
"Ga Ma, Tiara sama Yundhi, dia baik-baik saja," jawab Yundhi pada sang Mama, salivanya terasa pahit saat kebohongan itu terucap, "Yundhi sama Tiara titip Ed, mungkin kita bakal pulang agak lama, Yundhi mau babymoon sama Tiara."
Sambungan terputus.
Yundhi terkulai lemas di sofa ruang kerja Reyhan. Sampai saat ini dia belum tahu dimana dan bagaimana keadaan istrinya. Kebohongan itu harus ia lakukan agar Citra tidak panik. Jika orang rumahnya tahu bahwa Tiara di culik, bisa jadi jantungan Ranti akan kambuh.
Yaris menyiapkan diri bagai akan menghadapi pertempuran sengit, badannya telah berlapis rompi anti peluru dan di tutupi jaket. Begitupun Rey. Tapi mereka masih mentok di ruangan itu. Hampir putus asa, saat hari sudah beranjak siang. Telpon Yundhi tak mendapat respon dari si penculik yang meninggalkan nomor ponsel. Orang-orang suruhan mereka di luar sana pun belum berhasil menemukan jejak Tiara.
Sekujur badan Yundhi terasa lelah, tapi kalau Tiara belum ketemu, bagaimana mungkin dia bisa tenang. Amarah dalm hatinya masih berkobar, kalau mau mengamuk pun dengan mengobrak-abrik seisi kota akan sia-sia, kalau tidak tahu pasti posisi sang istri.
"Wait, wait, wait, semoga gue ga salah baca, Bro!" Yaris berteriak pada Yundhi dengan ponsel di tangan, "Orang gue berhasil melacak jejak terakhir istri lo."
Yundhi langsung berdiri tegak, mendekati Yaris yang takut bergerak karena terkejut. Di pikir kalau dirinya bergerak maka tanda merah itu akan hilang dari ponselnya.
Di ponsel Yaris itu terpampang sebuah peta kasar dengan tanda merah di satu titik. Yundhi merampas ponsel Yaris, mengamati dengan cermat petunjuk di tangannya. Dengan pengetahuan yang dia miliki Yundhi mencoba menerjemahkan lokasi titik itu berada.
"Hacker lo ada sertifikatnya ga?" Tanya Yundhi ragu.
Yaris tercenung, membuang napas kasar.
"Dia orang yang membobol salah satu bank swasta kemarin yang beritanya viral."
Yundhi shock.
"Oke, kita bergerak!"
Harapan mulai tumbuh, meski tidak pasti, paling tidak Yundhi kini memiliki tujuan kemana harus mencari.
"Lo ga pakai perlengkapan dulu?"
"Gue pakai di jalan, Ris, lo yang nyetir."
Yundhi berlari lebih dulu di susul Rey dan Yaris di paling belakang karena membawa senjata dalam koper berukuran besar. Kelakuan mereka cukup menarik perhatian dari pengunjung rumah sakit yang mulai ramai. Tapi tiga sekawan itu tak peduli. Terutama Yundhi, dirinya hampir beberapa kali menabrak petugas rumah sakit yang berseliweran.
Menit berikutnya mereka telah duduk di dalam mobil. Yaris yang di percya sebagai sopir telah menempati posisinya.
"Rey lo bawa alat medis?" tanya Yundhi di sela kegiatannya memakai rompi anti peluru.
"Aman."
"Earphone?"
"Udah kami pakai, lo doang yang belum." sarkas Yaris.
"Jalan bro!"
***
Tempat yang mereka tuju nyatanya ada di luar kota. Yundhi belum mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana tempat itu sebenarnya. Dugaannya yang paling kuat adalah tempat itu sebuah gedung yang tidak di pakai. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, Yundhi meminta pada orang suruhan Yaris untuk memindai tempat itu lewat pantauan satelit atau apa saja yang bisa memperjelas medan mereka.
"Masih jauh ga Bro?"
"Satu jam lagi mungkin, kalau lancar."
"Sudah coba hubungi keparat itu lagi?"
"Sama aja, ga di angkat, gue mu hubungi lagi nanti."
Dalam hati Yundhi berdo'a semoga mereka tepat sasaran. Yundhi juga sudah meminta agar nomor itu di lacak, namun belum berhasil. Kata si hacker nomor itu seperti memiliki pelindung agar tidak terlacak, butuh waktu untuk memecahkannya. Dan saat seperti ini menguji kesabaran Yaris yang sudah tipis bak kertas. Lingga ternyata melakukan segalanya dengan sangat rapi.
Ponsel Yaris yang ada di tangan Yundhi berbunyi. Beberapa informasi masuk.
Yundhi mengernyitkan dahi.
"Apa? Lo jangan telan info sendiri pas lagi kayak gini," ujar Yaris, takut kalau sahabatnya itu bertindak tanpa melibatkannya.
"Tempat itu, titik tempat Tiara sekarang," jeda, rasa sesak mendominasi dada Yundhi, "bekas gudang ekspedisi Papa gue dulu."
"Mobil yang lo lihat lewat cctv gedung sebelah rumah sakit juga ada di sana."
Hening menyambar di ruang kendaraan roda empat itu. Satu kenyataan menghantam ketiganya. Lingga masih dengan obsesinya, menjadi bayangan Prasetya.
"Kalian tahu sekarang medan kita? Bisa jadi bakal banyak penjagaan, langsung ke sana sama dengan mati konyol."
"Then what?"
"Kita masuk lewat jalan lain, ada gedung kosong lain di depan gudang itu, kita memutar dulu nanti, samarkan mobil di pinggiran jalan. Posisi gedung kosong itu lebih atas, lo dan Rey pantau dari bagian paling atas, gue yang siap-siap masuk, paham kan? Ga perlu sampai detil gue jelasinnya."
***
"Mama sudah telpon Yundhi?" Hans di meja makan mati-matian menyembunyikan kepanikannya, dia punya firasat yang tidak mengenakkan tentang sang anak.
"Udah, tadi, pagi-pagi banget, katanya dia sama Tiara baik-baik aja, titip Ed, bilangnya mau babymoon, dasar emang, kamu banget tu anak, ga bisa lihat istri nganggur."
Entah kenapa Hans berkebalikan dalam menerjemahkan pesan yang di berikan Yundhi lewat Citra. Dirinya juga tahu siapa yang dihadapi sang anak . Jauh sebelumnya Hans sudah mengetahui kembalinya Lingga dari luar negri, hanya saja dia tidak menyangka anaknya akan mendapatkan serangan secepat ini.
"Papa mau ke ruang kerja, jangan ada yang ganggu."
***
Sesuai rencana, mereka memarkirkan mobil di pinggiran jalan. Mereka bergerak ke dalam gedung kosong. Yundhi lebih dulu naik untuk membaca situasi yang akan dia hadapi dari atas.
Setibanya di atap gedung. Yaris membuka koper berisi senjata, merakitnya satu per satu di bantu Rey. Yundhi meneropong gudang tempat Tiara di sekap.
"Kalian bisa tebak berapa jumlah penjagaan di luar?" tanya Yundhi pada dua temannya.
"Sepuluh."
"Dua lima."
"Empat puluh lebih, dia masih pengecut yang sama." Yaris dan Rey serempak menoleh pada Yundhi.
"Pengecut gila."
"Psikopat."
"Empat puluh buat ngadang gue doang, fiuh, Lingga makin kaya di luar negri."
Getar ponsel menghentikan kegiatan meneropong Yundhi, sementara Yaris dan Rey siap dengan senjata yang telah mereka rakit. Mereka memecah diri ke sudut yang di anggap strategis untuk memindai sasaran.
"Wow, senjata mereka lengkap, lo bakal sulit nembus mereka," oceh Yaris begitu melihat sendiri pertahanan Lingga.
"Kalau lo takut, lo bisa pulang sekarang."
"Astaga, gue cuma bilang sulit, ga bilang takut terus mau pulang, sensi amat."
"Kali aja," jawab Yundhi cuek, "nomornya sudah terlacak, keparat itu memang di sana, sengaja mau mainin kita."
Berbeda dengan Yaris, Reyhan tampak lebih fokus. Diantara mereka bertiga Rey termasuk orang yang paling kalem dan paling akurat dalam perhitungan.
"Ini di luar doang ya, yang di dalam apa kabar?" Rey akhirnya bersuara.
"Yang di dalam urusan gue," jawan Yundhi sambil menyelipkan senjata kecil di beberapa bagian tubuh.
"Sepuluh menit setelah lo turun...."
"Lama, empat menit, gue kasih kalian waktu empat menit, paham!"
Rey yang di potong kalimatnya oleh Yundhi hanya bisa menyimpan kekesalannya, empat puluh orang di bagi dua, dia dan Yaris harus melumpuhkan dua puluh orang yang posisinya berbeda-beda dalam waktu empat menit, teman mereka itu mulai gila juga seperti musuhnya.
"Gue turun."
***
Hans mulai bergerak di belakang komputernya. Jarinya lincah di atas keyboard mengetikkan sesuatu. Ada yang tidak beres. Dia menangkapa tanda bahaya dalam pesan Yundhi.
Musuhnya tidak main-main, tapi anaknya malah bertindak sendiri tanpa memberitahunya.
Apa dirinya belum tahu kekuatan trah Prasetya. Anaknya harus di tatar lain kali.
Erik Prasetya~send
Jonathan Prasetya~send
Frans Prasetya~send
Ellok Prasetya~....
Dalam hal ini, jangan libatkan wanita, oke, jangan kabari Ellok.
"Ellok Prasetya, failed, soryy dek, kamu ga usah ikut senang-senang."
Hans menekan digit kombinasi brankas, pintu besi itu terbuka dalam hitungan detik, sebuah senjata berukuran sangat kecil namun dengan kekuatan letusan yang bisa memecahkan tengkorak kepala manusia di miliki pria paruh baya itu.
"Kali ini kamu akan kapok bermain-main dengan Prasetya, Lingga Kasavi."
***
"Done, lo bisa masuk."
Dari earphone Yundhi mendengar aba-aba dari Yaris. Empat puluh penjaga di luar berhasil di lumpuhkan. Yundhi bergerak dengan senjata yang siaga di tangannya.
"Arah pukul lima, satu orang."
Shoot.
Dengan sigap Yundhi menembak pada arah petunjuk dari Yaris.
"Satu menit lagi mereka bakal sadar di serang, siap-siap."
"Utara, pukul sembilan."
Shoot.
Satu penjaga lagi lumpuh oleh Yundhi.
"*******, beraoa penjaga sih yang dia punya."
"Ahh,mph..."
"Yundhi pukul lima."
Shoot
"Sat..astaga dua orang."
Brak
"Yaris, Yundhi, dia lo bisa lihat?" Reyhan terdengar panik.
"Lagi usaha, mereka sama-sama tanpa senjata sekarang."
Yudhi terkena tendangan, dan senjatanya terlepas. Baku hantam terjadi dengan tangan kosong. Jangan remehkan Yundhi, selain mahir mengendalikan tuas pesawat dan pelatuk senjata, pilot itu juga ahli bela diri.
"Shit."
"Shit."
"Susah."
"****."
"God damn, ada yang datang, Yaris sepuluh."
Shoot.
"Shit." Meleset
"Rey!"
"I'm trying."
Shoot
"Dua, sebelas."
Double shoot
"Peluru gue."
"Wait."
"Rey, ambil alih!"
"Oke."
Yaris mengisi senjatanya yang sudah kosong dengan gerakan cepat.
"Oh my, ada mobil yang datang." Teriak Rey.
"Shit."
"Ready."
Shoot
Shoot
Shoot
"Berapa sih mereka?"
"Ten eight.'
Shoot
"Yundhi?"
"Yundhi?"
"Yundhi, say something!"
Hening
"Yu..."
"Gue udah di dalam."
Lega
***
"Bilang sama Ed, aku sayang dia, jangan mencariku, aku sayang kalian."
"Enggak, kamu yang akan bilang sendiri setelah kita pulang dari sini."
Mata Tiara membulat penuh mendengar jawaban dari Yundhi, "di sini? Dari sini? Pulang dari sini?"
Lingga mematikan sambungan.
Kenapa Yundhi bicara begitu?
Apa Yundhi sekarang ada di....
Tiara mengedarkan pandangannya, mencari kebenaran dari pendengarannya. Dia belum tuli, Yundhi mengatakan akan membawanya pulang dari tempat itu.
Nihil, dalam ruang gelap berukuran lima kali empat meter itu hanya ada dirinya dan pria keparat di depannya.
Mungkin benar, dirinya salah dengar, hanya berhalusinasi karena kelelahan.
"Kenapa Nyonya Prasetya? Berharap pangeranmu akan datang dengan cepat?"
"Iya, saya berharap dia datang, kenapa? Takut akan berhadapan dengan suami saya?" Tiara berani menantang.
"Oh, ternyata Nyonya Prasetya berani bicara saat ajalnya mendekat."
"Suami saya sudah datang, dia ada di sini, dia datang menjemput saya."
Suara tawa Lingga menggelegar. Terdengar mengintimidasi, mengejek, merendahkan. Suara tawa yang menyebalkan bagi siapa saja yang mendengar.
"Wah wah wah, Romeo akan datang menjempt Julietnya, aku tidak sabar melihat adegan romantis itu,"
"Fine, gue kabulin permintaan lo."
Lingga terdiam di tempat. Bukan suara Tiara yang menjawabnya. Bukan suara Nyonya Prasetya yang ia dengar sekarang.
Dari salah satu sudut yang minim cahaya sesosok bayangan muncul.
"Apa kabar Lingga Kasavi?"