
Hari Senin pagi, seluruh warga sekolah tempat Tiara mengabdi di kejutkan dengan kedatangan seorang guru baru. Tapi yang paling antusias, histeris dan menggila tentunya kaum hawa. Pasalnya guru baru itu seorang laki-laki, jelas, lengkapnya muda, tampan, badan proporsional, tinggi, putih, dan kaya, karena bisa ternilai dari mobil yang terpajang di area parkir sekolah. Mahal. Penampilannya tidak kalah memukau, sangat mencolok diantara jajaran guru yang berdiri di pinggir lapangan. Celana jins abu muda, dengan dalaman kaos dan cardigan sebagai pelengkap, sepaatu kets keluaran brand ternama, hm modis istilahnya.
Upacara yang biasanya membosankan bagi seluruh umat yang di sebut siswa, saat ini menjadi hal yang tidak ingin berakhir cepat. Pemandangan baru yang mereka lihat tentu saja menjadi faktor utama peserta upacara betah berlama-lama berdiri menikmati terik. Meski kepala sekolah bertele-tele dalam menyampaikan amanat, para siswi seakan berdo'a berjamaah dalam hati agar sang kepala sekolah beramanat lebih lama lagi. Tiba saat detik-detik kepala sekolah mengucapkan kata-kata perkenalan, seluruh peserta menajamkan indra pendengaran dan bekerja sama dengan indra penglihatan mereka menanti nama yang akan keluar dari pengeras suara.
"Bapak Deki Pranala, guru Sejarah kita yang baru, beliau menggantikan pak Suhaili yang telah pensiun."
Begitu kira-kira ucapan kepala sekolah yang paling jelas yang mereka tangkap, sisanya terlewat bagai angin lalu karena kuping mereka tengkurap untuk hal yang tak diminati. Perkenalan itu di sambut tepuk tangan riuh peserta, lengkap siulan dan sorakan dari siswa laki-laki.
***
"Ra, dari mana aja?" Mimi menyapa paling awal, tak biasanya pasif.
"Ngajar di STIKES dulu, jam kedua di sini, terakhir di pusat bahasa, kenapa?" Tiara menjawab sambil menyiapkan buku yang akan ia bawa ke kelas.
"Tadi ga ikut upacara kan, belum ketemu pak Deki, new comer Ra, hot banget, gila baru gue ketemu guru sekeren itu, breakthroughnya kebangetan." ujar Mimi menggebu-gebu.
"Oo."
"O apaan, cuma o lo bilang?"
"Terus gue harus bilang apa?"
"Jen, lo yang cerita deh, gue guru kimia, kosakata gue kurang buat muji orang." Mimi meminta bala bantuan.
"Ga salah lo minta bantuan sama guru matematik, entar gue jelasin pakai aljabar, males." jawab Jenny tak acuh. Makhluk yang satu itu tentu saja harus memeriksa hasil pekerjaan siswanya yang selalu menjawab soal darinya dengan membuat rumus sendiri.
Mimi bersungut kesal, tapi masuk akal juga apa yang di katakan sahabatnya itu. Jurusannya dengan Jenny tak jauh beda, bergelut dengan rumus dan angka. Hanya bidang Tiara yang tak bersinggungan dengan angka-angka, meski kadang membuat kalimat memakai rumus juga.
"Udah ya, gue ke kelas dulu, udah telat, bye."
Waktu berjalan.
45 menit kemuadian mereka berkumpul di kantin, mengisi jam istirahat kedua dengan memanjakan perut yang sudah menabuh genderang lapar. Semua menu terasa menggiurkan, mereka berpencar memesan makanan yang diinginkan. Tak butuh waktu lama, mereka duduk lagi di tempat semula dengan makanan dan minuman di atas meja.
Mimi tak henti memandang ke arah pintu masuk kantin, berharap seseorang datang dari sana dan menghampiri meja yang mereka tempati, kemudian ngobrol bersama atau sekedar menyapa basa basi tak penting.
"Makan ya makan aja, jangan harepin orang yang udah pasti ga akan dateng, model orang kayak dia mana mau makan di kantin sekolah." ujar Jenny tepat sasaran, seolah tahu apa yang ada di pikiran Mimi saat ini.
"Masa sih Jen, terus dia makan di mana kalau ga di kantin?" tanya Mimi polos.
"Mana gue tau, bawa bekel kali ato capcus cari restoran mewah."
Mimi hanya mengangguk, Tiara yang menyimak pembicaraan itu memilih khusyuk menikmati soto ayam kampung yang ada di hadapannya, rasanya kalau ia ikut bicara sotonya akan berubah rasa.
"Tapi bener deh, gue ngefans sama pak Deki, dia udah punya pacar belum ya, mau deh gue di pacarin."
Kali ini Tiara bereaksi, menatap Mimi dengan wajah keheranan, untuk pertama kalinya dia mendengar sahabatnya itu tertarik menjalin hubungan. Dia yang biasanya cuek pada keadaan sekitar, lebih suka main gadget daripada ngobrol, pendiam dan pelit jawaban jika di tanya masalah pribadi tiba-tiba mengungkapkan ingin di pacari seseorang, sungguh kemajuan yang luar biasa untuk seorang Mimi. Siapun laki-laki yang Mimi inginkan saat ini, semoga perasaannya berbalas.
"Segitunya Mi, cakep banget ya." beo Tiara.
"Hm, mirip Jonathan Christie, kayaknya peranakan." timpal Jenny.
"Yundhi lewat Ra." Mimi menambahi.
"Hahaha, pacar gue? Kalah?" Tiara berkata dengan tertawa sumbang, "Oke, asal anda senang, ga apa-apa."
Mendapat pujian berlebihan dari orang sekitarnya Tiara mulai penasaran akan sosok guru baru yang katanya setampan atlit yang sedang bersinar itu. Tapi Tiara harus bersabar karena sampai jam istirahat kedua berakhir sang guru baru tak juga muncul di kantin.
Ponsel Tiara bergetar. Nama Yundhi muncul di sana. Senyumnya pun mengembang, sopir pribadinya datang.
"Hai, udah di luar."
"Hm, masih lama."
"Enggak, ni udah mau keluar. Bentar ya."
"Ra!" Yundhi sedikit mengeraskan suara berharap Tiara belum memutus sambungan.
"Ya? Kenapa?"
"Bawain roti, aku laper!"
"Astaga, belum makan?"
"Cepetan!!!"
"Iya iya tunggu!"
Tiara segera bergegas, meninggalkan Mimi dan Jenny tanpa kata-kata. Sebelum keluar dari kantin, ia lebih dulu membeli roti dan susu siap minum meski Yundhi tak menyebut untuk di bawakan susu. Tiara melangkah menuju ruangan guru, mengambil tas dan beberapa buku yang harus ia bawa dan kembali ke luar ruangan tanpa mempedulikan jika ada orang yang memperhatikannya di ruangan itu.
Sekarang kakinya telah melangkah keluar dari pintu utama sekolah. Dari jauh ia bisa melihat Yundhi di belakng setir mengarahkan pandangan padanya.
"Tunggu!"
Sebuah cengkraman menarik lengan Tiara, membuat Tiara harus berhenti tiba-tiba dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Kamu!"
Tiara mengernyit heran, memandang wajah baru yang masih asing di retinanya. Terlintas kata-kata sahabatnya tentang hari ini, guru baru, keren, cakep, peranakan, Jonathan Christie.
This is it.
"Kamu tadi ga ada waktu upacara, kamu siapa?"
Tiara lebih dulu melirik tangan guru baru itu yang masih di posisinya dan dengan segera Tiara menyentak keras lengannya yang tertahan. Ga sopan.
"Tiara, guru bahasa Inggris. Permisi." ujar Tiara tersenyum dan berlalu.
***
Yundhi menengadah menopang kepala dengan ke dua tangan di lipat ke belakang sambil menikmati lagu menunggu Tiara datang. Sejak pagi dia sudah menjadi sopir pribadi Tiara menepati aturan yang ia buat sendiri untuk mengantar jemput Tiara jika dia day off. Merasa bosan Yundhi mengalihkan pandangan menghadap pintu masuk utama sekolah, dari balik kaca mobilnya, ia bisa melihat bayangan Tiara bergerak menuju arahnya. Tapi bayangan lain mengganggu penglihatannya. Laki-laki.
Yundhi tersentak kaget melihat bayangan laki-laki itu menarik lengan calon istrinya secara tiba-tiba. Melihat apa yang terjadi Yundhi keluar dari mobil dan berjalan ingin menghampiri laki-laki kurang ajar yang berani menyentuh calon istrinya dan hendak membuat perhitungan. Aliran darahnya bereaksi cepat, mengalir ka sana kemari membuat suhu tubuhnya meningkat.
Sambil berjalan, ia bisa melihat Tiara menarik tangannya sendiri, menggerakkan mulut dan segera berlalu tepat ketika langkah Yundhi tiba di pos satpam. Di balik kaca mata hitamnya, Yundhi memasang tatapan tajam pada laki-laki tersebut. Sambil berkacak pinggang ia menunggu kedatangan Tiara dan segera meraih tangan Tiara menuju mobil. Jika tidak mengingat bahwa mereka berada di sebuah sekolah, tempat mendidik generasi penerus bangsa, mungkin dia akan menghampiri laki-laki asing itu dan menghajarnya.
Dari tampilan raut wajahnya, Tiara tahu Yundhi kesal dan terasa menggelitik bagi Tiara melihat tingkah cemburu sang pilot.
"Sudah, jangan cemberut, kadar tampan kamu berkurang lho, dia guru baru, belum tahu apa-apa." jelas Tiara setelah mereka duduk di tempat masing-masing.
"Guru baru sih guru baru, masa ga sopan gitu, otaknya keseleo apa." gerutu Yundhi.
Tiara kemudian menyodorkan makanan yang tadi di belinya, tapi hanya mendapat lirikan Yundhi tanpa ia terima. Sungguh kejadian singkat tadi berefek buruk pada hawa lapar yang tadinya dirasakan Yundhi. Nafsu makannya menguap begitu saja. Melihat tatapan laki-laki itu pada Tiara dan bagaimana dia tersenyum sambil mengejar Tiara, dan sudah pasti Tiara tidak menyadarinya, mengobarkan rasa cemburu di sekujur tubuh pilot itu.
Hampir menyerah Tiara kemudian memberi kecupan ringan pada pipi kekasihnya, menyadarkan Yundhi dari pikiran liarnya yang ingin kembali ke dalam dan menonjok wajah tampan calon rivalnya.
"Aku ga mau kamu sakit, kita bakalan sibuk beberapa bulan ini, kamu segalanya, ga ada cowok lain, hm." ujar Tiara sambil tersenyum.
Perasaan Yundhi terasa di sirami air zam-zam mendengar ungkapan cinta Tiara untuk pertama kali. Kepala yang tadinya panas mendadak sejuk.
"Makan sendiri atau aku suapin?"
"Suapin."
***
Deki masih menatap punggung Tiara yang meninggalkannya begitu cepat. Jika tak melihat sosok pria berkaca mata di depan pos satpam yang memasang wajah marah, dia pastinya akan kembali mengejar Tiara untuk bicara lebih lama.
"Tiara?" gumamnya pelan.
Sejujurnya ini kali pertama Deki ditinggalkan lebih dulu oleh lawan bicara wanita, jadi bisa di bilang ini adalah penghinaan ringan baginya. Entah bisikan dari mana, Deki tiba-yiba saja teryarik begitu melihat Tiara masuk ruang guru tanpa memedulikannya yang jelas-jelas duduk di samping kanan meja Tiara. Deki tahu pasti Tiara buru-buru, tapi dia penasaran wanita itu tidak hadir saat upacara bendera, dan langsung pergi saat jam terakhir elajaran baru di mulai. Jangan lupakan paras tak membosankan Tiara, itu juga menjadi alasan Deki mengejarnya.
"We will see." ujarnya lagi sambil berbalik setelah melihat Tiara masuk ke dalam mobil.
***
"Sampai jam berapa di pusat bahasa?"
"Sampai jam 4 sore."
"Oke, aku jemput sebelum jam 4 setelah itu kita ketemu WO pilihan mama."
"Hm." Tiara menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah. Istirhat selama perjalanan mungkin akan membuat tubuhnya lebih segar.
"Jangan aneh-aneh sama murid bule itu!" suara Yundhi tiba-tiba.
Mendengarnya Tiara terkekeh pelan.
"Kenapa sih hari ini sensitif banget, umur mereka jauh di bawah kita lho, masih bocah."
"Sebocah-bocahnya bule, tetep aja mateng muda." Yundhi memasang wajah awas.
"Iya iya ga bakalan aneh-aneh, astaga bener-bener ya kamu hari ini, yang tadi kayaknya masih kurang, sini sini cium kening biar ga sensi lagi!"
Tepat setelah ucapan terakhir Tiara, Yundhi memberhentikan mobil karena lampu lalu lintas menyala merah.
"Ingat ya kamu yang godain!"
"Hah?!"
Tanpa peringatan Yundhi ******* penuh bibir mungil Tiara, menyesap manisnya menikmati. Tiara tidak menghindar, dia berpikir Yundhi memang perlu di tenangkan dan mungkin ini cara yang paling tepat. Ia membiarkan Yundhi memimpin ciuman mereka, memberi ruang untuk Yundhi melakukan apa yang diinginkan. Hingga suara klakson dari kendaraan di belakang mereka berbunyi merekapun sadar dan melepaskan bibir kemudian menyatukan kening sambil tertawa menyadari tingkah liar mereka di tengan lalu lintas yang padat.
Yundhi kembali menjalankan mobil, sedikit membuka jendela mengangkat ibu jarinya memberi kode baik pada pengendara di belakang.
"Mobil yang ini kacanya ga nerawang juga kan?" tanya Tiara memastikan.
"Nerawang, kenapa?"
"Astaga Yundhiiiiiii!" Tiara menutup wajah dengan telapak tangan, menahan malu, menyadari orang lain melihat perbuatan mereka tadi.
Yundhi tertawa cekikikan melihat wajah merah muda Tiara.
"It's okay, it's love." ujarnya sambil mengelus halus surai Tiara.
"Kamu ya, bener-bener."
***
Deki kembali ke dalam ruang guru dengan langkah santai, sapaan dari para siswi di balasnya dengan senyum ramah. Melihat beberapa murid perempuan berkumpul di depannya, sebuah ide tercetus di kepala Deki.
"Pada kumpul apa ni?' sapanya dengan bahasa non formal.
"Eh, pak Deki, lagi ngomongin bapak, bapak masih single ga, kita juga available lho pak."
Deki tertawa mendengar rayuan terbuka muridnya.
"Saya juga available, tapi lebih suka yang mateng, kalian tau bu Tiara, tadi di ga ada waktu upacara."
"Wah, selera pak Deki bu Tiara juga ternyata, maap maap ni pak, bu Tiara udah doble, jadi bapak mending ganti sasaran."
"Saya ga nanya statusnya," meski begitu Deki bersyukur muridnya itu bercerita dengan sukarela, "saya cuma penasaran, dia ga ikut upacara, sekarang sebelum jam pulang dia malah kabur duluan."
"Oh, itu karena bu Tiara ngajar di tempat lain pak, di dapat dispensasi kepala sekolah buat ngajar di tempat lain setelah wisuda kemarin, bu Tiara juga mau buka bimbel, brosurnya terbit di grup kita." jelas seorang siswi berkacamata.
Sosok Tiara semakin menarik minat Deki untuk lebih mengenalnya. Deki menyimak dengan baik semua keterangan yang di berikan para miridnya tentang Tiara. Deki membuat kesimpulan laki-laki yang bersama Tiara tadi adalah pacarnya, tapi selama hubungan mereka belum resmi, tidak ada yang mustahil baginya.
"Terima kasih sudah mu ngobrol, saya permisi dulu."
Dekipun meninggalkan kelompok murid perempuan yang memberinya banyak informasi, tidak hanya tentang Tiara, tapi beberapa guru yang masih single, termasuk dua sahabat Tiara, Mimi dan Jenny. Keterangan mereka terlampau lengkap, bahkan kejadian memalukan yang menimpa Tiara dulu ikut mereka bongkar. Memang sudah tabiatnya, wanita gitu lho, ga ghibah ga seru.