
"BANG KAS!!!"
Tiara histeris, melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Ia salah mengira kalau perhitungan itu akan menjadi adu balas pukul antara Yundhi dan Vian. Nyatanya Yundhi babak belur dan Vian baik-baik saja. Hanya tangannya sedikit kebas, sisa menghajar Yundhi.
"Abang apa-apaan sih, abang gila ya?"
Tiara hampir menangis melihat Yundhi yang berlutut. Satu tangannya memegang perut, dan bertumpu dengan tangannya yang lain.
"Kamu?" Tiara membingkai wajah Yundhi dengan kedua tangannya. Sudut matanya berair melihat sudut bibir Yundhi yang robek dan berdarah.
"Dia ga mati ra, cuma kesakitan, jangan tegang gitu. Sakitan juga kamu."
"Abang ih, gue laporin mba Asti lo." Norma kesopanan Tiara menguap pada Vian. Tak menyangka pria klimis itu bisa bersikap layaknya preman.
"Jangan di belain, Ra!" Vian berdecih, ia masih ingat harus mengirim dokter syaraf dan spesialis dalam pagi-pagi ke Loca karena mendapat kabar Tiara mengalami sakit kepala hebat selama tiga hari.
"Kamu ikut abang atau laki-laki itu?"
"Yundhi bang, namanya Yundhi."
Kali ini Yundhi bereaksi, ia memandang Vian dengan wajah penuh tantangan, sakit yang ia rasakan sepertinya tidak memengaruhi. Jika harus adu jotos lagi, ia siap melawan kali ini.
"Kita udah deal, gue harap lo ingat syarat yang gue ajukan."
"Gue cuma mastiin, mungkin Tiara mulai ragu balik sama lo." Vian sebenarnya tahu perasaan Tiara, hanya ia juga ingin tahu seberapa tangguh Yundhi mempertahankan Tiara.
"Tiara pulang sama gue." Yundhi tak peduli meski Tiara menolak, keputusannya mutlak.
Tiara membantu Yundhi berdiri, meringis dalam hati melihat wajah Yundhi yang begitu berbeda dari beberapa menit yang lalu awal mereka bersitatap.
"Bisa jalan?"
"Dia ga sekarat Ra." Vian masih saja merecoki, belum putus asa menjadi orang ketiga antara Tiara dan Yundhi.
"Abang mending balik deh, gue pulang sama Yundhi."
"Yakin kamu?"
"Yakinlah bang."
Vian mengangguk. "Kalau dia macam-macam, telpon abang!"
"Hm."
Vian memandang penuh peringatan pada Yundhi, sampai akhirnya pria itu melangkah pergi meninggaalkan Tiara.
Yundhi mencoba berjalan dengan baik, agar Tiara tidak merasa harus membantunya. Meski rasa sakit masih menjalar di titik tertentu di badannya, Yundhi tidak mau membuat Tiara repot mengkhawatirkannya, karena dia tidak ingin memberi alasan sedikitpun pada Tiara pergi lagi darinya.
"Aku ga apa-apa Ra."
"Ga apa-apa gimana, ga ngerasa apa wajah kamu kayak gitu." Tiara menahan tangis, "kita ke rumah sakit dulu."
"Kamu khawatir?"
"Gimana ga khawatir, ini udah yang ke tiga kali kamu luka gara-gara aku. Pertama, laki-laki mabuk di hotel, terus Ivan, sekarang bang Vian. Kayaknya bahaya kalu kita sama-sama. Aku mending jangan deket-deket kamu deh biar ga babak belur kayak___"
Yundhi menyentak Tiara masuk dalam pelukannya agar gadis itu berhenti bicara, Tiara sedikit syok dengan apa yang pilot itu lakukan.
"Jangan bilang gitu, jangan ucapin kata-kata pisah, aku rela dipukulin asal kamu ga pergi lagi, aku bakal ngasih segala yang aku punya, nurutin apapun yang kamu mau, kamu mau baju pengantin warna pink pastel kan, aku ga akan protes, ga akan nolak, kamu mau acara pernikahan outdoor, aku ga masalah, apapun Ra, asal kamu jangan pergi lagi."
Tubuh Tiara membeku, tapi hatinya menghangat. Ia bisa merasakan, lagi, Yundhi mecium berulang kali pucuk kepalanya.
"Yundhi..."
"Aku minta maaf, mengabaikan kamu saat kamu butuh aku, aku bisa jelasin semuanya." Wajah Tiara sudah berurai air mata mendengar segala pengakuan Yundhi, kejadian itu berputar kembali di kepalanya.
"Aku bisa terima kamu belum bisa maafin aku sekarang, aku minta waktu, kasih aku kesempatan perbaiki semuanya."
Mungkin Yundhi tidak sadar, dan Tiara berharap Yundhi tidak menyadari, meski kala itu Yundhi memeluknya untuk kedua kali, laki-laki itu telah meminta maaf dan mengakui kesalahannya, Tiara merasa enggan membalas pelukan Yundhi. Entah kenapa ada setitik ragu yang menetap menerima Yundhi kembali.
Tiara tahu, cepat atau lambat, ia akan bertemu dengan Yundhi, tapi juga tak menyangka akan bertemu secepat itu. Semesta seakan tak memberinya waktu untuk menyiapkan diri. Sehingga Tiara tidak bisa menolak segala apa yang Yundhi lakukan padanya. Tiara mengikuti kemauan Yundhi untuk pulang bersamanya. Beberapa kali otaknya berpikir bagaimana cara agar dia bisa lepas sesaat saja dari pilot itu.
***
Beberapa kali Tiara harus mengelus dada menghadapi tingkah Yundhi yang tidak mau berinteraksi dengan wanita. Ketika di rumah sakit, ia menolak di obati begitu mengetahui seorang suster yang akan merawatnya. Yundhi sudah menghubungi temannya yang seorang dokter bernama Reyhan, tapi dokter itu tidak bisa membantunya karena sedang dalam ruang operasi. Kalau Tiara tidak bisa mengobatinya, Yundhi memilih diobati sang mama saja nanti di rumah.
Pada akhirnya Tiara mengalah, kini mereka berada di apotek rumah sakit menunggu petugas menyiapkan obat untuk Yundhi. Dan lagi-lagi Yundhi meminta Tiara yang melakukan transaksi begitu petugas apotek yang berjaga adalah seorang perempuan. Yundhi memilih menunggi di kursi panjang yang tersedia disana.
"Kenapa sih ga mau kalau petugasnya cewek?" tembak Tiara begitu dirinya selesai memesan obat.
"Ga ada, ga mau aja."
"Aku ga suka jawaban kamu, jawabnya yang jujur!"
"Nanti deh Ra, ga sekarang!" jawab Yundhi sambil menyandarkan kepala di bahu Tiara. Melingkarkan tangan di lengan Tiara, sedikit membungkuk, seperti anak kecil yang bermanja dengan ibunya.
Yundhi memilih menghindar, ia tahu jika ia jawab saat itu, secara otomatis juga Yundhi harus membuka kejadian dulu, pangkal permasalahan yang membuat Tiara meninggalkannya. Akan ada waktunya, mereka akan bercerita dan saling terbuka, tapi tidak sekarang, saat mereka baru saja bertemu kembali, melewati enam bulan jeda.
"Kenapa kamu ga balas pukul bang Vian?"
"Aku belum mau mati, balas pukulan dia terus dia bawa kamu pergi lagi, sama aja aku bunuh diri" Yundhi sejenak menjeda, "Aku malah lega, setelah di pukulin abangmu."
"Gila apa, di tonjok kok lega," ujar Tiara sambil menyembunyikan dadanya yang sesak dengan kebahagiaan mendengar jawaban itu.
"Hm, enam bulan lalu aku hampir gila ga nemuin kamu, nyari kamu ke semua tempat, nyewa detektif, tapi kamu terlalu lihai, sulit banget di cari. Kalau aku ga ketemu om Sahrul dan dengar rekaman suara kamu, mungkin aku sekarang masih dalam perawatan."
"Ck, jangan ngomong gitu, kamu ga bak__"
"Aku ga bakal bisa bertahan Ra, efek kamu terlau besar buat hidup aku, seperti matahari untuk bumi, udara untuk manusia, tanah untuk pepohonan. Kalau unsur itu ga ada bagi objek yang membutuhkannya, objek itu akan mati. Begitu juga kamu, kalau kamu pergi, aku pasti mati."
Tubuh Tiara seketika lemas, rasa sesak yang tadinya hanya terasa bahagia kini bercampur dengan rasa sesak yang lain, ada haru, cinta, sedih, dan marah. 'Jika efekku sangat besar, apa yang terjadi tiga hari kamu ngabaikan aku dulu?' Ingin sekali Tiara menyuarakan isi hatinya tapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Jika harus mengikuti egonya, tak ayal mereka pasti akan bertengkar di tempat itu.
"Bangun gih, obatnya udah siap, aku ambilin dulu."
Yundhi melepaskan rengkuhannya, meraba saku celana belakang dan mengambil dompet untuk membayar biaya obat. Ia menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pada Tiara.
Tiara menerima kartu itu dengan perasaan yang tidak ia mengerti, ia merasa, de javu.
Tiara melangkah ke kasir menyodorkan kartu milik Yundhi, sayangnya mesin pembayaran yang menggunakan kartu itu sedang bermasalah, kasir itu kini hanya menerima uang cash karena mereka hanya memiliki satu buah mesin pembayaran.
Yundhi kembali mengambil dompet, memeriksa dan sayangnya diapun kehabisan uang tunai.
"Pakai punyaku aja."
"Jangan deh Ra, aku ambilin di ATM dulu."
"Nanti lama lho kamu, kapan mau diobatin lukanya."
Yundhi berdecak sebal, sedikit tidak rela jika Tiara yang harus mengeluarkan biaya. Harga diri bro.
Tiara mengambil dompet dan segera menyelesaikan pembayaran, tiba-tiba matanya menuju pada sebuah kartu yang terselip di salah satu bagian dompetnya dan mengambil kartu itu.
"Ini punya kamu kan?" Tiara menyodorkan kartu yang di berikan Yundhi padanya enam bulan lalu.
Yundhi menatap nanar kartu itu, tapi tangannya tidak terangkat menerima kartu dari tangan Tiara. Ada kilatan marah yang terbentuk di matanya.
"Itu punya kamu, aku ga ngerti kenapa kamu ga pakai-pakai," jawabnya dengan nada kesal.
"Tapi ___"
"Aku tunggu di mobil." Yundhi meninggalkan Tiara di depan kasir apotek. Wajahnya terlihat kesal saat Tiara ingin mengembalikan kartu debet milik laki-laki itu.
"Kenapa malah dia yang ngambek."
***
"Siniin wajah kamu."
"Ini udah ga sakit, Ra. Nanti juga sembuh sendiri." Yundhi masih membuang muka saat Tiara ingin mengobati lukanya begitu Tiara masuk mobil.
"Kamu ga mau aku obatin, oke, aku pergi."
Yundhi dengan cepat menahan tangan Tiara yang ingin keluar.
"Ayo, obatin sekarang."
Tiara menghela napas berat. Kemudian mengeluarkan satu per satu obat yang akan di gunakan. Tangannya menuang alkohol pada selembar kapas dan dengan telaten membersihkan wajah Yundhi yang terluka.
"Di Loca, ga ada ATM atau mesin pembayaran seperti di sini, mereka masih menggunakan uang tunai buat transaksi, malah kadang barteran. Aku mana bisa pakai kartu yang kamu kasih."
Yundhi menyimak penjelasan Tiara, tatapannya pun tak lepas dari wajah Tiara. Wajah yang ia rindukan.
"Lagian...aku belum pantes nerima uang dari kamu."
Yundhi melotot, mendengar ucapan Tiara kali ini.
"Jangan gitu, jelek tahu!" Tiara menjawil pelan hidung Yundhi.
"Kita belum apa-apa, belum resmi, mungkin nanti setelah nikah, aku bakal punya banyak waktu pakai kartu kamu buat keperluanku, semaksimal mungkin." jelas Tiara dengan suara yang halus, berusaha agar Yundhi tidak tersinggung.
Yundhi tidak bersuara, ekspresinya juga terlihat biasa, mungkin penjelasan Tiara sedikit menenangknnya.
"Kartunya aku terima, tapi aku titip dulu sama kamu, bisa?" Tiara menyerahkan lagi kartu debet itu pada Yundhi.
"Enggak, itu buat kamu. Kamu yang simpan, terserah kapan kamu pakainya."
Ternyata masih keras kepala. Tiara menarik kembali tangannya.
"Emang berapa sih isinya, kamu yakin jumlahnya sesuai standar aku?" Tiara tersenyum jahil. Sambil membolak-balik kartu keluaran salah satu bank swasta.
"Ga tahu, begitu nyadar kamu pergi, aku transfer semua uang yang ada di kartu lain, gaji juga aku pindahin semua ke sana, kalau masih kurang dari standar kamu, kasih tahu aku!"
Senyum jahil Tiara memudar, berganti wajah tak percaya.
"Yundhi kamu berlebihan. Aku beneran sekarang ga bisa nerima ini."
"Oke, kita nikah sekarang, biar kamu bisa nerima kartu itu."
Yundhi menyalakan mesin mobil.
"Yundhi!" nada Tiara meninggi.
"Kenapa sih Ra, sesusah itu kamu nerima pemberian aku. Dari dulu, setiap aku tanya mau oleh-oleh apa, kamu ga pernah mau, setiap kita jalan aku tawarin belanja, kamu selalu nolak, apa salahnya kamu nerima pemberian aku?"
Kali ini tensi mereka sama-sama naik. Baik Yundhi atau Tiara pasti akan mempertahankan pendapatnya masing-masing.
Yundhi mematikan mesin mobil, rasanya dia tidak akan bisa menyetir dengan benar jika kondisinya masih labil.
Keheningan terjadi beberapa saat. Tiara menjatuhkan pandangan ke luar jendela. Ia berusaha menenangkan hatinya yang sedikit tersulut. Kepalanya merespon apa yang terjadi dan kini mulai terasa berdenyut.
"Maaf, maafin aku." Yundhi berinisiatif lebih dulu meminta maaf. Meski dia tak sepenuhnya salah, tapi menjaga perasaan Tiara lebih penting. Mereka baru bertemu setelah enam bulan, sangat di sayangkan harus langsung diisi dengan pertengkaran. Ia meraih tangan Tiara dan menggenggamnya erat.
"Jangan marah, Ra, please."
Kamu belum mengenal aku dengan baik Yundhi. Aku ga perlu barang yang kamu kasih, aku cuma butuh kamu.
"Aku ga marah, bisa kita pulang sekarang? Aku pengen istirahat." ucap Tiara senormal mungkin.
***
Yundhi memarkirkan mobilnya di depan warung kaki lima Lastri. Ia berjanji akan mengantar Tiara pulang, tapi perutnya juga sudah meronta karena tak diisi sejak hari masih siang.
"Benar-benar capek dia." Yundhi mengecup punggung tangan Tiara, dan sama sekali tidak terganggu.
Tiara masih tertidur pulas di samping Yundhi. Wajahnya terlihat damai. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Yundhi mengambil sebuah ponsel dari kursi belakang, masih baru dengan kotak yang masih disegel.
Dengan cepat Yundhi mengeluarkan ponsel itu dari tempatnya, mengisinya dengan simcard, lalu mengaktifkannya. Setelah ponsel itu aktif sempurna, Yundhi menyimpan nomornya di ponsel itu, begitupun sebaliknya. Kemudian dengan gerakan pelan Yundhi membuka tas tangan yang di bawa Tiara dan memasukkan ponsel itu ke dalamnya. Selesai.