When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
This Pilot Meets His Teacher 78



Dedikasiku untuk semua pembaca WTMP yang ternyata ada di hampir tiap pulau di Indonesia. Palembang, Banjarmasin, Bogor, Solo, Riau, Bandung, Jakarta dan masih banyak lagi, maaf ga bisa sebutin satu2, terima kasih atas waktunya membaca novel ini.


Untuk vote yang di berikan, dari yang kecil sampai yg besar terima kasih atas penghargaan kalian. Love u all.


Happy reading.


💜💜💜


Hans mengikuti langkah tuju Yaris dan Rey setelah menginstruksikan para pengawalnya untuk membereskan tempat itu hingga jejak terkecil. Langkahnya semakin cepat saat mendengar teriakan Rey menyebut nama menantunya. Apa yang terjadi di sana sampai Rey harus berteriak seperti itu?


Kelopak mata Hans melebar melihat apa yang terjadi di depannya. Hans menatap nanar Yundhi yang terlihat kepayahan dengan wajah babak belur. Hatinya makin sakit melihat Tiara yang terkulai dengan tangan terluka. Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini seorang Prasetya mengalami hal seperti yang terjadi sekarang. Mereka benar-benar kecolongan.


Amarah yang membara pun tak akan membuat keadaan berubah. Meski kali ini pelaku sudah di tangkap, tetap saja raasa sakit itu ada. Orang-orang yang harusnya ia jaga, saat ini terluka di tangan orang biadab yang terobsesi pada keluarganya.


Andai dia menyaksikan adegan ini sedari tadi mungkin pistol yang dia bawa akan benar-benar dia pakai menembak kepala Lingga.


Sayangnya Lingga telah diamankan oleh Frans Prasetya yang berencana membawa penjahat itu ke satu tempat untuk di beri pelajaran terlebih dulu sebelum di bawa ke kantor polisi.


"Eh, Om, udah lama?" Rey langsung sigap begitu melihat bayangan Hans di ambang pintu.


Yundhi menoleh ke belakang, mengarah pada Hans yang menatapnya. Tak ada kata yang terucap. Tapi dari tatapan papanya, Yundhi tahu sang ayah kecewa terhadap dirinya.


Canggung yang tiba-tiba datang membuat Rey dan Yaris salah tingkah. Yaris membuang pandangan melihat suasana sekitar dan Rey mengalihkan diri mengemasi perlengkapan medisnya. Yundhi menatap pada Tiara yang masih memejamkan mata tapi dengan gumaman yang melegakan.


"Ada heli di atap, bawa Tiara ke rumah sakit!"


Suara dingin dan tegas yang mengudara dari seorang Hans membuat orang yang mendengarkannya bisa menyusut di tempat. Untung saja ke tiga pemuda itu sudah kebal dengan suara dan intonasi yang mereka dengar.


***


Masa krisis sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Kini semua fokus Prasetya tertuju pada Tiara. Setelah mensterilkan rumah sakit sebelum helikopter yang membawa Tiara mendarat, kini berlapis-lapis penjagaan diterapkan di rumah sakit tempat Tiara di rawat.


Bukan atas kemauan Yundhi, melainkan sang kepala keluarga senior yang juga terluka melihat keadaan menantunya.


Kamar terbaik, perawatan kelas satu, dokter yang di pilih khusus dan suster yang harus melewati beberapa rentetan seleksi mendadak yang di pilih untuk menjaga Tiara.


Berlebihan, bisa jadi. Tapi menurut Hans malah belum cukup. Egonya yang masih terluka akan apa yang menimpa keluarganya tidak sebanding dengan apa yang ia terapkan sekarang.


Menantu kesayangannya di culik dan hampir meregang nyawa membuatnya merasakan kegagalan yang hebat.


Saat ini Tiara baru selesai di periksa oleh dokter kandungan. Kabar baiknya, kandungan Tiara baik-baik saja, dalam keadaan sehat dan kuat, yang harus diistirahatkan adalah ibunya. Dokter menyarankan agar Tiara bedrest total selama tiga hari di rumah sakit.


Yundhi meminta agar kamarnya menjadi satu dengan kamar inap Tiara. Adanya sisa trauma atas kejadian kemarin menjadi salah satu alasan Yundhi ingin di rawat di satu kamar agar selalu bisa menjaga sang istri.


Dan disinilah dia sekarang. Di sebuah ruangan yang cukup besar dengan dua tempat tidur.


Tiara yang sudah rapi dengan piyama rumah sakit, tangan di perban dan di infus, mulai merasakan gelombang kantuk yang datang.


"Mau tidur? Kantuknya jangan di lawan!" Ujar Yundhi yang tadinya sempat melihat Tiara terpejam, tapi tiba-tiba membuka mata.


Sejak menempati ruang inap setengah jam lalu, baik Tiara atau Yundhi belum saling bicara satu sama lain.


"Aku ngantuk, tapi setiap tutup mata, kejadian kemarin kayak lewat sekelebat mata." Jawab Tiara dengan suara lemah.


Yundhi yang tadinya berbaring miring segera bangun. Pelan-pelan ia membuka plester infus yang melekat di punggung tangan, mengeluarkan jarum infus yang menusuk kulitnya hati-hati.


"Kamu ngapain?" tanya Tiara lagi dengan suara yang hampir hilang.


Setelah turun dari tempat tidurnya sendiri, Yundhi bergerak mendekati tempat tidur Tiara.


"Ga usah geser kalau kamu udah nyaman, biar aku yang kesempitan."


Senyum Tiara otomatis mengembang melihat Yundhi yang kesusahan menyesuaikan diri untuk ikut berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kamu senang lihat aku kesempitan?"


Tiara menggerakkan tubuhnya untuk memberi ruang lebih pada Yundhi.


"Kalau aku kesempitan tapi bisa bikin kamu senyum kayak tadi, aku ga apa-apa," kini mereka berbaring di ranjang yang sama, "karena beberapa jam yang lalu aku hampir kehilangan senyum itu."


Hening menggantung sejenak di detik berikutnya.


"Maaf." Yundhi mengecup kening Tiara lembut, "maaf udah bikin kamu ngalami kejadian kemarin."


Tiara sedikit mendongak agar bisa melihat wajah suaminya, satu senyum terbentuk lagi saat tatapan mereka beradu.


"Kalau kamu mau bahas kejadian itu atau ga sama sekali aku akan ikuti, apapun yang buat kamu myaman."


"Apapun cara yang kamu mau tempuh untuk lupakan kejadian itu, ayo, kita lakukan, sama-sama. Mungkin ga akan mudah, aku ga bisa janji kamu akan langsung lupa."


"Aku hampir gila saat dengar kamu menghilang. Hampir mati saat lihat kamu ga sadarkan diri."


"Terima kasih karena sudah bertahan, terima kasih karena menjadi kuat, terima kasih sudah kembali dengan selamat."


"It will be like this, always, Tiara di takdirkan bersama Yundhi, this pilot meets his teacher."


Tiara menenggelamkan diri dalam tubuh suaminya tanpa satu kata yang terucap. Baginya, kehadiran Yundhi di sisinya sudah bisa menjadi obat traumanya atas kejadian itu. Tapi tenaganya yang masih lemah, belum mampu membuatnya bisa mengatakan perasaannya saat ini, apalagi berucap kalimat yang panjang dan romantis.


"Di sini...tempat yang paling nyaman." Ucap Tiara singkat dengan menempelkan telapak di dada bidang Yundhi.


Suara lemah Tiara makin tenggelam dalam dekapan, tapi kata nyaman yang tertangkap samar membuat pilot itu sedikit lega. Paling tidak saat ini istrinya bisa memejamkan mata sejenak.


***


Hans mengumpulkan anggota keluarganya di salah satu ruangan yang tidak di gunakan di rumah sakit. Sebagai salah satu pemegang saham, menghalalkan Hans memakai ruangan yang tidak terpakai itu.


Erik, Jonathan, dan Frans duduk dalam satu lingkaran meja dengan kopi di masing-masing tangan. Setelah sekian lama tak saling bersua, akhirnya kejadian penculikan Tiara membuat mereka bisa berkumpul.


Sebuah kejadian langka.


Kesibukan masing-masing anggota Prasetya itu menjadi alasan jarangnya waktu yang tersedia bertemu satu sama lain. Tapi begitu mendapat email bahwa Yundhi di serang musuh, maka kesibukan yang maha penting yang sedang mereka kerjakan di lepas begitu saja.


"Jadi kak Hans maunya Lingga langsung dimasukkan ke penjara saja, tanpa sidang apapun, penjara seumur hidup?" tanya Frans memastikan.


"Kalau bisa hukum mati langsung juga tidak apa-apa, tapi aku pengen dia menderita dulu seperti yang dirasakan menantuku." Ungkap Hans menahan geram.


"Ya, bisa di atur kak. Kita jebloskan saja langsung, tanpa sidang. Kalau nanti di sidang kan, jadi malah ketemu sama Tiara lagi. Bisa mengungkit traumanya." Usul Erik.


"Fakta mengejutkan juga tadi dia ungkap sendiri, dia yang menularkan mantan pacar Yundhi dengan penyakit mematikan. Penculikan, pengaaniayaan, pengancaman, percobaan pembunuhan, pasalnya bisa berlapis-lapis, bisa tahunan kalau di sidang kecuali dia sendiri mengakui semuanya tanpa babibu." Terang Frans.


"Sekarang gimana orangnya?"


"Udah di tangan polisi, sudah saya pastikan dia di proses dengan benar, oleh petugas yang benar, buat mencegah kemungkinan dia punya back up polisi, gue udah taruh orang ngawasin semuanya di kantor," jelas Frans, adik termuda Hans.


Ketiga trah Prasetya itu saling pandan, tidak mengerti pada kakak tertua mereka yang masih terlihat murung meski semua masalah sudah di atasi.


"Ada lagi yang mau kakak bicarakan? Kita pasti bantu." Dengan hati-hati Jonathan mengungkapkan pemikirannya.


Seakaran baru tersadar, Hans seperti terkejut, baru terbangun dari lamunan.


"Ah, kalian bisa kembali, terima kasih atas waktu kalian hari ini."


Tidak ada yang bangun dari duduk, semua masih terasa tidak benar, berterima kasih bukan gaya kakak tertua mereka itu.


"Ini bukan kakak banget."


"Jujur aja kak, siapa lagi musuh yang mengamcam?"


"Kalau penjagaan di luar masih kurang, Frans siap bawa tambahan."


Tawa kecil menguar dari bibir Hans, "kakak tidak pernah ragu dengan kesolidan persaudaraan kita, meski kita tatap muka setahun sekali, semua sudah di atasi kan, kalian bisa kembali."


"Kami sudah booking hotel Yaris, ga buru-buru kok, kenapa kakak bilang makasi, itu bukan kakak banget." Erik tidak tahan untuk mengungkapkan isi kepalanya.


"Kamu belum kenal Tiara, dia itu seorang guru, setiap hari ngajarin Ed berterimakasih setelah menerima satu kebaikan di rumah, nular ke kakak, setiap hari dengar wejangannya ke Edward."


Ke tiga trah Prasetya itu hampir tertawa namun di tahan mati-matian. Tertawa saat seperti ini di depan Hans, sama dengan bunuh diri.


"Tiara memang beda." Erik


"Kesayangan Prasetya." Jo


"Cuma dia yang mampu ngerubah seorang Hans." Frans


Hans berdecak sebal tapi apa yang dikatakan adik-adiknya adalah sebuah kenyataan yang tak bisa ia pungkiri.


"Dan tentang Yundhi, kakak kecewa dia tidak meminta kakak dari awal untuk membantu.


Hening membentang setelah Hans mengungkapkan perasaannya. Semua tampak berpikir. Ternyata ini yang dirasakan kakak mereka sebenarnya. Kecewa.


"Jangan disalahkan, mungkin Yundhi punya perhitungan sendiri. Masa kakak ga ngerasa, Yundhi itu plek damplek kakak banget pas muda dulu. Kakak mana pernah cerita ke kita masa sulit yang kakak hadapi. Contoh masalah kak Citra, semua tahu lah gimana ceritanya. Sekarang Yundhi juga begitu. Jadi jangan tekan dia lagi. Dia mau melindungi keluarganya dengan caranya. Kakak pasti ngerti gimana rasanya."


Hans merenungi kata-kata Erik dan membenarkan semuanya dalam hati.


"Begitu?" Hans berkata lemah.


"Maafkan dia, kakak bisa bicara baik-baik nanti. Memang seperti itu seorang Prasetya, kami juga mengkopinya dari kak Hans."


"Yah, Prasetya dengan integritasnya. Terima kasih sudah mengingatkan kakak."


Nah lho, lagi-lagi bilang makasih.