When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
63



Detik itu juga, setelah dihubungi pengacara keluarga Prasetya, Dara Mina, melakukan konfrensi pers untuk menjelaskan foto yang ia sebar di media sosialnya. Dia diharuskan meminta maaf, menjelaskan bagaimana ia mendapatkan foto itu, tujuannya memosting, dan menjelaskan status dirinya dengan orang yang ia foto. Konfrensi itu dilakukan secara live, di depan beberapa wartawan.


Untuk menghindari pemberitaan lebih jauh, Dara tidak diijinkan menerima pertanyaan dari awak media dan hanya membaca lembaran yang telah disiapkan pengacara keluarga Prasetya.


Acara itu berlangsung singkat, tapi telah disiarkan seluruh media elektronik. Setelahnya Dara Mina tidak diperkenankan menjawab pertanyaan perihal foto itu lagi setelah konfrensi pers berlangsung. Sedikit saja berita tentang keluarga Prasetya muncul, maka Dara Mina akan di tuntut dan di laporkan ke pihak berwajib.


Selebgram itu harus bersyukur hanya di minta melakukan penjelasan, Yundhi dan keluarganya masih menaruh iba. Jika reaksi Tiara lebih histeris pagi itu, mungkin ia akan di seret detik itu juga ke penjara.


***


Hampir 20 menit, pelukan Yundhi tak juga lepas dari Tiara. Tiara sudah berhenti menangis sepuluh menit yang lalu, tapi segala usahanya untuk lepas dari pelukan suaminya sia-sia.


Bukan tanpa sebab, pasalnya Tiara tidak mau berjanji untuk tidak mendinginkannya meski Tiara mengatakan dirinya tidak marah lagi.


"Ya udah aku peluk kamu sampai nanti malam, kita di sini terus, ga usah nyusul Ed ke villa."


Untuk pertama kalinya, dalam pernikahan mereka yang baru memasuki kurun dua tahun, mendapat masalah yang sedikit serius. Tidak hanya menyentil mereka sebagai pasangan, masalah itu harus berimbas pada keluarga besar Yundhi.


Elok, yang juga termasuk keluarga dekat, untuk pertama kalinya ingin mengumpat Yundhi secara blak-blakan. Telponnya baru di angkat Yundhi setelah mencoba delapan kali. Tentu saja yang paling di khawatirkannya Tiara. Yundhi kebagian sumpah serapah dan umpatan sebagai biang masalah.


Kabarnya Elok juga menyusul Ed sekeluarga ke villa. Dia menyarankan agar mereka menginap di sana untuk menghindari kejaran wartawan.


Terdengar desahan napas panjang Tiara, "aku capek."


Ambigu, jawaban Tiara terdengar ambigu di telinga Yundhi. Capek apa maksudnya, capek karena mereka berdiri sejak tadi atau...Tiara lelah menghadapinya?


"Kamu mau tinggalin aku?" kali ini tanpa usaha apapun Tiara secara ajaib terlepas dari jerat tangan Yundhi, tapi anehnya mendapati wajah sedih pria itu saat mereka saling tatap.


"Memang kamu bisa kalau ga ada aku? Bisa lepasin aku kalau kamu aku tinggalin?"


Kalimat Tiara lengsung mendapat gelengan cepat Yundhi.


Belum lima menit terlepas, sekarang tangan kekar Yundhi kembali mendekapnya. Tiara tertawa tanpa dosa dalam pelukan suaminya.


"Aku cuma bilang capek, bukan ninggalin, kamu tafsirannya kejauhan, kamu ga kasihan berdiriin aku dari tadi?"


Hembusan kelegaan memenuhi rongga dada Yundhi. Lelaki itu terlalu kapok dengan kaburnya Tiara dulu ke Loca.


"Eh." Tiara terpekik saat tubuhnya di angkat dan sesigap mungkin berpegangan dengan tangan melingkari leher suaminya.


Yundhi mendudukinya di kursi meja makan.


"Aku bisa jalan Yundhi."


"Kamu belum sarapan, pasti lemas, apalagi tadi menyusui. Maaf ya aku lupa. Biar aku ambilin sarapannya," Tiara membuka mulut ingin mengajukan protesnya, dia belum selesai memasak, "ga boleh gerak." Yundhi lebih dulu membungkamnya.


Tak lama, lelaki itu kembali dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk dan segelas susu untuk ibu menyusui.


"Aku bisa ambil sendiri lho. Ini kebanyakan."


"Nanti aku bantuin."


"Kamu mau bikin aku lebih gemuk lagi?"


"Kamu gemuknya dari mana? Itu udah kurus, sayang."


"Kamu ga lihat gelambir selulitku di mana-mana."


"Aku ga ngerti yang begituan. Asal kamu sama Ed sehat, mau kamu segemuk apa aku ga masalah. Mau wajah kamu jerawatan, atau apa namanya tadi yang kamu bilang?"


"Flek."


"Ya itulah pokoknya, ga masalah buat aku."


"Tapi cewek itu jadi kelihatan lebih cantik, aku mau perawatan biar mulus kayak dulu."


"Terserah, tapi kalau nanti jadinya kamu terlalu cantik, aku bikinin candi."


"Buat apa?"


"Aku lockdown kamu di sana, biar ga usah kemana-mana, ga di lihat siapa-siapa, aku ga rela."


Tiara tahu suaminya hanya mencandainya. Itu cara Yundhi menguatkan hubungan mereka, dengan bercanda, tertawa, bercerita terbuka satu sama lain. Yundhi paling tidak tahan Tiara mendiamkannya, meski hanya lima belas menit. Dia lebih nyaman kalau Tiara mengomelinya jika dia berbuat salah, dan bercerita padanya kalau Tiara mendapat masalah.


"Ngaco. Tapi aku serius mau perawatan. Lihat perempuan itu yang kayaknya serasi sama kamu, aku kehilangan percaya diri berdiri di samping kamu kalau penampilanku kayak gini."


Yundhi menyambar satu suapan dari tangan Tiara.


"Pernah dengar kalimat ini, a gentleman only has eyes for his own lady."


"Ga pernah, kamu baca di mana?" satu suapan masuk ke mulut Tiara.


"Lupa, tapi aku termasuk penganut kalimat itu, jadi mau ada ratu kecantikan yang paling cantik di depanku, pakai bikini two piece sekalipun, mataku cuma bisa lihat kamu. Cowok itu paling bangga tahu ga kalau ada yang nanyain siapa cewek di sampingnya, terus kita jawab 'ibunya anak-anak'gitu Ra."


Tiara meleleh. Yundhi sedang menunjukkan sisi romantisnya dengan cerita, dengan ungkapan perasaannya, hanya dengan kata-kata, bukan bunga, perhiasan, atau benda mahal lainnya. Tapi kata-kata itu mampu membuat hati Tiara berdesir hangat.


***


"Perlu banget ya pak saya harus bikin konfrensi pers kayak tadi, sepenting apa sih istrinya sampai harus di jaga perasaannya kayak gitu, toh ini cuma foto biasa."


"Memang foto biasa mba, tapi anda sudah menyebarkannya dan membuat masyarakat salah menilai tentang anda dan tuan Prasetya. Yang anda lakukan juga termasuk pelanggaran undang-undang ITE, bisa saja anda kami tuntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anda ini."


"Tapi saya juga merugi pak, beberapa kontrak dan perjanjian endorsement saya di batalkan sepihak, saya kehilangan banyak job, bapak mau ganti rugi?'' ujar Dara Mina kesal pada pak Rudy setelah melakukan pres conferense.


"Mengenai hal itu, sudah menjadi resiko anda, ambil pelajaran dari masalah ini, jangan sembarangan menyebarkan foto orang lain tanpa seijin orangnya. Sekarang serahkan ponsel anda!"


Mata Dara kembali melotot mendengar permintaan pengacara itu.Tangannya terlipat di dada tanda tidak suka. Ia seorang selebriti, tidak pantas di suruh-suruh seperti itu, pikirnya.


"Bapak mau ngapain sama ponsel saya?"


"Serahkan saja mba kalau mau karir anda selamat!"


"Kalau ponsel saya kenapa-kenapa, bapak akan saya tuntut lho, saya tidak main-main."


Rudy tersenyum, "Saya tunggu tuntutannya."


Dara Mina menyerahkan ponsel keluaran terbaru yang menjadi miliknya. Ponsel itu lalu berpindah dari tangan Rudy, menuju tangan seorang pemuda di belakangnya.


"Saya sangat paham dengan orang yang pekerjaannya seperti mba Dara, kalau anda punya ponsel lain serahkan sekarang juga!" kata Rudy lagi.


"Maksud bapak apa? Bapak beneran mau saya tuntut ya, itu ponsel saya mau di apakan?' sambil menarik lehernya ke atas melihat ponselnya di utak atik pemuda itu.


"Saya sudah katakan, kalau mau karir anda selamat, sebaiknya mbak kooperatif dengan saya, di belakang saya ini adalah seorang ahli IT dari kepolisian, ga usah jauh-jauh ke kantor polisi, tanya saja sama beliau mba bisa tuntut saya atau tidak."


Tanpa di sadari wajah selebgram itu mendadak pias, jantungnya terpompa lebih cepat karena kaget.


"Gitu ya, ya udah, ini." Dara menyerahkan ponselnya yang lain secara suka rela.


"Semua jejak foto klien saya akan di hapus dari ponsel mba. Foto-foto klien saya yang sudah terpampang di media elektronik, termasuk di memori ponsel mba yang menjadi akar masalahnya akan di hapus secara permanen."


Dara meremas jari tangannya karena gugup, ia tidak menyangka aksi main-mainnya akan berbuntut panjang seperti ini.


"Sekali lagi saya ingatkan ya mba Dara, jangan menyebarkan foto orang lain tanpa seijin pemiliknya, ini demi kebaikan anda. Banyak-banyak bersyukur keluarga Prasetya tidak sampai menyeret anda ke meja hijau. Sekarang silahkan tanda tangani dokumen ini!"


Rudy menyodorkan lembaran kertas yang sudah di tempeli materai.


"Apalagi ini?"


"Itu surat perjanjian bahwa anda tidak akan mengulangi perbuatan anda dan tidak akan menggaggu keluarga Prasetya lagi termasuk menceritakan perihal foto itu kepada siapapun, bagaimana anda mendapatkan foto itu, bahkan kepada orang terdekat anda, orang yang paling anda percaya sekalipun tidak boleh anda ceritakan. Saya bisa membungkam mulut anda, tapi kalau anda bercerita ke orang lain lagi, cerita itu akan menyebar, dan urusan kita akan menjadi lebih panjang karena bisa di pastikan andalah sumber utamanya."


Kali ini tak hanya jantungnya, kaki Dara Mina ikut bergetar mendengar ucapan pengacara itu yang sangat serius dan tidak main-main, tanpa berpikir lagi dia menanda tangani kertas perjanjian itu dan menyodorkannya pada Rudy. Dara juga menerima dua ponselnya kembali dari ahli IT di belakang Rudy.


"Sebenarnya siapa keluarga Prasetya ini sih pak pengacara?"


Rudy tersenyum mendengar pertanyaan selebgram di hadapannya.


"Saya sarankan anda jangan penasaran dengan keluarga ini dan berkarirlah dengan baik," tutup pengacara itu, membuat Dara Mina menganga lebar. Rudy dan rekannya meninggalkan Dara di kafe tempat mereka mengadakan konferensi pers.


Kali ini dia akan menurut, tidak akan lagi berurusan dengan keluarga Prasetya. Kapok.