apa sebenarnya kesalahan yang ia lakukan?


Setelah berhasil keluar dari area parkir, Yundhi segera mengarah ke depan lobi. Ia segera keluar membuka pintu untuk Tiara yang sudah berdiri di undakan dengan kepala tertunduk. Perasaan Yundhi makin kacau, ia benci mendapati Tiara menangis.


Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Tiara. Yundhi menjalankan mobilnya dengan perasan gamang. Makin dilanda kebingungan melihat sang istri yang masih mengeluarkan air mata dan terus di usap dengan tangannya jika cairan itu keluar.


"Aku minta maaf kalau aku bikin salah. Kalau kamu ga bilang aku ga tahu salahku di mana dan ga bisa aku perbaiki," ujar Yundhi dengan suara yang di tenangkan. Di saat seperti ini, dialah yang harus banyak mengalah.


Tiara masih setia dengan kebungkamannya.


"Ra!" Yundhi berusaha meraih tangan Tiara. Lagi-lagi ia mendapat tepisan. Kali ini sepertinya Tiara benar-benar marah dan hormon kehamilan berperan sebagai sponsor kemarahan sang istri tercinta.


"Aku ga suka kamu pegang-pegang wanita yang tadi." ungkap Tiara dengan suara tangisnya.


"Yang mana? Yang tadi di toko buku itu? Itu Selvi, teman aku dulu."


"Terserah, aku bilang aku ga suka, kenapa ga kamu iyain aja dia nawarin diri jadi istri juga kan? Sana kawin lagi!"


"Amit-amit ya Ya Allah, naudzubillah, aku ga megang Ra, dianya yang sok akrab, aku juga udah bilang aku punya kamu."


"Terserah, aku tahu sebenarnya kamu juga suka, dia lebih cantik, badannya juga lebih bagus, nanti juga kamu nyariin dia kalau badanku tambah gemuk." Tiara makin dikuasai emosi. Sensitif dan cepat berubah, kini hal itu terjadi pada Tiara.


"Enggak Ra, ga akan, please, jangan ngomong gitu, jangan mikir yang enggak-enggak, kamu lagi hamil, aku ga mungkin berbuat kayak yang kamu pikirkan."


Tak ada sahutan lagi dari Tiara sampai mereka tiba di rumah. Membuat Yundhi makin gila menghadapi tingkah sang istri. Salah paham sudah sering mereka alami sejah masih pacaran, tapi kali ini terjadi lagi, setelah sekian lama tidak pernah, dalam kondisi Tiara hamil, sungguh membuat Yundhi dilanda cemas, panik, dan takut. Dua orang yang ia khawatirkan ada di satu tubuh, Tiara dan calon anaknya.


Tiara langsung berjalan sendiri menuju kamar tanpa menunggu Yundhi. Ranti dan Citra yang sedang duduk di ruang keluarga, bermaksud menawarkan teh pada Tiara, tidak di lihat sama sekali.


"Lho, lho, lho, kenapa Tiara kayaknya nangis?"


Satu-satunya yang bisa di tanyai sekarang pastinya si calon ayah yang tertinggal di belakang. Yundhi masuk dengan wajah khawatir yang tak bisa di tutupi.


"Tiara kenapa?" Citra langsung bertanya begitu Yundhi muncul.


"Ga ada sih ma, cuma salah paham aja tadi."


"Memang kalian habis dari mana?"


"Setelah periksa tadi Tiara pengen jalan-jalan, katanya pengen beli buku sama lihat perlengkapan bayi."


"Terus, gimana ceritanya Tiara pulang nangis gitu?"


"Tadi Yundhi ketemu teman lama di toko buku, perempuan, kita ngobrol, memang orangnya agak ganjen sih, nempelin Yundhi, kayaknya Tiara lihat. Dia marah sampai sekarang."


"Kamu gimana sih, udah tahu perempuan hamil itu sensian."


"Kejadiannya cepet banget ma. Udah, Yundhi mau susul Tiara, mana kunci serep?"


"Di laci dapur paling ujung."


"Kamu hati-hati ngomongnya, awas aja kalau Tiara sampai ga mau makan." Kali ini ancaman datang dari sang Oma.


***


Tiara menutup hampir seluruh tubuhnya dengan selimut. Suara tangisnya sudah tak terdengar, tapi Tiara menutup mata. Ia ingin menghilangkan pikiran buruknya dan mungkin bisa ia lakukan dengan cara tidur.


Yundhi segera bergabung dari sisi yang lain, menyusupkan tangannya ke bawah selimut meraih tubuh Tiara, ketika Tiara ingin menghindar Yundhi tidak mengijinkannya dan menahan tubuh istrinya agar mereka semakin dekat meski Tiara membelakanginya.


"Kamu ga capek marah terus dari tadi?" suara Yundhi yang halus membuat Tiara ingin terjaga.


"Kalau kamu masih marah, kamu boleh pukul aku sekarang, keluarin semua kemarahan kamu, atau kamu mau ngomelin aku lagi? Aku ga akan membela diri, ayo, kamu bisa mulai sekarang." Yundhi mendesah galau. Beberapa kali ia menciumi puncak kepala sang istri.


"Asal kamu ga kemana-mana, aku rela di marahin, di omelin, atau kamu mau pukul aku, aku akan terima."


Tiara makin menenggelamkan wajahnya pada bantal yang tersisa


"Kamu marah karena aku di pegang cewek lain bikin aku bangga. Artinya kamu sayang. Aku ga tahu berapa besar cintanya kamu ke aku, yang pasti rasa cinta aku ga kalah besarnya."


"Dia memang cantik, badannya bagus seperti yang kamu bilang, tapi buatku itu biasa saja. Karena di mataku cuma ada satu wanita, cuma satu wanita yang aku cintai, yang akan mendampingiku selamanya, yang aku inginkan menjadi ibu anak-anakku, yang akan aku cintai seumur hidupku, yang saat ini aku peluk tubuhnya, yang ingin kulihat wajahnya setiap ku buka mata, Tiara namanya."


Kalimat demi kalimat yang Yundhi ucapkan membuat hati dan wajah Tiara menghangat di waktu bersamaan. Air matanya kembali luruh. Rasa malu menerpanya akan kebodohan yang ia lakukan karena cemburu. Kenapa ia lupa tentang betapa selama ini Yundhi mencintainya dengan begitu besar.


"Maaf." hanya kata itu yang terlintas di kepala Tiara.


"Ssst, kenapa minta maaf? Aku udah bilang aku bangga kamu cemburui."


Tiara akhirnya berbalik, dan kini mereka berhadapan. Yundhi menghapus jejak-jejak air mata Tiara yang tertinggal dengan ibu jarinya.


"Kalau nanti aku jadi gendut, kamu ga akan nyari perempuan lain?"


"Ga akan, kamu aja ga selesai-selesai aku garap."