When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Salah Kostum, Lagi



"Happy graduation, gimana, suka?"


Tiara tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut dan senangnya.


Satu detik


Tiga detik


Lima detik


Tiara baru menutup mulut setelah menyadari dagu Yundhi berpangku di bahunya. Tatanan dekorasi ruangan itu menghipnotis mata Tiara untuk tidak berpaling. Meja makan persegi yang di atasnya telah di tata dengan bunga segar, alat makan mahal dan sebuah kue terlihat manis di sana. Langit-langit ruangan itu juga di penuhi balon dengan tali menjuntai ke bawah. Bunga-bunga yang ada di ruangan itu seperti berpindah menembus tubuhnya dan bermekaran di hatinya.


"Thank you." Tiara mencium sekilah pipi Yundhi, membuat wajah laki-laki itu merona.


"Kamu yang siapin?" Yundhi mengangguk. "Kapan?"


"Hmm, oke jangan marah kalau aku jujur. Reservasinya kemarin, tadi pagi baru aku minta pihak restaurant yang tata, aku cuma milih jenis bunga sama kuenya.


"Oke, tapi ini buat aku kan?"


"Buat satpam sekolah, ya buat kamu lah." Yundhi mengerucutkan bibir dengan bertahan di posisi semula dimana ia memeluk Tiara.


"Hm, aku boleh geer dong."


Yundhi tergelak, beralih ke samping Tiara dan tetap memeluk bahu gadis itu.


"Artinya aku menang ya?!"


Tiara keheranan. "Maksudnya?"


"Menang dari Ivan sama anak Kadis yang kirimin kamu kue dan bunga tadi pagi. Kejutan aku lebih bagus dong." ujar Yundhi jumawa.


Wajah Tiara tiba-tiba berubah masam mendengar pernyataan Yundhi, "Jadi kalau mereka ga kirim bunga sama kue kamu juga ga akan bikin acara kayak gini? Ga niat emang." Tiara menepis pelan tangan Yundhi yang melingkar di bahunya.


"Jangan mulai!" sambil menjawil hidung Tiara, memutar badan mungil itu agar mereka berhadapan, meski begitu Tiara tetap membuang muka. Kesal.


"Kita ga bisa masuk restauran ini kalau ga reservasi di hari sebelumnya. Jadi, biarpun mereka ga kirim bunga sama kue, aku memang udah rencanain ini jauh-jauh hari." Tiara tertegun, memandang wajah Yundhi terharu. "Harusnya kemarin sih, tapi aku belum reservasi, aku minta maaf kita telat rayain kelulusan kamu." Bunga di hati Tiara yang tadinya hampir layu, mekar kembali tersiram penjelasan Yundhi.


Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka, seorang pelayan masuk dan membawa hidangan yang memang sudah di pesan Yundhi.


Yundhi menarik kursi dan mensilakan Tiara duduk di sana. Melihat tatapan pelayan padanya, Tiara mulai menyadari sesuatu dan mengumpat dalam hati, 3s\=selalu saja saltum.


Setelah menghidangkan sajian, pelayan itu undur diri.


"Kamu nyadar ga?" Tiara memangku wajah dengan kedua tangannya memasang wajah protes pada Yundhi.


"Nyadar, apanya?"


"Ini yang kedua kalinya lho aku salah kostum masuk tempat makan sama kamu. Kayaknya aku di kutuk siapa gitu biar baju aku selalu salah setiap kita makan di tepat wah."


"Jangan peduliin orang, jangan rusak suasana romantis kita, kamu mau pakai daster ibu ke sini aku ga masalah, yang penting kamunya, bukan kostumnya."


Seketika mereka terkekeh mengingat kejadian dulu, "Oke, tapi yang berikutnya aku ga mau salah kostum lagi, eh jangan deh, aku lebih nyaman di tempat makan biasa."


"Ga bisa, kita bakal sering-sering kayak gini setelah nikah."


"Hm, terserah." Tiara pasrah, yang penting pakai uang dia.


"Tadinya aku maunya dinner, tapi udah panas duluan di komporin Jenny."


"Jenny? Ngimporin gimana?"


"Dia ngetag aku post foto kue sama bunga pemberian anak Kadis di atas meja kamu tadi, dia ga cerita?"


"Bagus deh."


"Temen kamu tu ya, bener-bener, sebelas dua belas emang kalian."


Mereka mulai meninkmati hidangan di atas meja, dalam hati Tiara memuji semua hidangan itu, sangat memanjakan lidahnya, orang kaya emang seleranya bener-bener.


***


"Kamu punya alasan?"


"Alasan khusus untuk...?"


Saat ini Tiara dan Yundhi sedang dalam perjalanan menuju lokasi ruko yang akan menjadi lokasi bimbel Tiara. Mereka memutuskan langsung menyambangi agen properti yang menelpon Tiara setelah menyelesaikan makan siang istimewa itu.


Mengambil nafas gusar Tiara menjawab, Ga ada alasan khusus," Tiara memberi jeda, "Kamu, ga pernah terlintas di kepalaku, akan berjodoh dengan seorang pilot kaya, cuma pengen punya pegangan hidup aja kalau nanti ga ada kesempatan jadi guru tetap, itu saja. Tapi sekarang aku kayaknya ga perlu khawatir." Tiara mengulum senyum jahil.


"Kamu beneran kaya kan?" Tiiara bertanya dengan nada serius. Sementara Yundhi tetap menyetir sekaligus membagi fokusnya mendalami pertanyaan Tiara.


"Eh...mph." Yundhi malah bingung mau menjawab.


"Kamu beneran kaya kan? Nominal rekening kamu berapa? Cukup kan buat memenuhi kebutuha aku sampai 20 tahun ke depan?" tanya Tiara bertubi-tubi.


Mendengar itu Yundhi tersentak kaget hingga membuatnya memundurkan wajah. Tiara menahan tawa melihat reaksi Yundhi yang termakan kejahilannya.


"Kenapa ketawa, kamu boleh periksa sendiri nominal kartu aku!" sambil mencoba mendapatkan dompetnya yang terselip di saku celana. "Kalau ga memenuhi syarat kamu tinggal bilang kurangnya berapa?" Yundhi sedikit panik. Sebenarnya dia juga tidak ingat berapa jumlah uang yang ada di rekeningnya, tapi juga yakin dia lebih dari mampu menanggung hidup Tiara sampai mereka tua.


"Hei, jangan ngawur, taruh lagi!" menolak sodoran dompet dari Yundhi dan Yundhi memilih meletakkannya di atas dashboard.


"Bimbel itu keinginanku dari dulu, untuk membantu anak-anak yang kesulitan belajar, untuk alternatif lain, mungkin, mereka ga ngerti dengan penjelasan guru mereka di sekolah, begitu di jelaskan guru lain jadi bisa faham. Ada beberapa kriteria juga yang mau aku terapkan, buat siswa mampu akan di kenakan biaya yang berlaku, yang punya prestasi, akan ada potongan harga, yang kurang mampu tapi berprestasi mungkin aku gratiskan." beo Tiara panjang lebar.


Yundhi menyimak dengan seksama penjelasan Tiara.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di lokasi yang di kirim oleh agen properti itu. Tepat di sebuah ruko dua lantai, seorang wanita berumur pertengahan menyambut kedatangan Tiara. Sebelum turun Tiara mengamati sekeliling ruko itu yang ternyata berderet dengan pintu masuk sebuahbperumahan elit, dan sebelahnya lagi yerdapat ruko-ruko lain yang telah di tempati sebagai aotik, toko perlengkapan bayi, dan sebuah tempat makan. Cukup strategis dan Tiara langsung tertarik.


Begitu turun dari mobil, wanita itu melangkah mendekati Tiara dan Yundhi dan menyalami mereka.


"Selamat datang mba Tiara, mas, kita langsung ke dalam ya lihat tempatnya, maaf banget waktu saya sempit." ujar wanita itu dengan penuh sopan.


"Ge apa-apa, saya maklum."


"Sesuai dengan penjelasan saya tadi di telpon, ini tempat yang saya ceritakan, tadinya tempat ini adalah toko oleh-oleh, kondisi bangunan sangat bagus, belum lama ini pernah di renov, di lantai dasar ada ruangan luas yang bisa mba sekat menjadi beberapa ruang belajar, dan juga ada satu kamar mandi. Di lantai dua, ada tiga ruangan, bisa mba pakai untuk kantor dan kelas tambahan. Mba Tiara bisa lihat-lihat dulu."


Tanpa menyimak penjelasan agen itupun Tiara sudah tertarik dengan ruko itu, terlihay dari matanya yang berbinar melihat-lihat sekeliling sesekali mengetuk dinding entah untuk apa. Yundhi ikut memeriksa kondisi bangunan itu, memastikan semua sesuai dengan penjelasan sang agen.


"Kamu suka?" tanya Yundhi dan Tiara mengangguk cepat.


Suara ponsel Yundhi memaksanya berhenti bertanya karena harus menerima panggilan sang mama.


"Aku tinggal bentar ya."


"Hmm." Dalam hati Tiara bersyukur Yundhi meninggalkannya dengan agen properti itu karena ia tidak mau Yundhi terlibat dengan urusannya, khusus bimbel ini biarkan ia mewujudkannya dengan tangannya sendiri. Akhirnya ia leluasa membahas masalahh harga sewa.


***


Tiara segera keluar dari dalam ruko menyambangi Yundhi yang masih juga menelpon di samping mobilnya.


Melihat Tiara, Yundhi menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Udah selesai?" Tiara mengangguk puas. "Mah, ni ngomong sendiri sama Tiara." Yundhi menyerahkan ponselnya pada Tiara sambil mereka masuk ke dalam mobil.


"Iya tente."


"…..."


"Makasih tante."


"....."


"Gitu ya, eh, iya nanti di tanyain dulu."


"......"


"Bisa."


"....."


"Iya tante, Assalamu'alaikum.


Tiara menutup panggilan itu.


"Mama bilang apa?" tanya Yundhi sambil memasang seatbeltnya.


"Ngucapin selamat, di suruh nanya ke ayah kapan bisa ketemu keluarga, sama...." Tiara menggantung kalimat. "Sama..."


"Sama apa?" Yundhi terlihat tidak sabar.


"Minggu depan di suruh mulai belanja persiapan pernikahan." ujar Tiara ragu.


"Hah, akhirnya, awas jangan kabur!" Yundhi tersenyum penuh kemenangan.


"Siap juga yang kabur, aku cuma ga enak mungkin kamunya ga mau." terbersit wajah Emmy di benak Tiara, ingin sekali ia menanyakan eksistensi wanita itu pada Yundhi sejak mereka makaan siang tadi. "Mungkin kecepetan menurut kamu." kilah Tiara lagi.


"Huh, bukan aku, kamunya mungkin, aku malah maunya secepatnya, lupa ya siapa yang minta undur sanpai hari ulang tahun."


"Iya tahu, ga usah di perjelas."


Mobil Yundhi mulai bergerak meninggalkan ruko itu. Menembus keramaian jalan raya.


"Kok cepet sih, udah deal harga?" tanya Yundhi memastikan.


"Udah, aman. Besok udah bisa ngatur tempatnya, nih aku di kasih kuncinya langsung." Tiara menunjukkan benerapa kunci yang terikat menjadi satu.


Sepanjang sisa perjalanan mereka membahas tentang dekorasi bimbel kemudian beralih lagi membahas rencana pernikahan mereka, sesekali adu argumen terjadi antar pasangan beda profesi itu dan tentu saja Yundhi lebih banyak mengalah mengingat Tiara yang masih ragu dan takut wanitanya itu kabur. Demi apapun, Yundhi akan melakukan apa saja asal Tiara mau secepatnya dinikahinya karena antar geng sesama pilot dan teman-teman bermainnya hanya Yundhi yang belum menikah. Malu kan.


"Aku pengen resepsinya outdoor." Tiara.


"Oke, kalau hujan tanggung sendiri. Bulan kelahiran kamu rawan hujan."