When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Baby Moon



Green Yard School


Salah satu institusi pra sekolah yang memiliki konsep bermain sambil belajar, di khususkan untuk anak berusia empat sampai enam tahun. Sekolah ini di minati warga yang memiliki anak berdarah campuran atau blasteran, bahkan yang murni peranakan luar negri yang kebetulan menetap di Indonesia. Karena memiliki kualitas yang sangat baik dan mereka juga mempercayakan pada sekolah itu agar anak-anak mereka bisa bergaul dengan penduduk lokal menggunakan bahasa setempat dengan benar.


Tapi sekolah ini juga tidak menutup akses untuk para warga lokal yang ingin menyekolahkan anak mereka di sana. Meski jumlahnya tak sebanyak siswa peranakan, namun ada saja setiap tahunnya siswa baru penduduk asli Indonesia yang mendaftar di sekolah itu. Hingga dengan sendirinya tujuan sekolah itu tercapai untuk mengajarkan siswa blasteran bergaul dengan penduduk asli.


Dua bulan setelah pernikahannya Tiara mengaminkan permintaan Elok untuk menjadi kepala sekolah di tempat itu. Kini berjalan tujuh bulan semenjak hari pertama ia menjabat, Tiara masih aktif melaksakan tugasnya meski tengah hamil tua. Pagi hari sebagai kepala sekolah, sore harinya sebagai tutor di bimbelnya sendiri membuat Tiara cukup aktif selama menjalani kehamilan. Yundhi tadinya tidak setuju jika Tiara mengajar di dua tempat. Tapi begitulah Tiara, jika tidak berkegiatan, ia akan mati kebosanan menghabiskan waktu hanya di rumah saja setiap pagi karena bimbelnya memang lebih padat dengan jadwal belajar mengajar pada sore hari hingga malam. Untuk mencapai keinginannya, Tiara tidak main-main berusaha, ia rela memenuhi permintaan Yundhi di atas ranjang selama berjam-jam sampai suaminya itu berkata 'boleh'.


Yundhi, yang masih berseragam lengkap setelah baru saja menyelesaikan tugas terbangnya, melihat sambil tersenyum pada Tiara yang sedang mengajar anak-anak didiknya di depan kelas. Ia ke sana ingin langsung bertemu sang istri setelah sekian hari berpisah.


"Sekarang kita akan bermain 'Mister John Says', siapa yang mau?" tanya Tiara penuh semangat pada segerombol anak-anak yang rata-rata berusia di bawah lima tahun.


"Saya, me," jawab anak-anak itu serempak.


"Okay, follow me! Rise your right hand! anak-anak itu serempak mengangkat tangan kanan mereka mengikuti Tiara.


"Mister John sa**ys" Tiara bicara lamat-lamat, "touch - your - eye" sambungnya masih dengan nada pelan. Kompak anak-anak itu menyentuh mata mereka.


"Nose" ucap Tiara sambil ikut memegang hidungnya, pelan-pelan ia menurunkan tangan bermaksud tak memberi petunjuk agar anak-anak itu menyentuh sendiri bagian tubuh yang ia sebut.


"Mister John says touch your eye brow."


"Lip, cheek, ear," semakin cepat Tiara menyebut nama-nama bagian tubuh dalam bahasa Inggris, "hair, hand, knee, perut," sedikit menjebak dengan menyebut bagian tubuh menggunakan bahasa Indonesia, kini anak-anak itu mulai bingung, kewalahan bagian tubuh mana yang di maksud, mereka saling lihat mencari petunjuk pada temannya yang lain "chin, theet, neck" tawa Tiara meledak saat anak-anak itu tidak bisa lagi mengikuti ucapannya. Tingkah bingung mereka sangat menggemaskan Tiara.


Buyar.


Anak-anak itu ikut tertawa, bukan karena menyadari tingkah konyol mereka, tapi karena melihat perut Tiara yang naik turun ketika tertawa. Suara tawa mereka memenuhi ruangan. Yundhi yang menyaksikan dari luar jendela tak luput pula dari tawa.


"Okay, every body clap your hand." Tiara menyuruh mereka bertepuk tangan agar meredakan tawa.


"Mau nyanyi sama Miss Tiara?"


"Mauuuuuuu" koor anak-anak itu.


"Let's sing part of body, okay!"


"Yes."


"Follow me!"


Head, soulder, kness and toes


Knees and toes


Knees and toes


Head soulder knees and toes


It's my body


"One more time!"


Tiara mengulang lagi bait lagu sederhana itu, bergerak memegang bagian tubuh yang di sebutkan dalam lagu. Tapi dia terlihat kesulitan meraih jari kaki karena perutnya yang telah membesar namun anak-anak itu telah mengetahui bagian tubuh mana yang harus mereka pegang.


Selesai dengan lagu itu, Tiara berpamitan pada anak-anak dan menitipkan mereka pada guru lain yang membantu di sana.


***


"Jadi kapan kamu mau cuti?" tanya Yundhi yang kini telah berjalan bergandengan tangan dengan Tiara menuju ruang kantor Tiara.


"Hm, kapan ya? Aku masih gesit lho gerak-geraknya, nanti-nanti aja kalau sudah dekat HPL (Hari Perkiraan Lahir)."


"Ga bisa gitu dong, Ra. Semakin dekat HPL, bukannya kamu harus lebih banyak istirahat?"


"Salah, justru harus makin banyak gerak biar bayinya gesit di dalam nemuin jalan lahirnya."


"Yang itu bukannya tugas aku yang harus makin rajin jenguk?" bicara Yundhi mulai absurd.


"Kalau itu emang maunya kamu, mau puas-puasin sebelum puasa empat puluh hari." Tiara menimpali dengan keabsurdan yang sama.


"Apaan sih, baby moon, kemana?" meski tadinya nada penolakan yang keluar tapi ujungnya Tiara malah tertarik. Yundhi tersenyum puas melihat rasa antusias Tiara. Dia memang sudah merencanakan baby moon, seperti yang Tiara katakan, sebelum dia berpuasa menyentuh Tiara selama empat puluh hari pasca melahirkan nanti. Kepalanya mengarah pada satu tempat, dimana mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan, tanpa ada interupsi dari sang Mama atau Oma ketika mereka hampir melepas baju di kamar dan Yundhi yang sudah menegang, di mana Yundhi yang ingin memberi ruang untuk Tiara meninggalkan sejenak kesibukannya selama ini. Itu bisa ia dapatkan di satu tempat.


***


"Aku ga pernah tahu keluarga kamu punya villa ini." Tiara memandang takjub pada bangunan villa yang terlihat manis dengan tanaman bunga warna warni di sekitarnya. Bangunan yang berbahan dasar kayu itu, meski tampak kecil dari depan, namun memiliki luas yang mampu menampung puluhan orang di dalamnya. Halaman depan yang cukuo luas, entah beraoa luas lagi di bagian belakangnya. Sepenglihatan Tiara, tembok yang mengelilingi tempat itu cukup jauh dari letak villa yang artinya tempat itu...sangat luas. Di sana juga terdapat kolam renang yang cukup besar, yang belum Tiara ketahui.


Yundhi tidak main-main, ia menepati janjinya mengajak Tiara baby moon ke sebuah villa yang terletak di luar kota, dekat dengan pedesaan. Pemandangan alami dan udara segar sangat kental mengelilingi tempat itu. Seorang penjaga villa menyambut mereka dan mengambil koper milik Yundhi dan Tiara membawanya ke dalam villa.


"Eh, kok nama villanya kayak nama aku ya?" tanya Tiara ketika membaca sebuah papan nama kecil dengan ukiran kayu yang tergantung di dinding samping pintu masuk villa.


"Bukan seperti lagi, itu memang nama kamu, villa ini punya kita, aku beli atas nama kamu."


TIARA'S VILLA


Sejenak Tiara membeku, mencerna pemberitahuan mendadak Yundhi padanya. Matanya tak beralih dari papan nama berukiran indah berwarna krem itu.


"Kamu suka?" tanya Yundhi sambil memeluk tubuh Tiara dari belakang, mengecup mesra puncak kepala sang istri.


"Yundhi, ini..."


"Berlebihan?" sambar Yundhi yang sudah tahu isi pikiran istrinya, "Buat kamu ga ada kata berlebihan karena kamu memang pantas mendapatkan ini semua. Semua yang aku punya seperti ga akan cukup mengungkapkan gimana besarnya rasa cintaku ke kamu dan gimana aku berterima kasih atas semua kebahagiaan yang kamu ciptakan dalam keluargaku, keluarga kita." sambil mengelus perut buncit Tiara, dan Tiara bisa merasakan sensasi geli akibat gerakan sang jabang bayi atas sentuhan ayahnya.


Perasaan Yundhi seketika menghangat merasakan gerakan kecil itu, sejenak, dalam diam ia menikmatinya.


"Tanpa kamu beli ini semua aku tahu kamu sayang sama aku Yundhi." Tiara berbalik dengan mata berair yang tidak bisa ia cegah. Yundhi terlalu mengistimewakannya dan merasa suaminya itu terlalu berlabihan dalam mengungkapkan perasaannya.


"Dengan perbuatan kamu saja dan perhatian kamu sudah bikin aku ngerasa spesial, kamu ga perlu sampai melakukan hal besar seperti ini." Yundhi menyeka air mata Tiara yang sudah mengalir.


"Sini, aku peluk." Yundhi merengkuh tubuh Tiara dan Tiara tanpa ragu menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang sang suami.


"Dari dulu kamu ga pernah minta apapun, dari jaman pacaran, aku terbang ke sana kemari kamu ga pernah ungkit yang namanya oleh-oleh, atau minta di belikan sesuatu setiap aku tanya, sampai menikah, aku tahu kamu beli keperluan kamu sendiri dengan uang kamu, dan membeli kebutuhan rumah tangga dengan kartu yang aku kasih. Kadang aku mau marah, buat apa aku kerja kalau kamu ga mau nikmati. Tapi aku ingat, ayah pernah bilang kamu anak yang mandiri, dari kecil, sejak di tinggal ibu, melakukan semuanya sendiri. Sampai bayar kuliahpun kamu ga mau pakai uang yang di transfer ayah, iya kan?"


Dalam pelukan Yundhi Tiara mengangguk.


"Kamu tahu dari mana?"


"Dari ayah, waktu pertama kali datang ke rumah, sepulang kita proper date, aku ngobrol sama ayah sampai jam tiga pagi."


Tiara tertawa samar.


"Astaga, kenapa aku baru tahu."


"Memang ayah ga cerita?"


"Enggak, katanya urusan cowok waktu aku tanya."


Yundhi teringat kembali almarhum Adib yang mengancamnya waktu itu agar tidak melewati batas pada Tiara dan memperlakukan Tiara dengan sepantasnya layaknya wanita terhormat, dan jika Yundhi menyanggupi, Adib bersedia menitipkan Tiara padanya dan merestui jika sewaktu-waktu Yundhi memiliki i'tikad baik mempersunting Tiara.


"Anggap saja kamu yang membeli villa ini sendiri dengan uangmu seperti kamu membangun bimbel dengan uang yang di beri ayah." Yundhi melihat raut penolakan dari wajah Tiara, "Oke, anggap ini investasi buat anak kita, udah ya Ra, please, terima aja deh."


Yundhi menarik tangan Tiara agar mengikutinya masuk ke villa indah itu.


"Kamu kenapa ga ngasih tahu dulu?"


"Karena udah pasti kamu nolak Ra, udah, kita istirahat dulu, setelah itu kita berenang, aku pengen lihat kamu berenang pakai bik*ni two piece."


Tiara mengingat-ngingat benda yang di sebut Yundhi dan ia sama sekali tidak punya benda seperti yang di sebut sang suami.


"Perasaan aku ga bawa itu deh, malah ga punya."


"Udah aku siapain."


"WHAT?"


Yundhi benar-benar niat untuk melakukan baby moon. Total.